Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Terserah Kamu


__ADS_3

"Apa?"


Mela terkejut saat mendengar cerita Andini.


"Kenapa sih lu harus ngelakuin itu?"


Andini hanya diam dan menunduk.


"Kalau begini wajarlah Danu marah sama lu"


"Jika marah aku terima,dia bisa membentak ku atau memukulku saja. Tapi bukan berarti dia pergi keluar negeri dengan wanita lain"


Ungkap Andini kesal.


"Memang nya lu yakin Lakik lu pergi dengan wanita itu?Bukannya biasanya Lakik lu kemana-mana sama si buntel?"


Andini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.


"Jangan berprasangka buruk dulu Din....Belum tentu juga Danu pergi sama di Airin.Dan ----"


Mela mencoba untuk memilih kata yang tepat agar sahabatnya tidak bersedih lagi. Karena menurutnya Danu tidak mungkin menghindari Andini . Mela tau betul betapa Danu mencintai Andini.


"Dan apa?"


"Dan kalaupun nih ya? Danu pergi dengan Airin. Mungkin itu karena urusan pekerjaan karena Airin kan menjabat sebagai sekretaris nya"


Jelas Mela lembut. Sebisa mungkin ia hanya ingin Andini tidak bersedih lagi. Terlebih Andra sudah menelpon nya untuk menghibur Andini.


Karena Andra sangat yakin Andini sedang bersedih.


"Lu juga setidaknya pahami posisi Danu lah.Danu kan bos di perusahaan besar,dia harus kerja profesional. Tidak boleh mencampur kan urusan pribadi dengan pekerjaan"


"Ya dia seharusnya kalau marah ya jangan kekgini caranya la...setiap masalah kan bisa di selesaikan dengan baik-baik.Jangan terus menghilang tanpa kabar. "


Seru Andini sambil membuang kotak tisu yang ada di hadapannya.


"Iya juga sih...tapi mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri"


"Menenangkan diri atau menyenangkan diri???? menyenangkan diri bersama wanita lain"


Teriak Andini kesal.


"Sabarrr...."


ucap Mela sambil mengelus-elus pundak Andini


"Ngomong sabar sih gampang...coba lu yang ngejalanin?bisa sabar gak lu?" ucap Andini sewot.


"Hmmmm iya juga sih"


Mela tersenyum samar...sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Menghadapi bumil yang sedang galau memang harus extra hati-hati.


Hari ini bersama Mela di toko roti membuat perasaan Andini sedikit lebih baik.


Membagi rasa dengan sahabat ternyata memang bisa mengurangi rasa sesak yang ada di dada.


Andini kembali terduduk di ranjang kamar nya. Ia mengusap-usap perutnya. Sikembar semakin sering menendang.


Dikamar itu Andini mengingat banyak kenangan manis bersama Danu. Bagaimana tidak lelaki itu bahkan rela selalu mengusap punggungnya setiap kali hendak tidur. Tapi....kali ini,lelaki itu menghilang tanpa kabar...ingin rasanya Andini mengadu pada papi yoga dan mami Margaret.

__ADS_1


Namun Andini masih tidak mau menambahkan beban pikiran untuk kedua orang tua itu. Ia takut akan mengganggu kesehatan mereka.


Yah....


Kini Andini hanya bisa memohon pentunjuk kepada Allah. Di sepertiga malam nya ia mengadukan semulai keluh kesahnya pada yang maha kuasa. Lagi-lagi ia merayu Allah untuk memberikan petunjuk penyelesaian dalam permasalahan nya.


Usai mengadu dengan sang khalik,Andini mengaji untuk menentukan hatinya.


Masih ia ingat dengan jelas bagaimana mana Ratih mengajar kan untuk kembali berserah diri kepada sang pencipta.


Ia mengingat nasehat-nasehat sang mama hinnga tanpa sadar ia tertidur di atas sajadah. Saat-saat seperti ini ia sangat merindukan sang mama.


Setelah bangun tidur Andini melakukan senam ibu hamil seperti biasanya. Pagi ini ia sedikit merasa sedikit lega,saat mendengar Danu menanyakan keadaannya dengan bik iyem.


Walau sedang marah, tapi laki-laki itu masih memperdulikan nya.


Andini juga mendengar bagaimana Danu memiliki banyak pesan pada bik iyem untuknya. Untung saja wanita paruh baya itu selalu pakai speaker setiap kali melakukan panggilan.


Mendengar suara Danu yang begitu mencemaskan keadaan nya Andini tersenyum. Tapi mengingat tentang Airin senyuman Andini langsung berganti dengan kekesalan.


Waktu terus berganti,namun Andini dan Danu belum juga berkomunikasi.


Keduanya masih setia dalam kebisuan.


Malam ini ....Setelah mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah mereka.


Andini yang sengaja sudah memakai lingerie seksi langsung melompat ke tempat tidur. Ia pura2 tertidur tanpa selimut,dengan pose sedikit memperlihatkan paha mulusnya.


Sesuai informasi yang Andini dapatkan dari mang Ujang.


Malam ini suaminya itu akan sampai dirumah.


Sial Andini pasti sengaja menggodaku...


Tiga hari tanpa wanita itu saja sudah membuat Danu hampir gila.


Setiap waktu pikiran dan hatinya selalu berperang.


Danu langsung memasuki kamar mandi,mencoba mengguyur tubuhnya. Melemaskan si kecil yang sudah menegang.


Brengsek....kenapa malah gw yang tersiksa gini,dia bahkan terlihat begitu santai tanpa aku.


Apa mungkin dia benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?


Rasanya ingin marah,tapi juga ingin menerkamnya.


Usai menyegarkan tubuhnya,Danu memilih untuk kembali ke ruang kerja.


Sumpah demi apapun gw gak akan kuat jika berada di ruangan itu. Mendadak ruangan itu menjadi begitu panassss.


Dengan wajah gusar,Danu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Matanya kembali tertuju pada layar lap-top.


Malam semakin larut, konsentrasi nya mulai terganggu oleh bayangan Andini. Jika saja ia tidak dalam memulai aksi peperangan ini. Mungkin ia sudah menjenguk si kembar malam ini.


Berkali-kali ia mengusak rambutnya.


Situasi ini sungguh menjengkelkan...


Karena penasaran akhirnya Danu kembali kekamar. Terlihat Andini sudah tertidur sangat pulas.


Dan si kembar?

__ADS_1


Ia langsung menendang seakan ingin menyapa ayahnya.


Danu tersenyum saat melihat perut buncit istrinya bergerak-gerak.


Tanpa sadar tangan Danu langsung menyentuh perut Andini,dan mengusapnya lembut.


Duh anak ayah...kangen ya sama ayah?


"Jangan sentuh aku dan anakku...!!!"


Andini yang pura-pura tidur langsung memukul tangan Danu dan berpaling memunggunginya.


"Apa maksudmu? dia juga anak aku!"


Sarkas Danu.


"Jika memang dia ayah kamu nak,lalu kemana saja dia tiga hari ini?" Andini mengusap perutnya,seolah berbicara pada anaknya tanpa melihat wajah Danu.


"Aku kerja !"


"Kerja sambil kencan sama mantan..!!" sindir Andini.


"Apa maksud kamu?" Danu menatap Andini tajam


"Udah lah mas gak usah pura-pura lagi ,!" Andini berdiri dan melempar bantal kepada Danu.


"Jangan sama kan aku sama kamu yang gak bisa move on dari mantan...!" seru Danu semakin kesal dan membuang bantal itu kelantai.


"Aku kerumah sakit hanya sekedar ingin menjenguk anak mas Bagas " seru Andini.


"Yah Bagas....jika kamu masih mencintainya kenapa kenapa kau menikah denganku?" Teriak Danu. Mendengar nama itu membuat emosinya semakin tersulut.


"Mas...aku gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia!"


"Ya tapi kamu masih berharap dan mengemis cinta padanya kan?" Teriak Danu lagi,penuh emosi.


"Ya aku memang mengemis cinta pada mas bagas,karena suamiku juga memberikan cinta pada wanita lain,PUAS kamu mas?" Teriak Andini dengan mata penuh dengan genangan air mata.


Hatinya terasa sangat sakit saat Danu menyebutnya sebagai pengemis cinta.


"Wanita mana yang kamu maksud?"


"Airin... sekretaris,sahabat,teman dan sekaligus kekasih gelap mu. Dengan berbagai alasan kau menggandeng nya kesana-kemari. Bahkan kau juga mengajak nya keluar negri tanpa memberitahuku"


Andini mengusap pipi nya kasar,hatinya seakan tercabik-cabik membayangkan Airin bersama suaminya.


"Aku tidak pernah bersamanya !" tegas Danu.


"Bohong....!!!,,,,jangan membodohiku lagi mas..." teriak Andini ...kini ia sudah tak dapat lagi membendung air matanya. "Sekarang aku baru paham ,kenapa pernikahan kita di lakukan secara tertutup. Semua itu,agar mas bisa dengan mudah bersenang-senang dengan wanita lain tanpa memikirkan status mu kan mas? "


Danu mengepalkan tangannya mencoba sekuat tenaga menahan seluruh emosi nya.


"Mas hanya menjadikanku istri simpanan mu,oleh karena itu aku tidak pernah mas mengumumkan pernikahan kita!" teriak Andini sambil terisak.


"Sudahlah terserah kamu saja,aku gak peduli"


Danu pergi sambil membanting pintu.


Melihat Andini menangis sungguh ia tidak tega. Tapi kali ini Danu juga tidak mau mengalah. Danu pikir mungkin mereka berdua butuh waktu untuk saling introspeksi diri.


Tapi saat membayangkan Andini dan bagas,rasanya sangat sulit untuk mengontrol emosi. Darahnya seakan mendidih. Rahangnya mengeras,seakan ingin menghabisi lelaki itu.

__ADS_1


Danu memilih pergi karena tidak ingin melanjutkan pertengkaran di antara mereka. Terlebih kondisi Andini yang sedang mengandung,Danu juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Andini dan anak nya.


__ADS_2