
"Terimakasih mbak....."
Bagas meraih plastik putih berisikan untuk baby key.
Bagas berbalik sambil memeriksa obat yang ia bawa.
"Mbak....beli vitamin untuk ibu hamil...."
Langkah Bagas terhenti,mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Yang seperti biasa ya mbak......"
Yah gak salah lagi...pikir bagas,walau belum terlihat wajahnya tapi iya sangat mengenali pemilik suara itu.
Dengan cepat ia menoleh ke arah seorang wanita yang baru saja datang itu.
"Andini....."
Bagas menyapa wanita itu dengan ramah.
"Mas Bagas..??." Andini menatap lekat Bagas "siapa yang sakit mas?...ibu?"
Pertanyaan itu langsung terlontar begitu saja saat melihat beberapa botol sirup di tangan Bagas.
"bukan ibu...."
Andini sedikit lega,,walau bagaimanapun ia sangat menyayangi ibu marina. Wanita paruh baya itu juga sangat baik padanya.
"Lalu siapa?"
Tanya Andini lagi
"Keyza...putriku..." jawab Bagas lemas.
"Oooo....sakit apa mas?"
"Demam tinggi"
"Duh kasian...." ucap Andini penuh rasa iba.
Tiba-tiba ponsel Bagas berdering....
"Iya..
iya....
iya....
iya saya akan segera ke sana"
Bagas kembali menyimpan ponselnya kedalam saku.
"Din.....?"
"Iya mas...."
"Bisa minta tolong?"
"Hmmm insyaallah...apa yang bisa aku bantu"
Bagas menghela nafas dalam,ia masih tidak habis pikir. Wanita yang sudah pernah ia sakiti masih mau membantunya tanpa ragu. wanita ini memang tidak berubah,masih baik hati seperti dulu.
Bagas menatap wajah Andini lekat tanpa berkedip.
"Mas bagass?"
Seru Andini sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Bagas....
"Eh...ehemmm,iya maaf" Bagas tersadar dari lamunannya.
"Kok malah bengong?...mau minta tolong apa?"
"Oh ya hampir lupa...." Bagas tersenyum puas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmmmm ....begini din,bisa tolong berikan obat ini pada ibu,dia ada di rumah sakit sebelah. Kebetulan aku ada urusan penting di kantor...takut gak keburu kalo harus ke rumah sakit lagi soalnya urgent banget nih"
Jelas Bagas dengan tatapan memohon..
"Ya sudah sini'in obatnya ...." Andini mengulurkan tangannya .
"Beneran gak papa nih....?"
"Iya mas gak papa,sekalian aku juga kangen sama ibu. Udah lama gak ketemu."
Bagas memberikan obat itu pada Andini. " Makasih ya din?"
__ADS_1
"Iya mas sama-sama" ucap Andini sambil tersenyum manis..."Ya udah sana gih buruan pergi keburu telat" sambung Andini lagi.
"Iya ...aku pergi...."
Bagas bergegas pergi,walau hatinya masih ingin memandang wajah Andini lebih lama lagi. Tapi ia sadar....bahwa Andini bukan miliknya lagi.
Kali ini ia benar-benar ingin belajar move on dari wanita itu...
Bagas menghela nafas dalm,dan segera melajukan mobilnya ke tempat tujuan...
****
Tepat di depan pintu ruangan baby key...
Klek....perlahan Andini menarik handle pintu ruangan itu...
Terlihat sosok wanita separuh baya yang sedang memandangi cucunya yang terbaring lemah. Bayi mungil itu masih mengenakan selang infus di tangannya.
"Ibu...."
Suara lembut Andini mengejut
"Andin...ini beneran kamu kan?..." ibu Marina mendekati Andini.
"Iya Bu ini aku. Andini..."
Ibu Marina menatap Andini intens...wanita di depannya itu masih terlihat cantik walau perutnya sudah membuncit.
Ternyata benar apa yang Bagas katakan,Andini benar-benar hamil.pikir ibu Marina.
"Bu apa kabar?" tanya Andini sambil memeluk ibu Marina.
Ibu Marina membalas pelukan itu,walau bukan menantunya lagi. Tapi Andini masih bersemayam dengan baik di hati kecilnya. Rasa sayang yang dulu tidak pernah pudar sedikitpun.
"Alhamdulilah ibu sehat,semenjak kamu pergi...ibu menjaga kesehatan dengan baik. Sesuai perintahmu" Ibu Marina menjebil pipi Andini gemas.
"Aaaaahhh ibu....." Andini kembali memeluk ibu Marina dengan manja.
"Ibu merindukanmu nak" ucap ibu Marina tulus.
"Aku juga rindu Bu....."
Sudah lama Andini merindukan pelukan ini...pelukan seorang ibu.
"Kenapa ibu tidak bertanya kabarku?"
"Ibu sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini nak..."
Ujar ibu Marina jujur,walaupun ia juga merasa sedih saat melihat kondisi putranya yang belum bisa melupakan Andini.
"Terimakasih Bu....ibu sejak dulu selalu menyayangiku dan mendukungku seperti putri ibu sendiri"
"Bagiku...kau memang putriku...." ucap ibu Marina sambil menyentuh pipi Andini dengan penuh kasih.
"oh ya,tadi aku ketemu mas Bagas di apotik. Dia minta tolong kasih ini ke ibu"
Andini menyodorkan kantung plastik putih itu kepada ibu Marina .
"Terimakasih nak"....ibu Marina tersenyum " Lalu di mana Bagas"
"Dia ada urusan penting katanya"
Ibu Marina mengangguk-anguk kan kepalanya.
"Oh ya bagaimana keadaan baby key?"
Ibu Marina menunduk sedih....
"Sudah mulai membaik ,,hanya saja kata dokter Keyza mungkin merindukan ibu nya....tapi.....----"
ibu Marina tidak melanjutkan kata-katanya. Ia tidak ingin melukai hati Andini.
Dada Andini terasa sesak,ketika melihat seorang bayi yang harus jauh dari ibunya..Bagaimana tidak,ia sangat faham bagaimana sakitnya merindukan seorang ibu.Terlebih kini ibunya sudah tiada lagi.
"Hmmm sudah berapa bulan usia kandunganku nak" ibu Marina mengalihkan topik pembicaraan,karena tidak ingin melihat wajah sedih Andini.
"Sudah lima bulan Bu....alhamdulilah " jawab Andini sambil mengusap-usap perutnya.
"Kamu harus banyak gerak,terutama saat pagi hari,atur pola makan dan istirahat dengan baik. Jangan sampai kecapek an" ujar ibu Marina sambil mengusap ujung kepala Andini.
"Iya Bu...."
"Tapi kalau di lihat-lihat perut kamu agak melebar dan lebih besar untuk usia lima bulan,jangan-jangan bayinya kembar.."
ujar ibu Marina ,orang tua dulu memang memiliki kelebihan dalam menilai kehamilan. Mungkin karena mereka sudah lebih berpengalaman.
__ADS_1
"Iya ...kata dokter Andini bakal memiliki sepasang baby twins..."
ucap Andini membenarkan ucapan ibu Marina.
"Wah selamat ya sayang...dapat dobel sekaligus"
"Iya Bu terimakasih,ini juga berkat do'a ibu...."
Andini tersenyum,penuh syukur....atas apa yang sudah ia dapatkan sekarang. Setelah melewati jalan berliku yang penuh duri dalam hidupnya..kini ia mendapat kan reward dari Allah dengan memiliki keluarga kecil yang sempurna sesuai impian.
Bagaimana tidak,terlepas dari suaminya yang pencemburu akut. Suaminya itu sangat tampan ,baik dan kaya...dan nilai plus nya lagi...kini Andini telah mengandung benih cinta mereka...
Mengingat tentang suaminya...Andini langsung teringat pada lelaki yang akhir-akhir ini semakin over protektif padanya.
Satu hari ini Andini lupa memberi kabar....
Ponselnya juga tertinggal di mobil.
"Bu Andini ....dapat telpon dari tuan Danu"
Tiba-tiba suara supir Andini mengejutkannya.
Huh tu kan ....bener tebakan gw...mas Danu pasti udah nelpon bin sedari tadi...mampus deh gw
"Permisi bu,Saya angkat telpon dulu"
Andini bergeser menjauh dari ibu Marina ,ia tidak ingin ibu Marina mendengar ocehan Danu.
"Iya mas... jawab Andini lirih"
"Dimana?,kenapa gak angkat telpon?sedang apa? sama siapa?"
Seberondong pertanyaan langsung terlontar begitu saja dari mulut Danu.
"Eeeeemmmmm emmmm emmm"
Andini bingung mau jawab apa,terdengar dengan jelas nada kesal dari suaminya itu.
"Em em em apa?" seru Danu kesal. Ingin rasanya Danu membanting ponsel itu,tidak biasanya Andini seperti ini jika di tanya.
"Di di rumah sakit mas" jawab Andini terbata-bata.
"Ngapain?bukanya jadwal cek-up nya sudah tiga hari yang lewat?" tanya Danu penuh selidik.
"Aku menjenguk anak mas Bagas di rumah sakit" jawab Andini jujur...karena jika berkata bohong pun akan percuma. Suaminya itu pasti akan tau juga.
Mendengar nama Bagas membuat hati Danu semakinn mendidih. Danu memejamkan matanya ,menarik napas dalam. Mencoba menahan emosinya.
"KAMU PULANG ATAU AKU YANG DATANG" Seru Danu penuh tekanan.
"Iya mas aku segera pulang" jawab Andini lirih.
Andini paham betul karakter suaminya itu. Bukannya mengekang atau tidak memberi kebebasan tapi Ia paling tidak suka hal-hal yang berhubungan dengan laki-laki lain,terlebih Bagas adalah mantan suami Andini.
Danu langsung melempar ponselnya....dan seperti biasa Beri si asisten gembul itu selalu saja siap siaga menangkap ponsel Danu.
Mau bagaimana lagi...jika ponsel itu pecah maka gaji Beri yang akan terpotong...sungguh dilema si Beri sepertinya akan di mulai lagi....
Sabar ya Ber....orang sabar pantatnya lebar....
"Brengsek...Kalau gak Steven ,Pasti Bagas...apa sih bagusnya mereka? ganteng juga lebih ganteng gw,kaya juga lebih kaya gw..tapi kenapa Andini tidak bisa lepas dari kedua lelaki itu?kurang apa coba gw ber?"
Danu meluapkan emosinya pada Beri..namun yang di ajak ngomong malah asik mengusap-usap ponsel.
"Beriiii.....lu dengerin gw gak sih?"
Sebuah miniatur moge yang ada di meja Danu langsung melayang ke kepala Beri..
"Aduhhh...gila lu Nu !! sakit tau...." Dengus Beri
"Makanya kalau di ajak ngobrol itu fokus,jangan menghayal melulu . Dasar gembul....gak da otak!" Sarkas Danu.
"Apa lu bilang?....gak da otak?...ya lu bener... gw memang gak da otak ...karena kalau gw punya otak gw gak kan mau selalu jadi pelampiasan emosi lu..."
"Gw juga cepek Nu,ngeladenin lu yang kayak bocah. Lu itu udah dewasa sebentar lagi bakal jadi ayah,bisa gak sih lu kontrol emosi lu!" teriak Beri.
Entahlah....lelaki berpostur gembul itu juga tiba-tiba meledak. Orang yang biasanya selalu sabar menghadapi segala ocehan Danu. Tapi.... kali ini....sepertinya ia berubah menjadi orang yang berbeda.
"Lu itu gak tau masalahnya ..! kalau gw gak bisa mengontrol emosi...udah gw hajar tu orang" Danu semakin mengeraskan rahangnya...memporak-porandakan meja kerjanya.
"Ini yang lu sebut mengontrol emosi?..." Beri mengeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum sinis.
"Lu bener...gw gak tau ,dan gw gak mau tau apapun itu masalah lu"
"Mulai sekarang urus aja semua masalah lu sendiri ,gak usah ngelibatin gw lagi..." Danu meleparkan berkas ke meja Danu lalu pergi meninggalkan Danu.
__ADS_1
"Yah pergi aja lu,pergi jauh-jauh...bila perlu gak usah kembali lagi....gw juga gak butuh lu....denger itu"
Walau sudah berada di balik pintu tapi Beri masih bisa mendengar teriakan Danu dengan jelas.