
Sibuk bekerja...
Sudah dua hari aktivitas Riyan terlalu padat. Selalu pulang larut malam. Bahkan hari ini sampai pukul dua dini hari.
Riyan menghela napas berat, menjadi sosok yang gila bekerja membuat nya harus kehilangan waktu bermain di masa muda.
Tak jarang Riyan merindukan waktu dimana ia bisa menjadi diri nya sendiri. Menjalani hidup bebas tanpa tekanan dan tanggung jawab besar yang selalu bergelayut di pundak nya.
Berdiri di tengah-tengah manusia bertopeng itu melelahkan. Di dunia nya, tidak ada yang bisa di percaya.
Ada yang berpura manis demi kedudukan, berpura baik demi kehormatan, dan ada pula berpura menjadi pahlawan tapi menusuk dari belakang.
Setiap hari ia harus siap untuk mati, lelaki gagah yang senantiasa menyelipkan pistol di sakunya. Memiliki dua kemungkinan dalam hidup nya. Jika bukan menembak maka tertembak.
Riyan menepikan mobilnya di ujung gedung parkiran. Suasana sunyi dan sepi begitu mencekam.
Tap tap tap...
Suara langkah sepatunya terdengar begitu nyaring, ia telihat santai namun tidak dengan bola matanya. Riyan mencium ada bau-bau keanehan di tempat sepi itu.
Duaaaarrrrrrr... Duaaaarrrrrrr.. Duaaaarrrrrrr....
Dengan sigap Riyan menghindar dari peluruh yang terbidik menuju tepat di dadanya.
Sekilas ia melihat lelaki berkacamata hitam mendekati dirinya.
"Angkat tangan! " suara berat itu terdengar penuh ancaman.
Riyan mengangkat kedua tangannya, tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Bukan hanya kali ini, nyawanya seakan berada di ujung tanduk. Namun laki-laki itu tak pernah takut mati.
Lelaki misterius itu menendang bagian belakang lutut Riyan. Hingga membuat tubuh Riyan tersungkur dan seakan berlutut.
Riyan tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi tato yang ada di tangan kirinya itu sudah cukup menjelaskan siapa laki-laki yang sedang menawan nya ini.
"Bukan kah sudah ku ingatkan padamu, jangan sekali- sekali kamu berani mengusik bisnis ku. Hahahaha.... sekarang tamatlah riwayat mu polisi biadap,,,!!! " seru lelaki bertopeng itu sambil perlahan menarik pelatuknya.
Riyan memejamkan matanya perlahan. Mati atau hidup adalah ketentuan sang Pencipta.. Jika nyawanya harus melayang malam ini, mungkin ia akan segera bertemu dengan sang ayah di syurga.
Plak....
Terdengar suara pistol itu terjatuh ke lantai bersama sendal karet berwana pink.
Dengan cepat Riyan membuka matanya, dan mengedarkan pandangannya. Bola matanya terhenti pada kaca spion mobil memantulkan bayangan Rembulan.
Rembulan sedang bersembunyi di balik mobil itu.
Ya Tuhan darimana datangnya wanita itu.
__ADS_1
Dengan langkah cepat Riyan berbalik dan menendang lutut pria itu. Riyan memutar kedua tangan nya kebelakang. Dan mengikatnya dengan borgol.
Akhirnya kepala mapia yang sedang ia incar di kota itu, datang dengan sendiri kepada Riyan.
Ku mohon, tetaplah bersembunyi . Bulan jangan pernah tunjukkan wajahmu disini....
Entah lah, Tiba-tiba hati lelaki itu di penuhi oleh rasa takut. Bukan takut pada musuh tapi takut Bulan ikut terseret ke dunia kejamnya.
Dengan cepat Riyan menutup mata sang mapia menggunakan dasinya. Mendorong kasar lelaki itu ke dalam mobil.
Saat Riyan, ingin masuk ke dalam mobilnya. Mata Riyan masih melirik Bulan. Entahlah... tempat ini begitu sepi, mungkinkah wanita itu bisa kembali dengan selamat?
Riyan mengurung kan niatnya untuk pergi. Iya mengunci mobilnya,meraih sendal yang menjadi penyelamat nya kali ini.
Riyan menghampiri Bulan yang sedari tadi membungkam mulutnya sendiri.
Kini berganti tangan Riyan yang membungkam mulut Bulan. Sungguh lelaki itu bahkan tidak ingin suara Bulan terdengar oleh orang lain.
Bulan tampak berontak, tangan kecilnya mulai memukuli tubuh kekar Riyan
. Bahkan menggigit pergelangan tangan Riyan. Namun tidak sedikitpun membuat tangan Riyan terlepas. Dengan gerakan cepat Riyan mempelaster mulut Bulan dan mengangkat pergi dari ruangan sunyi itu.
Memasuki litf dan melewati lorong-lorong yang sunyi. Hinggangga sampai lah di kamar 305,Riyan menurunkan Bulan "Lain kali jangan pernah keluyuran malam-malam sendirian, terlebih melakukan hal seperti tadi. Jika kau melihat sesuatu seperti tadi, maka pergilah Diam-diam." seru Riyan penuh tekanan.
Bulan tampak ingin bicara, namun mulutnya masih terplaster.
Riyan membuka pintu kamar bulan dan mendorong tubuh wanita itu masuk. "Jangan lupa kunci pintunya dari dalam" Serunya lagi sambil melepaskan tangan Bulan dari genggaman tangannya.
"Auuuuuu,,,, au sakit" keluhnya lirih.
"Dasar polisi jahat, bukan nya berterima kasih. Malah mempelaster mulutku. Kan sakit" gerutu Bulan sambil membuka kembali pintu itu, dan mengeluarkan kepalanya seperti kura-kura.
Matanya mencari-cari sosok laki-laki yang baru saja memberinya ultimatum. Namun lorong itu terlihat sepi, bahkan bayangan lelaki itu pun tak terlihat lagi.
"Cepat sekali dia menghilang, jangan-jangan dia keturunan setan, Hiiii" gumam Bulan sambil kembali menutup pintunya.
"Jangan lupa kunci pintunya"
Suara berat penuh tekanan itu terus terngiang di telinga Bulan.
Bulan pun mengunci pintu, membayangkan wajah seram Riyan saat itu membuatnya bergidik ngeri.
Pelan-pelan Bulan naik ke atas ranjang, dimana oma margaret sedang tertidur pulas.
Entah kenapa dengan hati Bulan malam ini.Sejak pulang dari rumah sakit, hatinya begitu gelisah. Bahkan selarut ini dia tidak dapat tidur.
Tiba-tiba bulan ingin sekali mendengarkan musik, tapi sayang. Headset Bulan tertinggal di mobil.
__ADS_1
Wanita yang tergolong tidak pernah memiliki rasa takut itupun nekat turun kebawah menuju parkiran. Dan siapa sangka ia melihat sosok lelaki yang pernah ia kenal sedang dalam bahaya. Sebuah ujung pistol tepat menempel di pelipis mata Riyan.
Bulan menoleh kearah sekitar. Tidak ada apapun, yang bisa menghentikan kejahatan lelaki berkacamata hitam itu.
Tapi bukan Bulan jika tidak punya ide jenius untuk melawan musuh. Walau saat bertemu dengan pelajaran IQ wanita itu mendadak mines. Tapi jika soal trik menjatuhkan lawan, Bulan jagonya.
Bulan tersenyum miring saat melihat sendalnya. Dengan cepat ia meraih sendalnya dan dengan incaran sebelah matanya. Lemparan bulan tepat mengenai sasaran. Tidak sia-sia waktu kecil dulu Bulan seringkali melempar mangga tetangga dengan batu hihihi Kini ia terlihat begitu lihai soal lempar-melempar.
"Yes"
ucap Bulan senang, wanita itu langsung membungkam mulutnya sendiri. Menatap takjub gerakan cepat Riyan. Hanya dengan hitungan detik, lelaki berjaket biru dongker itu menjatuhkan musuh.
"Waw... " ucapnya lagi.
Bulan seakan sedang menonton drama action di gedung bioskop. Wanita itu terlalu polos untuk memahami bahaya yang sedang mengancamnya.
Baru saja Bulan ingin berteriak Horee... Namun suara itu tertahan oleh tangan kekar Riyan.
"Dia kuat sekali" ucap Bulan lirih.
Sekelebat bayangan adegan tadi terus berputar di kepala Bulan.
Bulan menarik selimut sampai ke ujung kepala nya.
Tak bisa ia pungkiri bagaimana jantung nya berpacu hebat saat berada di dekat lelaki itu. Terlebih saat tubuh Bulan berada di atas kedua lengan kokoh lelaki itu.
Mata Bulan tertuju pada wajah tampan yang tampak begitu sangar kala itu. Riyan menatap nya dengan penuh amarah.
"Kenapa dia begitu marah?" tanya Bulan lagi.
Wanita itu begitu polos untuk memahami perasaan takut kehilangan yang baru saja Riyan tunjukkan.
"Aneh... kenapa dia tau nomor kamarku?padahal aku tidak pernah memberi tahunya"
Bukan nya tidur, tapi Bulan malah sedang berpikir keras. Menebak-nebak sikap misterius lelaki yang baru di kenalnya itu.
Masih teringat dengan jelas bagaimana lelaki itu menginterogasi nya sewaktu di kantor polisi. Lelaki itu terlihat tegas namun menyenangkan.
Dan tentu tak bisa Bulan lupa, saat ia tiba-tiba lelaki itu muncul di pantai. Lelaki itu terlihat begitu hangat, jiwa pelindung nya membuat Bulan merasa sangat nyaman berada dalam dekapan nya.
Dan malam ini...
Seperti mimpi... tiba-tiba Tuhan mempertemukan nya kembali. Namun dengan suasana yang berbeda lagi.
Ada perasaan tidak rela, tidak rela untuk kehilangan lelaki yang sudah tampak pasrah. Memberikan nyawanya melayang di tangan lelaki jahat yang menakutkan.
Abang polisi, kenapa dengan hatiku?
__ADS_1
Kenapa kau terus membayangi ku?
Tanya bulan lagi sebelum ia benar-benar tenggelam dalam mimpi alam bawah sadarnya.