
Dua puluh tahun kemudian....
"Bulan membuat ulah lagi.... ?" keluh Andini pada suaminya via telepon.
"Apa lagi yang putri ku lakukan?" jawab Danu santai.
"Bergulat dengan teman wanita nya, hingga temannya masuk rumah sakit" jelas Andini dengan suara berat.
"Apa pemicunya nya?"
"Hmm belum tau mas, tadi tidak di jelas kan secara rinci oleh dosen nya"
"kamu Jangan datang ke kampus, biar mami saja"
"Tapi mas, Bulan itu anakku. Aku juga ingin mengurus semua permasalahannya. Sekali ini saja... pliss..... " rengek Andini pada suaminya.
"Sudah jangan membantah! " seru Danu.
Tut tut tut...
Sambungan telepon itupun terputus...
Andini menghela nafas berat, ingin rasanya ia menunjukkan pasa dunia bahwa Rembulan adalah putrinya, putri dari keluarga Atmaja.
Rembulan....
Gadis berambut pendek yang tomboi dan sangat emosian. Namanya begitu melejit di bidang olahraga. Dari semua olahraga Bulan sangat menyukai olahraga renang. Hingga sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan.
"Kamu tenang saja, mami akan urus semuanya. Bulan tidak akan berbuat seperti itu tanpa ada alasan yang jelas. Cucu mami itu tidak akan marah jika tidak di ganggu" Bela mami Margaret.
"Mi jangan terlalu memanjakan Bulan, mami harus memarahinya. Mau sampai kapan Bulan jadi cewek Bar-bar seperti ini. Selalu pakai kekerasan! Bulan itu perempuan mi, tapi prilakunya mirip laki-laki" keluh Andini sedih.
"Iya mami akan memarahinya nanti. Sudah kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini. Nanti kamu sakit lagi, urusan Bulan serahkan saja sama mami. oke?"
Andini mengangguk pelan. Kata-kata mami Margaret juga sudah sering ia dengar. Namun Andini juga tau wanita tua itu tidak pernah sekalipun memarahi putrinya. Tapi justru akan membela putrinya, apapun yang telah terjadi.
Di kampus...
Mami Margaret turun dari taksi, ia berjalan santai dengan kacamata minusnya. Walau sudah tua namun penampilan wanita itu masih tergolong modis, dan elegan.
Sesampainya ia di ruangan Rektor. Terlihat Rembulan sedang duduk di hadapan Pak rudi selalu rektor di Universitas itu.
Mami Margaret duduk dengan santai di samping Rembulan.
"Apa permasalahannya pak?" tanya mami Margaret langsung, tak ingin berbasa-basi lagi.
Duduk di ruangan ini bukan yang pertama bagi nenek tua itu.
"Maaf Bu, kali ini pihak kampus sudah memutuskan. Untuk memberi skorsing pada Bulan selama satu minggu. Bulan sudah memukuli temannya hingga masuk rumah sakit. Dan ini bukan yang pertama kalinya...jika ini terjadi sekali lagi, maka dengan berat hati kami harus mengeluarkan Rembulan dari kampus ini." pak rudi menjeda "
Mami Margaret hanya menanggapi nya dengan seulas senyum. Mau bagaimana lagi?
Bulan memang sudah terlalu sering membuat kesalahan yang sama, jika bukan karena dia anak dari keluarga Atmaja mungkin Bulan sudah di keluarkan sejak dulu.
"Baik lah pak saya akan membawa cucu saya pulang, terimakasih pak" ucap mami Margaret.
"Oh ya Bu, ini ada surat panggilan dari kantor polisi. Karena alamat Bulan masih di rahasiakan jadi polisi memberikan surat ini kepada saya" sambung pak rudi sambil menyodorkan amplop berwarna putih.
__ADS_1
"Kenapa urusannya sampai kepolisian?, apa tidak bisa berdamai? " tanya mami Margaret dengan tenang.
"Saya juga sudah mengusulkan hal itu. Tapi pihak keluarga ivana tidak mau berdamai secara keluarga jika Bulan tidak mau meminta maaf" jelas pak Rektor.
Mami Margaret menatap Bulan penuh arti.
"Lebih baik di penjara daripada minta maaf sama simulut lemes itu" ucap Bulan sambil menyungut kan bibirnya.
"Mohon ibu beri pengertian pada Bulan, Bulan cukup berharga bagi kampus ini. Sudah berulang kali ia mengharukan nama kampus melalui bakatnya di bidang olahraga. Jadi sangat di sayang kan jika Bulan sampai harus di penjara. Karena jika itu terjadi, dengan berat hati nama Rembulan Atmaja harus kami coret dari daftar mahasiswi di kampus ini"
"Baik pak,saya akan mengurus semuanya. Dan saya jamin cucu saya bulan tidak akan di penjara, terimakasih pak. Saya dan cucu saya permisi dulu"
"Iya bu Sama-sama, saya juga harus berterima kasih atas waktu yang sudah anda luangkan untuk menghadiri panggilan dari saya"
"Iya pak.Itu sudah kewajiban saya sebagai wali dari Rembulan"
Mami Margaret dan Rembulan pun keluar dari tempat itu.
Dan langsung menuju kantor polisi memenuhi panggilan dari pihak yang berwajib.
Bulan masuk ke ruang introgasi sendiri, polisi melarang mami Margaret untuk mendampingi Bulan.
Tanpa rasa takut, Bulan mengikuti arahan dari polisi itu. Bulan duduk di depan seorang polisi muda dan tampan.
"Rembulan... apa benar kamu sudah memukuli teman kampus kamu yang bernama ivana? "
"Iya bang, saya bukan hanya memukuli nya tapi saya juga mencakar dan menjambak rambutnya"
Polisi itu tertegun, ekspresi nya berubah saat mendengar jawaban Bulan "
"Kenapa kamu memukul nya?" tanya polisi itu lagi.
"Apa yang ivana katakan padamu?" tanya polisi itu penasaran.
"Dia bilang aku wanita jadi-jadian yang gak laku-laku karena aku masih jomblo sampai sekarang"
Polisi itu tersenyum, menahan tawa.
"Kenapa abang tertawa,? ingat ya gw jomblo bukan karena gak laku. Tapi karena gw terlalu memilih. Dan gw bukan cewek yang gampang di gombalin seperti mereka" seru Bulan kesal.
"Tapi kamu tidak seharusnya memakai kekerasan"
"Aku tidak suka beradu mulut"
"Jadi kamu lebih suka bergulat seperti sumo?"
"Iya"
"Kenapa tidak daftar kompetisi di ring tinju aja?"
"Abang mau daftarkan? boleh juga itu"
lagi-lagi polisi itu tersenyum mendengar jawaban Bulan yang terkesan menantang tanpa rasa takut.
" Kamu itu anak perempuan tidak pantas berkelahi" tutur polisi itu lembut.
"Sudah la bang polisi, gw malas dengan kata-kata itu. Gw kan uda mengaku, jadi katakan saja seberapa lama saya akan di tahan. Abang polisi jangan khawatir gw akan jalani sesuai peraturan. Gw tau secara hukum gw salah, walau si mulut lemes itu duluan yang memulai memancing emosi gw"
__ADS_1
Polisi itu menatap Bulan intens. Wanita yang di duduk di depannya itu. Walau terlihat sedikit urakan tapi cukup manis. Pikir polisi itu.
"Apa kamu tidak takut di penjara?" tanya polisi itu lagi.
"Tidak! " jawab Bulan tegas.
"Di penjara itu Dingin dan gelap"
"Gw tau, gw sering melihat nya di televisi" jawab Bulan polos.
Hampir saja tawa polisi itu terlepas,melihat wajah polos Bulan. Entah lah, bukannya marah . Tapi introgasi kali ini justru bikin gemes. Baru kali ini ia menghadapi pelaku yang sama sekali tidak berkelit minta di penjara saja.
"Eh bang polisi, gw di penjaranya satu minggu aja aja ya. Sesuai hari skorsing gw. Lagian kan ivana gak mati, cuma lecet-lecet doang"
"Kamu ingin bernegosiasi dengan saya?"
"Ya itu sih kalau di setujui. Kalau gak juga gak papa. Terserah abang polisi aja lah"
"Sudah kamu boleh pergi" seru polisi itu.
"gak jadi masuk penjara nih bangpol?"
"Bangpol?" tanya polisi itu tak mengerti.
"Bangpol itu singkatan dari abang polisi, is gak gaul banget sih" cela Bulan.
ih bener-bener ya ni cewek. Baru kali ini loh ruangan ini berasa kaya kedai kopi, bisa ngobrol santai dan sesuka hati. Tidak ada ketegangan sama sekali.
"Jangan panggil saya abang"
"Terus mau di panggil apa dong?, bapak?om? ah ketuaan. Bangpol kan masih muda"
"Yaudah lah terserah kamu"
Riyan menyudahi pembicaraan mereka, dan menyuruh Bulan keluar.
Bulan dan mami margaret pun meninggalkan tempat itu dan langsung pulang menuju rumah besar Atmaja.
Sesampainya di rumah...
Andini langsung memeluk putrinya, mendengar berita Bulan di laporkan ke polisi sungguh membuat nya semakin cemas.
"Bulan gak papa Bun" seru Bulan sambil mengusap punggung Bundanya.
"Jangan terus-terusan membuat Bunda mu spot jantung nak"
"Iya Bun maaf, ini yang terakhir deh" ucap bulan sambil mengangkat dia jari kanannya.
"Selalu kamu bilang yang terakhir, tapi buktinya selalu kamu ulang Bulan" Suara tegas itu tiba-tiba muncul di antara mereka.
"Ayah.... ayah kok sudah pulang" bulan menghampiri ayah nya dan menjalin tangan sangat ayah.
"Bagaimana ayah bisa kerja, jika putri ayah sedang dalam masalah"
"Maafin Bulan yah... Lagi-lagi Bulan mengecewakan ayah dan Bunda" Ucap bulan sambil memeluk ayahnya.
"Ayah harap ini benar-benar yang terakhir Bulan! " Seru Danu.
__ADS_1
Ingin rasanya ia memarahi putrinya itu, tapi jika suda begini hati Danu mudah sekali melumer.
Danu mengusap puncak kepala Bulan. Jauh di dalam hatinya merasa penuh dengan rasa bersalah. Jika saja identitas Bulan tidak ia sembunyi kan. Mungkin teman-teman Bulan tidak akan berani menghina atau pun mengganggu Bulan.