
Dengan hati-hati Andini melangkahkan kakinya menuju ruang kamar mereka.
Jangan lagi tanya soal perasaannya...
Kali ini ia benar-benar penuh rasa takut hingga kakinya gemetar.
Berkali-kali ia mencoba ingin menarik handle pintu kamarnya,namun tidak jadi.
Apa jawaban yang tepat yang harus ia berikan?
Mengingat Amara Danu yang sudah-sudah saja Andini sudah merasa ngeri.
Bismillahirrahmanirrahim...
Akhirnya perlahan Andini membuka pintu,kedua bola matanya menyusuri setiap sudut kamar mereka.
Namun ia tidak menemukan sesuatu,ruangan itu sunyi dan sepi.
Kemana mas Danu? bukankah mobilnya ada di depan?
Andini berpikir untuk membersihkan dirinya dahulu,karena ia sangat merasa lelah.
Air hangat yang merendam seluruh yang tubuh Andini di bet-up membuat tubuhnya terasa sedikit rileks.Tapi tidak untuk hatinya.
Kali ini ia benar-benar merasa bersalah. Jadi wajar saja jika nanti suaminya akan marah. Ia harus mempersiapkan mental nya ketika menghadapi amarah Danu yang pasti akan meledak.
Berbagai hal sudah Andini bayangkan...
Usai mengenakan pakaian tidur. Andini merebahkan tubuhnya di ranjang.. pandangannya tertuju pada langit-langit kamar mereka.
Dengan rasa gelisah ia menunggu Danu untuk masuk ke kamar mereka.
Satu jam....dua jam.... Andini menunggu,namun penantian nya sia-sia. Lelaki itu masih enggan menampakkan diri.
Karena tidak bisa tidur,Andini memutuskan untuk mengecek ruang kerja Danu. Mungkinkah ia benar-benar ada di ruangan itu seperti dalam pemikiran nya.
Tok tok Andini mengetuk pintu pelan. Namun tidak ada jawaban.
Kreeek....
Andini membuka pintu dengan perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada lelaki yang tengah tertidur pulas di atas sofa.
Perlahan langkah Andini mendekati sosok itu.Ia berjongkok di sebelahnya memandangi wajah tampan yang entah mengapa sangat ia rindukan.
"Maaf...."
ucap Andini lirih sambil mengecup pipi Danu lembut.Namun lelaki itu tidak bergerak sama sekali.
Andini menyelimuti tubuh kekar yang sedang bersidekap di atas sofa. Jika saja tidak dalam suasana seperti ini,mungkin ia sudah berhambur ke pelukan lelaki itu.
Pelukan dan tangan Kokoh yang selalu membuat nya nyaman setiap saat.
Huuuh....
Andini membuang nafas yang seakan tertahan Sedari tadi. Malam ini mungkin ia bisa terbebas dari amukan lelaki itu,tapi tidak untuk besok pikir Andini.
Perlahan Andini membuka matanya,cahaya pagi sudah menerobos ke celah jendela.... tubuh Andini menggeliat pelan.
Namun tiba-tiba ia terperanjat,saat mendapati dirinya berada di kamar besar miliknya. Terlbih bola matanya melirik jam dinding yang ada di sudut ruangan itu.
__ADS_1
Hah ?jam 7 pagi?
Tidak biasanya ia bangun sesiang ini. Sampai melewatkan waktu subuh.
Andini langsung beranjak dari ranjangnya, berlari menggeledah setiap ruangan. Walau bagaimanapun ia harus menemui suaminya untuk meminta maaf.
Kaki Andini terasa lemas,saat tidak mendapati sosok yang ia cari.
Mas Danu tidak pernah semarah ini,sampai benar-benar mengacuhkan ku...
Dada Andini terasa sesak.Mungkin lebih baik mendapat amukan Danu daripada harus perang dingin begini.Pikir Andini.
"Selamat pagi non"
Andini hanya tersenyum samar mendengar sapaan bik iyem.
"Tadi pagi tuan Danu berpesan agar non Andini menjaga kesehatan,tuan hari ini berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan sebuah urusan"
Andini semakin sedih,ia menunduk mencoba menyembunyikan air mata yang tak dapat lagi terbendung.
Kamu pergi tanpa pamit mas...aku tau aku salah tapi jangan seperti ini....
Andini menatap setiap tetesan buliran bening yang jatuh ke tangan nya.
"Nooon...?nona kenapa?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Andini semakin tak bisa menahan tangisnya.
Uwaaaa uwaaa
Andini memeluk bik iyem,ingin sekali ia mencurahkan isi hatinya pada wanita paruh baya itu...tapi tidak mungkin.
"Di dalam rumah tangga, perselisihan itu sebuah hal yang wajar non..jangan menangis..mungkin tuan dan non Andini hanya butuh waktu untuk saling memahami"
"Sudah non ....jangan menangis, kasian si jabang bayinya.Kalau non Andini sedih sikembar juga pasti akan ikut sedih"
Andini langsung menghapus air mata nya yang tak dapat ia hentikan.
Karena terlalu sedih ia sampai melupakan ada sikembar di dalam perutnya.
"Sarapan dulu non...ini susunya...tadi tuan juga berpesan agar non Andini tidak lupa minum susu"
Andini meraih gelas itu,dan meneguknya sampai habis.
Bersedih juga butuh tenagakan?
"Ini sarapan nya non...tuan Danu tadi juga berpesan bahwa non Andini tidak boleh lagi makan makanan cepat saji. Karena itu tidak bagus untuk kesehatan si kembar. Selama tuan tidak di rumah saya di suruh menyiapkan makanan sehat"
Andini hanya mengaduk-aduk sarapan nya. Selera makan nya benar-benar kali ini.
Ia mencoba menelpon Danu namun tidak ada jawaban.
"Halo mas Beri?"
"Iya Din, ada apa?"
"Begini mas,apa mas Beri bersama mas Danu?"
"Oh nggak Din.Gw gak masuk kerja hari ini"
__ADS_1
"Kenapa mas?Bukanya mas Danu pergi keluar negeri hari ini"
"Iya,hari ini memang ada jadwal Danu untuk menemui klien di Jepang.Tapi gw gak ikut Din. Mungkin dia pergi bersama-----"
"Sama siapa mas?Airin?"
"Hmm kurang tau juga sih...mending lu tanya Danu nya langsung deh"
"Oh iy-iya mas makasih "
"Eh tunggu dulu..."
"Ada apa mas?"
"Maaf apa kalian lagi berantem,,?"
"Oh GK kok mas," Andini menghapus air matanya. Dan mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Oh ya sudah, kalau begitu" Beri menarik nafas dalam. ia sangat yakin mereka sedang bermasalah. Namun ia juga tidak ingin terlalu mencampuri urusan rumah tangga mereka.Terlebih saat ini Beri juga sedang kesal dengan Danu.
"Iya makasih mas"
Panggilan telepon itupun terputus.
Andini kembali mencoba menghubungi Danu. namun hasilnya nihil.
Akhirnya Andini berinisiatif untuk menghubungi nomor kantor .
"Halo selamat siang,bisa bicara dengan bapak Danu Brahmana Wijaya"
"Selamat siang juga bu,kalau boleh tau ini dengan ibu siapa ya?"
"Saya Andini..."
"Maaf buk,pak Danu sekarang lagi tidak ada di kantor"
"Hmm kalau ibu Airin ?"
"Ibu Airin kebetulan juga tidak masuk hari ini"
Tukan bener mas Danu keluar negeri bersama Airin
Andini langsung menutup telpon nya.
Hati nya semakin sakit....
Tega kamu mas
huwaaa huwaa....
Tangisnya kembali pecah di dalam kamar. Hingga ia mengabaikan ponselnya yang sedari tadi berdering..
Pemikiran buruk terus memenuhi otaknya.
Andra?
Lelaki itu memang seperti memiliki alarm pendeteksi suasana hati Andini .
Alarm itu seakan berbunyi dengan nyaring saat Andini sedang sedih.
__ADS_1
Dan selalu saja...
Dalam keadaan begini Andini tidak mungkin bicara dengan sang kakak.