
"Masuk " jawab Danu
Terlihat seorang wanita cantik nan seksi muncul dari balik pintu.
Dengan senyuman manis yang tertumpah,ia berjalan mendekati Danu tanpa menoleh kepada Andini yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Ini pak berkas yang bapak minta saat rapat tadi " ujar Airin dengan nada lembut menyerahkan sebuah dokumen sambil mencondongkan badannya di depan Danu. Kemeja yang sengaja ia buka satu kancing atasnya membuat buah dadanya terlihat saat ia berposisi itu.
Mau bagaimana lagi?
Danu juga tidak tau kalau saat ia melihat berkas di tangan Airin akan mendapatkan bonus pemandangan indah yang mempesona. Ternyata bukan Danu saja yang melihatnya tetapi Beri dan Andini juga bisa melihatnya.
Jika Beri melihatnya dengan tatapan penuh berkah,tapi tentu lain hal nya dengan Andini. Ia menatap wanita itu penuh dengan emosi.
Bagaimana tidak. Terlihat dengan jelas sekali bahwa Airin memang sengaja melakukan itu untuk menggoda suaminya.
Momen yang hanya bisa di hitung beberapa detik itu,berhasil membuat hati Andini terbakar.
Beginikah setiap hari saat di kantor?
Saat ada aku aja,dia berani banget ngelakuin itu..gimana kalau gak ada aku?
Jelas-jelas dia tau bahwa aku adalah istrinya mas Danu...
Dan kedua lelaki itu?
Tentu saja mereka menikmatinya...
Andini menghela napas dalam. Walau sedang terbakar tapi ia masih bisa mengontrol diri untuk tidak membuat keributan saat di kantor. Ia tidak ingin mempermalukan suami dan ayah mertuanya.
Danu menandatangani berkas itu dengan cekatan. Bonus pemandangan yang tak pernah ia duga tadi membuatnya merasa gelisah. Terlebih saat ia melirik sosok wanita yang sedang duduk bersidekap di sudut ruangan itu.
"Pak meeting tadi pak Yoga memberi kabar kepada saya bahwa kita harus menemui klien dari Korea di plaza hotel,beliau juga berpesan untuk tidak terlambat" ucap Airin sambil menerima berkas yang selesai di tanda tangani oleh Danu.
"Hmmm" jawaban singkat itu terlontar tanpa memandang wanita itu. Tentu saja ia tidak ingin sesuatu hal seperti tadi tiba-tiba terjadi lagi. Wanita itu memang selalu memiliki seribu cara untuk menggodanya.
"Ya sudah ,kamu bisa pergi" ucap Danu tegas.
Ia memang harus segera mengusir wanita itu,sebelum ruangan itu menjadi semakin panas.
Dasar lelaki,,,pandai sekali berakting!
Bicara seperti itu,karena ada aku. Coba aja kalau gak ada pasti pengen lama-lama tuh di temani sama wanita ganjen itu
Andini menyilangkan kaki nya dan berpura-pura membuka majalah yang ada di meja itu.
"Baik pak,saya akan segera bersiap untuk nanti sore" ucap Airin lagi.
"Tidak! kamu tidak perlu bersiap.Karena saya hanya akan pergi dengan Beri. Setelah jam kerja kamu selesai kamu bisa pulang seperti biasanya" tegas Danu. Ia benar-benar tidak ingin memicu kesalahpahaman pada istrinya.
"Tapi pak,kata pak yoga----"
"Soal pak Yoga itu urusan saya,kamu tidak perlu khawatir" tegas Danu lagi memotong rengek kan manja Airin. "Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya,karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan"
"Baik pak" jawab Airin kesal. Ia menghentakkan kakinya kelantai. Ia tidak bodoh untuk tau bahwa Danu sengaja mengusirnya karena Andini. Padahal ia sudah merencanakan sesuatu,tapi sepertinya harus menelan kegagalan lagi dan lagi untuk mendekati Danu.
Danu bebar-benar sudah berubah. Pikiran Airin yang akan dengan mudah untuk menggoda lelaki itu seperti dulu,sepertinya harus ia buang jauh-jauh. Karena kini Danu memang selalu saja menjaga jarak dengannya. Walau menjadi sekretarisnya tapi ia tetap saja hanya bisa masuk keruangan itu seperlunya saja.
Setelah Airin menghilang dari itu. Danu dan Beri lanjut dengan membahas soal pekerjaan yang tidak Andini mengerti.
Andini juga semakin di buat pusing oleh majalah yang ia buka sejak tadi. Seluruh isi majalah tentang bisnis itu sama sekali tidak ia pahami.
"Mas "
Suara Andini menghentikan obrolan mereka.
"Ya sayang"
"Mas masih lama lagi ya?"
Danu melirik jam tangannya. "MMM mungkin sekitar dua jam lagi beres kok" ucapnya santai
__ADS_1
Dua jam itu waktu yang cukup lama untuk Andini berdiam diri di ruangan itu.
"Kalau gitu aku mau ke toko roti dulu sama mang Udin"
"Ya sudah,nanti setelah kerjaan aku selesai aku akan jemput kamu di sana" jawab Danu.
Danu tau betul,istrinya itu sudah sangat bosan berada di kantornya.
Andini meraih tas kecilnya dan menyalim tangan Danu. Walau masih kesal tapi ia tidak ingin memperlihatkannya di depan Beri.
****
Andin's Bakery
"Bu Andin....." Lela menyambut kedatangan Andini dengan riang gembira.
Lela langsung menghambur memeluk Andini.Begitupun Andini.
Satu bulan tidak bertemu membuat mereka saling merindukan satu sama lain.
"Bu Andin udah sehat?"
"Iya ....udah. Alhamdulillah"
"Wah syukurlah...."
ucap lelah dengan mata penuh binar. ia sangat sangat bahagia mendengar kabar kesehatan Andini.
Karena kebaikan hati Andini membuat Lela dan para karyawannya di toko itu sangat menyayanginya.
Merekapun akhirnya mengobrol dengan begitu hangat. Lela menceritakan semua hal yang terjadi di toko selama Andini tidak datang.
Termasuk seorang lelaki yang hampir setiap hari datang ke toko untuk membeli roti.
"Sepertinya lelaki itu,sangat menyukai roti kita. Ia bahkan sudah beberapa kali membeli begitu banyak roti untuk para karyawan di kantornya" ujar Lela dengan begitu antusias.
"Benarkah?"
"Memang dia sukanya roti rasa apa?"
"cheese cake banana"
Mendengar nama cake itu membuat ingatan Andini tertuju pada seseorang
"Memang siapa namanya?" tanya Andini penasaran.
"Namanya pak------- nah itu orang sudah datang"
Andini langsung menoleh kearah pria yang baru saja datang.
"Mas bagas?"
Ternyata apa yang sempat ia pikirkan benar adanya. Sejak dulu laki-laki itu memang sangat menyukai cake itu.
Pria itu tampak tampan dengan balutan kemeja putih yang selalu ia gulung sampai ke siku. Ia tersenyum dan mendekati Andini dan Lela.
"Loh Bu Andin udah kenal toh sama pak bagas?,,yah inilah pelanggan setia yang Lela maksud"
"Pak ini Bu Andini pemilik toko Andin's Bakery yang sebenarnya" jelas Lela.
Andini tersenyum miring,tidak di sangka ia harus bertemu dengan sosok yang sudah menjadi serpihan masa lalunya.
"Loh bukanya pemiliknya mbak Lela?" tanya Bagas bingung. Karena selama ini ia mengira pemiliknya adalah Lela.
"Hahaha bukan pak,saya disini cuma seorang pekerja. Kebetulan Bu Andin sedang sakit kemarin jadi saya yang menghandle toko ini" ucap Lela sambil tersipu malu.
"Terimakasih mas sudah menjadi pelanggan setia di toko aku" ucap Andini
"Eh iya sama-sama,kebetulan sekali kita bertemu di sini...." Bagas juga tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf pak Bu saya permisi dulu,ada pelanggan tu...."
__ADS_1
"Oh iya silakan" jawab Bagas ramah.
Walau merasa sedikit canggung tapi sungguh ia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan wanita yang selama ini masih ia rindukan.
Bagas menatap lekat wanita itu,wanita yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Wanita yang berhasil membuat hati Bagas selalu tersiksa karena terbelenggu rindu.
Wanita itu masih sama,masih cantik dan menarik. Hanya saja ia terlihat sedikit kurusan dan perutnya...
Mungkinkah dia hamil?
"Mas jangan liatin aku seperti itu,aku gak nyaman" ucap Andini lirih.
Walau bagaimanapun di perhatikan oleh mantan itu rasanya risih.
"Oh ya maaf" ucap Bagas malu-malu karena ia tertangkap basah sedang memandangi istri orang lain.
"Oh ya gimana kabar ibu?"
"Alhamdulillah ibu sehat"
"Oh syukur deh,,,,Ya udah kalau mau pesan cake kamu sama Lela aja ya " ucap Andini sambil hendak pergi meninggalkan Bagas.
"Din tunggu"
Andini kembali menoleh kearah Bagas
"Tadi kata Lela kamu sakit,emang kamu sakit apa?" tanya Bagas penasaran.
"Oh mungkin cuma kelelahan aja,jadi aku harus istirahat di rumah"
"Apa kamu hamil?" akhirnya pertanyaan itu pun terlontar begitu saja dari bibir Bagas.
"Alhamdulillah iya mas" Andini mengangguk dan mengusap perutnya.
Pernyataan itu berhasil membuat Bagas merasa lemas. Sendi kaki nya seakan tidak kuat menopang berat badannya.
Hatinya bagaikan tersambar oleh petir.
Bagaimana tidak. Wanita yang ia campakkan karena dulu karena ia pikir memiliki kekurangan ternyata ia benar-benar wanita sempurna tanpa cela.
Sungguh hatinya semakin terhujam. Ketika seuntai senyum Andini menghiasi bibir mungilnya.
Bagas mengalihkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Baru kali ini ada bendungan bening yang hampir tumpah di matanya.
Kenapa rasanya begitu sakit....
Sungguh perasaan apa ini....
"Selamat ya akhirnya sebentar lagi kamu akan jadi ibu" Bagas mengulurkan tangannya dengan senyuman kepalsuan
"Terimakasih mas" Andini menyambut tangan Bagas dan segera menarik tangannya kembali.
"Oh yaudah mas aku tinggal dulu,kalau butuh apa-apa silakan panggil Lela aja"
Danu menatap punggung Andini hingga menghilang dari ruangan itu.
Kali ini ia pergi dari toko itu tanpa membawa apapun.
Dengan kasar ia menghapus air mata yang sudah tertumpah di pipi nya.
Tidak....aku tidak boleh seperti ini....
Aku harus bisa mengikhlaskannya....bukankah aku yang membuatnya pergi? sungguh aku memang lelaki bodoh....Bagaimana bisa aku membuang berlian demi sebuah angan-angan sampah
"Aaaaaaaa"
Bagas memukul-mukul stir mobilnya dengan penuh penyesalan.
Kini baru ia mengerti,menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan. Dan penyesalan adalah hadiah yang sudah pasti di terima.
Tak peduli seberapa besar penyesalan itu,namun ia takkan bisa mengembalikan waktu. Kini ia semakin menyadari bahwa Andini lah wanita terbaik yang pernah ia miliki,setelah ia benar-benar kehilangannya.
__ADS_1