Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
pengumuman


__ADS_3

Maaf untuk para pecinta BWM ,mungkin untuk saat ini author tidak bisa sering-sering up.


Karena pekerjaan di dunia nyata yang terlalu padat.


Bukan tidak mau,tapi waktunya tidak mencukupi..


Author seringkali lembur akhir-akhir ini....


Untuk menuggu up selanjutnya,kalian bisa intip-intip karya author yang berjudul "senja tanpa jingga...."


Salam sehat dari author...


Semoga kita semua selalu di beri kesehatan, di jauhkan dari segala wabah penyakit yang sedang menyerang negeri kita tercinta ini...Aminnn


😍😍😍😍😍😍😍


Hari ini....


Sesuai janji Danu,Pesta peresmian pernikahan mereka pun di gelar dengan begitu megah.


Danu duduk di sebuah ruangan, tangannya kembali mengapit benda kecil yang sedang mengepul.


Perlahan ia menghisap benda itu dengan rasa tak nyaman. Bukan karena ia tidak bahagia dengan pesta pernikahan ini,tapi entah kenapa hati kecilnya selalu saja menginginkan sang papi berada di momen bahagia ini.


Hatinya merindukan sosok lelaki renta yang membuatnya ada dan tumbuh dengan baik hingga sebesar ini.


Tapi setiap kali ia menginginkan lelaki itu, pikirannya selalu mengingat kan . Kejahatan papi Yoga dan om Aldo yang begitu fatal menurutnya.

__ADS_1


Sebenarnya sebelum hari ini,Danu sempat mengunjungi papi Yoga di penjara.


Namun lelaki tua itu enggan bertemu Danu,mungkin ia malu akan segala dosa-dosa yang telah ia perbuat.


Sebagai anak, Sesungguhnya Hati Danu juga tercabik melihat kondisi sang papi. Apalagi papi Yoga adalah seseorang yang paling ia hormati sejak kecil.


Walau bagaimanapun darah lelaki tua itulah yang mengalir di tubuhnya. Tentu saja sosok itu begitu berharga bagi Danu.


Tap tap tap


Suara langkah kaki itu terdengar semakin mendekati Danu. Dengan cepat Danu mematikan sumber asap yang tengah ia nikmati sedari tadi.


"Sayang----"


mulut Danu langsung terbungkam,tak mampu lagi berkata. Melihat Andini menggandeng tangan papi Yoga.


Wanita itu seakan mengerti akan kegelisahan yang selama ini Danu rasakan.


"Maaf kan papi nak....." ucap papi Yoga sambil menundukkan wajahnya.


Berat rasanya bagi lelaki tua itu untuk bertemu dengan anak semata wayangnya itu.


Perasaan bersalah yang begitu besar membuatnya selama ini enggan menemui darah dagingnya sendiri.


Danu masih terdiam tanpa kata,ia tak tau harus berbuat apa. Rasa ingin marah dan rindu kepada sang papi sama besarnya.


"Mungkin dosa-dosa papi memang terlalu besar,hingga papi memang tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Papi mu ini memang orang jahat nak. Tapi papi tidak pernah membunuh ibumu." ucap papi Yoga dengan suara serak terbata.

__ADS_1


Air matanya mengalir membasahi pipi, sebagai bentuk penyesalan yang terlalu dalam bagi lelaki tua itu. Mungkin itu air mata perdananya yang keluar setelah dewasa.


Lelaki yang biasa terlihat kuat dan tangguh itu terlihat begitu lemah saat ini.


Danu masih mematung, tangannya ingin memeluk tapi masih ada sebongkah amarah yang berusaha menghentikan.


"Mas hiks hiks hiks hiks"


Tiba-tiba mami Margaret datang dan langsung memeluk suaminya. Rindu yang teramat dalam juga ibu Marina rasa rasakan pada suami tercinta nya.


karena selama ini lelaki tua itu bukan hanya tidak ingin bertemu Danu. Ia juga tidak pernah mau menemui siapapun yang ingin menjenguknya,bahkan tidak terkecuali mami Margaret.


"Mas, kenapa kau tidak pernah mau menemui ku?aku tetap lah istrimu. Aku merindukan mu hiks hiks hiks..." ibu Marina menangis di dalam pelukan suaminya.


Melihat itu membuat hati Danu semakin berdenyut ngilu...ia seperti sedang memisahkan sepasang kekasih. Cinta keduanya terlihat begitu besar. Terlebih mereka adalah kedua orang tua yang sangat ia sayangi.


Danu terus menatap papi Yoga intens. Lelaki tua itu tampak begitu kurus dan tak terurus. rambut panjang kulitnya mengendur dan kumis beruban yang sudah tak terawat lagi.


Pantaskah hari tua sang papi berakhir seperti ini?


tanya Danu di dalam hatinya. Walau bagaimanapun, terlepas dari masa lalu pahitnya. Papi Yoga adalah sosok yang sangat berharga dalam hidupnya. Lelaki tua itu selalu berjuang keras selama ini untuk memberikan kehidupan yang layak untuknya.


Pantaskah ia menghukum papi nya seperti ini?


Tangan Danu mengepal,meremas jemari nya sendiri. Tak bisa di pungkiri,hati anak mana yang tidak pilu melihat kondisi orang tua nya seperti ini.


"Mas ... sedalam apapun kamu berusaha membenci papi. Tapi aku tau bahwa hatimu berhianat,hati masih menginginkan papi ada di sisimu. Jika rindu peluk lah ia,apapun yang telah terjadi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa papi Yoga adalah papimu mas"

__ADS_1


"Biarlah masa lalu menjadi guru yang paling baik untuk memperbaiki diri,bukan untuk membenci"


Andini menyentuh tangan Danu lembut,wanita sederhana itu hanya ingin kedamaian di dalam keluarga kecilnya.


__ADS_2