Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Akhinya sah juga


__ADS_3

Di kediaman keluarga Bramana Atmaja


"Pokoknya mama mau pernikahan Danu dan Andini di selenggarakan secara mewah" Seru mami Margaret kepada suaminya.


"Pernikahan itu ibadah,jadi lakukan dengan sederhana saja.Yang penting sah",ucap papi yoga santai.


"Ya udah oke,akad nikahnya sederhana.Tapi harus ada pesta pernikahan yang meriah".Seru mami Margaret lagi.


"Papi rasa itu gak perlu.Mending uangnya di sumbangin ke orang yang lebih membutuhkan"


Mami Margaret langsung menatap tajam,melihat suaminya menolak keinginannya secara gamblang.


"Pi Danu itu anak mami satu-satunya,mami pengen seperti orang-orang bisa melihat Danu bersanding di pelaminan dengan wanita pilihannya" Jelas mami Margaret dengan wajah sendu.


"Danu juga anak papi satu-satunya,papi hanya ingin yang terbaik untuk dirinya"


"Tapi pi----"


Mami Margaret langsung diam tidak lagi melanjutkan kalimatnya setelah mendapat sorotan tajam dari sang suami.Jika sudah begini,papi yoga memang tidak suka untuk di bantah.


Dengan kesal mami Margaret beranjak dari duduknya lalu pergi menuju kamar miliknya.


"Mami kenapa pi?" Tanya Danu yang baru saja pulang dan langsung menyaksikan maminya pergi dengan wajah kesal.


Papi yoga menaikkan bahunya, "Biasa perempuan memang suka ngambek kan" bisik papi yoga pelan. "Sudah jangan terlalu di pikirkan,ayo ke ruang kerja papi.Ada hal penting yang ingin papi bicarakan" Seru papi Yoga kepada Danu yang masih memandang punggung mami Margaret hingga menghilang.


Papi Yoga beranjak dari duduknya melangkahkan kaki menuju ruang kerja,dengan di ikuti oleh Danu.


Di ruang kerja Papi yoga dan Danu duduk bersebrangan.


"Kemana andini,kok gak ikut kamu pulang?" papi yoga mengawali pembicaraan.


"Dia pulang kerumah nya pi,karena Andra Masih stay disini" jawab Danu datar.


"Oke...."


Papi yoga mengerakkan kursinya dan merubah posisi menjadi senyaman mungkin.


"Begini Danu,berhubung om Aldo belum di temukan keberadaannya.Papi ingin pernikahan kamu dengan Andini dilakukan dengan sederhana saja"


Danu menatap papinya intens.Menuntut penjelasan dari papinya.


"Papi khawatir,om Aldo akan mencari kesempatan untuk berbuat nekat setelah mendengar kabar pernikahanmu,kamu tau sendiri bagaimana sifat om Aldo yang nekat dan ambisius"


Danu menghela nafasnya dalam "Ooooo jadi karenai ini,mami tadi ngambeki .Tapi papi benar adanya.Om Aldo memanglah orang yang sangat nekat. Kejadian tentang mami waktu itu bisa saja terulang" ucap Danu dalam hati.


"Pi lebih baik kita kerahkan seluruh anak buah kita untuk mencari keberadaan om Aldo.Aku rasa kerja polisi itu sangat lamban" seru Danu kesal.


" Satu tahun itu bukan waktu yang sedikit tapi pihak kepolisian belum juga berhasil menemukannya" sambung Danu lagi,mengungkap kekecewaannya.


"Jangan terlalu gegabah.Biarkan semua berjalan sesuai prosedur.Karena papi tidak ingin ada pertumpahan darah di antara keluarga" jelas papi Yoga menatap teduh putranya.


"Bahkan dia sudah tidak lagi layak di sebut keluarga" dengus Danu sambil tersenyum sinis.


Papi Yoga membuang nafasnya kasar,melihat kebencian yang terlukis jelas di wajah Danu.


Anak mana yang tidak membenci seseorang yang sudah mengancam nyawa ibunya.


Sungguh papi yoga sangat memahami perasaan danu,tapi walau bagaimanapun ada hubungan darah di antara nya dengan Aldo.Mengingat Aldo adalah adik satu-satunya bagi papi Yoga,membuat papi yoga masih memiliki ruang maaf untuk Aldo.Oleh sebab itu papi yoga masih memberikan kebebasan pada Aldo.

__ADS_1


Namun sifat Aldo yang ambisius dan nekat membuat papi yoga sangat yakin suatu saat Aldo akan kembali untuk membalas dendam.


Papi Yoga masih mengharapkan Aldo datang dan meminta maaf secara baik-baik.Walaupun itu sepertinya sangat tidak mungkin.Tapi sebagai seorang kakak,papi yoga juga merasa memiliki tanggung jawab atas Aldo semenjak orang tua mereka meninggal.


"Oh ya satu lagi" papi yoga menghentikan Danu yang seakan ingin beranjak dari duduknya.


"Apa lagi" tanya Danu malas.


"Jangan bicara soal ini sama mami dan andini?"


"Kenapa pi?"


"Papi tidak ingin hal ini menjadi beban bagi mereka"


"Terserah papi aja lah"


Danu langsung beranjak dari duduknya.Dan melangkahkan kaki keluar meninggalkan ruang kerja papinya.


Karena terlalu khawatir akan keselamatan dua wanita yang sangat ia cintai.Khirnya Danu memutuskan untuk menyewa pengawal untuk Andini dan mami Margaret.Namun pengawal itu hanya mengikuti mereka secara diam-diam.Danu tidak ingin mami Margaret dan Andini merasa tidak memiliki ruang pribadi jika tau bahwa dirinya di ikuti oleh pengawal.


Danu melempar tubuhnya ke atas ranjang king size miliknya.Hari ini terasa panjang baginya.


Banyaknya kesalahan yang di buat oleh beberapa staf di kantor membuat hasil pencapaian tidak sesuai target.


Danu berfikir untuk mencari sekretaris,sepertinya beri sudah kewalahan untuk mengurus semua pekerjaan yang semangkin banyak.


Danu meraih ponsel di saku celana nya.Dan langsung mengetik pesan untuk beri.


"Ber,besok cari sekretaris untukku!"


"Oke siap"


Setelah mendapat balasan pesan dari Beri,kini pikirannya kembali pada om Aldo.Masih teringat dengan jelas bagaimana om Aldo sangat berapi-api ingin menghancurkan papinya.Padahal om Aldo terlihat sangat baik sebelumnya.Mereka sering bermain bola bersama,nge-game bersama dan tidak jarang juga mereka nge-jim bersama.


Danu juga mengingat bagaimana om Aldo mengajariny ilmu bela diri.Bisa di bilang om Aldo pernah menjadi guru sekaligus teman bagi Danu.


"Kreeek" Mendengar suara itu,pandangan Danu langsung tertuju ke arah pintu.Terlihat mami Margaret berjalan gontai mendekatinya.


Mami Margaret duduk di tepi ranjang,Danu memindahkan kepalanya di pangkuan maminya.


"Mau mami ceritakan sebuah dongeng?" tanya mami Margaret sambil menyapu ujung kepala Danu.


"Danu udah gede Mi" jawab Danu dengan mata terpejam.


Mami Margaret tersenyum mendengar jawaban Danu yang sedikit menekankan.


"Oh iya ya mami lupa kalau sebentar lagi jagoan mami akan menikah" mami Margaret menjembik pipi Danu gemas.


"Mami aku udah gede,jangan mencubit pipiku seperti itu" seru Danu dan langsung terbangun dari posisinya.


"Iya mami tau.Tapi bagi mami kamu masih tetap jagoan kecil mami" Mami Margaret kembali menjembil kedua pipi Danu.Namun kali ini Danu tidak protes,malah langsung memeluk erat mami Margaret.


Mami Margaret membalas pelukan putranya dengan penuh kasih sayang. "Nak setelah menjadi seorang suami maka tanggung jawabmu akan bertambah.Membangun rumah tangga itu tidak mudah mudah,suatu saat akan ada ombak atau bahkan badai yang akan menerjang kekuatan cinta kalian" mami Margaret mengusap-usap punggung Danu dengan lembut.


"Menjadi seorang suami itu,bukan sekedar bisa menafkahi istri secara lahir dan batin.Tapi kamu juga akan bertanggung jawab untuk membimbing,mengayomi dan menjaga rumah tangga kalian agar tidak hancur."


"Terkadang batuan besar mampu kita lewati dengan hati-hati,tapi tidak di sangka justru kerikil kecil bisa membuat kita terpeleset dan terjatuh"


"Kan ada mami,jika aku terjatuh masih ada mami yang akan memberikan tangan untukku bisa berdiri lagi" Danu melepaskan pelukan dan menghujani mami Margaret dengan ciuman di wajahnya.

__ADS_1


"Mami dan papi tidak selamanya ada di sisimu Danu,suatu saat kami juga akan pergi untuk selamanya"


Danu kembali memeluk maminya dengan erat. "Jangan bicara seperti itu mi,membayangkannya saja membuat Danu takut".


Mami Margaret tersenyum dan membalas pelukan Danu.


Malam itu berlalu dengan begitu banyak wejangan dari mami margaret hingga Danu tertidur pulas.Nasehat mami Margaret yang terlalu panjang sudah seperti dongeng penghantar tidur yang di baca berulang-ulang.


***


Setelah satu bulan berlalu,akhirnya hari yang telah lama di tunggu pun tiba.


Andini mengenakan kebaya modern adat jawa berwarna putih.Dengan make-up riasan dan aksesoris khas jawa membuat Andini terlihat semangkin ayu dan anggun.


Dengan wajah tertunduk Andini duduk di samping Danu.Walau ini bukan yang pertama bagi Andini,namun ia masih saja tak terlepas dari rasa gugup dan sedih saat menghadapi moment sakral itu.


Jika dulu saat pernikahannya dengan Bagas ia masih di dampingi ke dua orang tuanya.Namun kali ini,hanya tinggal bayangan keduanya yang bisa ia kenang.


Danu duduk bersebrangan dengan andra, tangan Danu berjabatan dengan tangan Andra.


Danu terlihat gagah dan tampan dengan balutan beskap adat Jawa yang berwarna senada dengan kebaya Andini.


Suasana khidmat dan sakral membuat Danu semangkin merasa gugup.


"SAUDARA DANU BRAHMANA ATMAJA BIN YOGA BRAHMANA ATMAJA,SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN ANDINI LARASATI HUMAIRA WIJAYA BINTI Alm.ANTO WIJAYA DENGAN MAS KAWINNYA BERUPA SEPERANGKAT ALAT SHALAT DAN UANG SEBANYAK SATU MILYAR BESERTA SEBUAH RUMAH, DI BAYAR TUNAI."


Mendengar kalimat yang di ucapkan Andra dengan sangat jelas dan lantang,membuat Andini terperangah dan langsung meneguk salivanya dengan sangat susah.


Tidak pernah terlintas di benak andini Uang tunai satu milyar dan sebuah rumah yang menjadi maharnya.


Danu menarik nafasnya dalam dan "SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWIN NYA DENGAN ANDINI LARASATI HUMAIRA WIJAYA BINTI Alm.ANTO WIJAYA DENGAN MASKAWIN TERSEBUT ,DI BAYAR TUNAI."


Dengan Pasih dan lantang Danu mengucapkan ikrar ijab qobul.Suaranya menggema memenuhi setiap sudut ruangan yang terhias indah bernuansa biru putih dengan tema minimalis.


"Bagaimana sah?" tanya penghulu kepada para saksi.


"SAH" jawab Danu repleks.


Jawaban Danu yang mendahului para saksi,sontak membuat suasana hening menjadi penuh dengan gelak tawa.


Danu langsung meringis menahan malu,ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Untung saja acara itu hanya di hadiri oleh beberapa pihak keluarga saja.Tidak terbayangkan jika acara pernikahannya di gelar dengan sangat mewah dan di hadiri oleh banyak para tamu undangan seperti rencana mami Margaret.


Sementara Andini yang semula sedih dan penuh haru.Kini juga ikut menahan tawa karena tingkah konyol suaminya itu.


"Sabar Nu,jangan terlalu terburu-buru.Jalani prosesnya dulu" bisik beri ketelinga Danu.


"Sialan lu Ber" umpat Danu dengan lirikan tajam. Beri langsung menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk seperti semula.


"Bagaimana para saksi sah?" pak penghulu mengulang pertanyaannya dengan tersenyum.


"Sah sah sah" ucap para saksi kompak.


"ALHAMDULILLAH HIROBBIL ALAMIN"


Semua orang yang berada di gedung itu mengucapkan syukur,dan mengusap lembut wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Akhirnya sah juga" batin sambil tersenyum bahagia.


Setelah bertukar cincin,Andini mencium tangan Danu dan di balas dengan sebuah ciuman yang mendarat di dahi Andini.

__ADS_1


__ADS_2