
Dua puluh tahun kemudian....
Bintang tumbuh menjadi pria yang pintar, tampan dan makin.
----
Laki-laki idaman setiap wanita banget.
Tapi sayang, bintang cenderung memiliki sikap yang dingin. Terutama pada orang yang tidak baru ia kenal.
Di sekolah bintang selalu mendapatkan nilai-nilai yang terbaik. Banyak meraih penghargaan terutama di bidang akademik dan olahraga.
Selain cerdas, lelaki berpostur tubuh ideal itu sangat menyukai olahraga. Terutama olahraga basket. Idola para cewek-cewek banget.
Tapi walaupun begitu, Bintang tidak pernah berpacaran. Baginya wanita hanya akan menyusahkan. Apalagi wanita manja,Bintang paling anti.
Terlebih wanita selebor dan jorok.
Membayangkan nya saja sudah membuat lelaki itu bergidik.
"Bulan bangun sayang.... " bajuku seorang wanita tua dengan lembut.
"Hmmmm"
Sudah hampir satu jam, oma Margaret membangunkan cucu kesayangan nya itu. Namun Rembulan hanya menggeliat-menggeliat saja.
Pemandangan itu yang ia lihat setiap pagi,berhasil membuat Bintang semakin ilfil melihat wanita.
"Siram aja oma pake air panas, perempuan tapi kok males banget. Pantesan gak pernah punya pacar" omel Bintang sambil menarik kasar selimut Bulan.
Lelaki tampan yang sudah berdandan rapi itu, tidak sabar kelakuan kakaknya.
"Bintang....!!! " Teriak Bulan kesal.
"Jangan teriak-teriak! ini rumah bukan hutan" jawab Bintang,sembari pergi meninggalkan kakaknya yang sudah seperti singa siap menerkam.
Bugh.....
Sebuah bantal melayang mengenai kepala Bintang.
Tak mau kalah,lelaki itu segera membalas dengan lebaran yang sama.
"Dasar miss Specter,nama aja Bulan tapi kelakuan horor" Teriak Bintang sambil beranjak pergi dari kamar Bulan.
"Omaaa.... " rengek Bulan.
"Sudah jangan di dengarkan, bagi oma kamu adalah princess kesayangan oma" oma Margaret memeluk Bulan penuh kasih sayang. Wanita tua itu sangat memanjakan cucu perempuan nya itu.
"Ayo cepat mandi dan bersiap ke kampus. Nanti keburu Bunda mu marah" bujuk oma Margaret sambil merapat tubuh Bulan kekamar mandi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30,Danu dan Bintang sudah berada di meja makan.
Andini tersenyum bahagia melihat dua pangerannya, begitu rapi dan kompak.
"Bintang mana kakakmu?kok belum turun?" tanya Andini sambil memberikan sarapan pada Bintang.
"Biasalah Bun,princess nya Oma... " jawab Bintang acuh sambil nenyendok nasi goreng buatan ibundanya.
__ADS_1
Andini menghela nafas berat,anak perempuan nya itu memang sangat keterlaluan. Walaupun usia Sudah beranjak dewasa, tapi kelakuannya masih seperti anak SD.
"Bulan itu sudah besar,kamu harus bisa mendidiknya menjadi wanita beneran. Bukan wanita jadi-jadian gitu" ucap Danu pedas.
"Mas jangan ngomong gitu,Bulan itu anak kamu mas juga mas. Gak pantes kamu ngomong gitu sama anak sendiri" Tungkas Andini marah.
"Ya kalau kamu mau pendapat yang baik tentang Bulan, kamu harus merubah nya menjadi baik. Bukan malah terus membela dan memanjakan nya seperti ini" seru Danu.
"Mas Bulan bukan hanya anakku tapi anak kamu juga, dalam hal ini kamu juga berkewajiban untuk mendidik nya."
"Iya, tapi yang lebih sering di rumah kan kamu. Kamu yang berperan penting atas pertumbuhan Anak-anak"
"Sudah-sudah jangan bertengkar " ucap lelaki tua yang baru saja duduk menghampiri mereka.
"Mas Danu itu pi, masak anak sendiri di bilang wanita jadi-jadian." adu Andini pada opa Yoga.
"Danu.... benar kata Andini. Kamu sebagai ayah tidak boleh berkata seperti itu. Kata-kata itu adalah do'a. Apalagi ucapan orang tua. Dan kamu Andini pelan-pelan Nasehati Bulan. Sebagai seorang wanita, sikap nya tidak terlalu baik." ucap oppa Yoga menengahi perdebatan pagi mereka.
"Oh iya Bun,semalam kakak memecahkan kaca jendela kampus sewaktu bermain bola" sambung Bintang.
"Apa?.... " pekik Danu "Tuh papi bisa lihatkan,kelakuan anak itu bar-bar banget. Bikin malu aja" celetuk Danu kesal.
"Sabar... jangan emosi dulu. Bicara baik-baik padanya" jawab oppa Yoga.
Sementara Andini hanya bisa menghela napas berat. Entah mau bagaimana lagi membuat Putri nya itu berubah. Setiap hari ada saja hal yang membuat suaminya itu marah.
Memukuli teman sekolah, dan merusak fasilitasi sekolah adalah masalah yang sudah sering kali diterbitkan sejak duduk di taman kanak-kanak hingga saat ini.
Ternyata gedung fakultas tidak membuat kenakalan nya berkurang.
"Selamat pagi semua nya... " Sapa Bulan sambil menuruni anak tangga.
"Bulan,ayah minta besok pagi kamu tidak telat bangun lagi. Karena jika kamu telat ayah akan cabut semua fasilitas yang kamu miliki" seru Danu sambil menatap tajam putri nya itu.
"Tapi yah---"
"Tidak ada kata tapi-tapi. Ingat itu baik-baik,kamu tau kan ayah tidak pernah main-main. Ini serius" seru Danu tegas.
Mungkin sudah saat nya untuk bersikap tegas pada anak itu.
"Oh ya,perbaiki nilai mata kuliah mu. Ayah tidak mau dengar kamu mendapat nilai memalukan itu lagi" tambah Danu.
Jika sudah seperti ini, tidak ada yang bisa membantah perintah tuan singa itu. Danu Brahmana Atmaja. Lelaki yang terkenal tegas dan Perpacsionis itu tidak suka di bantah.
Damar pergi meninggalkan ruangan itu dan di ikuti oleh Bintang.
"Omaaa" rengek Bulan.
"Sudah sudah jangan di ambil hati, mungkin ayah kamu lagi banyak masalah di kantor. Jadi sensi" bujuk oma Margaret.
"Mami jangan terlalu di manja,mas walau bagaimana pun mas, Danu bener. Bulan harus berubah" sambung Andini.
"Bunda sama Ayah memang cuma sayang sama Bintang, beda kalau sama Bulan. Sebenarnya Bulan itu anak bunda gak sih?"
"Bulan" plak....
Refleks tangan Andini terangkat dan mendarat ke pipi Bulan.
__ADS_1
Untuk pertama kali nya Andini sampai lepas kendali,karena Bulan mempertanyakan status nya.
Sejatinya tidak ada seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya. Hanya saja tentu akan berbeda sikap yang ia tunjukkan sesuai kebutuhan anak.
Jelas saja sikap tegas harus di tunjukkan oleh Andini dan Danu,karena sesungguhnya itu semata-mata hanya untuk membuat Bulan berubah menjadi lebih baik.
"Bunda jahat... " seru Bulan sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ulan.... makan dulu sayang", teriak oma Margaret. Namun Bulan tak menggubris nya.
Bulan menancap gas motor trel nya, dan melesat secepat kilat.
" Aduh, kamu gimana sih Din. Kan bisa gitu ngomong baik-baik. Gak perlu pake tangan, ntar kalau terjadi apa-apa pada Bulan gimana. Bahaya tau naik motor dalam keadaan sedih gitu " omel oma Margaret.
"Mang ayo cepat siapkan mobil,ikuti motor Bulan"
Seru oma Margaret penuh khawatir.
Andini hanya bisa menarik napas dalam-dalam, dadanya semakin sesak. ucapan oma Margaret membuat nya merasa bersalah dan penuh khawatir.
Andini meremas-remaaas jemarinya, sambil berjalan mondar-mandir.
"Sudah tidak perlu khawatir, Bulan anak yang kuat. Tidak akan terjadi apa-apa padanya" ucap opa Yoga santai sambil menyeruput kopinya.
"Karakter anak itu beda-beda, kita tidak bisa memaksakan anak harus menjadi seperti yang kita inginkan. Bulan juga punya sisi baik yang bisa di banggakan. Walaupun ia tidak terlalu pintar" sambung opa Yoga lagi.
*****
Di kampus...
Bulan menarkirkan motor dan membuka helmnya. Dan mendekati wanita cantik berpenampila gerly yang sedang duduk di bawah pohon.
"weits... cemberut aje neng. Kenapa?" sapa Tania selaku CS KENTAL Bulan sejak SD.
"Sebel gw Tan"
"Iya sebel kenapa,pagi-pagi udah sebel aja" goda Tania sambil menyenggol siku Bulan.
"Gue tadi di omelin Bonyok, dan lebih parah nya lagi gue di gampar sama nyokap. "
"Hahahaha... kok bisa?" bukannya prihatin tapi Tania malah justru tertawa.
"Ketawa lagi lu,gak ada yang lucu tau. Gw beri juga lu" ucap Bulan sewot, sambil bergerak ingin memukul Tania.
"Ets sabar neng,jangan marah dulu. Iya iya deh maaf" ucap Tania sambil menahan tawa. " Yaudah cerita lah, apa masalah nya. Siapa tau gw bisa bantu"
"Gw di tuntut untuk memperbaiki nilai semester, kan parah banget it-----"
"Eh Bul,Bul,maaf ya tuh pacar gw datang. Gw kesana dulu"
Belum sempat Bulan menyiapkan curhat tannya eh si Tania sudah ngacir entah kemana.
"Sial, Dasar sahabat gak ada ahklak. Udah tau teman nya lagi sedih. Eh dia malah kabur. Melanggar etitut dalam percurhatan. "
Bulan menghentakkan kakinya kesal. Kepala nya semakin di buat pusing saat memikirkan ucapan ayahnya.
*******
__ADS_1
happy reading..... semoga suka😊😊😊😊