Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Jangan Pisahkan Andini dan Danu


__ADS_3

"Maaf.... "


setelah kaki Andini sedikit membaik,Danu kembali mengulang kata maafnya.


Andini menarik kedua kakinya dari pangkuan Danu.


Memaafkan?...


Setelah sekandal itu tidak mudah baginya untuk memafkan. Masih teringat dengan jelas di benaknya, bagaimana suaminya itu menikmati ciuman dengan wanita lain.


"Tidak perlu minta maaf, jika kamu tak bisa menjamin hal itu tidak akan terulang. Aku lelah dengan semua ini...." ucap Andini dingin.


Danu berusaha ingin memeluk wanita itu,namun ia menolak nya.


"Maaf mas aku gak bisa, bayangan mu dan Airin masih tergambar jelas di benak ku" sambung Andini lagi.


"Jika aku yang berbuat seperti mu, dapat kah kamu memaafkan ku mas?"


Pertanyaan itu seakan menampar wajah Danu, hingga ia tak dapat mengatakan apa pun. Jangan kan terjadi, membayangkan nya pun ia tak sanggup.


"Tidak bisa ku pungkiri bahwa anak ini jelas membutuhkan mu, walau pun sejujurnya aku sudah ingin benar-benar pergi dari hidupmu jauh-jauh. Tapi..... rasanya aku begitu egois,jika hanya memikirkan diri sendiri" Andini menghela napas menjedda.


"Aku sudah memaafkan mu mas,karena kamu adalah ayah dari anakku. Tapi sebagai istrimu aku belum bisa....Saat melihat berita pernikahan mu dengan Airin yang sudah tersebar di internet. Aku baru sadar ,siapa aku bagimu....aku baru sadar posisi ku di mata publik. Aku hanya wanita simpanan keluarga Atmaja. Dan selama ini aku begitu naif,saat merasa menjadi bagian dari keluarga Atmaja,saat aku merasa menjadi istri mu yang sesungguhnya"


Andini menunduk sendu.


Danu mengangkat dagu Andini " Kau adalah istriku,istri seorang Danu Brahmana Atmaja. Tidak seorang pun yang bisa menggantikan posisi mu di hatiku maupun keluarga Atmaja. Berikan aku sedikit waktu untuk membuktikan padamu,ku mohon percaya lah padaku Andini . Aku benar-benar mencintai mu.Dulu, sekarang dan selamanya tidak pernah ada orang lain di hatiku."


Danu menangkupkan kedua tangan nya ke wajah andini,, pandangan keduanya menyatu.


"Ada sesuatu yang harus ku selesai kan,dan ingatlah satu hal apapun yang terjadi,aku tetep milikmu. Tidak ada yang bisa memisahkan kita,dan jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Kumohon....."


Andini hanya bisa menatap wajah Danu dengan teduh. Walau pun sejujurnya ia dapat melihat kejujuran di mata Danu. Tapi ia juga tidak bisa menyembunyikan lukanya,luka tak berdarah.


"Maafkan kan aku yang belum bisa membuat mu bahagia, tapi ijinkanlah aku untuk membuktikan bahwa aku sungguh sangat menyayangi mu dan anak kita" Ucap Danu meyakinkan.


Danu mengusap perut dan ujung kepala Andini lembut " Istirahat lah di sini,aku janji tidak akan menyentuhmu sampai kau bisa mempercayai ku lagi"


Danu merebahkan tubuh Andini di atas ranjang dan menyelimuti nya dengan lembut.


Danu mengganti cahaya lampu menjadi redup. Karena ia sangat tau bahwa Andini paling tidak bisa tidur jika cahaya nya terlalu terang.


Ingin rasanya ia memeluk Andini,dan melepaskan segala kerinduan nya. Tapi kali ini ia harus bersabar,ia tidak ingin memaksakan kehendak nya dan melukai Andini lagi.


Lalu ia membuka satu kancing nya dan berbaring di atas sofa. Sebelah tangannya ia letakkan di atas kening,dan tubuhnya mencari posisi ternyaman.

__ADS_1


Andini melihat wajah Danu yang tampak begitu lelah. Tampa menunggu waktu lama, lelaki itu sudah berpindah ke alam bawah sadarnya.


Andini terus menatap wajah itu dari kejauhan, hingga kelopak matanya juga terasa berat. Dan juga ikut berpindah ke alam bawah sadarnya.


Keesokan harinya..,.


Seperti biasa,Andini terbangun setelah terdengar adzan subuh.


Ia melaksanakan sholat subuh lalu berjalan ke taman pekarangan hotel untuk menghirup udara segar.


Di usia kandungannya yang sudah memasuki trimester ketiga,dokter menyarankan untuk sering berolahraga pagi. Agar mempermudah bayi untuk masuk ke panggul dan menuju jalan lahir.


Walau bayinya kembar Andini sangat ingin melahirkan secara normal.


Di dalam kamar ....


Perlahan Danu membuka kelopak matanya. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang yang sudah kosong.


"Andini.....??? "


Serunya kaget, "Kemana kamu?"


Danu kembali mengerjabkan matanya,memandang arloji yang melingkar di tangannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh.


Hanya ada ponsel dan tas Andini yang tertinggal.


Danu segera berlari keluar, "Maaf pak apa bapak melihat seorang wanita hamil mengenakan baju berwarna merah muda?" tanya Danu pada seorang lelaki paru baya yang sedang membersihkan lantai. "Ini " Danu menunjukkan foto Andini kepada bapak itu.


"Iya tuan,tadi saya lihat ia sedang berjalan kearah taman pekarangan hotel" tunjuk pak tua itu sopan.


Lalu Danu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya.


"Terimakasih pak" ucap Danu dan langsung pergi menuju arah yang pak tua itu tunjukkan.


Pak tua itu menatap penuh syukur atas lembaran uang yang ada di tangannya. " Terimakasih tuan" ucap bapak itu,namun Danu sudah tidak dapat mendengar nya.


Langkah Danu terhenti saat melihat Andini sedang berjalan santai menyusuri pinggiran taman. Ia menatap bunga-bunga segar yang sedang bermekaran.


"Din....." seru Danu sambil menarik tangan Andini.


Danu langsung memeluk Andini dalam kerinduan.


"Kenapa kamu gak bangunin aku,aku kan bisa menemanimu jalan-jalan. Jangan suka pergi sendiri itu berbahaya !" ujar Danu lirih.

__ADS_1


"Yang bahaya itu kamu mas, kau membuat ku gak bisa nafas. Aku bisa mati" ujar Andini sambil melepaskan dekapan Danu yang begitu erat.


"Maaf..." Danu tersenyum manis, karena tak menyadari nya.


"Kamu jangan modus ya mas....! " seru Andini dengan lirik kan tajam.


"Aku cuma khawatir kamu kenapa-napa sayang" ucap Danu lembut sambil kembali meraih tangan Andini. " Ayo jalan lagi aku temenin " ucap Danu penuh semangat.


"Aku bisa jalan sendiri..!" seru Andini sambil menarik tangan nya. Masih dalam ngambek mode on.


"Kenapa harus sendiri,jika bisa berdua" goda Danu sambil kembali meraih tangan Andini.


"Karena berdua dengan mu hanya akan memberi luka"


Andini kembali menarik tangan nya,lalu berjalan meninggalkan Danu.


Namun lelaki itu masih setia, mengikuti langkah Andini. Danu menarik nafas panjang, mungkin tidak mudah untuk membuat hati wanita itu luluh kembali. Tapi ia tidak akan pernah menyerah.


✨😊😊😊😊😊😊✨


Di Rumah sakit....


Mami Margaret masih terbaring lemah. Walau keadaan nya sudah mulai membaik tapi dokter belum mengizinkan ia pulang.


"Mas ku mohon jangan pisahkan Andini dan Danu lagi" ucap mami Margaret lirih.


"Aku juga tidak ingin melakukan nya. Tapi aku juga tidak ingin membuat Andini dalam bahaya. Aldo sudah mengincar nya. Dan dia juga mengancam akan memberi tahu kan masa lalu kita dengan Danu. Jika aku tidak menyerahkan perusahaan Atmaja pada nya" jawab papi Yoga kesal.


"Berikan saja , semua yang Aldo inginkan. Asal Andini dan Danu bisa bahagia!"


"Apa kamu sudah gila,aku tidak akan pernah memberikan apapun pada nya!" seru papi Yoga.


"Lalu kamu tetap akan menghancurkan pernikahan anak kamu sendiri? Papi macam apa kamu ini?"


"Sudahlah jangan terlalu memikirkan ini, lebih baik kamu jaga kesehatan mu agar cepat pulih"


"Bagaimana aku bisa diam,dan tidak memikirkan apapun. Ketika aku tau bahwa suamiku akan menghancurkan kebahagiaan anakku" dengus mami Margaret dengan air mata tertahan.


"Lalu aku harus bagaimana? apa kau mau Danu membecimu seumur hidup karena Aldo mengungkapkan semuanya?"


"Lebih baik ia membenciku mas,asal anakku bisa hidup bahagia" ucap mami Margaret dengan air mata tertumpah.


"Omong kosong apa ini?" seru papi Yoga lagi " sudah lah jangan membuat ku bertambah pusing. Walau bagaimanapun hanya Airin yang bisa menyelamatkan perusahaan Atmaja. "


"Aku yakin mas.... Danu bisa mempertahankan perusahaan tanpa harus memakai cara rendahan seperti ini. Apa kamu pikir Aldo akan berhenti begitu saja? Aldo tidak akan berhenti sampai apa yang dia mendapatkan apa yang dia mau. Cepat atau lambat Danu juga akan mengetahui semuanya"

__ADS_1


"Sudahlah jangan bicarakan ini lagi,makan buburmu agar kau cepat pulih" ucap papi yoga lirih,sambil menyuap kan sesendok bubur ke mulut mami Margaret. Namun wanita paruh baya itu masih tetap mengunci mulutnya. Kali ini Ia benar-benar menentang keputusan suaminya.


__ADS_2