
Satu bulan Berlalu,....
Tepat pukul tujuh pagi pesawat yang Riyan tumpangi lepas landas.
Setelah menuntaskan pekerjaan di luar kota, akhirnya lelaki itu pulang kembali.
Riyan berjalan mendorong koper dengan begitu gagah, di tambah kaca mata hitam yang tersangkut di barang hidung mancung nya. Membuat siapapun wanita yang memandang terpesona.
Tidak terkecuali untuk seorang wanita cantik yang berpenampilan seksi yang satu ini. Ia berdiri tepat di boarding are, menunjukkan gigi putihnya yang berjajar rapih.
Wanita itu tersenyum, menunjukkan lengkungan kecil di pipinya.
"Apa kabar sayang" tanya Pricillia dengan senyum menggoda.
"Baik" jawab Riyan singkat.
"Aku sangat merindukan mu" ungkap Pricillia sambil bergelayut manja di tangan Riyan.
"Terimakasih" ucap Riyan tanpa menatap tunangan nya itu.
"Beginikah cara bersikap seorang polisi pada tunangan nya yang sudah lama tidak bertemu?" sindir Pricillia. "Bukan kah kamu terlalu kaku" sambungnya lagi.
"Ini tempat umum Cil, tak bisa kah kita bersikap biasa saja" keluh Riyan, sungguh ia merasa tidak nyaman dengan ke agresif pan Wanita yang di sebut sebagai tunangan nya itu.
"Emang kenapa,kamu kan tunangan ku. Sebentar lagi juga bakal jadi suamiku" ucap Pricillia serambi tak ingin melepaskan pelukan nya.
"Tapi aku adalah petugas negara, rasanya tidak pantas berbuat seperti ini di tempat seperti ini. Ini melanggar etitut di Perserikatan kami. Sebagai petugas negara kami di ajar kan agar menjadi tauladan yang baik. Lalu bagaimana jika ini di lihat boleh anak di bawah umur. Ini bisa merusak moral mereka" ujar Riyan sambil perlahan-lahan menarik tangannya dari dekapan wanita itu.
Menolak secara halus, itulah yang selalu Riyan lakukan dengan alasan sebagai petugas negara. Walau sebenarnya Riyan sudah muak dengan wanita itu. Wanita yang sudah dengan murah di cicipi oleh segelintir pria.
Pricillia mengerucut kan bibir. Lagi-lagi Riyan selalu saja menjaga jarak padanya.
Perjalanan mereka begitu sepi, Riyan menyibukkan diri dengan smartphone di tangannya. Begitupun Pricillia, wanita itu sedang sibuk chatingan dengan kekasih gelap nya.
Hanya terdengar suara deru mesin dan Lagu akustik cover by Tri suaka,yang di play sang driver.
"Stop pak" seru Pricillia tiba-tiba.
Damar melirik wajah Pricillia yang sedang tampak begitu riang.
"Sayang maaf ya, aku ada kerjaan mendadak. Jadi aku gak bisa temani kamu sampai rumah. Aku turun di sini saja" ucap Pricillia dengan wajah pura-pura nya.
"Hmm" jawab Riyan singkat.
Riyan tau betul temberang wanita itu, hanya saja ia masih belum memiliki cukup bukti.
Setelah Pricillia pergi, " putar balik pak, kita ke kampus ivana" serunya pada sang driver.
Kampus ivana?
Riyan tersenyum penuh arti, mau apa ia pergi ke tempat itu?
Mau jadi dosen? atau jemput ivana? atau----?
Riyan menggeleng kan kepala, menertawakan dirinya sendiri. Karena tentu saja jawab ban nya adalah ingin melihat orang yang ia rindu kan.
Rembulan.....
Wanita yang selalu mengusik pikiran nya selama ini. Sudah lama ia tidak melihat sosoknya.
Sesampainya di kampus....
__ADS_1
Riyan langsung mengedarkan pandangan nya. Ia berjalan dengan begitu cool, layaknya seorang lelaki tampan yang memiliki sejuta pesona.
Di tempat seluas ini, aku harus kemana?
Tanya Riyan dalam hati.
Sebelum akhirnya ia mtemutuskan untuk nongkrong di kantin.
Secangkir copylate, kini mmenjadi teman santai nya.
"Eh lu tau gak, tadi Bulan di semprot abis sama bu lienci dosen pembimbing nya" ujar Rika si biang gosip kampus.
Riyan mulai pasang telinga, mendengar nama Bulan di sebut.
"Ya wajar lah, dengan otak kecilnya paling dia bakal jadi mahasiswa abadi" jawab Ririn enteng.
"Hahahaha, dasar bodoh. Kuliah ngandelin fisik,dikira tarzan"
"Dia memang lebih cocok tinggal di hutan rimba hahahaha"
"Dasar otak udang, kok ada ya cewek begitu.... "
Begitu bahagia nya dua insan yang sedang menggibah kan Rembulan. Mereka tertawa lepas seakan mendapatkan cekpot berhadiah.
Riyan menatap mereka tajam, tangannya mengepal geram. Rahangnya tiba-tiba mengeras, ingin rasanya ia menembak otak kotor mereka berdua.
Bulan... ?
Dimana wanita itu,pasti dia sangat sedih saat ini.
Riyan beranjak dari duduknya,hatinya menjadi gelisah penuh kecemasan.
Sudah dua kali berputar menyusuri gedung, namun tak menemukan Bulan.
Namun ia melihat lelaki yang begitu mirip dengan Bulan.
"Bintang" panggil Riyan.
Bintang menoleh dan menatap Riyan dengan pandangan aneh.
"Kamu saudara kembarnya Bulan kan?" tanya Riyan lagi.
"Iya bang, ada apa? abang siapa?" tanya Bintang balik.
"Perkenalkan saya Riyan, teman Bulan" Riyan menyodorkan tangannya pada Bintang.
"Bintang " balas bintang.
"Oh ya apa kamu tau Bulan dimana?"
" Gak tau bang, dari tadi nomornya gak aktif. Saya juga lagi mencari nya. " Jawab Bintang jujur, gosip tentang Bulan mudah sekali menyebar ke seluruhnya kampus. Bintang juga mengkhawatirkan kakaknya itu.
"Kamu tau sudah tanya teman kuliah nya, atau siapa gitu yang bisa di hubungi" tanya Riyan cemas.
"sudah bang, tapi gak ada yang tau.Mungkin Bulan sudah pergi"
"Apa kamu tau tempat nokrongnya, atau tempat yang biasa ia datangi?"
Bintang menggeleng kan kepala, raut wajahnya menjadi sedih. Baru ini dia menyadari bahwa selama ini ia kurang peduli pada saudara nya itu. Padahal cuma berdua, seharusnya ia bisa menjadi pelindung bagi wanita yang sering bertengkar dengan nya itu.
"Oh ya sudah terimakasih " ucap Riyan sambil menepuk pundak Bintang.
__ADS_1
"Bang.... " seru Bintang saat Riyan sudah beranjak pergi.
Riyan menoleh, suara Bintang menghentikan langkah nya.
"iya ada apa?" jawab Riyan.
"Kenapa abang mencari kakakku?, apa dia membuat masalah?" tanya Bintang penuh khawatir. Jiwa bar-bar Bulan yang sering menimbulkan masalah seakan membuat Bintang semakin cemas.
"Tidak" jawab Riyan tersenyum. Riyan pun berlalu.
Tidak tau harus kemana mencari Rembulan, Riyan memutuskan untuk pulang ke rumah om Sultan. Mungkin Ivana bisa memberi nya informasi,pikir Riyan.
Seperti biasa, kepulangan Riyan langsung di sambut oleh pembantu.
Kebetulan om Sultan dan istrinya tidak ada di rumah. Mereka sedang ke luar negeri.
Riyan mengedarkan pandangannya, "Ivana dimana bik?"
"ada Di kamar bersama temannya tuan, apa perlu saya panggil kan?"
"Oh gak usah bik, biar saya saja yang nyamperin Ivana" ujar Riyan.
Perlahan kaki Riyan menuju ke ruang kamar Ivana. Pintu kamar iVana sedikit terbuka.
Sayu-sayu terdengar oleh Riyan, Ivana dan temannya sedang menyusun rencana.
Riyan membulat kan matanya, saat nama Bulan di sebut. Riyan semakin mendekat, untuk memperjelas suara mereka.
Tak habis pikir, Ivana bisa sejahat itu pikir Riyan. Wanita itu semakin terlihat seperti monster. Mungkin karena om Sultan selalu memanjakan nya.
Entah apa yang membuatnya begitu membenci Rembulan. Padahal setau Riyan Bulan tidak akan Bar-bar jika tidak di usik.
Riyan mengetuk pintu Ivana, tok tok tok.
"Bang iyan" seru Ivana senang.
Riyan hanya memberi nya setengah senyuman terpaksa.
Entah lah semenjak mendengar rencana busuk mereka, rasanya Riyan juga kesal pada wanita yang sudah ia anggap seperti adik itu.
"Gimana kabar kamu?" tanya Riyan basa basi
"Baik bang, bahkan sangat baik" Ivana tersenyum bahagia " ohiya bang kenalin ini temen kampus aku bilqis "
Riyan mengulurkan tangannya " Riyan "
"Bilqis " jawab teman Ivana.
"Ganteng kan abang gw?" goda Ivana pada Bilqis.
Wanita mana yang tidak kesemsem melihat sosok yang tercipta hampir sempurna seperti Riyan.
Senyum nya itu loh, pikir Bilqis. Seakan langsung meluruhkan hatinya.
"Tadi keliatan seru banget, lagi ngomongin apa sih?" pancing Riyan.
"Eeeemmmmm, itu loh bang biasalah lagi ngerumpi ini teman sekolah" ucap Ivana sambil memberi kode-kode pada Bilqis.
"Oh.... silakan lanjut lagi ngerumpi nya. Abang ke kamar dulu" ucap Riyan dambil menyentuh ujung kepala Ivana " Jangan sampai bertindak keterlaluan sama orang lain, itu bisa jadi bumerang buat kamu"
Sebagai seorang yang di anggap seperti keluarga, Riyan memang wajib mengingat kan Ivana. Walaupun Riyan tau, Ivana tidak akan mendengarkan nya.
__ADS_1