Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Suasana baru


__ADS_3

Di ruang tunggu terlihat wajah Andra kusut.Pikiran kalut dan perasaan campur aduk membuat nya tampak terpuruk.Beberapa kali ia mengusap wajahnya kasar.


"Hei Ndra,Napa lu?,frustasi amat.Bukanya Andini udah sembuh" Danu memegang bahu Andra lalu duduk di sebelahnya.


"Hmmm" jawab Andra sambil melirik Danu dengan sorotan tajam.


"Weeeiiitttsss,biasa aja kali liatnya.Udah seperti liat penjahat aja lu" protes Danu sambil mendorong bahu Andra.


"Andini kehilangan sebagian ingatannya" ucap Andra cepat.


"What ?" Danu langsung melotot kaget "Wah jangan becanda bro,keterlaluan lu becandanya.Orang tadi Andini juga ingat gw kok" ucap Danu tidak percaya.


"Justru karna itu lah gw kesel,kenapa yang adek gw ingat itu harus lu malah gw sebagai kakaknya gak di ingat sama sekali" dengus Andra kesal.


"serius lu?" tanya Danu.


Andra hanya menjawab dengan tatapan sinis.


"Wah bagus dong,itu artinya gw jadi nikah sama andini.Terimakasih ya Allah kau begitu baik padaku".Danu mengangkat kedua tangan nya dengan wajah berseri-seri.


"Danu...!" suara Andra memekikkan telinga


"is kau ini ternyata hobi berteriak seperti emak-emak,aku tidak tuli tau" Ucap Danu sambil memegangi kedua telinganya.


"Lu ya masih sempet-sempet nya mikirin nikah dengan kondisi adek gw yang seperti ini.Gw gak ngelarang lu nikahin adek gw tapi dengan catatan adek gw dalam keadaan sehat jasmani dan rohani sehingga ia bisa memilih apa yang terbaik untuknya" ujar Andra dengan suara berat.


Danu terdiam,pikiran nya mengiyakan pendapat Andra.Rencananya untuk menikahi Andini sepertinya memang harus ia tunda dulu sampai Andini benar-benar pulih.


"Dokter bilang Andini tidak bisa mengingat orang-orang yang pernah menyakitinya.Karna benturan keras di kepala andini,dan akibat trauma yang di alami Andini.Andini juga tidak boleh di hadapkan dengan situasi yang sulit,karna itu bisa memicu trauma nya kembali" jelas Andra panjang.


"Lalu apa rencana lu selanjutnya?"


Andra hanya menggeleng-geleng kan kepalanya.


Perasaan sedih mulai terbingkai di wajahnya.Melihat Andini saat ini yang hanya merasa nyaman bersama mami Margaret dan Danu.Mau tak mau ia harus meminta tolong pada Danu dan maminya.


Tapi rasanya masih terlalu berat untuk mengucapkannya pada Danu orang yang tak pernah masuk dalam daftar teman dekat baginya.Sikap songong Danu yang selalu bertingkah seenaknya sewaktu masa SMA,membuat Andra merasa kekhwatiran yang berlebih.Ditambah lagi cap playboy Danu yang membuat Andra tidak bisa mempercayai Danu begitu saja.


Setelah satu Minggu si rumah sakit.Akhirnya Andini kini di perbolehkan pulang.


Mami Margaret tampak begitu bahagia saat menyisir rambut panjang Andini.Selama andini di rumah sakit mami Margaret selalu setia menemani Andini.Sampai ia tak punya waktu untuk papi yoga karna harus bolak balik kerumah sakit.Untung saja papi yoga dalam satu Minggu ini berada di luar kota.Jadi mami Margaret tidak perlu kerepotan untuk mengurus bayi tua satu itu.


Andra dan Sita mendekati Andini.Namun Andini tidak pernah mau memandang Andra.Andra menarik nafas dalam,melihat Andini yang bergelayut manja di pundak mami Margaret.

__ADS_1


"Din kita harus pulang,lepaskan tangan mami Margaret" ucap Andra yang terpaksa harus memanggil nama Tante Margaret dengan sebutan mami.Karna Andini sempat marah waktu Andra menyebut Mami Margaret dengan sebutan Tante.


Bukan nya menuruti kata-kata Andra tapi Andini justru memegang lengan mami Margaret dengan erat.


"Sayang,putri mami yang cantik ijinkan mami bicara dengan kak Andra sebentar ya.Andini tunggu disini dulu".Ucap mami Margaret sambil mengusap pipi Andini lembut dan langsung mendapat anggukan dari Andini.


Mami Margaret menunjukkan tangannya keluar,Andra pun mengikuti arahan mami Margaret dengan berjalan di belakangnya.


"Nak Andra jika boleh,ijinkanlah Andini tinggal bersama saya untuk sementara sampai Andini pulih.Kondisi Andini masih masih belum stabil,saya janji saya akan merawat Andini seperti putri kandung saya sendiri.Nak Andra tidak usah cemas,karna bagi saya Andini bukanlah orang lain.Saya sudah menganggapnya seperti keluarga saya"


Akhirnya kata yang sulit di ucapkan oleh Andra kini terdengar dengan jelas dari mulut mami margaret,Andra menatap wajah sendu wanita paruh baya yang ada di hadapannya.Entah kenapa hatinya pun merasa tenang melihat sosok wanita yang penuh kasih itu.


Danu memeluk mami Margaret dengan erat. "Tante tolong jaga adik saya,dia satu-satunya keluarga saya" ucap Andra berat.


Walau tidak mudah,tapi ia harus bisa merelakan Andini bersama mami Margaret.Karena kesembuhan Andini adalah hal yang terpenting baginya.


"Iya nak,kamu jangan khawatir" mami Margaret membalas pelukan Andra dan mengusap-usap punggung Andra lembut.


Danu dan Sita hanya mampu menatap haru momen itu.


Di halaman rumah Danu terlihat beberapa pelayan yang sudah menyambut kedatangan mereka.Danu yang untuk kedua kali nya berganti profesi menjadi supir langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Andini dan mami Margaret beserta Andra dan sita.


Mereka langsung menuju kamar tamu yang sudah berubah menjadi kamar Andini yang bernuansa gerly.Andini terlihat sangat suka dengan kamar yang sudah di persiapkan oleh mami Margaret.Kamar itu benar-benar seperti pernah di huni oleh wanita.Banyak baju-baju dan peralatan wanita yang sudah tersusun rapi disana.


"Mi kamar aku ternyata bagus ya,pantes aja Andini bawaannya pengen pulang terus,dirumah sakit ternyata gak enak" ucap Andini yang sudah mulai kembali banyak bicara.


"Iya sayang,ini kamar kamu.Mami juga rindu sama kehangatan kamar ini.Semenjak Andini di rumah sakit rumah terasa sepi.


''Din kalau begitu kakak pulang dulu ya?" ucap Andra meraih puncak kepala Andini.


"Memang rumah kakak di mana,trus kenapa kakak gak tinggal di sini aja bersama kita.Kakak anak mami juga kan?" Andini kini sudah mulai memberondong pertanyaan.


"Hmmm kakak kan sudah berkeluarga jadi kakak sudah punya rumah sendiri dong" jawab Andra sambil memegang tangan Sita istrinya.


"Ooooo" Andini manggut-manggut sambil memonyongkan bibirnya.


"Lalu mas Danu ini sebenarnya siapa sih?" tanya Andini bingung,rupanya Andini tidak mengingat Danu dengan baik.Hanya saja Andini merasa nyaman saat berada di sampingnya.


"Hmm gw ini ca---" belum lagi danu selesai bicara sudah di potong oleh Andra "Dia itu kakakmu juga,aku anak pertama dia anak kedua dan Andini anak ke tiga,iya kan mi?"


Mami Margaret hanya tersenyum samar memandang Danu dan Andra.


"Ooooo" Andini kembali memajukan bibirnya.

__ADS_1


Danu mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kecut.Pupuslah sudah harapannya untuk memperkenalkan diri menjadi calon suami,karna Andra langsung membaca apa yang ada di pikirannya.


Danu mengantarkan Andra dan Sita keluar, "Hati-hati kak Andra" sindir Danu.Sambil terkekeh.


"Awas lu kalau sampai macam-macam sama adek gw" Andra langsung memberikan ultimatum.


"Andini kan adek gw jg,kakak sama adek mah bebas mau ngapain.Mau pegang,peluk,cium itu hal yang wajar kan" Danu langsung bergaya sok cool,memanfaatkan posisi kakak yang baru saja Andra berikan tadi.


Andra langsung melirik sinis Danu dan melayangkan tangannya ke kepala Danu.


"Awwww" Danu meringis kesakitan,"Lu kasar banget" ucap Danu mengusap-usap kepalanya.


"Sama adek sendiri mah bebas,mau pukul mau tendang itu hal biasa jika adiknya nakal" Andra menyeringai puas melihat Andra tampak kesal.


Sita hanya tersenyum menyaksikan perselisihan di antara suaminya dan Danu yang terlihat lucu baginya.


Cih kalau bukan karena Andini ,gw juga ogah kali jadi adek lu....


Hari sudah mulai sore,untuk mengisi kekosongan mami Margaret memutuskan untuk membuat cemilan di dapur bersama Andini.


Mami Margaret tidak menyangka Andini begitu mahir saat berada di dapur.Dengan cekatan Andini mengambil alih semua proses pembuatan cake stroberi yang mami inginkan.Niat hati mami margaret ingin mengajari andini,tapi tidak di sangka mami Margaret justru terkesima melihat kemampuan Andini yang sudah seperti koki profesional.


"Taraaaaa sudah siaaaaappp" Andini menunjukkan cheese cake stroberi yang tampak begitu menggiurkan.


"Waaahhh ini lezat sekali sayang" ucap mami saat mencicipinya.


"Benarkah?" tanya Andini menatap intens mami Margaret yang terus menyendok potongan cake ke mulutnya.Mami Margaret mengangguk-anggukan kepalanya dan mengacungkan jempolnya,Andini langsung meloncat bahagia mendengar pujian dari mami margaret.


Merekapun tertawa bahagia bak seperti ibu dan anak sungguhan.Mami merasa memiliki teman yang cocok dengan nya.Memiliki seorang putri ternyata lebih seru baginya, karena jadi bisa melakukan kegiatan masak memasak bersama.


Karna terlalu asyik,sampai mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang memandang tajam kebahagiaan mereka.


"Papiiiii" tiba-tiba Andini langsung berlari memeluk papi Yoga erat.Papi Yoga langsung memandang mami Margaret tajam.Mami Margaret yang juga sama terkejutnya dengan papi Yoga langsung menempelkan telunjuk ke bibir merahnya.


Papi yoga hanya terdiam seperti patung,tanpa membalas pelukan Andini.


"Sayaaangg...papi kelihatannya letih,biarkan papi mandi dulu biar segar.Tubuhnya penuh dengan banyak kuman tidak boleh langsung memeluknya begini" ujar mami margaret sambil melepaskan pelukan Andini.


Andini langsung menyungut kan bibirnya.


"Andini lanjutin dulu ya bikin kue nya,jangan lupa bikinin juga buat mas Danu dan papi.Mami mau urus papi dulu" Mami Margaret menarik tangan suaminya yang sudah memberinya tatapan dingin sejak tadi.


Andini sih......main sosor aja,gak nyadar papi Yoga sudah seperti bom yang siap meledak.

__ADS_1


Saat sudah sampai di kamar ,mami yoga langsung menjelaskan duduk permasalahan nya pada sang suami.


Awalnya papi yoga terlihat begitu marah karna mami Margaret berbuat sejauh ini tanpa memberi taunya,terlebih Andini adalah sosok wanita yang tidak ia sukai.Namun setelah mendengar kisah tragis yang di alami Andini,papi yoga akhirnya merasa iba.Karena sejatinya papi yoga bukanlah orang yang kejam.Hanya saja ia papi yoga memang selalu tegas dan tidak mudah untuk di bujuk.Apalagi Andini juga pernah berjasa dalam insident penculikan mami Margaret waktu itu.


__ADS_2