Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Riyan


__ADS_3

Riyan Alif Pangestu...


Polisi muda yang berprestasi. Walau menjadi polisi bukan Cita-cita nya tapi inilah jalan hidup lelaki tampan itu.


Menjalani Hari-hari dengan mengurus masalah orang lain. Melelahkan baginya...


Tapi demi menyenangkan almarhum sang papah, Riyan tetap bekerja dengan serius walau sering kali tak sepenuh hati.


Ahhh lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. Sudah tiga hari ia tidak bisa pulang dan merasakan berbaring senyaman ini, pikir nya.


Sekelebat bayangan wanita bawel , berambut pendek yang tak mengenal rasa takut itu muncul di benaknya.


Dia wanita, tapi bisa menentukan pilihan hidupnya seperti yang dia mau. Memberontak jika tidak suka, dan cukup bertanggung jawab.


Wanita berkaos oblong berwarna putih dan celana jeans biru, dan bersepatu sport . Penampilan itu sempat tersimpan di memory Riyan.


Baru pertama kali bertemu, tapi kok sulit untuk di lupakan. Rembulan.... namanya begitu anggun, sungguh berbeda dengan penampilan nya.


Riyan menggeleng kan kepala dan tersenyum sendiri.


Abang polisi satu ini, seperti nya sudah kemalingan. Kemalingan hati.


Sesal rasanya tidak sempat mengetahui kontak wanita itu.


"Gimana yan? kamu sudah urus kasus ivana kan?"


suara itu tiba-tiba membuyarkan hayalan nya.


"Sudah om" jawab Riyan sambil membenahi duduknya.


"Om gak Terima ivana sampai bonyok seperti itu, pokoknya dia harus di hukum seberat beratnya" Tegas om Sultan.


"Dimana ivana sekarang om?"


"Masih di rumah sakit,banyak luka cakaran di wajahnya. Ivana terus mengeluh untuk mencarikan dokter kulit yang hebat. Agar bekas luka nya segera hilang"


Riyan hanya mengangguk-angguk mendengar cerita om Sultan yang sangat mirip dengan cerita Bulan. Sebenarnya Riyan merasa geli ketika om Sultan menyebut luka cakaran. Teringat kembali ekspresi Bulan saat mengaku telah mencakar fan menjambak Ivana.


"Kira-kira kamu ada kenal doker kulit yang bagus gak Yan?" sambung om Sultan lagi.


"Gak om. Gak ada"


"Oh yasudah lah kamu istirahat aja. Om serahin kasus ivana sama kamu ya, om yakin kamu pasti mengurus kasus ini dengan baik" ucap om Riyan penuh keyakinan.


Riyan meneguk salivanya, permintaan om Sultan sangat bertolak belakang dengan hatinya. Bagaimana bisa memproses dan memenjarakan wanita itu. Mana mungkin dia tega, pikir Riyan.


Namun tiba-tiba Riyan tersenyum,ia baru ingat kalau mulai besok ia akan bertugas keluar kota selama satu bulan. Jadi Riyan tidak perlu pusing memikirkan kasus ivana, tugas itu cukup menjadi alasan untuk menghindari ivana secara halus.


Wanita manja yang bermulut cabe rawit itu, bener-bener memuakkan.


Ke esokan harinya Riyan benar-benar pergi. Sebelum pergi Riyan sempat menghubungi om Sultan. Tugas darurat ini harus segera Riyan selesai kan, itulah alasan nya. Baru kali ini Riyan berbohong pada lelaki yang berperan penting dalam pertumbuhan nya.


Sejak lulus SMA, om Sultan lah yang mengurus dan menyekolahkan Riyan hingga di tingkat ini. Jasa om Sultan begitu besar bagi polisi muda itu.


Sejak kedua orang tua Riyan meninggal, keluarga Sultan lah yang menampung dirinya. Sultan adalah teman baik ayah Riyan.


Entah lah, jika tanpa keluarga itu. Mungkin Riyan tidak akan bisa di titik ini.


Riyan menghela napas berat, jika mengingat jasa om Sultan. Sepertinya ia harus selamanya hidup untuk balas budi.


Sebelum meninggal ayah Riyan sempat mengatakan bahwa ia ingin Riyan menjadi polisi, untuk membela kebenaran.

__ADS_1


Tapi Prinsip Riyan sering kali goyah karena tekanan dari om Sultan. Sampai kapan akan seperti ini, tanya Riyan pada hatinya.


Perjalanan kali ini cukup jauh, memakan waktu sekitar 3 jam menggunakan pesawat. Pikiran Riyan melayang-layang. Beban balas budi itu masih terus mengikutinya kemana pun ia pergi.


Alhamdulillah Pesawat mendarat dengan selamat. Riyan berjalan gagah sambil menarik kopernya. Lelaki tampan itu semakin terlihat menarik dengan kaca mata hitam yang tersangkut di hidung mancung nya. Mengenakan pakaian bebas seragam, ada kesenangan tersendiri baginya.


"Oma tunggu.... "


Tiba-tiba suara melengking itu, menghentikan langkah Riyan.


"Oma..... "


Riyan langsung menoleh ke arah suara itu, terlihat sumber suara itu sedang berlari mengejar nenek tua yang sedang duduk di kursi roda.


Riyan memastikan pandangannya lagi, ia membuka kaca mata hitamnya.


"Bintang... jahat banget si lu. Kakak sendiri lu tinggal" seru Bulan pada lelaki yang mendorong kursi roda oma.


Wajah mereka mirip.... mirip banget... hanya saja beda versi. Satu versi laki-laki dan yang satunya versi perempuan, walaupun penampilan nya sedikit mirip laki-laki juga.


Riyan sempat mengucek matanya. Ini nyata atau hanya sekedar halusinasi?


Setelah beberapa detik memastikan bahwa ini adalah nyata. Riyan segera memakai kacamata hitamnya, berjalan pelan mengiringi tiga insan yang sedang bersenda gurau.


Sungguh terbesit sedikit rasa iri di hati Riyan. Kehangatan keluarga seperti itu tak lagi pernah ia rasakan. Hidupnya yang kini sebatang kara, membuatnya harus menjalani kehidupan dengan keras.


Tanpa sadar langkah nya terus mengikuti Rembulan. Memandangi tingkah konyol Bulan yang tak bisa diam. Berbeda dengan saudara kembarnya, dia terlihat cool dan tak banyak suara.


Langkah Riyan terhenti, ketika objek pandangannya sudah masuk ke dalam taksi.


Riyan tersenyum miring sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyadari beberapa menit yang lalu ia seperti terhipnotis oleh pesona wanita tomboi itu. Untung saja Bulan tidak mengenalinya, jadi malu sendiri. Ujar Riyan dalam hati.


***


mugkin itulah judul yang tepat untuk Bulan, Bintang dan oma Margaret.


Di skorsing satu minggu Bulan malah menuntut untuk pergi liburan pada omanya.


Awalnya Danu tidak setuju, karena seharusnya Bulan itu mendapat hukuman bukan liburan. Tapi mengingat prestasi pencapaian Bulan akhir-akhir ini membuat Danu luluh. Walau anak itu tidak pintar secara akademik seperti Bintang. Tapi ia memiliki bakat tersendiri. Danu dan Andini sadar bahwa setiap anak itu beda-beda. Mereka tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk menjadi seperti yang mereka inginkan.


Mereka hanya ingin anak-anak bisa hidup normal seperti orang biasa. Tanpa tekanan dan bebas memilih jalan yang mereka suka. Walau tetap masih dalam pantauan Danu.


Setelah cek in hotel, Bulan merengek pada omanya untuk pergi Jalan-jalan.


"Oma capek, perjalanan tadi cukup menguras tenaga. Oma butuh istirahat" Seru Bintang.


Lelaki satu itu memang sangat rewel jika sudah menyangkut kesehatan dan kebersihan.


"Mending lu itu mandi, jdi cewek kok jorok banget. Pantes aja jomblo " sambung bintang lagi.


"Hmmm gw itu jomblo karena terlalu memilih"


"sok iyes" cela Bintang.


"Ih memang iyes.... " jawab Bulan percaya diri.


"Sudah-sudah... jangan berantem..Bener kata Bintang,. Oma mau istirahat bentar,Bulan Jalan-jalan sendiri dulu ya, atau biar di temani Bintang" ujar oma Margaret.


"Gw cuka capek, gw mau istirahat ke kamar gw" seru Bintang sambil menarik kopernya ke kamar sebelah.


Bulan menyungut kan bibirnya, karena kesal. Oma dan Bintang memang gak asik. umpat Bulan dalam hati.

__ADS_1


Karena merasa lapar, akhirnya Bulan memutuskan untuk keluar mencari makanan.


Celana jeans dan kaos oblong adalah ciri khasnya. Bulan berjalan menyusuri area hotel. Matanya mencari-cari menu makan yang menjadi seleranya hari ini.


Makanan berbau sifud kini menjadi pilihan nya.


Baru saja bulan ingin menyantap makanan nya, tiba-tiba "Bul Bul...... " seorang lelaki bermata biru tiba-tiba duduk di depannya.


"Bastian.... " teriak Bulan girang.


Sudah lama ia tidak bertemu dengan sahabat nya itu.


"Lu kok bisa disini Bas?"


"Gw ikut dedy kunjungan kerja, di hotel ini"


"Oh ini Hotel milik keluarga lu"


"Iya begitulah.... "


"Wah berarti gw bisa makan gratis dung... "


"Hahahaha... gak berubah lu ya. Dasar Muka gratisan"


"Lu sih, kenapa juga harus kuliah di luar negeri. Coba satu kampus sama gw, pasti seru. Gw bisa nyontek, atau minta bikinin tugas seperti dulu"


"Haha haha... masih aja malas belajar non?"


"Iya...dong " jawab Bulan percaya diri.


"Bangga amat jadi pemalas"


"Hahahaha sialan lu...."


Bulan pun tertawa lepas, sambil menikmati makanan nya.


"Eh denger-denger lu baru dapat masalah lagi ya di kampus"


"Ce ile... ternyata walaupun jauh masih update berita tentang gw juga"


Bastian tersenyum miring sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya... lu tau gak gw habis bonyokin muka Ivana, lu inget kan betapa rawit nya mulut tuh orang. Dia ngatain gw anak haram,karena sejak SD orang tua gw gak pernah muncul di sekolah. Langsung deh gw jambak rambut kriwil nya itu, gw cakar pipi mulus nya dan sekarang kabarnya dia masuk rumah sakit " ucap Bulan penuh antusias.


"Weisssss... masih aja Bar-bar neng?" ejek Bastian.


"Sebenarnya gw udah dapet ultimatum dari ayah. Kalau sampai gw di keluarin dari kampus. Ayah bakal kirim gw ke asrama pesantren gitu. Ih gak banget kan Bas?" keluh Bulan sedih.


"Terus selanjutnya rencana lu apa?"


"Ya lu tau sendiri kan ayah gw itu orangnya serius. Ya setelah ini gw harus bener-bener tahan emosi lah. Gw tau tuh si Ivana pasti masih dendam sama gw... sebisa mungkin gw harus menghindari dia, jangan sampai kepancing lagi"


"Ufu... ufu... yang sabar ya Bul," ucap Bastian sambil mungusak rambut Bulan "lagian ayah lu bener. Mau sampai kapan lu begini terus? Lu harus pikirin masa depan lu juga"


"Masa depan?" tanya Bulan tak mengerti.


"Iya masa depan. Kedepan nya lu mau jadi apaapa gitu?"


"kalau di pikir-pikir gw itu males ribet. Kedepannya gw itu mending nikah aja lah,menggantungkan hidup sama suami gw" ucap Bulan enteng


"Emang udah punya calon?"

__ADS_1


"Belum sih... hehehehe" Bulan tertawa geli sendiri. Jangan calon suami,pacaran aja belum pernah.


__ADS_2