
Danu menghela napas dalam. Masih teringat dengan jelas di benak nya pertengkaran tadi. Ia tak habis pikir dengan segala tuduhan Andini yang tak mendasar .
Ia meneguk botol minumannya,sambil memandang indahnya pemandangan laut di malam.
Udara terasa begitu sejuk, semilirnya angin malam mulai menyentuh kulitnya.
Ia tersenyum miring mendengar suara tapak kaki seseorang mendekati nya.
"Lu mau buat perusahaan gw bangkrut ya?" ucap Danu santai sambil meneguk botol minuman nya.
"Ada apa?"
Tanya seorang lelaki yang baru saja duduk di sebelah Danu.
"Apa kau bahagia saat bebas dariku? apa sikap ku begitu buruk Ber?"
Beri menghela napas dalam, tangannya meraih sebotol minuman yang ada di sebelah Danu. Beri meneguknya pelan.
"Bisa di bilang aku bahagia,tapi jadi pengangguran tidak bisa membahagiakan keluarga ku"
Perpaduan rasa pahit dan sepat memenuhi tenggorokan Beri,hingga ia sedikit mengerutkan dahinya.
Namun rasa itu tidak membuat Danu dan Beri berhenti meneguk.
"Lalu?" Danu menatap sahabat itu.
" Mau bagaimana lagi,aku terlanjur menyayangi mawar yang berduri. Jika tidak hati-hati maka maka tanganku akan berdarah. Tapi karena mawar itulah aku bisa hidup lebih baik, tanpanya aku bukan siapa-siapa"
Ucap Beri dengan nada berat.
"Apa duri mawar itu sering menusuk mu?"
"Mungkin,tapi karena itu aku bisa hidup lebih baik"
"Jadi apakah kau tetap akan meninggalkan nya?"
"Tergantung---"
"Tergantung apanya?"
"Yaaa tergantung,sikap sang mawar"
"Hhh kembalilah,akan kupastikan duri mawar itu tak kan melukaimu lagi"
Mereka tersenyum sambil menikmati setiap tegukan minuman itu.
"Ada apa?tidak mungkinkan karena gw lu jadi se galau ini?" Beri menatap wajah Danu intens, sahabatnya itu tampak berantakan dan tak terurus.
"Hmmm gw berantem sama Andini"
jawab Danu lirih sambil memandangi botol minuman nya.
"Apa masalah nya?"
Dengan nada berat Danu menceritakan apa yang telah terjadi padanya dan Andini. Kini Beri baru paham kenapa waktu itu Andini sempat menghubungi nya.
"Gw gak bilang sikap Andini itu benar. Tapi meninggalkan Andini tanpa kabar itu pasti juga menyakiti nya" Beri menyentuh pundak Danu.
__ADS_1
"Tapi gw gak pergi bersama Airin Ber..." sela Danu masih dengan nada berat. "Dan lu tau sendiri, pernikahan kami di lakukan secara tertutup itu juga semata-mata untuk melindungi nya"
"Dan Andini tidak tau hal itu Nu, sebagai seorang istri dia juga ingin di akui secara resmi. Coba bayangkan jika ia berada di posisi lu. Apa lu rela jika Andini di anggap masih singgle oleh orang-orang di sekitarnya" Beri menarik nafas,menjeda.
"Seharusnya lu lebih tau tentang pribadi istrilu . Gw yakin Andini juga tidak seperti yang kau tuduhkan. Lu dan Andini itu sama-sama sedang terbakar cemburu. Cemburu itu adalah suatu hal yang wajar bagi pasangan yang saling mencintai,tapi jika menuruti ego...hal biasa bisa jadi masalah besar"
"Nu, apapun masalahnya. Harus di selesaikan. Bukan malah pergi tanpa komunikasi"
"Kita bukan anak ABG lagi....kan?"
Beri merangkul pundak Danu.
Danu menunduk kan pandangan nya. Inilah Beri, sahabat yang ia sakiti. Masih saja berada di sampingnya ketika ia butuh. Kini Danu baru menyadari,betapa berharganya sosok lelaki itu dalam hidupnya. Seringkali lelaki itu jadi tong sampahnya. Tapi... sampai detik ini Beri masih bersedia menjadi konsultan asmaranya seperti dulu.
Jika tentang pekerjaan, mungkin Danu lebih unggul.Tapi jika tentang kesabaran Beri lebih baik dari nya.
Pantas saja badan nya lebar, mungkin karena sering bersabar..jadi lebar hihihi.
"Terimakasih bro..." Danu tersenyum dan membalas rangkulan Beri. " Oh ya lain kali jangan sama kan aku seperti bunga mawar. Kedengarannya seperti cewek,aku gak suka"
"Hahahaha anjir " tawa Beri dan Danu akhirnya pecah .
Namun tiba-tiba ponsel Danu berdering.
"Apa?,okeh aku akan segera kesana" seru Danu penuh kecemasan.
"Ada apa Nu?"siapa?"
Tanya Beri,ikutan panik.
"Bik iyem bilang,Andini pergi dari rumah bawa koper besar"
"Gw pergi dulu "
seru Danu sambil bergegas masuk kedalam mobilnya.
Sudah malam begini bagaimana jika terjadi sesuatu pada Andini dan anaknya.Pikir Danu.
"Nu ... tunggu biar gw yang nyetir.." Beri tidak yakin dengan kondisi Danu saat ini. Selain sedang dalam suasana hati yang buruk,ia juga sudah cukup banyak minum tadi.
"Mobil lu?"
"Udah aman itu,nanti biar mang Ujang yang ambil" seru Beri sambil menarik tangan Danu agar keluar dari mobil untuk berbagai posisi.
Tanpa menunggu lama,mobil itu melaju dengan cepat.
"Lu gak bisa lebih kenceng lagi bawa mobilnya?" teriak Danu penuh kecemasan. Ya begitulah Danu,baru saja minta maaf sudah mulai marah lagi.
Namun seperti biasa Beri menanggapi nya dengan santai.
"Lu gak liat jalan nya macet?"
"Lagian kenapa sih orang-orang harus berada di jalanan malam begini. Bukan nya tidur,Dasar manusia-manusia gak guna ! "
Umpat Danu sambil memukul pintu mobil. Begitulah Danu jika sudah emosi jangan kan orang,benda pun jadi ikut salah di matanya.
Beri Hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak di sadari ternyata ia juga merindukan ekspresi ini.
__ADS_1
"Andini sudah benar-benar pergi Ber"
ucap Danu lirih,sambil memandangi ponselnya yang baru saja berdering.Membaca pesan dari bik iyem.
"Andini pergi kemana ya ber,dia bawa mobil sendiri lagi dengan perut Segede itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?" sambung nya lesu.
"Kenapa sih Andini gak mikir, sekarang ada di kembar yang harus dia jaga" seru Danu lagi.
"Sama kayak lu,suka gak mikir dulu sebelum bertindak !" jawab Beri santai.
"Sialan lu Ber, bukanya bantu gw cari solusi masalah ngatain gw" sarkas Danu sewot.
"Mungkin karena mengandung anak lu yang kelak di sifatnya mirip lu,jadi sekarang Andini juga bertindak sesuai gaya lu" ujar Beri sambil tersenyum miring,tidak peduli kalau sepasang mata Danu sudah melirik nya dengan tajam.
"Apa lu gak bisa diem Ber? lu cuma bikin kepala gw tambah pusing aja !"
"oke...oke...." Beri manggut-manggut dengan pandangan terpokus pada jalanan.
Sejenak suasana sepi dan sunyi memenuhi mobil. Hanya suara deru mesin yang terdengar sedikit kencang.
"Sial.... kenapa ponselnya gak aktif, pergi kemana dia" umpat Danu .
"Andra?"..... "Sial.... laki-laki satu ini selalu saja muncul di saat tegang begini. Apa dia punya Indra ke enam?" Lagi-lagi Danu hanya bisa mengumpat saat tertera nama Andra di layar ponselnya.
"Dimana Andini ?kenapa ponselnya tidak aktif"
Sudah di tebak,pasti lelaki itu akan bertanya tentang adiknya.
"Gw gak tau kak,dia kabur dari rumah. Gw juga gak bisa menghubungi nya" ucap Danu lemah.
"Awas kalau sampe terjadi sesuatu sama adek gw,,lu tanggung akibatnya" Ancam Andra,dan langsung memutuskan hubungan ponselnya.
"Gw juga gak mau terjadi sesuatu sama istri gw" seru Danu pada ponsel yang sudah mati.
Beri hanya bisa kembali menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol sahabat nya itu.
"Ber, perasaan lu cuma muter-muter doang Dari tadi?" tanya Danu sambil memandang keluar jendela.
"Ber,lu gak denger gw ngomong?" seru Danu lagi,menatap tajam Beri yang hanya terdiam sedari tadi.
"Katanya tadi gw di suruh diem... lagian gw kan juga gak tau mau kemana. Lu juga gak ada memberi instruksi sedari tadi." jawab Beri santai.
Danu kembali menghela napas berat. Apa yang dikatakan Beri benar adanya. Karena ia sendiri pun tidak tau harus kemana.
Jauh di lubuk hatinya hanya bisa berdoa,semoga istri dan calon anaknya baik-baik saja.
"Jadi kita mau kemana nih?" Tanya Beri.
Danu Hanya menunduk dan menggeleng.
"Telpon Mela,dia satu-satunya teman terdekat Andini."
Danu segera menghubungi mela,tapi hasilnya nihil.
Dan dengan terpaksa akhirnya Danu juga menghubungi papi Yoga. Tapi Danu malah justru hanya mendapat amukan papi Yoga dan mami Margaret karena Andini juga tidak ada di sana.
Danu dan Beri juga sudah mengecek seluruh hotel yang ada di daerah itu,namun tidak menemukan nya.
__ADS_1
Kemana kamu Andini ......?????Dimana kamu????......
Jangan menyiksa ku seperti ini.....