
Dua bulan sudah berlalu....
Sejak kejadian di Bali.Andini tidak pernah lagi bertemu dengan Steven...
Jangankan bertemu Steven untuk ngobrol dengan Beri saja tidak pernah ia lakukan. Walau bagaimanapun,Danu sudah menegaskan tentang apa yang tidak dia suka.
Andini mencoba memahami itu,mungkin jika Danu dekat dengan wanita lain ia juga akan merasakan hal yang sama.
Hari ini benar-benar melelahkan baginya.
Andini duduk di sebuah kursi sambil memijat-mijat kakinya.
Hampir seharian ia bergulat di dapur,untuk membuat roti di toko yang ia beli dengan uangnya sendiri.Sesuai dengan ke inginannya,Danu memberikan ijin pada Andini untuk mengelola toko kue kecil-kecilan.Kali ini tekadnya untuk meraih mimpi yang sempat ia kubur semakin kuat.Andini ingin memulai usaha sesuai dengan keahliannya.Awalanya Danu menolak dan mengadukan Andini pada kedua orang tuanya,tapi mami Margaret dan papi Yoga justru malah mendukung keputusan Andini.
Sebagai orang tua,mereka tidak ingin mematahkan sayap Andini untuk berkarir.Andini berhak meraih mimipinya,selama ia tidak melalaikan tugasnya menjadi seorang istri.
Karena banyak pihak yang sudah mendukung Andini ,membuat Danu dengan berat hati merelakan istrinya kembali bekerja.
"Sudah aku bilang,jangan di kerjakan sendiri.Aku kan bisa cari orang untuk mengelola toko mu ini.Kamu tinggal terima hasil,bereskan?"
Gerutu Danu sambil duduk di samping Andini dan menarik kedua kaki Andini kepangkuan nya.Andini langsung tersenyum lebar mendapat perhatian dari sang suami.
"Atau minimal,cari orang untuk membantu pekerjaan kamu.Jadi kamu tinggal sebut aja,masukin ini...masukin itu...pake ini pake itu ... tidak perlu menyiksa diri seperti ini"
Danu mengomel sambil memijit-mijit kaki Andini.
"Gak papa mas,lagian kalau menambah orang lagi takut gak bisa bayar..income nya kan masih kecil" jawab Andini masih dengan tersenyum melihat wajah kesal suaminya.
"Kalau gitu biar aku yang bayar,susah amat!" seru Danu enteng.
"Mas....kok kesini?,bukannya mas bilang semingu ini akan banyak pekerjaan?" tanya Andini mengalihkan pembicaraan.Ia tidak ingin membahas masalah toko nya lagi.Karena ia sangat tau suaminya masih belum sepenuhnya mendukung.
"Emang kenapa? aku gak boleh datang ke tempat kerja istriku?" cetus Danu sambil melirik Andini tajam.
"Bukan begitu maksudku mas,tapi...aku harus menyelesaikan pekerjaanku.Hari ini banyak pesanan,jadi aku harus menyelesaikannya karena besok mesti sudah siap " Andini menarik kedua kakinya dari pangkuan Danu lalu bergelayut manja ke pundak Danu.
Bersikap manja,membuat Danu merasa di butuhkan.Karena sejatinya Danu memang tidak menyukai kemandirian Andini.
"Apa mas bisa membantuku?" Andini mendongakkan kepalanya menatap wajah Danu dengan seringai lebar.
"Bantu apa? " seru Danu dengan ekspresi tidak paham. "Uang?" tebak Danu,melontarkan pemikirannya.
" Is bukan,kenapa sih selalu saja hanya uang yang ada dipikiran mu mas" Andini mencebik sambil menyungutkan bibirnya.
"Lalu apa dong..."
"Bantuin aku bikin roti...." pinta Andini manja.Entah kenapa tiba-tiba saja ia sangat menginginkan membantunya.
__ADS_1
"Ah mana bisa aku " seru Danu cepat. Hah gila aja seorang Danu Brahmana Atmaja membuat roti....?
"Ayolah mas..." rengek Andini sambil menarik-narik tangan Danu.
"Ah ogah ah,cari orang lain saja untuk ngerjain biar aku yang bayar" sarkas Danu.
Andini menyungutkan bibirnya. " Mas aku tuh pengennya kamu yang bantuin...."
"Bantu yang lain aja deh....misalnya,gendong....cium....atau masukin belut dalam lubang gitu" Danu menarik tangan Andini hingga ia terjatuh dalam pelukannya.
Andini menarik tubuhnya memberi jarak di antara mereka.
"Belut?.... " tanya Andini polos,menuntut penjelasan.
"Iya belut.Tapi kalau mau mainin belut jangan di sini.Mending kita pulang...." Ujar Danu terkekeh melihat ekspresi bingung Andini yang terasa lucu baginya.
Mendengar kata pulang membuat Andini langsung paham apa maksud suaminya... "itu sih semua emang maunya kamu mas....Ayolah mas " Andini terus menarik,narik tangan Danu.
"Hmm oke oke.Tapi nanti dirumah kita...."
"Iya iya....imbalannya sesuai pekerjaan jika pekerjaannya bagus maka servisnya juga bagus" potong Andini.Karena ia sudah tau apa yang akan di katakan suaminya,yang pasti tidak terlepas dari permainan ranjang.Apalagi coba selain itu.
"Oke.Siapa takut....." Danu langsung bersemangat ,ia berdiri membuka jas nya dan menggulung kemeja sampai ke siku. "Ayo " tangan nya mengamit tangan Andini dan berjalan penuh percaya diri.
Andini mengikuti langkah Danu dengan menahan tawa,karena sudah berhasil memprovokasi suaminya.
show time.....
Dengan adanya Danu membuat dapur Andini semakin berantakan.Apalagi saat ia berusaha membuat Cake karena permintaan andini.
Tangan Danu yang kaku selalu menumpahkan bahan makanan.Tapi....entah kenapa Andini sangat menikmati momen itu...melihat Danu kebingungan membuat Andini tertawa begitu lepas.
Bayangkan saja.Danu yang terbiasa di layani seperti raja,hanya tinggal menunjuk apa yang ia mau dan menyebut apa yang ia suka,semua akan tersedia dalam hitungan menit.Tapi...kini ia harus berhadapan dengan tepung gula dan telur....dan melihat caranya memecah telur saja sudah membuat Andini tergelitik.
Danu masih tetap terus semangat walau berkali-kali ia mengalami kegagalan dalam menjalani prosesnya.Berkali-kali menumpahkan adonan,berkali-kali salah memasukkan bahan dan berkali-kali juga ia membuang hasilnya.
Namun itu justru membuat Andini senang karena usaha dan semangat Danu.
Yah begitulah Andini ,wanita sederhana yang sangat bahagia dengan hal-hal kecil.
Akhirnya...bukannya membantu...tapi justru bisa di bilang Danu malah menggangu pekerjaan Andini...
Setelah hampir dua jam Danu dan Andini bergulat di dapur...
Danu berhasil membuat cake walaupun dengan tampilan yang sangat buruk.
Di perjalanan pulang Andini tak bisa berhenti tersenyum.Ia terus memandangi cake hasil karya Danu.
__ADS_1
"Jika kamu mau cake,aku kan bisa membelikanmu.Tidak perlu menyiksaku seperti tadi" seru Danu sambil menyentuh pipi Andini lembut.
Melihat Andini bisa tersenyum seperti ini,seolah menghapus rasa kesalnya.
"Tapi aku tuh pengennya kamu yang buat mas,liat deh warnanya bagus agak kehitam-hitaman bentuknya juga unik" puji Andini tulus.
Danu melirik Andini intens lalu pandangannya beralih pada cake yang ada di tangan Andini.
Cake?
Hahaha bagaimana bisa?bahkan kue itu tidak pantas di sebut cake.
"Huh bilang aja itu gosong dan aneh" Dengus Danu,menyerukan fakta.
"Mas...!" Andini langsung melirik Danu tajam seakan tidak menerima perkataan Danu. "Jangan pernah menghina kue buatan suamiku.." seru Andini,langsung mencebik.
Idih marah suaminya kan gue... " iya deh.... maaf...jangan ngambek gitu dong...sensitif amat" bujuk Danu mengusap ujung kepala Andini lembut...
"Oh ya,Kenapa kau begitu senang dengan kue gosong itu?" tanya Danu dengan pandangan masih terpokus pada jalanan.
"Mas....! " seru Andini ...
Mendapati sorotan tajam dari mata Andini membuat Danu menyadari bahwa ada yang salah dalam kata-katanya barusan..
"Eh bukan gosong tapi...agak kehitam-hitaman" Danu meralat ucapannya tadi.
"Huwaaa huwaa huwaaa " tiba-tiba tangis Andini pecah. Entah kenapa rasanya sangat sesak mendengar kata gosong gak di sebut oleh Danu secara berulang-ulang.
Hah kenapa dia tiba-tiba jadi menangis? Apa dia salah makan seuatu atau jangan-jangan dia salah minum obat?
Danu menepikan mobilnya dengan segera.Merangkul tubuh kecil yang ada di sampingnya.
"Kenapa nangis...jika aku salah maafkan aku...tapi jangan nangis" Danu mengecup dan menyapu puncak kepala Andini yang sudah tenggelam dalam pelukannya.
"Jangan mencaci kue buatan suamiku lagi...aku tidak suka hiks hiks..." Andini menangis sesenggukan hingga air matanya membasahi kemeja Danu.
Kenapa dia bisa sesedih ini...suaminya itu kan aku.Yang bilang gos--- eh bukan,tapi agak kehitaman... karena tangis Andini membuat Danu menjadi takut untuk mengucapkan kata yang sudah membuat istrinya sedih,walaupun itu di dalam hati.
"Sudah...sudah jangan menangis,aku minta maaf deh gak bakal aku ulangin lagi.." Danu memundurkan tubuhnya dan membentuk jarinya seperti huru V.
"Janji?" Andini mengacungkan jari kelingkingnya.
Hah apalagi ini? pakai perjanjian kelingking seperti anak remaja...
Ah udah deh turutin aja.Daripada ntar malah minta perjanjian tertulis hitam di atas putih,pakai materai lagi...
Bisa tambah ribet kan?
__ADS_1
"Iya janji" Danu menghapus air mata Andini lalu menautkan jari kelingkingnya.
Dan langsung membuat garis senyuman melengkung indah di bibir Andini.