Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Ini hanya pura-pura


__ADS_3

"Kenapa berhenti stev?"


Tanya Andini pelan.


"Kita makan dulu ya,laper nih..." Steven tersenyum meringis sambil memegang perutnya.


Dan Andini hanya diam menunduk,tanpa jawaban.


Steven menarik nafas panjang, sudah ia duga wanita itu pasti enggan menurutinya. Padahal Steven sangat tau bahwa Andini belum makan sedari tadi.


"Setidaknya pikirkan dedek bayi nya Din ,please ..."


Ucap Steven lirih, dengan nada memohon.


Andini menghela napas dalam, mengelus anak di dalam perutnya. Benar kata Steven,di saat begini ia tidak boleh egois, kesehatan si kembar lebih penting.Pikir Andini.


"Ya udah,tapi di take a way aja ya...."


Steven tersenyum, setidaknya sudah mau makan pikir Steven.


"Iya ok,mau makan apa?" tanya Steven dengan penuh semangat.


"Gado-gado----"...


"Bumbunya banyakin, telur nya dua"


Sambung Steven dengan penuh percaya diri.


Andini tersenyum kecut, lelaki itu masih saja ingat apa yang ia suka.


Senyuman itu menjadi pengganti kata iya. Dengan segera Steven membeli sesuai keinginan Andini. Gado-gado spesial.


Setelah beberapa menit, Steven kembali dengan menenteng tiga porsi gado-gado di tangannya.


Ia tersenyum lembut,sambil sesekali melihat layar ponselnya.


Mungkin saat ini Danu sedang mencari keberadaan Andini. Apapun masalah yang mereka hadapi sekarang.Setidaknya Danu harus tau bagaimana keadaan istrinya. Pikir Steven.


"Jangan beritahu mas Danu !"


Seru Andini sambil melotot padanya. " Jika kau beritahu kan pada mas Danu,maka aku akan pergi jauh dari kalian"


Steven hanya tersenyum miring, mendengar ultimatum dari Andini.


Masih teringat dengan jelas saat ia melihat mobil Andini melintasi mobilnya dengan sangat laju.


Untung saja Steven sangat mengenal mobil yang biasa di gunakan wanita itu. Sehingga ia langsung mengejar mobil itu.


Skandal itu pasti sangat melukai hati nya.Pikir Steven.


"Tidak,hanya Mela... boleh kan? soalnya aku gak mau dia salah paham"


Ujar Danu mencari alasan.


"Kamu udah jadian sama Mela?"


Mendengar kata salah paham,Andini langsung menebak-nebak.


"Hah? jadian sama Me-Mela?" Steven tersenyum meringis " Oh iya aku udah jadian sama Mela"


"Wah,selamat ya aku turut senang dengernya" ucap Andini tulus.


"Hih i i iya" jawab Steven gugup.


"Yaudah suruh datang aja Mela. Aku juga merindukan nya"


"Iya dia sedang dalam perjalanan,bentar lagi juga sampai" jelas Steven.


Andini hanya mengangguk,tanda setuju.


Selang beberapa menit,Mela pun tiba. Setelah turun dari taksi ia langsung masuk ke mobil Andini.


Mela memeluk sahabatnya itu dengan hangat. "Sabar ya Din ...."


"Melaaaaaa" Andini membalas pelukan itu.

__ADS_1


Sejenak mereka pun saling berpelukan, Andini menangis di dalam pelukan Mela.Begitupun Mela,ia juga tak dapat menahan buliran bening yang itu. Seakan ia juga ikut merasakan sakit yang Andini rasa.


"Sudah,jangan bersedih lagi. Ayo kita berangkat, hari sudah semakin larut. Bumil harus segera istirahat"


Steven mencoba membuyarkan kesedihan mereka.


Andini dan Mela pun melepas pelukan nya. Dan menghapus air mata keduanya.


Steven menyetir dengan Santai,tidak jarang ia melirik dua wanita yang berada di jog belakang.


Entah kenapa hatinya merasa nyaman, melihat keduanya saling memahami dan menguatkan.


Setelah sampai di rumah Andini. Dengan sigap Steven langsung membukakan pintu untuk kedua wanita itu. Dan tak lupa juga mengangkat koper Andini.


Rumah itu masih seperti dulu,banyak foto-foto Andini dan keluarga terpajang manis menghiasi setiap ruangan.


Bola mata Andini menyusuri,semua kenangan bersama keluarga nya. Wajah sendunya mencoba tersenyum.


"Oke ladies, saatnya makan...". Steven membuka gado-gado ke dalam Piring. Mencoba membuyarkan suasana hening dan sendu di antara mereka.


"Silakan di coba....." Steven menyodorkan dua porsi gado-gado itu dengan sopan.


"Terimakasih kasih Steven" ucap Andini sambil tersenyum.


Sementara Mela, wanita itu bersikap datar. Mencoba mengubur perasaan nya dalam-dalam.


"Oh ya Mel,selamat ya..." ucap Andini .


"Hah? selamat buat apa? perasaan hari ulangtahun gw masih jauh"


"Selamat karena lu dan Steven udah jadian" jelas Andini sambil menyuap potongan kentang kemulutnya.


Uhuk ..uhuk....uhuk...uhuk...


Steven langsung tersedak, begitu pun Mela.


"Kalian serasi banget,sampai batuk aja barengan"


Canda Andini sambil menyodorkan botol minum pada kedua nya.


tanya Mela sambil menunjuk dirinya dan Steven.


"Iya,tadi kata Steven kalian udah jadian" ucap Andini sambil kembali menyendok makanan nya.


Mela menatap Steven tajam, menuntut penjelasan.


"Hah...." Steven tersenyum kecut, mampus gw ...kenapa juga harus ngomong gitu tadi " Ya udah lah sayang,gak usah di tutupin lagi. Andini kan juga berhak tau,diakan sahabat kita"


Ujar Steven sambil merangkul Mela.


Hah? sayang?...


Sikapnya sok manis lagi...


Ada apa dengan nya?


Mela masih tidak mengerti,ia hanya tersenyum miring dan mencoba melepaskan tangan Steven dari pundaknya.


Namun tangan Kokoh lelaki itu malah memperkuat dekapan nya.


Ayo Mel, jangan merusak suasana dong..Andini udah keliatan seneng tuh....


Steven mencoba mengedipkan matanya sebagai kode untuk mengiyakan semua perkataan nya.


"Udah Mel ,gak usah sungkan sama gw... lagian gw sebel deh kenapa lu gak cerita sama gw" ucap Andini sambil menatap keduanya yang terlihat sedikit canggung.


Lagi-lagi Mela hanya tersenyum meringis,ia masih tak tahu harus ngomong apa. Ini begitu aneh baginya. Terlebih saat Steven memanggil nya sayang.


Walaupun sejujurnya ia sedikit senang,tapi ia juga sudah tidak ingin terlalu berharap lagi.


"Bukan nya begitu din, sebenarnya kami beRencana mau bikin surprise kan sayang?" Steven tersenyum memandang wajah Mela yang seperti kehilangan kata-kata.


"Iyaa kan sayang..?" ulang Steven lagi sambil menggenggam jemari Mela.


"Hhh i-i-iya"

__ADS_1


Mela akhirnya mengiyakan juga.


"Gw doain semoga langgeng sampai ke pelaminan.. Amin" ucap Andini sambil mengangkat kedua tangan dan mengusap kan kewajahnya.


"Iya Amin... " sambung Steven dengan penuh semangat. Mengikuti gerakan Andini.


"I i iya Amin" dengan terbata-bata Mela juga mengikuti gerakan Andini.


Suasana berubah menjadi hangat, Steven memperlakukan Mela selayaknya seorang pacar yang begitu perhatian. Andini pun terhibur dengan pandangan yang ada di depannya.


Melihat kedua sahabatnya bahagia, seakan mampu sedikit mengobati perih hatinya.


Bersama mereka Andini bisa tersenyum. Melihat Steven yang jadi agresif pada Mela benar-benar menghiburnya.


Mela yang biasa terlihat agresif,ini malah terlihat kaku.


Hoaaaaammmmm... Andini menutup mulutnya yang sedang menguap.


"Gw ngantuk" keluh Andini.


Setelah perutnya terasa kenyang,kini matanya juga sudah tidak dapat di ajak kompromi.


"Ya sudah istirahat gih,gw juga mau pulang"


ujar Steven sambil meraih jaketnya di atas meja.


"Hmmm lu duluan deh din, ntar gw nyusul. Gw mau anter Steven kedepan dulu." Sambung Mela.


"Ya ampun sayang,kamu so sweet banget..." ucap Steven sambil menjembil pipi Mela.


Mela hanya tersenyum meringis di hadapan Andini.


"Yaudah deh gw duluan, jangan lupa kunci pintu ya Mel" seru Andini sambil berjalan pelan menuju kamarnya dulu.


Mela pun mengikuti langkah Steven menuju teras.


Saat berada di depan pintu, " Tunggu..." Mela menarik baju Steven hingga langkah kaki Steven terhenti.


"Apa maksud lu tadi?" Mela langsung menanyakan apa yang sedari tadi menjadi pertanyaan di dalam hatinya.


"Maksud apa'an?" jawab Steven acuh, seolah tidak tau apa-apa.


"Udah deh gak usah berlaga bego. Kenapa lu bilang ke Andini kalau kita jadian?" tanya Mela serius.


"Hmmmmmmmm..." Steven menghela napas panjang " Apa lu gak lihat, wajah Andini tadi terlihat bahagia mendengar kabar baik dari kita. Ya gw cuma berusaha menghibur Andini. Maaf.... ?"


"Kenapa minta maaf?" Entah kenapa Mela sedikit kecewa dengan Jawaban Steven.


"Karena gw sudah terlalu lancang tadi"


"Tidak perlu minta maaf,jika itu untuk Andini gw rela" jawab Mela lirih.


Walau hanya pura-pura,Mela juga cukup bahagia dengan sikap manis Steven.


Baru kali ini, manusia es batu itu terasa begitu hangat padanya.


Ternyata tak bisa di pungkiri, walau sekuat tenaga Mela ingin mengubur perasaannya. Tapi rasa itu takkan pernah bohong. Nama Steven masih terukir indah di dalam hatinya.


"Gw pulang,tidur yang nyenyak ya" ucap Steven lembut sambil menyentuh pipi Mela.


Ya Allah kenapa dia terlihat begitu tampan


Sejenak Mela terbawa suasana. Ia memandang wajah tampan itu penuh kekaguman. Namun ia segera tersadar, bahwa ini hanya pura-pura. Mela langsung memasang sikap acuhnya,menutupi rasa yang bahagia nya saat Steven menyentuh pipi nya.


"Iya hati-hati di jalan" jawab Mela dengan nada ketus.


" Daaa sayang...." Steven melambaikan tangannya....


"Hahahaha dasar Gila"


Jawab Mela dengan tawa tertahan,ada saja tingkah konyol lelaki itu pikir Mela.


Mela Masih berdiri menatap mobil Steven hingga menghilang dari pandangan nya.


Ia menghela napas berat... Ya Allah seandainya dia benar-benar mencintai ku,dan bukan pura-pura....

__ADS_1


Hatinya kembali mendesah....


__ADS_2