Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Hasil Tes


__ADS_3

Pagi itu Andini tengah di sibukkan dengan pekerjaan rumah seperti biasa.Membuat sarapan dan mengurus semua kebutuhan Danu.


"Diiiinnnii..... "


Teriakan itu.......


Hampir setiap pagi harus Andini dengar...


Ada saja hal yang selalu membuat lelaki itu berteriak setiap pagi.


Kalau bukan karena dasi dan pakaian dalam pasti karena kaus kaki...


"Iya mas, sebentar..." Andini segera meninggalkan segelas susu yang baru saja selesai ia buat.


"Diiiniiii....."


Teriakan itu sudah seperti sirine gawat darurat,ia terus berbunyi jika tidak segera di tangani.


Kali ini apa lagi sih?


Andini berjalan cepat menuju kamar,sambil berusaha mengingat-ingat apa sudah terlewatkan.


Bukankah semuanya sudah di persiapkan oleh Andini.


Satu set pakaian lengkap sudah ia letakkan di atas meja. Tapi kenapa sirine emergency itu berbunyi?


"Ada apa sih mas,bisa gak sih gak usah pakai teriak?" Andini mendengus kesal.


"Kalau gak teriak,gimana caranya kamu bisa denger.Kamu ada di dapur" protes lelaki itu.


Andini menghela,perkataan Danu memang benar adanya. "Ya udah emang ada apa?kenapa belum pakai baju?bukankah sudah aku siapkan semua di tempat biasa " ujar Andini pelan,dengan pandangan tertuju pada siluet tubuh tubuh kokoh yang hanya di balut handuk di bagian bawahnya.


"Maksud kamu apa sih?? bagaimana bisa aku pakai ****** ***** seperti ini?" seru Danu sambil menjinjing ujung ****** ***** berenda milik Andini.


"Loh itu kan punya aku,kenapa ada di situ?" tanya Andini dengan mata terbelalak kaget.


"Ya mana aku tau...kan kamu yang nyiapin" Danu mengedik kan bahunya,sambil tersenyum nyeleneh.


Bayangkan saja bagaimana geli nya saat melihat Danu memakai ****** ***** berenda milik Andini,berwarna merah pula.


"Ya udah sini" Andini meraih CD miliknya dari tangan Danu "Perasaan tadi udah bener,kenapa sekarang jadi berubah.Atau jangan-jangan sengaja mas tukar ya?" ujar Andini sambil menuju lemari yang berfungsi sebagai penyimpanan CD.


"Idih kurang kerjaan banget aku" sangkal melengos.


Walau semua sudah berada di tempatnya sendiri,tapi laki-laki itu tetap saja selalu membuat Andini menyiapkannya. Dengan alasan takut mengacak-acak lemari jika mengambil sendiri,padahal ia memang malas.


"Nih..." Andini memberikan CD berwarna hitam kepada Danu.


"Sayang...aku memang suka dengan CD yang tadi,tapi jika kamu yang pakai. Bukan aku ." ujar Danu dengan seringai menggoda. Pikirannya kini jadi teringat bagaimana seksi nya Andini saat memakai sepasang pakaian dalam berwarna merah...seakan membakar geloranya di dalam bercinta.


"Jadi pengen liat kamu pakai itu lagi" imbuh Danu lagi sambil menarik dagu Andini hingga mendongak kewajahnya,lalu dengan gerakan cepat ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Andini.


"Apa'an si mas" ucap Andini sambil tersenyum malu,wajahnya kini memerah mendengar ucapan Danu yang sontak juga mengingatkan betapa agresifnya ia saat itu.


Andini mendorong sedikit tubuh Danu hingga pelukan mereka terlepas. Lalu ia segera berbalik menutupi wajahnya yang sedang malu.


"Udah jam tujuh!cepat pakai pakaian mas nanti terlambat ngantor nya" seru Andini sambil melangkah pergi meninggalkan Danu.


Namun langkah Andini tiba-tiba tertahan oleh lengan kokoh Danu yang sudah melingkar di perut Andini.Kepala Danu sudah menyelip di bagian leher Andini. Kecupan kecil di bagian itu,membuat lenguhan tertahan di bibir Andini.


"Mas...sudah siang" ujar Andini sambil membalikkan tubuh nya lalu mengecup bibir laki-laki itu pelan.


Jika saja tidak mengingat meeting penting yang harus di hadiri Danu pagi ini,mungkin Danu sudah melahab habis tubuh Andini.


"Hmmm" Danu menghela napas dalam. Berat rasanya ia harus melepaskan tubuh yang berhasil membuatnya terus-menerus kecanduan.

__ADS_1


Dengan perasaan seakan tidak rela,Danu melepas pelukannya.


"Cepat...aku tunggu di bawah" seru Andini saat tubuhnya sudah berada di depan pintu. Andini menoleh sebentar dengan melempar seulas senyuman di bibirnya,lalu menghilang.


Huh kenapa dia terlihat manis sekali....


Batin Danu sambil mengacak-acak rambutnya yang masih basah.


Di meja makan....


Danu melahap habis 2 tangkup roti yang sudah di olesi selai nenas kesukaannya. Sebelah tangannya meraih segelas susu yang di buat oleh Andini tadi,lalu menuguknya sampai habis.


"Jam berapa jadwal nya nanti?" tanya Danu sambil mengusap bibirnya dengan tisu.


"Ya mana aku tau" Andini mengecilkan bahunya "Bukankah kata mas yang urus itu mas beri?" tanya Andini sambil menautkan alis nya.


"Oh iy aku lupa,kenapa aku jadi nanya nya ke kamu" Danu menepuk jidatnya. Rupanya masalah ****** ***** berenda tadi,masih mengganggu pikirannya. Sampai-sampai membuat Danu gagal fokus.


"Ya udah biar aku telpon mas beri..." ujar Andini sambil meraih ponsel dari tas nya.


"Eh gak perlu" seru Danu cepat. "Uda biar aku yang tanya nanti di kantor" ujarnya lagi.


Terang saja tidak perlu.Karena lelaki itu tidak akan memberi cela pada beri untuk dekat dengan istrinya. Meskipun hanya lewat telpon.


"Ya sudah" Andini kembali mengedikkan bahunya acuh. Dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.


Hari ini seeperti biasa,setiap pagi Danu selalu mengantar Andini ke Andin's Bakery,toko roti sederhana milik Andini.


Sebelum keluar dari mobil,memberi kecupan ringan di kening Andini sudah menjadi rutinitas yang tak pernah Danu lupakan.


Mendapat ciuman sebelum bekerja,sudah seperti mendapat suntikan vitamin bagi Andini. Tubuhnya terasa ringan penuh energi. Kedua sudut bibirnya tertarik kebelakang hingga membentuk sebuah senyuman.


"Nanti sore aku jemput" seru Danu sambil sedikit mengeluarkan kepalanya dari pintu mobil.


Andini hanya membalas dengan senyum melebar.Lalu Ia melambai-lambaikan tangan menatap mobil Danu hingga menghilang dari pandangannya.


Dengan penuh semangat,Andini bekerja menyelesaikan semua pesanan. Dan beruntungnya orang-orang yang Danu rekrut sangat cekatan dan bisa di andalkan. Sehingga benar-benar membantu meringankan pekerjaan Andini.


Semua keberhasilan hari ini,memang tidak terlepas dari tangan dingin Danu. Terang saja,semua karyawan sudah di gembleng terlebih dahulu oleh Danu sebelum bekerja kepada Andini.


Mereka mendapat gaji dua kali lipat dari Danu tanpa sepengetahuan Andini. Tapi tentu saja,gaji dua kali lipat yang Danu berikan itu bukan cuma-cuma. Mereka harus menandatangani kontrak ini dan itu yang intinya harus benar-benar mendedikasikan dirinya untuk Andini.


Huh Andini menghela,ia memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk sekedar meregangkan otot-otot tubuhnya. Menautkan semua jemarinya,lalu menarik lengannya ke atas. Andini menggeliat sambil menguap,karena merasa begitu lelah.


Andini merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan itu.Rasa lelah yang mendera membuatnya tidak membutuh waktu lama untuk terlelap ke alam bawah sadar.


Sesuai janjinya... sore ini mobil Danu sudah terparkir indah di depan toko Andini.


"Selamat sore pak" sapa salah satu pegawai Andini sambil membungkukkan sedikit badannya.


"Hmmm" jawab Danu datar tanpa menoleh. Namun tiba-tiba langkah Danu terhenti. " Oh ya di mana Bu Andin ?" tanya Danu sambil menoleh ke arah pegawai wanita itu.


"Oh buk Andin sepertinya masih ada di ruangannya pak" jelas pegawai wanita itu dengan pergerakan tangan yang menunjuk kearah ruangan Andini.


"Hmmmm" Danu kembali membalas dengan datar.


"Apa perlu saya panggilkan pak?" tawar pegawai wanita itu ramah.


"Oh tidak usah. Terimakasih" ucap Danu sambil tersenyum tipis. Lalu segera berlalu.


Perlahan Danu menarik handle pintu ruangan Andini.


Saat pintu terbuka.....


Mata Danu langsung di suguhkan oleh siluet tubuh mungil yang sedang terlelap dengan posisi miring. Tatapannya begitu lekat dan dalam. Kakinya berjongkok tepat di hadapan Andini. Sebelah tangannya menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Andini.

__ADS_1


Danu dapat melihat rasa lelah yang tersirat di wajah wanitanya.


Sudah ku katakan jangan terlalu lelah. Tapi kenapa kamu masih saja kerasa kepala?


Jari Danu mengusap lembut pipi mulus Andini. Dan mengecup lembut bibir ranum milik wanita itu.


Di dalam hatinya berkata Ya Allah jaga kan wanita ini untukku....Karena aku mungkin takkan bisa hidup tanpanya.....Aku mencintainya....sangat....sangat mencintainya....


Danu menarik napas dalam dan menghembuskan ya perlahan.


Merasakan ada udara yang menyapu wajahnya,Andini menggeliat pelan dengan iringi suar erangan sebagai pelepasan rasa letih nya.


Perlahan matanya terbuka, "Loh mas? kamu? kamu kok ada disini? " mata Andini langsung terbelalak saat mendapati wajah sang suami berada tepat di hadapannya. Ternyata saat ia merasa ada seseorang yang mencium bibirnya itu bukan mimpi.


"Cck Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu setiap kali aku datang?" Danu berdecak kesal.


"Bukan tidak suka sayang,tapi kamu itu selalu datang tiba-tiba,bikin aku kaget aja" Andini duduk dan menarik tangan Danu hingga ia terduduk di sebelahnya. Lalu segera Andini melingkarkan kedua tangannya ke lengan Danu dan bergelayut manja di pundaknya.


"Kenapa tidur di sini?" tanya Danu sambil mengecup ujung kepala Andini.


"Ya mau dimana lagi,ruangan aku kan gak ada kasurnya " Andini mendongak kan kepalanya menatap wajah tampan Danu.


"Ya sudah,besok aku akan suruh orang untuk membuat kamar di ruangan mu"


"Tapi mas...ruangan ini kan sudah sempit.Mana bisa di buat kamar lagi"


"Tidak ada yang tidak bisa bagi seorang Danu Brahmana Atmaja.Kamu lupa ya kamu itu istri siapa?"


"Iya iya,, istri Danu Brahmana Atmaja. Pewaris tunggal Atmaja group,orang yang paling tampan sedunia" ujar Andini sambil menjembil kedua pipi Danu dengan gemas.


"PUAS?" sambung Andini lagi.


"Hmmmm lumayan lah " Danu menarik kedua sudut bibirnya...


*******


Di rumah sakit...


Andini dan Danu menemui Dokter spesialis kandungan,sesuai dengan jadwal yang sudah di atur oleh Beri.


Jantung keduanya berdegup dengan sangat kencang saat memasuki ruangan dokter itu. Badan mereka kaku seketika saat berhadapan langsung dengan dokter cantik yang sangat ramah itu.


Dokter itu memulai dengan beberapa pertanyaan. Sudah berapa lama menikah,Kapan hari terakhir telat,apa yang di keluhkan dan berbagai pertanyaan lain.


Mungkin bagi orang lain,itu pertanyaan santai dan terdengar biasa. Tapi tidak bagi Andini. Ia sangat gugup menjawab pertanyaan dari dokter,tangannya gemetar,dan sampai berkeringat. Bukan karena takut dengan sang dokter. Tapi Andini sangat takut membuat Dirinya terutama Danu kecewa.


Walau bagaimanapun,tidak bisa di pungkiri....Andini dan Danu sama-sama tau bahwa hati kecil mereka memiliki harapan yang sama.


Dengan di dampingi seorang suster Andini melakukan tes urine.


Setelah selesai tes urine....


Andini di persilahkan untuk duduk kembali,dengan patuh ia langsung duduk di tempat semula,di sisi Danu.


Andini meraih tangan Danu,Dan menarik tangan itu kepangkuan nya.


Dapat tersirat dengan jelas kecemasan itu di wajah Andini. Danu mencoba tersenyum dan merangkul pundak Andini dengan sebelah tangannya. Mengusap-usap pundak Andini ,mencoba memberi kan ketenangan. Walau sebenarnya Danu juga merasakan kecemasan yang sama. Namun sebisa mungkin ia mencoba untuk terlihat tenang.


"Jangan tegang bu, rileks aja...." Dokter cantik itu kembali duduk di kursinya setelah menerima hasil tes urine dari suster tadi.


"Hhhh" Andini menghela dan mencoba menarik kedua ujung bibirnya...


"Wah selamat ya buk pak hasilnya positif " ujar dokter cantik itu dengan seulas senyum.


"Apa?" seru Andini dan Danu secara bersamaan. Mata mereka sontak langsung terbelalak saat mendengar kata yang terucap dari bibir dokter cantik itu.

__ADS_1


Andini dan Danu saling menatap dengan ekspresi bingung. Apakah ini nyata?,atau hanya mimpi?


Mereka saling melempar tanya dalam hati...


__ADS_2