
"Ya gitu Pi" Danu menceritakan apa yang sudah terjadi pada Andini. "Dokter menyatakan Andini sudah pulih.Namun kata dokter jangan memberikan tekanan,Andini butuh waktu untuk sendiri untuk pelan-pelan menata hatinya.Jangan bertanya tanyakan hal-hal yang akan membuatnya sedih" jelas Danu pelan.
"Terus soal mantan suami Andini itu gimana?" tanya mami Margaret serius.Mendengar kata mantan suami wajah Danu langsung berubah kesal. "Gimana?" sambung papi yoga yang ternyata juga ikutan kepo. "Ya gimana,si Bagas itu bener-bener nyebelin" Danu mendengus kesal. "Maksudnya?" mami Margaret mendekat kan wajahnya antusias "Coba aja mami bayangin,dia menggendong Andini saat Andini tak berdaya,terus sok-sok perhatian gitu,bikin kesel aja" ujar danu sambil meremas-remas tangannya sendiri. "Ih dasar laki-laki gak tau diri,udah punya istri berani-beraninya gangguin putri kesayangan mami,coba aja kalau mami ada di sana udah mami pites tu orang" mami Margaret meremas tangan papi yoga dengan geram. "Sudah-sudah anak sama mami sama aja.Emangnya kutu di pites" ucap papi yoga sambil menarik tangannya dari remasan mami mami Margaret.
"Iya emang kutu pi,KUTU KUPRET emang tu orang" jawab mami geram. "Hahaha mami bisa aja,udah ah aku mau tidur capek" Danu melangkah kan kaki menuju kamarnya sambil tertawa-tawa geli mengingat maminya menyebut Bagas kutu kupret.
Sementara papi yoga langsung menarik istrinya menuju kamar mereka.
Keesokan harinya,seperti biasa Andini bangun pagi melaksanakan sholat subuh di kamarnya lalu keluar menuju dapur untuk membantu bik mini memasak di dapur.Namun hari ini Andini tampak berubah menjadi lebih pendiam,padahal biasanya jika Andini sudah di dapur udah langsung aja ngoceh dan bertanya ini dan itu pada bik mini.
"Kenapa non kelihatannya non Andini sedih?" tanya bik mini lirih, "Gak papa bik,cuma lagi kangen aja" Andini menunduk dan sedih. "Kalau boleh tau,kangen sama siapa non?" bik mini menatap Andini intens, "Sama papa dan mama bik" jawab Andini jujur,bik mini yang sudah tau cerita tentang Andini dari mami Margaret langsung menarik nafas dalam. "Nona Andini sudah mengingat semuanya?" tanya bik mini sambil memegang pundak Andini.Andini mengangguk,matanya mulai terlihat genangan air yang siap menetes. "Jangan menangis non,jika rindu maka do'akan karna hanya do'a tulus dari anak yang Sholeh dan Sholehah yang kini orang tua non butuhkan bukan air mata" ujar bik mini lirih.
Andini menatap wajah teduh bik mini lalu memeluknya "Makasih bik,udah ingetin aku" ucap Andini sambil menghapus air matanya.
"Iya non,nona Andini jangan sedih lagi,semua orang disini sayang sama nona.Terutama tuan Yoga,saya tidak pernah melihat tuan Yoga cemas seperti tadi malam saat menunggu nona Andini pulang.Tuan yoga sampai mondar-mandir gak jelas gitu saking cemasnya,di tambah lagi nyonya nangis terus-terusan.Bibik pikir non Andini kenapa-kenapa,tapi Alhamdulillah nona Andini baik-baik aja,masih sehat wal'apiat" bik mini membalas pelukan Andini dengan hangat.
"Masak sih bik?" Andini melepaskan pelukannya dan menatap bik mini intens. "Iya non,suwer deh mana berani bibik bohong.Hmmm kalau di pikir-pikir non Andini sama tuan muda Danu itu cocok loh" ucap bik mini jujur.
"Ih bibik ini,kok jadi lari nya ke mas danu" Andini tersenyum malu. "Eh memang beneran kok non,nona Andini cantik dan tuan muda Danu tampan pasti anak-anaknya juga cantik dan tampan" ucap bik mini sambil tersenyum gemes membayangkan kan anak Danu dan Andini.
"Gimana kalau saya gak bisa memberi kan anak untuk mas danu?" tanya Andini sedih. "Non anak itu Anugrah dari Allah,yang memberikan anak itu Allah bukan kita,tugas kita sebagai manusia itu hanya bisa berusaha dan berdo'a dan jika kita sudah berusaha dan berdo'a dengan sungguh-sungguh,insya Allah Gusti Allah akan mengabulkan do'a hambanya yang Sholeh dan Sholeha" jelas bik mini sambil meraih tangan Andini.
Mendengar penuturan bik mini Andini langsung bergelayut manja di bahu bik mini. "Sekali lagi terimakasih bik,bibik sudah menyemangati saya" ucap Andini pelan.
"Iya sama-sama non,nona Andini sudah saya anggap seperti anak saya sendiri.Saya selalu berdo'a agar nona Andini di limpahkan begitu banyak kebahagiaan,amiiin" ucap bik mini tulus. "Amiiin ya robbal alamin,terimakasih bik",Andini memeluk bik mini sekali lagi.Suasana dapur menjadi sangat hangat,bik mini dan Andini memasak di dapur bagaikan ibu dan anak.Banyak ilmu yang Andini dapatkan dari bik mini,sikap Andini yang baik dan tidak pernah membeda-bedakan status sosial membuat bik mini dan para pelayan di rumah itu menyukainya.
__ADS_1
Pagi ini Danu tampak sibuk dengan ponselnya,sedari tadi ia terlihat sedang bicara serius dengan seseorang.
Sementara papi Yoga justru terlihat santai meniup dan menyeruput kopi panas buatan Andini.
Sedangkan mami margaret,tampak begitu mencicipi rempeyek makanan tradisional khas Jawa yang baru saja Andini buat tadi bersama bik mini.
"Ini enak sayang,rasanya gurih,ini makanan apa kok mami baru gak pernah liat makanan yang seperti ini?" tanya mami dengan mulut terisi penuh sambil membolak-balik rempeyek yang ada di tangannya.
"Ini namanya rempeyek,makanan tradisional khas jawa,dulu mama aku sering buatin ini untuk papa dan kak andra,bisa di bilang ini makanan favorit di rumah kami" jelas Andini dengan menyimpulkan senyum di ujung bibirnya.
"Ini pi cobain,kata enak deh" ucap papi Margaret sambil mengulurkan rempeyek ke tangan papi Yoga. "Kalau bagi papi semua masakan putri papi pasti enak" ujar papi yoga sambil menyeruput kopi nya lagi.
"Om tante terimakasih" ucap Andini tiba-tiba menunduk sedih.
"Loh sayang,kenapa panggilnya om dan tante?dan trimakasih untuk apa?" tanya mami Margaret serius.Sementara papi yoga langsung meletakkan kopinya di atas meja dan menatap intens Andini.
"Nak,ini adalah rumahmu,semenjak kau masuk ke rumah ini,papi dan mami sudah menganggapmu seperti putri kami sendiri.Dan lagi mami tidak suka di panggil Tante oleh putri kesayangan mami" mami Margaret beranjak dari duduknya lalu mendekati andini.
"Tapi---" belum lagi Andini selesai bicara "Ya sudah tidak ada tapi-tapi,berhubung putri papi sudah sehat,weekend besok kita akan liburan keluar negri" sambung papi yoga sambil beranjak dari tempat duduk nya.
"Apa?" mendengar kata luar negri mata Andini terbelalak kaget.
"Papi serius?" tanya mami yang masih belum sepenuhnya percaya.Ini pertama kali suaminya memutuskan liburan bersama.Biasanya kalau keluar negri hanya karena urusan bisnis saja.Tidak pernah bersama keluarga.
" Iya donk,apa pernah papi bohong.Biar semuanya nanti di urus oleh beri,Andini tinggal pilih aja mau kenegara mana" ucap papi yoga sambil kembali menyeruput kopi nya.
__ADS_1
"Korea pi,dari dulu Andini pengen banget ke Korea bertemu dengan lee min ho,uuuu pasti seru" ucap Andini yang mulai tersenyum sendiri membayangkan wajah aktor kesayangannya itu.
Papi yoga tersenyum puas melihat Andini langsung melupakan kesedihan nya,tidak hanya Andini ternyata mami Margaret juga terlihat bahagia.Sepertinya kata liburan langsung mampu menghipnotis dua wanita yang ada di hadapannya.
"Tidak masalah,kemanapun asal Andini putri papi bahagia" papi yoga langsung mendapatkan pelukan dari Andini "Terimakasih Pi" ucap Andini bahagia, "Terimakasih suamiku" ucap mami Margaret sambil ikutan memeluk papi Yoga.
"Wah aku juga mau peluk-pelukan",seru Danu dengan tangan yang sudah bersiap untuk memeluk Andini.Namun tubuhnya tertahan oleh tangan papi Yoga.
"Belum muhrim" ucap papi yoga dengan mata yang sudah melotot.Akhirnya Danu harus menelan Saliva nya dengan sangat susah.
"Ya makanya cepat nikahkan kami biar muhrim" gerutu Danu pelan.
"Apa mas?" Andini langsung membalikkan badannya,terdengar suara samar-samar dari Danu. "Gak papa,nanti Andra katanya akan datang kesini,katanya udah kangen sama adiknya yang bawel ini" ucap Danu sambil mencolek pipi Andini.
Andini langsung tersenyum bahagia,mendengar kakak yang ia rindukan akan datang menemuinya.
Pepatah mengatakan,apa yang kita tanam maka itulah yang kita tuai.Siapa sangka berawal dari satu kebaikan Andini tanam dengan menolong mami margaret,kini ia menuai hadiah tiga cinta yang tulus dari papi yoga,mami Margaret dan Danu.
Pagi ini berawal dengan sangat indah,Andini dan mami Margaret sibuk berbelanja untuk mempersiapkan liburan mereka ke Korea.Mereka terlihat kompak dan penuh semangat.
Setelah selesai berbelanja Andini langsung menemui Andra dan sita.Mereka pergi berziarah ke makam mana Ratih dan papa anto.Selesai berziarah Andini dan Andra pulang ke rumah mereka yang dulu.Satu bulan tak berpenghuni,membuat rumah itu terlihat kusam dan berdebu.
Masih banyak bingkai foto nama Ratih dan papa Anto yang tergantung indah di dinding rumah mereka.Andini Andra dan mita membersihkan rumah itu,begitu banyak kenangan yang terlintas di benak Andini saat melihat setiap sudut ruangan di rumah ini.Bayangan kedua orang tuanya terus menari-nari di pikiran Andini.Andini melihat rajang dimana mama Ratih memeluknya saat ia sedang bersedih.Hatinya terasa sakit dan pedih,namun Andini harus bisa menelan pahitnya kenyataan hidup tanpa kedua orang tua.
Kata-kata bik mini tadi pagi benar-benar membuat Andini menyadari bahwa hanya do'a lah yang kini bisa ia berikan pada kedua orang tua nya.Menangis,meratap dan bersedih yang berlebihan hanya akan membuat kedua orang tuanya bersedih di alam sana.Andini berusaha untuk mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya.Karena setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan,semua yang ada di dunia ini hanya milik Allah dan akan kembali pada Allah.
__ADS_1
Di kantor Danu sibuk memikirkan kejutan yang akan ia berikan untuk Andini nanti.Rencana papi Yoga untuk pergi berlibur keluar negeri ternyata adalah ide dari Danu.