
Suasana di rumah makan apung, Rembulan menikmati sepotong ayam panggang dan nasi uduk nya.
Tiba-tiba seorang pelayan memberinya setangkai mawar merah.
Bulan menoleh kanan kiri, di kanan ada Oma Margaret dan di kiri ada Bintang. Keduanya mengangkat bahu.
Tak lama kemudian ada lagi seorang tamu yang juga memberi nya setangkai mawar. Tidak hanya dua, dengan selang waktu satu menit. Beberapa orang datang silih berganti dengan membawa setangkai mawar, hinga mawar itu menjadi seperti buket bunga yang cantik.
Bulan tampak bingung, menatap aneh rangkaian mawar di tangan nya.
tiba-tiba Huazimmm... Huazimmm.... Huazimmm....
Bulan mulai bersin-bersin, Bulan menggosok-gosok hidungnya hingga memerah.
"Hahahaha"
Bukanya kasian tapi Bintang justru malah menertawakan nya.
"Bintang, kakak kamu flu nih. Jangan tertawa gitu ah " seru Oma Margaret cemas sambil menempel kan punggung tangan nya ke kening Bulan.
Entahlah sumpah Demi apa, tubuh bulan tiba-tiba panas.
"Loh Bulan badannya panas nih" seru Oma lagi.
"Jangan becanda Oma,sedari tadi dia juga baik-baik aja. Mungkin syok kali Oma, gak pernah dapat bunga" ejek Bintang.
"Bintang, Oma serius. Kakak kamu demam" seru Oma sambil memukul pundak Bintang.
"Masak iya demam,padahal tadi makannya masih banyak" gerutu Bintang lirih sambil menyodorkan kan tangan nya ke kening Bulan.
Wajah Bintang, tiba-tiba ikut berubah menjadi panik.
"Hey kenapa lu kak,kenapa tiba-tiba sakit? seharusnya lu jangan makan ikan kak, ikan kan satu spesies sama lu. Masak lu embat juga, gini kan jadinya.. kena kutuk raja ikan lu" grecok Bintang sambil mengangkat tubuh Bulan yang tiba-tiba lemas.
"Loh Bulan kenapa?" tiba-tiba Vano muncul di sana dengan pakaian rapih.
"Entahlah tiba-tiba demam, setelah dapat bunga" jawab Oma sambil menyapu ujung kepala Bulan dengan cemas.
Bulan tampak pucat dan lemas di dalam gendong ngan Bintang.
"Ayo bawa kerumah sakit pakai mobil gw" ujar Vano cepat.
"Ayo, cepat... berat nih" keluh Bintang.
"Iya ayo, lewat sini mobil gw ada di depan" seru Vano.
Mereka pun tampak berlari-lari kecil menuju mobil Vano.
Vano mengendarai mobil dengan cepat, menyibak keramaian kota di malam hari. Karena terlalu terburu-buru hingga Vano menerobos Lampu merah.
"Lampu merah tuh, seru Bintang mengingat kan"
__ADS_1
"Keselamatan Bulan lebih penting" seru Vano.
Bintang dan Oma Margaret pun mengangguk setuju.
Sesampainya di Rumah sakit, Bulan langsung di tangani oleh dokter.
Bulan memasuki ruang periksa dibtemani oleh Oma Margaret. Bintang dan Vano menunggu di luar.
Vano dan Bintang duduk bersebelahan namun tanpa suara.
Ting ting ting suara ponsel Vano berbunyi.
"Mas gimana nih, kapan balon dan lampu-lampu nya di hidupkan? " tanya petugas kafe yang sudah ia bayar.
"Maaf bang, tidak jadi semuanya gagal. Do'i lagi sakit" jawab Vano kecewa.
Bagaimana tidak,padahal lelaki itu sudah menyiapkan suasana romantis dengan susah paya untuk nembak Bulan. Tapi semuanya persiapan nya sia-sia karena Bulan sakit. Padahal masih surprise pertama. Masih banyak lagi surprise-surprise selanjutnya.
Bintang melirik wajah Vano. Terlihat jelas rasa kecewa campur khawatir di wajah itu.
Bintang tersenyum tipis, " Lain kali jangan pakai Bunga, Bulan tidak suka bunga. Bahkan seumur hidupnya tidak perna menyentuh tumbuhan itu" jelas nya.
"Vano langsung menatap Bintang yang tersenyum penuh arti. Laki-laki itu seperti nya sudah bisa menangkap arti suasana tadi. Tidak butuh waktu lama bagi Bintang untuk menyimpulkan.
" Maksud lu?" tanya Vano
"Gw tau lu mau nembak Bulankan?" tebak Bintang.
Vano tersenyum malu. Memalukan bukan? coba bayangin aja, bagaimana di posisi Vano.
Vano tersenyum kecut, baru kali ini rencananya gagal total. Udah gitu ketauan lagi sama adik si do'i. Tengsin abis rasanya. Ini memalukan bagi Vano.
Kejadian ini tidak bisa di Terima akal sehat Pria yang terkenal sebagai Penakluk wanita itu.
Namun Vano tidak akan berhenti sampai di sini, Vano semakin di buat penasaran oleh kepribadian Bulan.
"Bagaimana keadaan Bulan Oma?" tanya Vano cemas.
"Kata dokter Bulan sudah tidak apa-apa, hanya saja Bulan alergi wangi Mawar." jelas Oma.
Mata Vano terbelalak lebar " Kenapa gw begitu ceroboh " Vano merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Maaf Oma, sebenarnya mawar itu dari saya" ungkap Vano jujur. "Saya cuma pengen kasih surprise buat Bulan, tapi saya tidak tau kalau ternyata bulan alergi mawar. Seharusnya saya tidak se ceroboh ini" sambung Vano lesuh.
"Tidak apa-apa nak Vano,tidak ada yang tau tentang alergi Bulan. Karena sejak kecil Bulan tidak pernah menyentuh bunga, apalagi bunga mawar." jelas Oma Margaret.
Oma Margaret dapat melihat perasaan rasa bersalah tersirat di wajah Vano. Walau Oma Margaret tidak terlalu menyukai lelaki itu, tapi Oma cukup terharu dengan kejujuran Vano kali ini.
"Boleh saya bertemu dengan Bulan sebentar Oma?" tanya Vano.
"Boleh silahkan, tapi bulan nya sedang istirahat"
__ADS_1
"Iya saya tidak akan menggangu istirahat nya, saya hanya ingin melihat keadaan Bulan"
Oma Margaret hanya membalas dengan seulas senyum, pertanda ia tidak keberatan.
Tap tap tap suara langkah kaki Vano terdengar nyaring diruangan tempat Bulan di rawat.
Terlihat wajah pucat bulan yang sedang terlelap, tapi walau begitu Bulan masih tampak bagitu manis, terlebih saat tidur begini pikir Vano.
kenapa gw baru sadar? kalau Bulan begitu manis...
Di balik sikapnya yang bar-bar tenyata wanita itu tidak menyukai bunga..
Sedikit aneh sih...
Tapi kenapa gw jadi makin penasaran sama wanita ini?
Huhhhh.... Desah Vano, membuang nafasnya kasar.
"Cepat sembuh ya,,, maaf?...gara2 gw lu jadi sakit" ujar Vano lirih.
Dengan berat hati Vano meninggalkan ruangan itu.
"Nak Vano pulang saja, sudah malam. Biar Oma dan Bintang yang menunggu Bulan. " ujar Oma Margaret ramah.
"Tapi saya ingin ikut menjaga Bulan di sini Oma" ucap Vano jujur.
Entahlah, entah sejak kapan pula lelaki itu jadi begitu perhatian pada Bulan.
"Tidak perlu nak Vano.Kata dokter besok pagi Bulan juga sudah boleh pulang. Nak Vano pulang saja. Besok baru kemari lagi sekalian jemput Bulan. " ucap Oma lagi.
Dan pada akhirnya '.... walau berat, Vano pun meninggalkan ruangan itu.
Ke esokan harinya....
perlahan Bulan membuka kelopak mata, terlihat sosok Bastian sudah berada di samping nya.
"Bas... " ucap Bulan lirih sambil mengedarkan pandangan nya.
"Iya gw, Oma dan Bintang ada di hotel. Tadi malam Oma gw paksa pulang. Takutnya sakit kalau nungguin lu di sini. " jelas Bastian, lelaki itu langsung tau apa yang Bulan cari.
"Gimana? apa masih ada yang terasa sakit?" sambungnya lagi.
"Gak papa Bas,gw udah baikan"
"Luh ada-ada aja si Bul, cewek kok alergi bunga. Gw pikir lu itu kebal dari segalanya" ejek Bastian.
"Ah resek lu bas. gw tetap manusia biasa, bukan gatot kaca"
"Ya iyalah, gatot kaca mana mungkin sakit gara-gara bunga" ejek nya lagi.
"Udah ah Bas, jangan nyerocos melulu. Gw laper nih" ungkap Bulan jujur.
__ADS_1
" Tuh udah gw sediakan makanan di meja. Mau gw suap?" tanya Bastian penuh harap.
"Gak lah, gw masih bisa makan sendiri" ucap Bulan sambil beringsut dari tempat tidurnya. Pergi ke kamar mandi lalu segera duduk di sopan dan meraih seemangkuk buryam di atas meja.