Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
kelinci nakal dan kucing anggora


__ADS_3

"Sial sakit juga gigitan kelinci kecil itu" ucap Riyan lirih sambil memandangi pergelangan tangannya yang kini berwarna biru lebam.


"Bulan gigimu benar-benar berbisa,,,, " ucap lagi, sembari di iringi senyuman penuh arti.


Riyan mngusak rambut basahnya, kali ini ia terpaksa berpindah hotel. Tak ingin lagi dirinya yang kini masih menjadi incaran segerombolan mapia, membahayakan orang lain. Terlebih wanita yang bernama Rembulan.


Masih memandangi bekas gigi Bulan, biru lebam itu seperti gambar tato yang lucu melekat di tangan Riyan.


Bisa gigitan Bulan seperti sudah menyebar melalui pembuluh darah. Dan kini bisa itu sudah memenuhi syaraf di otak dan ruang di hati polisi muda itu.


Lagi-lagi Riyan tak mampu menahan ujung bibirnya untuk tersenyum.


Bagi Riyan, Bulan seperti kelinci nakal yang lucu imut dan menggemaskan.


Rindu....


Yah kini... hatinya benar-benar merindu pada wanita berambut sebahu itu.


Seandainya saja ia bisa hidup normal seperti pria lajang yang lainnya. Mungkin saat ini Riyan sedang melakukan proses PDKT, atau apalah namanya.


Tapi sayang, lagi-lagi Riyan harus bisa menahan perasaan nya. Terlebih di situasi genting seperti ini. Bahaya selalu mengancamnya kemana pun dia pergi.


Belum lagi jika Pricil tau bahwa hati Riyan sudah jatuh pada Bulan.


Riyan sangat mengenal karakter tunangan nya itu. Selain gila tahta ia juga sangat nekat. Wanita itu pasti akan menyingkirkan apapun yang menjadi penghalang baginya.


Huhhh


Riyan membuang napas berat, ia berharap tak ingin jatuh dan tenggelam pada jalan cinta nya yang rumit.


Mungkin ini hanya sekedar kekaguman biasa. Gadis kecil itu sangat tidak cocok untuknya.


Riyan kembali mencoba untuk menata hatinya agar tidak rapuh karena seorang wanita.


"Tidak ada kata cinta dalam kamus seorang Riyan "


Ucap Riyan lirih, berusaha sekuat mungkin menghapus jejak Bulan dari pikiran nya.


Perlahan mata laki-laki itu tertutup, melepaskan lelah dalam dunia nyatanya.


******


Satu minggu sudah berakhir, liburan nya juga sudah berakhir.


Kini Bulan mulai memikirkan janjinya pada ayah Danu.


Ia berjanji untuk lulus di tahun ini.


"Huh apa itu mungkin?" Desah Bulan.


Wanita itu mengukur kemampuan nya selama ini. Buku Skrip nilai nya di penuhi oleh hurup C dan D.


Dengan nilai seperti itu, mustahil baginya untuk lulus seperti yang ia janjikan pada sang ayah.


Bintang....


Saudara kembarnya itu memang tidak pernah mau membantu. Lagian ayah pasti juga akan tau kalau Bulan lulus karena hasil kerja keras Bintang.


Bintang adalah anak kesayangan ayah Danu. Mana mungkin bisa di ajak kompromi.


Bulan mengacak-acak rambutnya yang tidak beraturan itu. Ia membenturkan otaknya yang kosong itu pada ujung laptopnya.


Ya Tuhan kirimkanlah aku seorang peri bersayap, yang bisa menyulap isi laptopku menjadi susunan skripsi.


Laptop itu masih kosong, seperti otaknya.

__ADS_1


"Bintang lu terlalu serakah, kenapa dulu lu ambil semua jatah IQ nya. Padahal kan kita kembar, seharusnya lu sisakan sedikit untuk gw, agar hidup gw tak sesulit ini" rutuk Bulan sedih.


"Bastian kenapa kamu jauh di luar negeri? aku membutuhkan mu Bas" keluh Bulan lirih.


"Vano?" otak licik Bulan mengingat pada lelaki yang sedang gencar mendekati nya akhir-akhir ini.


"Kelihatan Vano tidak terlalu bodoh seperti aku, mungkin dia bisa membantuku" ucapnya optimis.


Bulan mulai berjalan, mengedarkan pandangannya. Harapan nya begitu besar pada Laki-laki yang belum tentu pintar itu.


Kali ini, Bulan tak menemukan sosok yang biasanya selalu berkeliaran di kampus.


Begitulah jika sedang dibutuhkan pasti sulit sekali di cari, tapi jika tidak di butuhkan jasad laki-laki itu berserakan memenuhi area kampus.


Sudah letih berputar-putar mengelilingi kampus. Namun yang namanya Vano tak terlihat juga batang hidungnya.


Brukkkk


Tiba-tiba sebuah tangan mulus lentik dan halus mendorong tubuh Bulan hingga terjatuh.


"Aduh, maaf gw sengaja" ucap Ivana dengan nada songong nya.


Bulan bangun sambil menepuk-nepuk celana jeans nya yang kotor terkena tanah.


Bulan mekengos pergi meninggalkan Ivana, jangan sampai emosi nya tersulut kembali.


"Hei cewek jadi-jadian, udah tobat sekarang?atau lu takut ma gw?" pancing Ivana lagi.


Bulan tak menggubris nya. Masalah skripsi yang akan di hadapinya cukup lebih penting daripada meladeni wanita gila seperti Ivana. pikir Bulan.


Bulan meninggalkan Ivana dengan tatapan kesal, Bulan berhasil mengacuhkan nya. Si biang masalah itu pun menghentakkan kakinya sambil bedecak kesal.


"Awas lu Bulan, gw gak akan puas jika belum melihat lu terlempar dari kampus ini" gerutu Ivana lirih.


Entah lah, wanita itu belum jera juga. Justru malah semakin mendendam.


Vano menoleh memandang lurus pada wanita yang sedang berlari kecil mendekati nya.


"Jangan lari-lari nanti kamu jatuh" ucap Vano sambil mengusak rambut Bulan.


"Sini deh ikut gw" Bulan menarik tangan Vano dan mengajaknya duduk sebuah bangku panjang.


Vano masihenatap intens wajah Bulan, rambut pendeknya yang di kuncir sudah berantakan.


Vano menarik ikat rambut Bulan, "Kamu lebih cantik jika begini" ucap Vano jujur.


"Terimakasih" ucap Bulan sambil menawarkan setengah senyuman.


"Vano... "


"Iya"


"Bantu gw susun skripsi dong" ucap Bulan dengan nada memelas. "Please... " Bulan menyatukan kedua tangannya.


"Gw juga pusing sama skripsi gw Bul, udah gw tulis tapi gk ketrima terus. Gw bingung sama dosen pembimbing gw, semuanya selalu salah" ujar Vano sedih.


Ternyata ini alasan lelaki itu menghilang. Pantas saja ia juga tampak kacau.


"Gimana kalau kita buat bareng-bareng aja" seru Vano.


"Emang bisa?" tanya Bulan meragukan.


Setelah melihat wajah kusut Vano, saat melihat tumpukan kertas yang ada di tangannya. Membuat Bulan semakin tak percaya.


Ternyata Vano hanya tampan, tapi otaknya sama saja seperti dia. Pikir Bulan.

__ADS_1


"Ya kita coba" ujar Vano optimistis.


"Boleh" Jawab Bulan.


Sesama otak kosong harus saling menyemangati, pikir Bulan.


"Ayo kekantin.. " seru Bulan lagi.


"Kok kekantin? " Vano menatap aneh pada Bulan " Ke perpus Dong " sambung nya lagi.


"Hihihi gw laper, kita cari energi dulu. Setelah daya penuh baru deh kita sobek-sobek buku di perpus"


"Baca" ucap Vano membenarkan kata yang sengaja Bulan tukar.


"Iya baca, ayo cepat gw laper" tarik Bulan lagi.


Vano pun mengikuti langkah Bulan. Walau tidak begitu yakin mereka bisa bekerja sama dengan baik, apa salahnya berusaha.


Satu porsi ayam goreng kandas beserta nasinya, tak lupa Bulan menyedot jus jeruk mix wortel miliknya.


"Alhamdulillah " ucap Bulan penuh syukur..


Nyaman, mungkin inilah yang Vano rasakan saat bersama Bulan.


Kesederhanaan Bulan memang mudah membuat orang yang di dekatnya merasa nyaman.


Lagi-lagi Vano menatap Bulan intens, sepatu cats, celana jeans robek-robek dan kaos..


"Sungguh tidak ada sisi yang menarik secara penampilan" batin Riyan.


"Tapi senyumnya itu loh, kenapa terlihat begitu manis dan menggemaskan. Seperti kucing anggora miliknya di rumah" batin Vano lagi. " Penampilan urakan tapi sangat santun ketika makan. Duduk nya rapi, dan selau membaca doa sebelum dan sesudah makan. "


Vano mulai melihat sedikit sisi positif dari Bulan.


"Lan lu pernah gak berpikir untuk merubah penampilan menjadi sedikit lebih gerly gitu misalnya" ungkap Vano sambil menyedot minuman bersoda miliknya.


"Hmmmmm" Bulan tampak berpikir " pengen sih.... " jawab Bulan lirih.


"Emang lu mau bantu gw?" bisik Bulan sambil mendekat kan wajahnya dengan Vano.


"Kalau lu minta soal ini sama gw, mungkin lu datang sama orang yang tepat" jawab Vano penuh keyakinan.


"Sebenarnya gw juga sempet mikir, sebentar lagi pesta ulang tahun Ivana. Nenek sihir itu pasti bakal ngeledek gw habis-habisan kalau gw datang dengan penampilan seperti ini" ungkap Bulan sedih.


"Jangan berubah untuk orang lain, tapi berubah lah untuk diri sendiri" jelas Vano.


"Manusia itu memiliki karakter yang berbeda-beda, dan cantik itu relatif. Dengan begini pun sebenarnya lu udah cantik, tapi alangkah baiknya jika memakai apa yang seharusnya lu pakai. Pasti akan lebih mempesona" ujar Vano.


Rasanya sedikit aneh sih jika membayangkan Bulan memakai rok dan Highthels...


Vano tersenyum sendiri, dengan bunga aja dia alergi apalagi jika di make-up. Bisa pingsan nih anak. Pikir Vano.


"Vano! " seru Bulan.


"Eh iya iya, ada apa?" tanya Vano kaget.


"Napa lu senyum-senyum. Lu ngeledek gw ya?" tanya Bulan penuh curiga.


"Hahahaha lu kok tau, Jangan-jangan lu anak dukun ya?" akhirnya tawa Vano lepas begitu saja


"Rasanya lucu aja ya kalau liat lu dadan gerly-gerly gitu. Apa lu bisa? " sambung nya lagi.


"Oh jadi lu ngeremehin gw? lihat aja awas lu kalau sampai terpesona melihat kecantikan gw" ucap Bulan penuh percaya diri.


Vano pun terus menjaili Bulan, merasakan nyaman hubungan tanpa jaim. Tertawa lepas dan bicara apa adanya.

__ADS_1


Saking serunya, ngobrol dengan wanita tomboi itu. Sampai melupakan niatnya untuk belajar bersama. Mencari bahan di perpus hanya angan-angan semua belaka,nyatanya mereka malah pergi ke arena motor cross. Bersama Rembulan Vano bisa menjadi dirinya sendiri, lelaki tampan yang meliki wajah bak artis Korea itu ternyata suka sekali dengan motor.


Saat menjadi pacar Ivana, Vano tak lagi bermain motor seperti saat ini. Karena jangankan naik motor, terkena panas sedikit saja Ivana sudah marah-marah.


__ADS_2