
Andini membuka kelopak matanya perlahan.Terlihat sosok wajah tampan Danu yang masih tertidur.Dengan lembut tangan Andini menyusuri wajah yang terpahat dengan sempurna.Alis tebal hidung mancung adalah bagian yang paling ia suka.Telunjuk Andini memainkan hidung danu,hingga turun ke bibir Danu.
Di balik selimut,kedua tubuh yang masih menyatu tanpa pembatas memberikan sensasi tersendiri bagi sepasang pengantin baru itu.
"Mas sudah subuh" Andini mengecup hidung Danu lembut.
"Hmmm" bukannya bangun,tapi Danu justru mengeratkan pelukan nya.
"Mas bangun sudah subuh" Andini memencet ujung hidung Danu dengan telunjuknya.
"Iya sudah bangun sedari tadi?" gumam Danu pelan.Sambil membenamkan wajahnya di dada Andini.
"Mas masih merem gitu,kapan bangunnya?" tanya Andini polos.
Danu meraih tangan Andini dan menuntunnya ke arah junior Danu yang memang sudah bangun sedari tadi. " Gimana?sudah bangunkan?" gumam Danu masih dengan mata terpejam.
"Mas bukan itu maksudku....maksudnya buka mata mas lalu mandi.Kita sholat subuh bersama" Andini menarik tangannya,tidak ingin membuat sang junior menuntut untuk olahraga pagi.
"Masih terlalu dini,5 menit lagi" ucap Danu malas.
"Dini apanya,ini sudah jam 5 tau"
"Oke baiklah lima menit anda di mulai dari sekarang" tik tok tik tok Andini mencoba menghitung waktu yang di minta oleh Danu.
Dengan cepat Danu langsung memulai aksinya.Tubuhnya langsung menindih Andini.Tangan dan mulutnya sudah seperti rekan yang sedang bekerja sama membuat Andini mendesah.
"Mas maksud------" Belem sempat Andini menyelesaikan kalimatnya.
Mulut Andini sudah di bungkam oleh Danu.Sungguh tidak terpikirkan sebelumnya oleh Andini.Ternyata lima menit yang di maksud Danu adalah waktu olahraga untuk juniornya.
Danu memanfaatkan waktu dengan baik.Hanya dengan lima menit,kali ini sudah berhasil membuat tubuh Andini kembali terkulai.
Danu memberi kecupan di kening Andini.Sebagai ucapan terimakasih yang sudah tak mampu terucap.Pencapaiannya,membuatnya seakan melayang ke udara.
"Sayang,waktunya sudah habis.Ayo mandi...." Danu mengecup kedua mata Andini yang tengah tertutup.
"Lima menit lagi mas" Jawa Andini lemas.
"Jadi mau nambah lagi?" tanya Danu dengan seringai licik nya.
"Tidak mas,tidak!" Seru Andini langsung membuka matanya dan beringsut menuruni ranjang.Bayangan olahraga lima menit tadi membuatnya bergidik ngeri.
Senyum Danu terurai melihat tingkah lucu istrinya.Ternyata begitu mudah membuat istrinya terbangun.
Usai melaksanakan shalat subuh berjama'ah.Danu menarik tubuh Andini hingga terjerembab kepelukannya.Rasa kantuk yang masih melanda,membuat keduanya kembali terlelap.
*****
Di rumah ibu marina......
Ibu Marina tampak telaten mengurus baby key.
Sementara bagas......
Ia masih termangu dalam dilema.Setelah mendapat siraman rohani dari ibu marina.Membuat keyza,menjadi pertimbangan dalam keputusannya.
Hari ini sidang terakhirnya,apapun keputusan hakim harus ia terima dengan lapang dada.
Bagas menarik nafas dalam,dan membuangnya perlahan.Keputusan untuk bercerai dengan Kiara ternyata memang sudah bulat.Tausiah ibu Marina tidak mampu menggoyahkan tekadnya.Hanya saja baby key.......bagaimana dengan anak itu?
Ibu Marina sudah tua.Kesehatannya akan terganggu jika harus mengurus baby.Karena mengurus baby seusia Keyza pasti menguras energi.
"Aaah sudahlah jalani saja"
Bagas mengenyahkan kekhawatirannya tentang Keyza dan ibu Marina.
Menatap foto Andini kini sudah menjadi bagian rutinitas Bagas.Wanita yang dulu pernah menyayanginya dengan tulus,kini masih menjadi penyemangat hidup nya.
"Entahlah....bagaimana aku bisa melanjutkan hidup jika tanpa kau di sisiku"
Bagas menyapu wajah Andini yang tengah tersenyum di balik bingkai foto yang ad di tangannya.
"Aku mencintaimu......"
Bagas menciumnya,lalu kembali meletakkan foto itu di atas meja kerjanya.
Di perjalanan...
__ADS_1
"Brak" mobil Bagas menyerempet sebuah motor matic yang di kendarai oleh seorang wanita.Dengan cepat Bagas keluar dari mobilnya,lalu menghampiri wanita muda yang tengah tergeletak di sisi jalan.
"Maaf mbak,mbak tidak apa-apa kan?" tanya Bagas khawatir.Ia mengangkat motor yang menimpa kaki wanita itu.
"Bagaimana caranya gw bisa gak apa-apa setelah lu tabrak.Lu bisa nyetir mobil gak sih,apa lu gak liat gw sebesar ini?Dasar laki-laki semua sama saja.Cuma bisa bikin kesel aja" Bagas langsung di sembur oleh Mela.
Mela yang lagi patah hati karena rencana tadi malam mengalami kegagalan untuk yang kesekian kali nya.Kini meluapkan kekesalannya pada Bagas.
"Maaf mbak saya tidak sengaja" Bagas mengulurkan tangannya.
"Maaf maaf enak aja lu....setelah membuat gw jatuh lu pikir gw mau maafin lu gitu aja" Mela mencoba menggerakkan kakinya namun "Awwww sakiittt" Mela meringis kesakitan. "Aaaaaa jangan-jangan kaki gw patah nih gara-gara lu,lu harus tanggung jawab" Mela mulai mengoceh menuntut pertanggung jawaban Bagas.
"Apa benar kakinya patah,perasaan tadi cuma kesenggol dikit"
Bagas mencoba menyentuh kaki Mela "Awwwww saakiit tau" Mela masih meringis kesakitan. "Jangan sentuh kaki gw sakit tau.Lagian bukan muhrim " seru Mela sambil memegangi kakinya.
"Ayo kita ke rumah sakit saja mbak.Biar kaki mbak segera di obati" Bagas beranjak pergi meninggalkan Mela yang masih terduduk di sisi jalan.
"Hei mau lu kemana?" teriak mela.
"Ya ke rumah sakit lah" jawab Bagas menatap Mela kesal.
"Lalu gw bagaimana caranya pergi ke kerumah sakitnya, kaki gw kan sakit?" protes Mela.
"Terus gw musti bagaimana biar kaki lu itu sembuh?" Bagas menarik nafas dalam.
"Ya lu gendong lah gw,gw kan gak bisa jalan" ucap Mela sambil menyungutkan bibirnya.
"Dasar wanita plin-plan tadi di sentuh aja gak mau sekarang malah minta gendong"
"Tadi katanya bukan muhrim" Dengus Bagas
"Ya ini kan lagi kepepet.Kalau bukan karena sakit gw juga ogah kali di gendong sama lu"
Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang Bagas pun menggendong Mela dan mendudukkan di mobil.
"Motor gw..." teriak Mela sambil menunjuk-nunjuk motornya.
"Bisa gak si mbak gak usah teriak-teriak gitu.Gw gak budek!" seru Bagas sambil memegangi telinganya yang terasa sakit karena suara melengking Mela.
"Apa mau aku gendong juga motornya?" tanya Bagas kesal.
"Ya gak gitu juga kali.Tapi motor gw jangan di tinggal gitu aja dong ntar ilang gimana.Itu motor kesayangan gw.Gw belinya pakai hasil kerja keras gw sendiri" Bagas melajukan mobilnya tak memperdulikan ocehan Mela.
"Heiii motor gw kok di tinggal" Mela memukul-mukul pundak Bagas.
"Bukan di tinggal mbak,tapi di masukin ke bengkel biar di perbaiki kerusakannya.Sebentar lagi montirnya juga datang.Lagian gw gak kuat kalau harus menggendong motor mbak sampai ke rumah rumah sakit" jelas Bagas penuh tekanan.
"Bengkel bukan rumah sakit"
"Nah itu mbaknya udah tau"
"Ya tapi-----" belum sempat Mela menyelesaikan kalimatnya,telunjuk Danu sudah mendarat ke bibir Mela "Suuuutt jangan brisik deh.Ntar gw gak fokus nyetir nya.Mau gw nabrak orang lagi?terus terjadi kecelakaan beruntun.Terus bukan kaki lu aja yang patah tapi kepala lu juga pecah.Mau seperti itu?"
Mela langsung terdiam.Menyimpan semua kata yang ingin ia ucapkan.Merasakan sakit di kaki nya saja sudah membuatnya ribet.Apalagi kalau sampai kepalanya yang pecah.Bisa mati di usia muda,pikir Mela.
"Lagian jadi perempuan kok bawel banget sih"
gerutu Danu lirih.
Walau pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Mela.Mela melirik Bagas tajam,kedua tangannya mengepal menahan rasa kesalnya.Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam.Hanya suara deru mesin yang mengisi perjalanan mereka.
Setelah sampai di rumah sakit Bagas sedikit berlari mengambil kursi roda lalu mendudukkan Mela di kursi itu.
Masih tanpa suara,Bagas mendorong kursi roda itu sampai ke lobi rumah sakit.
"Maaf sus,bisa tolong periksa kakinya" suster itu menatap Mela dari atas ke bawah.
"Memang kaki istrinya kenapa pak" tanya suster itu ramah.
"Idih maaf ya suster,gw gak Sudi jadi istri nya,walaupun hanya dalam prangsangka orang lain" cibir Mela dalam hati.
"Maaf sus,dia bukan istri saya.Tidak sengaja tadi mobil saya menyerempet motornya.Lalu dia jatuh dan kakinya sakit tidak sanggup untuk berjalan" Jelas Bagas jujur.
"Oh kirain suami istri,abisnya kelihatan serasi" Bagas tersenyum kecut mendengar kata-kata suster cantik itu.
"Maaf ya suster,gw udah punya gebetan .Ya walaupun dia gak suka sama gw,tapi tidak akan membuat gw berpaling dengan laki-laki nyebelin seperti dia.Tidak akan!" lagi-lagi Mela hanya ngedumel di dalam hati.
__ADS_1
"Silakan isi formulirnya dulu pak" Suster itu menyodorkan selembar kertas sambil tersenyum ramah.
Saat akan menulis nama,Bagas baru menyadari bahwa ia tidak mengetahui siapa nama wanita yang sedang bersamanya sedari tadi.
"Hei siapa namamu?"
Mela mengacuhkannya.
"Hei siapa namamu?"
Mela masih enggan menjawab.
"Hei kau tuli ya? siapa namamu?" Bagas menyenggol bahu Mela.
"Tadi katanya gak boleh ngomong" dengus Mela.
"Ya tadi kan posisi nya gw lagi nyetir nona"
"Mela Anjani Fransiska " ucap Mela cepat.
"Cepet banget ngomongnya.Nih tulis sendiri" seru Bagas sambil menyodorkan kertas itu pada Mela.
Mela meraih kertas itu kasar,lalu menulis semua data dirinya dan memberikan nya pada suster.
Untung saja hari ini tidak terlalu ramai jadi tidak harus menunggu antrian yang lama.
"Ibu Mela Anjani Fransiska......" suster itu menyebut nama Mela,pertanda sudah gilirannya untuk di periksa.
"Iya saya sus..." Mela mengangkat tangannya lalu suster itu kembali tersenyum " Silakan pak bawa ibu nya kedalam,agar segera di periksa" ucap suster itu ramah,dengan tangan mempersilahkan.
Dengan malas Bagas mendorong kursi roda itu memasuki ruangan Dokter.
"Pak tolong bantu angkat kesini..." suster itu menepuk ranjang kecil tempat pasien di periksa.
Bagas memapah Mela dan membaringkannya perlahan di atas ranjang itu.
Suster menggulung ujung celana Mela sampai ke lutut.Terlihat biru memar pergelangan kaki mela.Dokter sedikit menggerakkan kaki Mela. "Awwww sakit dok" keluh Mela.Melihat kaki Mela yang membiru di tambah Mela meringis kesakitan,membuat hati bagas di liputi rasa bersalah.
"Maaf ya Buu tahan sedikit,kaki ibu terkilir jadi harus di kompres dulu sebelum di balut dengan perban elastis" jelas dokter laki-laki itu ramah.
"Apa kaki saya akan di amputasi dok?" tanya Mela cemas.
"Cuy itu hanya keseleo bukan patah.Kenapa dia terlalu mendramatisir " batin Bagas.
"Tidak Bu,ini hanya keseleo ringan cukup di olesi salep lalu di perban sehari atau dua hari juga insyaallah sembuh" jelas dokter itu lembut sambil menyunggingkan senyumnya.
Mela mgusap-usap dadanya "Huh sukur deh kalau gitu".Akhirnya Mela bisa bernafas lega,penjelasan Dokter tadi sudah mampu mengusir pemikiran buruknya.
Usai kaki Mela di perban.Dokter menyodorkan kertas berisikan tulisan resep kepada Bagas.
"Maaf dok,apa tidak perlu rawat inap?"tanya Bagas memastikan.
"Tidak pak,yang penting ibu nya jangan banyak bergerak dulu.Istirahat aja di rumah agar sendi nya bisa stabil lagi" jelas dokter.
"Oooo baik dok,terimakasih" Bagas menyalami dokter itu lalu mendorong kursi roda mengarah keluar meninggalkan ruangan pemeriksaan.
Dengan cepat Mela meraih ponsel nya dari dalam tas kecil miliknya.Ia baru tersadar bahwa ia belum memberi kabar pada atasannya bahwa ia tidak dapat masuk kerja Karen insiden kecelakaan tadi.
Setelah menyelesaikan admistrasi dan menebus obat di apotik terdekat,Bagas segera mengantar Mela menuju kos2san yang sudah ia sebutkan sebelum meninggalkan rumah sakit tadi.
Setelah menempuh perjalanan 10 menit akhirnya mereka pun sampai di depan kos-kosan Mela.Bagas memapah tubuh kecil Mela sampai pada sepetak ruangan kecil yang berisi tempat tidur dengan ukuran mini yang hanya pas di tiduri oleh satu orang.Bagas mengedar kan pandangannya,terlihat hanya ada satu lemari plastik dan rak sepatu berukuran kecil yang tersusun rapi di sudut ruangan itu.
"Kenapa?aku memang miskin,ruangan kecil ini ku bayar dengan hasil kerja kerasku sendiri.Jadi jangan meremehkan ku " ucap Mela menyadari pandangan mata Bagas.
"Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh.Istrahat saja dengan baik,agar kakimu cepat sembuh.Nanti akan ku suruh orang untuk mengirimi makan siang untukmu.Aku harus pergi,masih banyak urusan yang harus ku selesaikan" Bagas membaringkan Mela di atas ranjangnya dan menarik selimut hingga ke atas perut Mela.
"Oh ya nanti setelah makan jangan lupa minum obat.Jika ada apa kau bisa menghubungiku" Danu meletakkan bungkusan obat dan kartu namanya di atas meja kecil yang ada di samping Mela.
Mela tidak menjawab apapu,ia hanya menganggukkan kepalanya dan menatap punggung Bagas hingga menghilang.
Mela cukup terharu akan rasa tanggung jawab Bagas yang sudah membawanya kerumah sakit dan mengantarnya pulang.
"Kenapa aku tidak minta biaya ganti rugi tadi.Gara-gara dia aku kan jadi tidak bisa bekerja.Seharusnya aku minta ganti rugi yang banyak.Itung-itung bisa menambah nominal tabunganku.Lagian kelihatannya dia cukup kaya,dari segi penampilan... dan mobil yang ia kenakan bisa di simpulkan bahwa dia memang orang kaya...." Mela berbicara sendiri mengarungi pemikirannya yang sudah lari kemana-mana.
******
Untuk para pembaca yang minta Andini cepat punya baby,mohon bersabar yaa.Andini dan Danu kan baru aja menikah kalau langsung punya baby nanti di kira tekdung duluan ...ikuti dulu aja prosesnya ya....semuakan butuh prosesπππππ
__ADS_1