
Di pesisir pantai.....
Andini duduk termangu di atas pasir putih,pandangannya tertuju pada laut yang terbentang luas.Semilir angin menyibak setiap helai rambutnnya...
Kedua tangan Andini memeluk kedua kakinya,mencoba melawan udara dingin yang kian menyerang tubuh kecilnya.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya,kepalanya langsung mendongak.Terlihat seorang pria berpostur tinggi putih dan bermata biru menatap sendu...
"Steven!" seru Andini kaget,melihat Steven tiba-tiba ada di hadapannya.
Steven duduk di samping Andini, "kenapa selarut ini kau ada disini?" tanya Steven menghela nafasnya dalam.
"Kenapa lu ada di sini?" Andini menatap Steven intens.
"Ya Ela yang di tanya malah balik nanya" Steven melepas jaketnya dan memakaikan ke tubuh Andini.
"Kenapa lu ada di sini?" tanya Andini lagi.
"Kebetulan gw ada kerjaan di sini" jawab Steven melempar batuan kecil ke lautan.
"Kerjaan?" Tanya Andini menuntut penjelasan lebih.
"Huh...gw sebenarnya kesini pengen melupakan orang yang gw sayang,tapi anehnya gw malah justru bertemu dengan nya di sini" jelas Steven membuang nafasnya kasar.
"Emang siapa yang lu suka, yang mana orangnya?" mata Andini celingak-celinguk mencari-cari seseorang.
Yang gw suka itu lu Andini....gak peka banget sih....
"Gak perlu di cari,kamu gak akan bisa melihat" Steven kembali melempar batu ke lautan.
"Kenapa?" tanya Andini masih tidak mengerti.
"Karena dia ada di sini" Steven menarik tangan Andini lalu menempelkan ke dada bidang. "Dia ada di hati.Jadi..... walau kemana pun gw pergi gw tetap menemukannya di hati ini" Steven menatap Andini lekat,begitu pula Andini.Hingga Steven tenggelam dalam perasaannya sendiri.
"Apa lu udah pernah mengungkapkan perasaan lu yang sebenarnya?" tanya Andini menyadarkan Steven dari lamunannya.
"Hahaha dia sudah menikah dengan orang lain.Jadi lebih baik aku tidak mengatakannya" Steven tertawa melihat wajah polos Andini yang begitu serius mendengarkan,tapi tidak memahami bahwa dia lah wanita yang Steven maksut.
"Ufu ufu kasian sekali teman gw yang satu ini....hmmm memang begitulah hidup kadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.Mela sangat mencintai lu,tapi lu nya ternyata sudah mencintai orang lain." Andini menghela nafas nya dalam.
"Gw pikir Mela hanya terobsesi sama gw,bukan mencintai"
"Kenap lu berpikir seperti itu?" tanya Andini semakin tenggelam dalam rasa penasaran.
"Karena..... ah udah ah kok jadi bahas mela,seharusnya kan bahas lu kenapa bisa ada di sini?" tanya Steven kembali ke topik awal.
"Hmmm..... gw hanya ingin menikmati udara segar,di sini" Andini menghirup nafas dalam lalu "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Andini teriak sekuat-kuatnya mencoba melepas kekesalannya bersama angin.
Kau selalu seperti ini Andini ,menutupi semua masalahmu pada ku...kau selalu pura-pura bahagia di hadapanku....kau tidak pernah mau membagi masalahmu denganku.Padahal aku sangat ingin memberikan pundak untukmu bersandar,aku ingin kau membagi luka mu Andini....
Steven menatap Andini intens,ia bisa melihat ada kesedihan di mata wanita yang sangat ia cintai.Namun itulah Andini,dia tidak akan pernah membagi masalah rumah tangganya pada setiap orang.
"Sudah malam,ayo gw antar lu pulang." Seru Steven.
"Hmmm kalau lu mau balik,ya udah balik aja.Gw masih pengen di sini!" Andini memalingkan wajahnya.
"Andini ini sudah terlalu malam tidak baik untuk kesehatan,angin nya terlalu kencang ntar lu sakit" Steven mengulurkan tangannya mencoba membujuk Penolakan Andini tadi semakin meyakinkan Steven bahwa memang Andini sedang mengalami masalah.
__ADS_1
Andini masih tak bergeming menatap lautan.Ia tak tau harus pulang kemana,karena ia masih kesal dengan Danu.
"Andini...jika kau tidak mau aku antar pulang,maka telpon Danu untuk menjemputmu " seru Steven,walau Steven tidak menyukai Danu tapi Steven tidak ingin melihat Andini sakit karena kedinginan.
Seandainya kau masih sendiri,aku pasti sudah membawamu pergi tanpa harus menunggu si brengsek itu.Aku yakin kamu ada di sini karena dia.
"Aku tidak membawa ponsel" jawab Andini enteng.
"Apa kau ingat nomor ponsel suamimu?" Tanya Steven lagi.
"Tidak" jawab Andini singkat.
"Huh baiklah kalau begitu aku akan menelpon kak Andra " Steven meraih ponsel dari saku celananya.
Mendengar nama kak Andra membuat Andini langsung beranjak dari duduknya.Bukanya takut,hanya saja Andini tidak ingin kakaknya mengkhawatirkan dirinya.Karena Andini faham betul bagaimana sikap Andra yang protektif padanya.Apa lagi sejak kedua orang tua mereka meninggal.Andra menjadi sangat rewel pada satu-satunya adik yang sangat ia sayangi.
"Oke,gw pulang! tapi gak perlu lu antar,gw bisa pulang sendiri" seru Andini sambil menyungutkan bibirnya.
"Nah gitu dong....tapi gw tetep akan mengantar lu pulang,memastikan lu sampai ke tempat tujuan dengan selamat.Tidak perduli lu setuju atau tidak.Kecualiii...." Steven tersenyum penuh kemenangan.
"Kecuali apa?" tanya Andini cepat
"Kecuali telpon Danu dan minta ia menjemputmu di sini" ucap Steven berat sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Andini.
"Hah?,,,tidak perlu menelponnya.Bukankah sudah ku katakan aku tidak mengingat nomor ponselnya" Dengus Andini kesal,mengingat pertengkarannya dengan Danu tadi.
Hahaha yes akhirnya aku bisa juga berdua'an dengannya .....bisa menatapnya dan berjalan dengannya sedekat ini sudah membuatku senang....seakan mengobati rindu karena sudah lama tidak bisa bertemu....
"Ada masalah apa lu dengan suaminmu?" tanya Steven menyelidik.
"Gak ada masalah apa-apa,hanya sedikit ke salah pahaman.Bukankah dalam rumah tangga itu biasa?" jawab Andini sambil menyilangkan tangan di atas perutnya.
"Hahaha lu bener, bocah mana paham" akhirnya tawa Andini pecah,melihat wajah polos Steven yang seakan menggelitiknya.
OMG tawanya masih seperti dulu....sangat cantik jika tertawa seperti ini.... ya Tuhan buatlah wanita ini terus tertawa seperti ini.....aku hanya ingin dia bahagia,itu saja
Steven menatap Andini intens,melihat wanita pujaannya bisa tertawa lagi sudah membuatnya bisa bernafas lega.
Merelakan bukan berarti menyerah,tapi menyadari ada hal yang tidak bisa di paksakan.
Ikhlas itu memembutuhkan pernafasan panjang.Ikhlas itu berat,berat banget....apa lagi harus mengikhlaskan kamu bersamanya.Tapi...bisa melihat mu bahagia,itu sudah cukup bagiku.....karena cintaku tidak memaksa namun memberi sayap....memberi sayap agar kau bisa terbangmang dengan bebas kemanapun arah yang kau suka.Jika memang kau memilih untuk terbang bersamanya,maka aku akan tetap memberikan sayap ku asal kau bahagia....yah cintaku hanya untuk membuatmu bahagia.....maka teruslah bahagia wahai wanita pujaan ku.....i love you ......
Steven mengusap ujung kepala Andini.Di dalam hatinya,ia bermununajat kepada Tuhan untuk selalu membahagiakan Andini.
Mereka terus berjalan menyusuri pantai,saling berbagi canda dan tawa.Steven yang terkenal sebagai manusia es balok.Tapi jika dengan Andini entah kenapa ia bisa berubah menjadi hangat,sehangat wedang jahe yang mampu meredakan gejala masuk angin.
Di waktu dan jam yang sama...Danu dan beri berjalan kesana kemari mencari-cari Andini.
Area pantai yang begitu luas membuat mereka kesulitan mencari wanita itu.
"Eh Nu,bukanya itu istri lu" ucap beri menunjuk-nunjuk Andini.
"Brengsek,laki-laki itu lagi...kenapa dia bisa ada di sini.Mau apa dia mendekati istriku seperti itu" seru Danu penuh amarah,melihat Andini yang tengah tertawa lepas bersama Steven.
"Awas kau brengsek!" Danu mengepalkan tangannya mengumpulkan seluruh emosi nya.Dan ingin menghajar lelaki yang sudah membuat istrinya tertawa.
"Eh mau kemana lu" Beri menahan tubuh Danu kuat.
__ADS_1
"Gw mau memberi pelajaran sama si brengsek itu" seru Danu terbakar emosi.
"Santai bro,jangan bersikap kekanak-kanak kan seperti ini.Aku yakin mereka tidak sengaja bertemu,dan mereka tidak pernah ada hubungan apapun.Jangan gegabah....tahan emosi lu...pikirkan dengan kepala dingin." jelas Beri,mencoba meredupkan amarah yang telah tersulut di hati Danu.
"Arrgghhhh gw gak peduli,awas lu jangan halangi gw" seru Danu sambil mendorong tubuh Beri hingga tersungkur di atas pasir.
"Danu... Danu dengerin aku dulu...." teriak Beri namun Danu tidak memperdulikannya. "Aissh anak itu memang seperti papinya.Kalau sudah marah susah sekali untuk di tangani" gerutu Beri sambil memukul pasir putih hingga meninggalkan bekas.
"Oh jadi begini ya kelakuan mu di belakang ku...seru Danu menarik tangan Andini kasar hingga menoleh padanya" melihat Andini memakai jaket Steven membuat amarahnya semakin membara.
"Mas... sakit" rintih Andini mengeluh kesakitan karena tangannya di pegang dengan sangat kuat oleh Danu.
"Sakit kamu bilang....lalu lebih sakit mana dengan melihatmu berkencan dengannya!" teriak Danu hingga suaranya memekakkan telinga.
"Maaf pak saya dan Andini tidak ada hubungan apa-apa.Saya hanya ingin memastikan Andini selamat sampai ke tempat tujuan" Steven mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.Sungguh ia tidak tega melihat Andini meringis kesakitan.
"Arggghh" buk Danu langsung melayangkan pukulannya tepat di wajah Steven.
Karena pukulan itu,membuat jiwa laki-laki Steven mendorongnya untuk membalas pukulan itu.Dan ia merasa tertantang untuk berkelahi.Dengan begitu emosi Steven langsung mengangkat tangannya seakan ingin membalas perlakuan Danu.Namun " Steven...jangan,ku mohon" suara teriakan Andini kini kembali meluluhkan hatinya.Dia menatap lekat wajah Andini yang sudah berlinang air mata.
Tapi momen itu justru membuat Danu semakin kalap.Ia langsung memukul Steven dengan membabi buta.Sedangkan Steven hanya mencoba menahan setiap pukulan Danu.Tidak membalas sedikitpun,demi wanita yang sangat ia cintai.
"Stop Danu.....! lu sudah gila ya? dia bisa mati jika seperti ini! " Seru Beri sambil menarik-narik tubuh Danu sekuat tenaganya.
"Beri...lepaskan aku.Aku memang ingin membunuhnya,aku benci orang yang sudah mengganggu istriku !" teriak Danu mencoba menghempaskan tubuh Beri.Jika beradu kekuatan fisik tentu beri sudah pasti kalah dengan tenaga Danu.
Danu masih berusaha menyerang Steven,namun di halangi oleh Andini.
"Jangan mas,jangan memukulnya lagi,dia tidak bersalah ku mohon....mas......" Andini menangkup kan kedua tangannya memohon pada sang suami.
"Kau masih bisa membelanya di hadapanku? " teriak Danu sambil merengkuh wajah mungil Andini hingga mendongak ke arahnya.
"Mas jika mau marah,maka marahlah padaku.Jika mau pukul maka pukul lah aku,ini masalah rumah tangga kita jangan menyalahkan orang lain.Jika menurutmu aku jalan berdua dengannya adalah salah.Maka salahkan lah aku,karena aku yang mengizinkannya" seru Andini lagi dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya.
"Jangan membela nya lagi....atau aku akan benar-benar akan membunuhnya" teriak Danu lagi sambil mengguncang tubuh Andini.
"Jangan bicara sekeras itu padanya,apa kau ingin istrimu mengalami trauma lagi" ucap Steven dengan tatapan sinis.
Mendengar ucapan Steven membuat Danu sedikit lemah.
"Sudah.Lebih baik kau pergi dari sini Steven.Andini sudah aman bersama suaminya." ucap beri menepuk bahu Steven mencoba menengahi ke salah pahaman di antara mereka.
"Baik,aku akan pergi.Tapi tolong pastikan Andini akan baik-baik saja bersamanya" ucap Steven sambil melirik tajam Danu.
"Ya kalau soal itu kamu tidak perlu khawatir" sekali lagi Beri menyentuh bahu Steven.Mencoba untuk menenangkan laki-laki yang terlihat dengan jelas masih mengkhawatirkan Andini.
Steven pun berbalik dan beranjak pergi meninggalkan mereka.
"Tunggu" Danu membuka jaket yang ada di tubuh Andini dengan kasar lalu melemparnya ke wajah Steven. " Bawa ini,istriku tidak membutuhkan apapun darimu" seru Danu kesal.
Steven tersenyum sinis, " Aku hanya sekedar mengingatkan,istrimu memiliki riwayat lambung,jadi udara dingin seperti ini tidak cocok dengannya" ucap Steven dingin.
"Aku tidak juga tidak memerlukan nasehatmu" seru Danu membuang wajahnya.Ucapan Steven sungguh seakan menampar Danu dengan keras.Karena sepertinya Steven lebih memahami istrinya daripada dia.
Lepas dari kepergian Steven,Andini langsung menangkupkan kedua tangan untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah mulai menggigil.
Namun Danu tidak memperdulikannya,karena mengingat ucapan Steven yang seperti menusuk tepat di jantungnya.Danu langsung menarik tangan Andini kasar,tidak peduli Andini sangat kesusahan untuk mengimbangi langkah kakinya.
__ADS_1
Sementara Beri hanya bisa menggelengkan kepala,melihat sikap arogan Danu selaku sayabatnya.
Bicara pada orang yang sedang marah memang sangat susah,apalagi jika marah karena cemburu.