
Tidak terlalu ingat....tapi rasanya wajah dan aroma tubuh ini tidak asing baginya.
Siapa?
Airin menyambut uluran tangan lelaki itu. Lelaki itu menatapnya teduh.
Ia membuka kacamata hitam yang tersangkut di hidung mancung lelaki itu. Lelaki itu tersenyum penuh makna.
"Apa kabar?" tanya lelaki itu.
Melihat senyuman itu,membuat sekelebat bayangan sebulan yang lalu itu bermunculan di benaknya.
Mata yang sama,hidung,alis bibir dan dagu itu juga sangat mirip.
"Hei....apa kabar?" tanya lelaki itu lagi.
"Hah? baik " jawab Airin canggung.
"Tidak di sangka ya Tuhan mempertemukan kita kembali, Airin"
"Kenapa kamu bisa tau namaku?"
"Siapa yang tidak kenal seorang Airin yang sedang jadi perbincangan hangat di dunia Maya"
Airin langsung tertunduk malu. Ia melirik kanan-kiri dan menarik sedikit ujung topinya.
Jika bisa,ingin rasanya ia langsung menghilang dari tempat itu.
"Permisi saya masih ada urusan" seru Airin sambil mendorong tubuh kekar lelaki itu.
"Tunggu...?" dengan sigap lelaki itu menarik lengan Airin. "Apa kau tidak ingin tau namaku?" tanya lelaki itu penuh harap.
"Maaf aku tidak tertarik" Airin langsung berlari dan pergi meninggalkan tempat itu.
Aneh?
Tiba-tiba pemandangan Airin terasa berputar-putar. Dunia terasa semakin gelap.
Buk.....
Tubuh Airin jatuh ke pelukan lelaki itu, " Airin...Rin ... Airin...kamu kenapa?" tanya lelaki itu panik.
Dengan cepat lelaki itu langsung mengangkat tubuh ramping Airin kedalam mobilnya dan membawa Airin ke rumah sakit.
Di rumah sakit.....
"Aku dimana?"
Tanya Airin lemah.
"Di rumah sakit..."
"Kok bisa?"
"Ya tadi gak tau kenapa,kamu tiba-tiba pingsan"
Airin berusaha untuk duduk sambil memegangi kepalanya.
"Kenapa aku bisa pingsan?"
"Ya mana aku tau"
Lelaki itu mengedikkan bahunya acuh.
"Selamat ya bu anda akan segera jadi seorang ibu" tiba-tiba suara seorang dokter cantik itu memotong pembicaraan mereka.
"Siapa dok?" tanya Airin dan lelaki itu bersamaan.
"Ya kamu,ibu Airin kan? selamat anda sedang hamil 4 Minggu"
Tidak mungkin...... bagaimana bisa?
__ADS_1
Selamat ya pak anda akan jadi ayah"
Lelaki itu terbengong mendengar ucapan dokter.
Kenangan satu bulan lalu pun kembali terbayang di benak mereka.
Mereka keluar dari ruangan itu dengan pemikiran masing-masing.. berjalan berdampingan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Penjelasan dokter tadi masih mengguncang pikiran masing-masing, terutama Airin.
Wanita itu tidak tau harus berbuat apa.
Sesampainya di mobil.....
"Siapa ayah dari bayi itu?"
Suara lelaki itu, membuyarkan lamunan Airin.
"Ya kamu lah,siapa lagi?" Dengus Airin. Airin ingat betul malam itu mereka melakukan nya tanpa pengaman.
"Hmmm oke kalau begitu kita harus menikah!"
"Apa?" suara Airin memekik kaget " lu udah gila ya? bagaimana aku bisa tiba-tiba nikah sama orang yang tidak aku kenal" protes Airin spontan. Seperti nya otak Airin belum bisa bekerja dengan benar saat ini. Ia terlalu syok mendengar berita tak terduga ini.
"Terus kamu mau ,anak itu lahir tanpa ayah?"
Airin menggelengkan kepalanya lemah.
"Terus kamu maunya gimana? "
"Ya udahlah gampang aborsi aja" jawab Airin asal.
"Gila kamu ya? jangan harap kamu bisa ngelakuin itu. Aku gak akan pernah ijinin kamu membunuh anak aku"
"Ya mau gimana lagi,aku tuh gak mau nikah sama kamu" protes Airin lagi.
Lelaki itu menarik napas panjang,mencoba meluruhkan seluruh emosinya. Ia masih tak habis pikir dengan jawaban Airin.
"Jangan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya Airin. Aborsi itu bukan jalan yang terbaik"
"AIRIN...!!!!" bentak lelaki itu.
Tubuh Airin terjingkat,ia menunduk takut. Entah kenapa nyalinya jadi menciut mendengar suara bas dari lelaki itu meninggi.
"Dimana rumah kamu?" tanya lelaki itu sambil mengemudi mobil nya.
"Aku tidak mau pulang"
"Kenapa?"
"Karena aku baru saja kabur dari rumah"
"Apa???"....
"Iya aku kabur dari rumah,,papa aku mengurungku seperti tahanan. Aku gak mau di kurung lagi, apalagi di kurung sampai melahirkan,aku gak mau..." jelas Airin dengan mata yang sudah mulai mengembun.
Lelaki itu menatap lekat wajah Airin.
Ia meminggirkan mobilnya di tepi jalan, seperti nya masalah ini harus ia bicarakan baik-baik dengan wanita itu.
"Aku tau aku salah,aku sudah membuat papa malu dan rugi besar di perusahaan nya. Tapi aku gak suka di kurung huwa huwa huwa" akhirnya tangis Airin pun pecah.
Lelaki itu mengerang frustasi,ia tidak mengerti bagaimana caranya menghadapi wanita manja dan tidak dewasa yang ada di hadapannya itu.
Ya Tuhan kenapa kau pertemukan aku dengan wanita ini? apa yang harus aku lakukan?
keluh lelaki itu dalam hati.
"Jika kamu di kurung ?lalu bagaimana caranya kamu bisa kabur?"
Bukan nya mencoba menenangkan ,tapi malah bertanya lagi.
"Lo-lo-lompat pagar lah hiks,hiks"
__ADS_1
"Apa lompat pagar? apa kamu gak mikir,gimana kalau terjadi sesuatu pada bayimu? bisa-bisa nya kamu berbuat se x-trim itu"
"Ya aku juga gak Taulah kalau aku itu hamil, kalau aku tau udah aku gugurin dari semalam anak ini" gerutu Airin sambil memukul-mukul perutnya yang masih rata.
"Airin... Airin jangan gila kamu" lelaki menarik kedua tangan Airin. Hingga Airin terjerembab ke dalam pelukannya.
"Huwa...huwa...huwa...." Airin menangis tersedu.
"Sudah... sudah...jangan menangis lagi...."
Ucap lelaki itu sambil menghapus pipi basah Airin.
"Kamu tenang dulu ya.....tenang .... semuanya akan baik-baik saja. Hmmm ....gimana kalau kita beli es krim, ???"
Airin mengangguk pelan, rupa-rupanya bayangan es krim di otaknya sudah membuat tangis wanita itu sirna begitu saja.
Setelah beberapa menit mencari-cari , akhirnya mereka menemukan sebuah Alfamart.
Mata Airin langsung berbinar ketika mendekati box besar nan dingin di hadapannya.
"Aku mau rasa strawberry, coklat,banana sama jagung..." seru Airin dengan antusias.
Seorang pegawai Alfamart membungkus semua varian rasa yang Airin sebutkan tadi. Dan menyerahkan nya pada lelaki itu, setelah di bayar.
"Mau makan dimana? duduk di sini atau di mobil?" tanya lelaki itu lembut.
"Mobil" jawab Airin cepat.
Saat sampai di mobil, Airin langsung menyambar Tote bag dari tangan lelaki yang sedari tadi berada di sisinya.
Pertama Airin membuka es krim rasa coklat,dan menyantapnya habis hanya dengan satu napas. Begitu pun es krim selanjutnya...
"Pelan-pelan" ujar lelaki itu sambil menghapus bekas es krim yang belepotan di ujung bibir Airin.
"Nih..." Airin menyodorkan es krim rasa jagung yang sudah ia jilat ujungnya pada lelaki itu.
"Tidak, untukku saja" tolaknya.
"Aku sudah kenyang,kamu saja yang makan" desak Airin.
"Tapi aku tidak suka es krim"
"Tapi aku pengen kamu memakan nya,ayolah cepat makan ntar meleleh" rengek Airin.
Huh.....
Mau gimana lagi,dengan wajah terpaksa lelaki itu menuruti kehendak ibu hamil itu.
"Habiskan...!" seru Airin.
Mau tak mau....
Untuk menyenangkan hati ibu hamil, bersikap Patih adalah cara yang paling efektif. Ya daripada harus mendengarkan ia menangis lagi seperti tadi.
"Oh ya terimakasih ya...?" seru Airin lagi, rupanya wanita itu selain menangis dan membuat orang jengkel masih bisa juga mengucapkan terimakasih.
"Untuk apa?"
"Untuk es krim nya"
"Cuma karena es krim doang?"
"Hmmmm...iya deh, terimakasih untuk semua nya. Kamu udah mengantar aku ke dokter,berniat untuk menanggung jawab Pi anak aku,dan membelikan aku es krim. Terimakasih...."
Wah ini sepertinya otak Airin sudah mulai beres . Pikir lelaki itu.
"Oh ya aku harus memanggil mu apa? aku tidak tau nama kamu siapa?" tanya Airin,polos.
"Apa aku harus memanggil mu,ayah dari anakku?...." Airin menjeda " Ah itu terlalu panjang,bukan? dan tidak enak di dengar"
Belum lagi lelaki itu menyebutkan namanya, Airin malah sudah kembali mengoceh tidak jelas. Lalu tertidur.
__ADS_1
Lelaki itu hanya menjadi seorang pendengar yang baik kali ini. Berusaha tidak ingin merusak mood ibu hamil itu.