Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Kamu hanya milikku


__ADS_3

Sesampainya di rumah....


Andini tampak begitu menikmati kue....? sebut saja itu seperti kue jadi-jadian yang di lihat bentuknya saja bisa membuat orang takut.


Tapi Andini memakannya dengan sangat lahap.


Apa itu benar-benar enak? Apa sebegitu berharganya kue itu baginya?


Emang sih...aku buatnya dengan penuh perjuangan..tapi tetap saja jika hasilnya seperti ini aku rasa tidak perlu di makan..


Danu menatap Andini intens,ingin sekali ia melarang Andini untuk memakan kue itu.Tapi ia takut Andini akan tersinggung seperti tadi.


Melihat Andini makan dengan begitu lahap,membuat Danu penasaran akan rasanya.


"Boleh aku cicipi sedikit?" Danu mendekati Andini dan memandang kue itu lekat. Benarkah itu enak? ia masih menanyakan pertanyaan yang sama di dalam hati.


" Gak mau..ini kan untuk aku..!" seru Andini sambil menarik kue itu dari jangkauan Danu.


Danu menarik tubuhnya menjauh.Dan membenahi duduknya seperti semula. "Lagian aku juga gak bakal doyan makannya" gerutu Danu pelan,namun masih bisa terdengar oleh Andini.


"Ya udah,terus kenapa minta-minta" sarkas Andini sambil berdiri dan meletakkan sisa kue itu di kulkas. "Awas ya jangan sampai kamu ambil cake aku mas...." Andini melirik Danu dan memberikan peringatan keras.


"Abisin dah....yang penting kamu suka" Danu beranjak dari duduknya lalu segera pergi ke kamar.


****


"Kakak lagi apa?"


"Lagi temenin Mita chek-up.Tumben nelpon duluan?ada apa?"


"Gak ada apa-apa.Kangen aja.Oh ya gimana kabar kakak dan kak mita?


"Kakak sih baik,cuma---"


"Cuma apa ?"


"Mita sudah sering mengalami sakit di bagian panggul,kata dokter kemungkinan sebentar lagi Mita akan melahirkan."


"Wah berarti sebentar lagi aku bakal jadi bibi dong...jadi gak sabar" Andini tersenyum lebar membayangkan ia akan segera menimang kepobakan. "Oh ya kakak musti jadi suami siaga.Jangan sibuk bekerja terus.Kata orang,Ibu hamil itu butuh banyak perhatian.Apalagi sudah hamil besar.Kata orang akan mengalami susah tidur,harus bolak-balik kemar mandi karena sering pipis.Sudah mengalami sakit di bagian panggul mungkin si dedek bayi lagi mencari jalan" Andini mulai mengoceh tanpa jedda.Walau ia belum pernah merasakan yang namanya kehamilan tapi ia sering googleling tentang hal-hal yang berbau kehamilan.


"Iya iya bawel,kamu juga harus jaga kesehatan.Jaga pola makan,jangan sampai telat,kurangi makanan pedas dan jangan----"

__ADS_1


"Jangan makan makanan cepat saji" sambung Andini Andini terkekeh.Ia sangat hafal dengan Ultimatum itu.


"Jangan cuma di hafalin,tapi di lakuin juga" terdengar suara penuh penegasan dari Andra.


"Iya...iya...kakak ku sayang" jawab Andini sambil tersenyum...Betapa bersyukurnya ia memiliki seorang kakak yang begitu perhatian padanya.


"Ya udah,kakak mau temenin Mita dulu.Sudah di panggil sama susternya" Andra mengakhiri panggilan itu.


Bisa mendengar suara Andra via telepon sudah mampu mengobati rasa rindunya pada sang kakak. Walau tetap saja ada rasa nyerih di sudut hati andini saat Andra bicara tentang kehamilan istrinya.Bukan tidak suka,hanya saja ia merasa iri dengan anugrah yang sudah Allah titipkan pada keluarga kecil mereka.Sementara ia...bahkan tidak ingin terlalu berharap seperti dulu.Karena takut akan kekecewaan itu hadir kembali.Andini hanya bisa berserah kepada-nya akan takdir yang sudah tergaris dirinya.


"Mesra banget...telponan nya" tiba-tiba suara Danu membuyarkan lamunan Andini.Rupanya ia sudah sejak tadi mendengarkan obrolan Andini dan Andra.


"Dia masih kakak kamu kan?" sindir Danu mendekati Andini dan duduk di sampingnya.


"Ya iyalah" jawab Andini mencebikkan bibir.


"Kenapa bicaranya begitu mesra,pake sayang-sayang lagi" Lagi-lagi Danu masih merasa kesal dengan kedekatan Andini dan Andra.Laki-laki itu masih saja cemburu.


"Emang gak boleh...kalau mengungkapkan rasa sayang pada seorang kakak?" Andini menggeser tubuhnya hingga menghadap kearah Danu.


Danu menghela nafas kasar "Kalau aku bilang gak boleh,kamu juga tetap akan melakukannya" Danu melipat tangan di atas dada.


"Sayaang...mending kita jalan-jalan yuk" Andini menarik kedua tangan Danu dan mendekapkan ketubuh nya.Jika sudah begini,lebih baik mengganti topik obrolan.Tidak perlu di perpanjang,jangan sampai meledak.


Cup cup cup cup Andini langsung menghujani wajah Danu dengan begitu banyak ciuman,sebagai obat atas luka yang tak sengaja ia torehkan di hati Danu.


Dan ternyata,ciuman itu memang benar-benar mujarab.Danu langsung tersenyum dan meraih tengkuk Andini hingga bibir mereka saling menempel dan bertaut.Ciuman itu semakin dalam dan menuntut,Andini melingkarkan kedua tangannya di leher Danu.


Augh....lenguhan tertahan dari bibir Andini membakar gairah Danu.Lidah Danu menyusuri ruang di setiap rongga mulut Andini.*******,isapan itu semangkin dalam,sampai Andini merasa pasokan oksigennya sudah hampir habis.Andini mendorong sedikit tubuh Danu hingga panggutan mereka terlepas.


"Hhk..k-kamu mau aku mati ya?" ucap Andini dengan napas terwngah.


"Hahha itu sebagai hukuman,karena kamu udah berani memanggil sayang pada laki-laki lain" Danu terkekeh,lalu meraih tubuh Andini kedalam pelukannya. "Kamu milikku,dan panggilan sayang itu juga hanya milikku.Aku tidak ingin membaginya dengan siapapun" Danu mencium puncak kepala Andini.


Hanya milik nya?


Tidak ingin membagi dengan siapapun?


Apa jika kedua orang tua Andini masih hidup,Danu juga akan cemburu pada mereka?


Mungkin itu akan terdengar gila,tapi memang begitulah cara Danu mencintai Andini.Selalu ingin memiliki cinta wanita itu seutuhnya.Tapi jika suatu saat hadir seorang malaikat kecil di tengah-tengah mereka.Apa Danu tetap akan kesal jika Andini membagi cinta dengan baby nya?

__ADS_1


Jika jawabannya ia.Maka kamu tidak waras Danu.Uuuuppppss.....jangan mengatai suami Andini.....


Hmmmmmm...


Mau bagaimana lagi?


Andini hanya bisa tersenyum kecut,namun tetap menikmati pelukan hangat itu...


"Mumpung hari ini suami kamu,memiliki banyak waktu.Aku akan mengabulkan 3 permintaan mu" Danu mendongakkan kepala Andini lalu mengecup bibir dan melagakan hidung mancung mereka.


"Cuma tiga mas?" Andini melepaskan pelukan mereka "Emang kamu itu suami aku atau jin penghuni teko sih?" protes Andini mencebikkan bibirnya.Danu selalu menuntut seluruh cintanya,tapi kenapa ia hanya di beri tiga permintaan? itu tidak adil. Pikir Andini.


"Ya suami kamu lah,masak ada jin seganteng ini" Danu menyisir sisi rambutnya dengan tangan.Membusungkan dada penuh percaya diri.


"Udah gak usah narsis,males banget aku liatnya.Pokoknya aku tidak mau cuma tiga.Aku mau banyak dan semua harus di kabulkan!" Andini beranjak dari duduknya.


"Loh kamu mau kemana?" Seru Danu sembari menaut alisnya.


"Mau ganti baju,sekalian mau nulis daftar permintaan" teriak Andini yang sudah berada agak jauh dari Danu.Namun setelah kakinya menapaki beberapa anak tangga,tiba-tiba langkah Andini terhenti dan membalik badannya. " Oh ya malam ini aku mau jalan-jalan di bonceng pakai motor" teriaknya lagi.Lalu segera menghilang dari pandangan Danu.


*****


"Sudah siap?" Tanya Danu setelah selesai mengenakan helm di kepala Andini.


"Siap!" jawab Andini penuh semangat.


"Ok baiklah tuan putri, let's go..." ucap Danu membalik tubuhnya dan langsung menstater moge kesayangannya.


Andini menyelipkan tangannya ke saku jaket Danu dan menempelkan tubuhnya ke punggung lelaki itu.


Rasanya begitu hangat dan nyaman.


Andini memejamkan matanya sejenak,meresapi udara masuk ke rongga paru-parunya.Menikmati suasana malam yang begitu syahdu.


"Sayang ...kita mau kemana?" teriak Danu.


Mendengar pertanyaan itu Andini langsung membuka matanya,dan menyandarkan kepala di bahu sang suami.


"Aku mau jalan-jalan keliling kota" jawab Andini dengan teriakan juga. Suara bising kendaraan membuat mereka harus saling berteriak agar suara mereka dapat terdengar.


Naik motor berkeliling kota?

__ADS_1


Ya sederhana sekali,permintaan Andini.


Menikmati malam berdua,sambil melihat kelap-kelip warna lampu kota sudah mampu membuat wanita itu bahagia.


__ADS_2