Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Suara Pertama Yang Di Dengar Bayi saat Dalam Kandungan


__ADS_3

Sesampai di kantor semuanya masih biasa2 saja. Andini melepas tangan yang sedari tadi ia genggam. Ia berjalan menunduk di belakang Danu.


Semua orang yang bertemu dengan menyapa Danu ramah dengan penuh hormat.


Ini ke tiga kali nya Andini menginjakkan kaki di gedung megah itu. Walau secara hukum dan agama ia sudah sah menjadi nyonya Atmaja tapi di dunianya Danu ia masih terlihat asing.


Pernikahan mereka yang hanya di hadiri oleh pihak keluarga,tentunya membuat para karyawan dan seluruh rekan bisnis Danu tidak mengetahui posisi Andini.


Jika biasanya Andini merasa biasa tidak ambil pusing dengan status itu. Tapi entah kenapa kali ini hatinya bagaikan tersayat saat ia harus melepas tangan Danu.


Belum lagi ia sempat melihat para karyawan yang sempat berbisik-bisik saat melihatnya berada di antara bos nya.


Tentu mereka bertanya-tanya tentang siapa Andini sebenarnya.


Andini meraup begitu banyak udara,berharap semua udara yang ia hirup mampu menyemilirkan hatinya yang sedang gerah.


Setelah sampai di lantai 10......


Ting pintu lift terbuka,Andini masih mengikuti langkah kedua pria yang ada di depannya.


"Selamat pagi pak?" suara sekretaris Danu menyapa dengan ramah.


Danu hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


Sementara Andini ......


Ia langsung terbelalak saat mendapati sosok yang tidak asing itu di tepat di depannya.


Wajah itu....suara itu ....masih teringat dengan jelas di benaknya.


Wanita itu menatap sinis pada Andini. Aura kebencian itu benar-benar terlihat di matanya.


Sementara Andini....berusaha bersikap tenang,seolah ia tidak merasa terganggu dengan sosok yang sejujurnya ingin ia jambak-jambak rambutnya.


Andini mengikuti langkah Danu dengan pandangan condong ke depan. Numun tiba-tiba langkah lelaki itu terhenti dan meraih tangan Andini dengan seulas senyum. Sungguh jauh di lubuk hatinya ia merasa bersalah karena belum sempat menjelaskan keadaan yang rumit ini.


"Ber kamu selesaikan semua berkas yang harus ku tanda tangani hari ini,aku ingin sebelum rapat di mulai semua sudah ada di mejaku"


"Baik pak,saya permisi dulu " jawab Beri penuh hormat.


Seperti biasa saat di kantor mereka berdua memang terlihat sangat serius,sangat berbeda saat mereka berada di rumah.


Tidak butuh waktu lama bagi Beri untuk menghilang dari ruangan itu.


"Sayang kamu mau minum apa,biar di antar sama OB ? " tanya Danu sambil merengkuh pinggang Andini lembut.


"Gak mas,aku gak pengen apapun" jawab Andini malas.


Danu menghela napas dalam,,ia sudah bisa merasakan perubahan mood dari wanita hamil itu.


"Ok baiklah ....jika kamu pengen sesuatu kamu tinggal bilang aja sama aku" ucap Danu sambil meraih laptop dan duduk di sebelah Andini.


"Loh kenapa mas duduk disini ?" Andini langsung menyipitkan matanya "Meja kerja mas kan di sana?" ucap Andini sambil memonyongkan bibirnya menunjuk tempat yang biasa Danu duduki saat berada di ruangan itu.


"Loh emang kenapa ? emang gak boleh yaduduk di samping istri sendiri?" goda Danu sambil tersenyum

__ADS_1


"Istri kan kalau di rumah,kalau di luar rumah mah beda lagi ceritanya " sindir Andini.


"Beda gimana?...bagi aku di manapun tempatnya istri aku tetep sama,yaitu kamu" Danu meraih puncak kepala Andini dan mengecupnya lembut.


Kumohon author .....jangan .....!!!!!!


Seru Danu dalam hati.....


"Tenang Danu di part ini kamu masih di zona aman kok" kata author dengan tersenyum.


"Ih itu sih karena lagi bersama,coba kalau gak.....? " Andini mendorong kecil tubuh kekar Danu hingga tubuh Danu sedikit menjauh.


"Sayang.....tak perduli sejauh apa terkadang jarak memisahkan kita,tetapi hati ini.....hati ini hanya milikmu" Danu meraih tangan Andini dan menempelkan ke dadanya "Sayang ruang di hatiku itu cuma satu,dan itu sudah terisi penuh olehmu...dan baby kita"


Seketika untaian senyum itu pun hadir menghiasi wajah Andini. Apa yang ia dengar kali ini berhasil membuatnya tersipu malu


"Kau sudah membuatku bahagia lewat cara yang orang lain tak bisa. Bahkan aku selalu membutuhkanmu seperti jantung yang butuh berdetak" Ucap Danu lagi sembari mengecup ujung kepala yang sudah tenggelam di pelukannya..


"Aku sayang kamu Andini....mungkin itu kata yang sudah basi untuk aku ucapkan,,tapi sungguh aku memang benar-benar sangat menyayangimu" ucap Danu tulus dari dalam hatinya....


"Aku juga sayang kamu mas" balas Andini.


Sejenak mereka tenggelam dalam perasaan mereka. Cinta di antara mereka memang semakin kuat terlebih saat ini sudah ada baby di rahim Andini.


"Ya sudah mas,kamu mending cepetan selesai in kerjaan nya gih. Soalnya tiba-tiba anak kamu pengen di temani jalan-jalan" ucap Andini melepas pelukan mereka.


"MMM memang Abah ayah pengen di temeni jalan-jalan kemana?" bisik Danu keperut Andini. Lalu beeganti menempelkan telinganya keperut Andini seolah menunggu jawaban dari sang baby yang ada di dalamnya.


"Hmmm ketaman " jawab Andini terkekeh. Sungguh sikap manis Danu kali ini berhasil membuat ia melupakan hal yang sempat membuatnya sedih.


"Ok baik lah,sayang. Nanti setelah selesai meeting kita ketaman" ucap Danu sambil mengecup perut Andini . Dan langsung kembali menatap laptopnya dengan penuh semangat.


Sudah satu bulan ia tidak datang ke Andin's Bakery.


Kini jari Andini terlihat begitu lincah mengetik huruf yang ada di ponselnya. Bertanya tentang keadaan Andin's Bakery pada Lela membuat ternyata berhasil membuatnya lupa waktu.


Begitu banyak laporan yang Lela kirim kan lewat wa.


Bersyukurnya toko itu berkembang dengan baik dalam satu bulan ini. Semua target yang sudah Andini ingin kan sudah hampir tercapai.


Mendengar toko roti kesayangannya dalam keadaan baik,tentu membuat Andini bisa bernafas lega.


Tak lupa Andini juga,bertanya kabar tentang kak Andra dan mbak Mita.


Sudah dua Minggu mbak Mita melahirkan.Tapi ia belum sempat menjenguk. Rasanya ia sudah tak sabar ingin menggendong keponakan nya itu.


Andini senyum-senyum sendiri saat melihat foto Asyifa Natania, yaitu baby gilrs yang tampak begitu mirip dengan kak Andra.


Di dalam foto baby Syifa terlihat begitu menggemaskan. Terlebih saat Andini melihat foto kak Andra dan baby Syifa sedang tidur dengan posisi yang sama. Sungguh pemandangan yang berhasil membuat Andini merasa tergelitik.


"Hihihi lucu banget....." ucap Andini sambil tertawa gemas menatap layar ponsel.


Tanpa sadar sepasang mata sudah menatapnya tajam di ujung pintu.


"Apa yang lucu?" tanya Danu penasaran. Sambil kembali mendekati Andini .

__ADS_1


Untungnya meeting kali ini semua berjalan dengan baik. Tidak ada problem yang harus membuatnya pusing.


"Lihat deh mas,,kak Andra dan baby Syifa lucu banget kan? gaya boboknya bisa samaan gitu."


ucap Andini sambil menyodorkan ponsel nya kearah Danu.


Baby Syifa emang lucu sih,tapi di kakak resek ini benar-benar masih saja terlihat menyebalkan


"Lucukan mas....wajahnya itu loh kok bisa mirip banget sama kak Andra"


"Hehehe iya lucu...jelas mirip lah kan kak Andra papanya,kan jadi gak lucu kalau sampai baby Syifa miripnya sama Bery" ucap Danu sambil tersenyum kecut.


Ternyata Danu masih saja kesal dengan kakak yang berfeeling tajam itu.


"Hahaha mas bisa aja...mas Bery itu manis tau"


"Sayang...jangan ngomong gitu...entar kalau anak kita mirip sama dia gimana? gak rela aku...masak anak Danu Brahmana Atmaja mirip si gembul" ucap Danu membergidik ngeri saat membayangkan anaknya mirip Bery.


"Ih gak papa lah...mas Bery orangnya baik kok"


"Stop jangan bahas dia...aku tidak ingin anak kita mendengarnya" ucap Danu sambil menempelkan kedua tangannya di kedua sisi perut Andini. Seolah benar -benar ingin menutup kedua telinga anaknya yang masih di dalam perut.


"Idih mas lebay deh" dengus Andini sambil memukul lengan Danu. "Dia masih terlalu kecil mana bisa dengar,orang gerak aja belum" sambung Andini lagi.


"Yee di dalam perut juga bisa denger kali ,aku pernah baca artikel bahwa bayi dalam kandungan juga perlu di ajak ngobrol"


"Kamu mulai sekarang harus hati-hati dong kalau ngomong,karena suara pertama yang akan di dengar bayi dalam kandungan adalah suara ibunya" jelas Danu yang sudah mulai muncul jiwa protektifnya.


Andini menyipitkan matanya ...menatap intens lelaki yang ada tepat di hadapannya.


Benarkah yang ia katakan? apa anakku benar-benar sudah bisa mendengar?


"Ya kalau kamu gak percaya browsing aja di google tentang perkembangan janin" seru Danu lagi...meyakinkan Andini yang terlihat masih meragukan ucapan nya.


"Tapi masalahnya lu itu taunya dari gw,bukan dari google" Tiba-tiba suara Beri muncul balik pintu.


Danu langsung menoleh " Lu itu gak bisa ya ketuk pintu dulu kalau mau masuk ke ruangan gw" sarkas Danu kesal. " Sama pimpinan gak ada sopan-sopannya lu "


"Ya abisnya lu si suka banget nyebut-nyebut nama gw sembarangan,emang kenapa kalau anak lu mirip gw...kata Ica gw ganteng kok" ucap Beri penuh percaya diri.


",Itu karena Ica khilaf ,makanya bisa ngomong gitu" cerca Danu.


"Udah-udah kok jdi berantem sih? gak malu apa sama umur..udah tua masih aja saling mencela" ucap Andini menengahi.


"Suami lu itu Din,suka banget mencela gw..."


Adu beri sambil menyungutkan bibirnya ke arah Danu.


"Lu it------"


"Mas....!!!!!!" seru Andini dengan sorotan tajam kepada suaminya.


Jika sudah begini....lebih baik diam pikir Danu. Jangan sampai mood Andini berubah lagi. Bisa runyam nanti ceritanya.


Tok tok tok perdebatan kecil itu pun langsung terhenti saat terdengar suara seseorang mengetuk pintu.

__ADS_1


Suasana hangat di ruangan itu langsung berubah menjadi kembali dingin dan serius. Danu duduk di kursinya dan Beri berdiri di samping Danu.


Sementara Andini kembali duduk di posisi semula.


__ADS_2