Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Gado-gado Spesial


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu.....


Airin kini masih menjalani hukuman yang diberikan oleh papa nya.


Ia tidak di perbolehkan keluar rumah.


Setiap hari hanya di kamar , rasanya sudah benar-benar seperti tahanan.


Tapi bukan Airin namanya jika selalu patuh pada peraturan.


Malam itu.....


Airin melompat dari jendela kamarnya. Ia berjalan mengendap-endap,sambil memegangi tas kecilnya.


Matanya melirik seorang satpam yang berjaga di dekat pagar rumahnya. Satpam itu masih begitu giras dan segar,tidak ada tanda-tanda bahwa rasa kantuk di wajahnya.


Akhirnya Andini memutar otaknya,jika tidak bisa dari pintu maka pagar juga boleh?


Bola matanya beralih pada ujung pagar yang ada di depannya. Ia tersenyum miring saat otak jeniusnya langsung menggambarkan ide untuk melompati pagar yang lumayan tinggi itu.


Pohon.....


Yah pohon,melalui sebuah pohon yang biasa ia panjat sewaktu kecil. Kini Andini mengulang keahlian memanjatnya itu.


Ranting-ranting pohon itu menjadi tumpuan berat badannya. Jangan sampai ranting itu putus, karena jika itu terjadi tamatlah riwayatnya sekali lagi. Selain akan ketauan sang papa mungkin badannya juga akan terasa remuk redam.


Oh tuhan tolong aku.....


Begitu lah pintanya dalam hati, mungkinkah tuhan akan mendengar jeritan hati nya?


Perlahan tapi pasti, Airin sudah berada di atas ranting yang menjulang ke arah tembok.


Dengan sedikit ragu-ragu ia meniti ranting kecil itu. Tapi.....


Jika ingin sampai ke atas tembok ia harus berani melompati jarak sekitar setengah meter antara ujung ranting dan tembok.


Lompat nggak?..... Lompat nggak?.....


Begitu lah iya bertanya pada dirinya sendiri.


Ah lompat aja deh,ya lompat dong .....kenapa nggak!


Buk....


Airin melompat ke atas tembok beton itu, karena ukuran lebar tembok itu hanya beberapa centi. Airin dengan lihai mengimbang kan berat badannya, walau terlihat oleng kesana-kemari tapi nasib baik masih berpihak dengannya malam ini.


Brukkkk.....


Airin berhasil mendarat dengan sempurna....


Wajahnya menyeringai puas,saat sudah berada di luar tahanan itu , pikir nya.


Iya pun memeriksa isi tas kecil miliknya. Smartphone,dompet,dan alat make-up. Semuanya aman.


Kabur tidak perlu membawa pakaian,yang paling penting adalah membawa uang...hihihihi iya menertawakan pikirannya yang licik itu.


Pesan taksi online.....


Setelah masuk ke dalam taksi, " mau di antar kemana mbak?" tanya sang driver .


Airin terdiam sejenak,kemana arah dan tujuan kabur nya kali ini?


Teman?


Iya tak punya selain Danu,tidak mungkin ia mendatangi Danu. Itu sama saja bunuh diri.


Tempat nokrong?


Airin juga bukan tipe wanita yang suka nongkrong-nongkrong gak jelas.


Klub?


Tidak, sumpah demi apapun. Airin tidak ingin kembali pada dunia kelamnya itu.

__ADS_1


"Terserah bapak deh mau kemana?" jawab Airin bingung.


Sang driver langsung melirik Airin dari kaca spion.


"Mbak kabur dari rumah?" Tebak sang driver ,ia seperti sudah bisa membaca raut wajah Airin.


"Iya"


jawab Airin singkat,padat dan jujur.


"Oooo " driver itu mengangguk-angguk sambil melajukan mobilnya.


Entahlah...


Entah apa yang ada di dalam pikiran sang driver,tidak ada yang tau. Begitupun author...karena author juga bingung mau nulis apa..... hihihihi


Setelah hampir dua jam mutar-mutar keliling kota.


"Sudah punya tujuan mbak?" tanya sang driver lagi.


Airin menggelengkan kepalanya,sambil melirik Argo yang terus berjalan.


Satu jam selanjutnya...


"Sudah punya tujuan mbak?"


Airin masih menggeleng.


Tiga jam kemudian....


"Sudah punya tujuan mbak?"


Airin masih juga menggeleng.


Chiiiiittttt.....


Sang driver mengerem mobilnya dengan tiba-tiba.


"Yang penting kan gw bayar !" seru Airin ketus.


" Ini bukan soal uang mbak,tapi sudah malam mbak saya juga mau pulang,anak dan istri saya menuggu di rumah." ucap sang driver lembut.


Dengan sewot Airin langsung keluar dari taksi itu,dan membanting pintu mobil sekuatnya.


"Mbak boleh marah, tapi jangan lupa bayar juga dong..." seru sang driver dari jendela mobil.


"Nih..."


Airin mengeluarkan segepok uang tunai berwarna merah yang baru saja ia curi dari berangkas sang papa.


"Cukupkan?" tanya Airin dengan nada sinis.


"Wah ini mah lebih dari cukup Mbak.... ini kebanyakan...." ujar sang driver jujur,sambil menatap segepok uang yang ada di tangannya.


"Ya udah ambil aja semua,papa gw gak akan jatuh miskin hanya karena kehilangan uang segitu" Jawab Airin sombong.


"Terimakasih mbak,semoga mbak nya selamat sampai tujuan" jawab sang driver girang dan langsung menghilang dari pandangan Airin.


"Yah dasar songong lu,udah dapat duit aja lu langsung kabur...dasar supir mata duitan!" pekik Airin sambil memandangi punggung taksi itu hingga menghilang.


Airin menoleh kanan dan kiri,Untung saja driver itu menurunkan nya di tempat yang ramai.


Tepat di jantung kota, Dengan mengenakan kelana jens biru,kaos panjang putih polos dan sepatu cats yang berwarna senada dengan bajunya.


Airin berjalan,menghirup udara segar....


Sudah satu bulan ia tidak bisa merasakan kebebasan ini.


Tapi.....


Nyalinya langsung menciut,ketika teringat skandal tentang dirinya yang sudah tersebar ke media sosial.


Topi.....

__ADS_1


Ia meraih topi berwarna putih dari tas kecilnya itu dan memakai nya.


Tas kecil itu sudah seperti tas ajaib, yang selalu menyediakan semua kebutuhan fisiknya. Namun tidak bisa menyediakan kebutuhan hatinya...


Hati Airin tetap terasa gunda-gulana, ternyata kebebasan ini juga tidak membuat nya bahagia. Iya justru bagaikan terombang-ambing di jalan nan tanpa tujuan.


Hampa....


Mungkin Itulah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan seluruh isi hatinya.


Tidak terasa sudah tiga puluh menit ia berjalan menyusuri bahu jalanan kota. Hingga kakinya terhenti di sebuah warung makan di pinggir jalan.


Menyediakan....


-Soto


-Bakso


-Gado-gado


-Sate


-Dann ....


Dan masih banyak yang tidak sempat terbaca oleh Airin.


Kini Gad- gado adalah menu yang membuat cacing perutnya berdemo. Entah kapan terakhir kali Airin makan makanan itu,atau bahkan iya tidak pernah memakannya sebelumnya.


Tapi....


Entah kenapa dengan hari ini,rasanya foto seporsi gado-gado yang terpampang di di depan warung itu benar-benar membuat Airin meneguk salivanya.


Sulit di mengerti,sejak kapan wanita berkelas itu mengubah seleranya.


Tanpa ragu....


Airin langsung menyantap seporsi gado-gado spesial itu dengan lahap.


Sesuai ekspektasi nya, gado-gado itu benar-benar terasa begitu nikmat di mulut Airin. Entah memang bumbunya yang enak atau mungkin lidah Airin yang sudah mulai tak berkelas.


Ini cuma makanan receh kan? pikirnya.


Tapi ....kenapa begitu enak?


Tanya nya dalam hati. Sungguh ini seperti bukan dirinya. Bukan Airin.


Alhamdulillah....


Seporsi gado-gado yang ditemani oleh segelas frutea dingin itu kandas tanpa sisa....


"Berapa bu?" tanya Airin pada seorang pemilik warung yang sedang berada di kasir.


"Dua puluh ribu mbak" jawab nya ramah.


"Kenapa murah sekali bu? " tanya Airin polos.


Hatinya bertanya-tanya,kenapa makanan seenak itu di hargai dengan begitu murah?


Baru kali ini ia makan dengan harga semurah itu,ini seperti sulit di cerna oleh akal sehatnya.


"Memang segitu harganya mbak" jelasnya lagi.


"Ya udah deh Bu..." Airin memberikan selembar uang limah puluh ribuan , "sisanya untuk ibu aja deh....lain kali lebih baik ibu naikin aja harganya,harga segitu sangat tidak cocok bu" Bisik Airin lembut.


Pemilik warung itu tercengang dan menatap aneh Airin. Baru kali ini ia mendapat kan pelanggan yang bicara seperti itu. Banyakan malah minta di kurangin tapi ini justru minta di naikin...


Lain kali Naikin aja Bu harganya tapi khusus untuk Airin aja,bisik author. Airin kan anak sultan,kalau sultan mah bebas....


Airin berjalan menunduk,jiwanya masih tidak bisa menerima harga gado-gado yang begitu murah itu.


Tiba-tiba brukkkk...


Ia menabrak sesekali......

__ADS_1


__ADS_2