Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Maaf kan aku


__ADS_3

Dua hari di Korea penuh dengan perasaan bahagia.Kini saatnya kembali ke Indonesia.


Saat tiba di bandara,terlihat beri sudah menunggu mereka.


Beri dan pak suri langsung meraih koper yang ada di tangan Danu dan papi yoga.


Danu tampak semangkin keren dengan kaca mata hitam yang tersangkut di hidung mancungnya.Ia berjalan dengan pandangan terfokus pada mobil yang sudah terparkir indah.


Di belakang Danu ada papi yoga dan mami Margaret yang masih sibuk membahas rencana pernikahan Danu dan Andini.


Di samping danu,ada Andra dan sita yang tengah mencari-cari taksi online yang sudah Andra pesan.


Sementara Andini masih di posisi paling belakang.Ia berjalan santai sambil mendorong koper berukuran kecil miliknya.Pandangannya masih terpokus pada cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya.


Perasaan bahagia yang menyelimuti hati membuat Andini tidak mampu menahan senyuman manis dari ujung bibirnya.


Mami Margaret dan papi Yoga sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh pak suto.


Andra dan sita juga sudah menghilang bersama taksi online nya.


Sementara Danu mulai merasa kesal,menunggu Andini yang sedang berjalan pelan seperti tanpa dosa.


Beri langsung meraih koper dari tangan Andini dengan cepat karena jadwal meeting Danu yang sudah mepet.


Setelah memasukkan semua koper ke dalam bagasi mobil,beri membukakan pintu untuk Andini.


Dengan santai Andini duduk di samping Danu.


"Kenapa jalanmu seperti siput,lama sekali" Danu langsung menyemburkan kekesalannya.


Andini hanya menatap Danu intens,melihat perubahan sikap Danu.


"Padahal baru kemarin dia bersikap manis dan penuh perhatian tapi kenapa hari ini sudah marah-marah"


"Ayo cepat Ber,tunggu apa lagi" seru Danu pada Beri yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Iya iya,ini juga sudah berusaha cepat" Beri menstarter mobil dan langsung tancap gas.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Pandangan Danu terfokus pada lap-top yang ada di pangkuannya.Libur 2 hari membuat banyak laporan yang harus ia periksa.Di tambah lagi ia harus memimpin rapat hari ini.


"Kita mau kemana dulu nih,antar nona Andini dulu atau-----"


"Ya langsung ke kantor lah.Lu kan tau jadwal meeting nya sebentar lagi" Danu langsung memotong pembicaraan beri.


Beri hanya menelan salivanya,sambil melirik kaca spion yang memperlihatkan Danu masih terfokus pada lap-topnya.


Sementara Andini melemparkan pandangannya ke luar jendela.Hati nya yang tadi berbunga-bunga langsung berubah kesal melihat sikap Danu yang mulai menyebalkan.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam,hanya sesekali suara desis Danu yang terlihat kecewa dengan isi lap-topnya.

__ADS_1


Atmaja group


Ini pertama kalinya Andini memasuki gedung megah perusahaan Atmaja group.Danu berjalan dengan penuh wibawah,di ikuti oleh Beri dan Andini.


Para karyawan langsung menunduk kan kepala saat berpapasan dengan mereka.Ada yang langsung melanjutkan pekerjaannya.Dan ada juga yang langsung bergosip mempertanyakan keberadaan Andini di antara Danu dan Beri.


Andini duduk di di sofa yang ada di ruangan Danu sambil memainkan ponselnya.


Beri tampak sibuk menjelaskan isi berkas-berkas yang ada di tangannya.Beri menyebut-nyebut nama seseorang di tengah-tengah pembicaraan mereka.Walau bisa mendengar dengan jelas tapi Andini tidak memperdulikan isi pembicaraan mereka.Selain karena ia tidak faham,Andini juga merasa itu bukan urusannya.


"Panggil dia kemari" seru Danu datar.


"Baik pak" jawab beri sopan.


Sampai di sini Andini baru mengetahui sisi lain dari Danu.Saat bekerja Danu terlihat tegas dan begitu serius,tidak seperti Danu yang ia kenal humoris dan penuh perhatian.


Tok tok tok terdengar seseorang mengetuk pintu. "Masuk" seru Danu dengan pandangan masih terpokus pada berkas yang ada di tangannya.


Kreek seorang pria itu membuka pintu,lalu melangkahkan kaki mendekati meja Danu.


"Duduk"


Dengan ragu pria itu menarik kursi di seberang Danu dan duduk sesuai yang di perintahkan.


"Brak"


Tiba-tiba Danu melepar berkas itu ke hadapan pria itu.Pria itu tampak kaget namun tetap menunduk.


Andini yang mendengar suara tidak beres,mulai melirik ke arah meja Danu.


"Ma maaf pak,akan segera saya perbaiki" ucap pria itu gugup.


"Kenapa bisa seperti ini?"


"Maaf pak,akhir-akhir ini aku ada masalah keluarga jadi kurang fokus dalam bekerja.Dan saya---"


"Aku menggajimu untuk bekerja,bukan hanya untuk duduk dan meratapi kisah konyolmu" seperti biasa,kebiasaan Danu memotong pembicaraan dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari orang lain.


"Maaf pak maafkan saya,saya berjanji tidak akan mengulanginya" pria itu masih tertunduk tidak berani menatap wajah Danu.


"Aku mau hari ini juga harus selesai" seru Danu tegas.


"Baik pak"


"Ya sudah kamu boleh pergi"


Pria itu berbalik, "Haah itu kan si Ucup temen sekolah aku" mata Andini terbelalak saat melihat wajah pria yang sedari tadi di marahi oleh Danu.


Andini terus menatap punggung pria itu hingga menghilang.


Selang beberapa menit, Tok tok seseorang mengetuk pintu lagi. "Masuk" lagi-lagi Danu menjawab dengan mata yang masih tertuju pada berkas-berkas.

__ADS_1


"Maaf pak,sudah waktunya meeting" Beri mengingatkan jadwal meeting dengan begitu sopan.


Mendengar ucapan Beri Andini langsung beranjak dari duduknya, "Mau kemana kamu?" suara Danu langsung menyambar telinga Andini.


"Mas beri bosnya suka naik motor ya?" tanya Andini dengan mata melirik Danu.


"Oh iya mbak,kok tau?" ujar beri jujur,karena sejatinya Danu memang suka motor.


"Pantesan kalau ngomong suka NGEGAS" sindir Andini penuh tekanan.


Beri tersenyum menahan tawanya. "Mbak Andini mau kemana?" tanya beri lembut dan sopan. "Aku mau keluar,soalnya di sini gerah banget,udaranya panas" Andini mengipas-ngipas kan tangan ke area wajahnya dan berlalu meninggalkan ruangan itu.


Danu melirik tajam beri yang masih berusaha menahan tawanya.


"Kamu memang the best mbak Andini,selain bisa membuat seorang Danu kelimpungan tapi kamu juga berhasil membuat Danu mati kutu,hahaha lihat aja tuh wajah kesalnya setelah mendapat sindiran keras dari calon istri"


"Ayo" Danu beranjak dari duduknya dan membenahi kancing jas nya.


****


Andini berjalan gontai menyusuri taman yang berada di area gedung.Hari ini ia mulai mengetahui sisi menyeramkan dari diri lelaki yang mungkin sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Ya begitulah manusia,tidak ada yang bisa sempurna.Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah.


Pikiran Andini melayang kepada sosok Bagas yang sudah menjadi masa lalu nya.Bagas yang nyaris tidak pernah berkata kasar,tidak di sangka bisa menghianatinya.


Di bawah pohon yang rindang,Andini duduk dan menghela nafasnya dalam.Kini baru ia menyadari bahwa keputusannya untuk menerima cincin dari Danu.Berarti ia juga harus mulai belajar memahami Danu dari setiap sisi.Kegagalan rumah tangganya dengan Bagas tentu sudah menjadi pelajaran tersulit,untuk selalu ia ingat.


Andini faham betul,menikah itu bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai.Tapi menikah itu juga harus mempersiapkan mental karena akan ada kerikil dan batuan besar yang mungkin bisa membuat kita jatuh.


Andini menarik nafasnya berat,bukan karena menyesali keputusannya.Hanya saja hati kecilnya mulai di luputi rasa takut akan kekurangan yang telah menjadi pemicu luka di masa lalu.Mungkinkah Danu bisa tetap mencintainya jika ia tidak bisa menjadi wanita sesuai fitrah.


Tatapan sendu tertuju pada cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


Hatinya bertanya-tanya "Apakah aku begitu buruk sehingga Allah tidak menganugerah kan seorang malaikat kecil di rahimku?Apa aku benar-benar tidak layak menjadi seorang ibu?Sebegitu besarkah dosaku sehingga Allah tidak mempercayaiku untuk-------"


Sentuhan lembut di ujung kepalanya membuyarkan lamunan Andini. "Maaf" satu kata yang terdengar indah di telinga Andini. "Maaf,jika aku sudah menyakiti hatimu", Andini menatap sosok itu duduk di sebelahnya.


"Terkadang tanggung jawab yang ada di pundakku,membuat aku hilang kendali.Hari ini begitu banyak masalah di kantor.Tapi tidak seharusnya aku melampiaskannya padamu.Di hadapan karyawan aku memang seorang pemimpin yang harus bersikap tegas.Tapi di hadapan istriku aku adalah seorang lelaki yang harus menjaga perasaannya." Danu menyentuh tangan Andini dengan lembut.


"Belum istri,masih calon" Andini menarik tangannya dan melempar pandangannya kearah berlawanan.


"Hanya tinggal menunggu waktu pas" Danu meraih wajah Andini "Maaf" "Maafkan aku".


Andini tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Danu.


Pada akhirnya hati wanita memang akan mudah luluh dengan kata maaf begitu tulus.


Kata maaf memang tidak bisa menghapus salah menjadi benar.Tapi hakikatnya kata maaf mampu menyiram hati menjadi cemerlang.


Kini Danu bisa bernafas lega,walau hasil rapat hari ini tidak begitu memuaskan.Tapi setidaknya hati Danu tidak lagi merasa sesak.Seperti saat Andini pergi meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Danu sangat menyadari hati Andini yang mudah rapuh,karena pernah terluka di masa lalu.


Rasa cinta yang begitu besar pada Andini.Meruntuhkan ego yang pernah bersarang di hatinya.


__ADS_2