
Casavano ananda....
Lelaki bertubuh atletis dengan kulit sawo matang. Rembulan mengingat kembali pria itu. Pria yang selama ini menjadi pangeran idola Bulan.
Dulu bulan sempat ingin mendekati pria itu,tapi ia mundur secara halus. Harapan nya pupus ketika Vano telah memilih Ivana.
Apalagi setelah pertengkaran nya dengan Ivana. Vano pasti sangat membencinya,pikir Bulan.
Drrrtttt drrrtttt....
Vano.....
Panjang umur nih anak... baru aja di pikir kan.
"Halo assalamu'alaikum?"
"Walaikum salam,apa kabar?"
"Baik"
"Kapan pulang?"
"Minggu depan"
"Lama amat"
Vano mengalihkan ke pangilan video.
"Ada apa?"
"Gak papa,kangen aja"
"Jangan ntar cewek lu marah"
"kami udah putus"
"Ha?putus? Bukan nya baru jadian?"
"Iya putus! "
"kenapa?"
"gak sejalan"
"Gak sejalan gak papa kali,asal setujuan"
"Udah lah jangan bahas dia"
"Kenapa?"
"Males aja"
"Oh... "
"kok cuma oh?"
"Terus maunya gimana?"
"Emang lu gk kangen sama gw?"
"Ya gak lah, masak iya ngangenin pacar orang"
"Udah putus"
"Besok gw nyusul ya?"
"Gak usah, mau ngapain ?"
"Ya ketemu ama lu lah"
__ADS_1
"Jangan Gila"
"Gila.... ? hahaha lu bener gw mungkin memang sudah gila"
"Kenapa? lu aneh banget sih?"
"Aneh gimana?"
"Entahlah tiba-tiba nelpon, terus ngomongnya ngelantur gitu. Atau Jangan-jangan lu lagi mabok nya"
"Iya"
"Tuuukan... udah ah males ngeladenin orang gak waras"
"Iya udah, udah malam... lu cepat istirahat ya"
"Iya"
"By... assalamu'alaikum?"
"Walaikumsalam"
Bulan langsung membanting ponselnya. Ia merasa ngeri akan perubahan sikap Vano yang tiba-tiba.
*****
Ke esokan hari nya....
Ternyata Vano tidak main-main dengan ucapan nya. Lelaki itu benar-benar datang.
Bulan baru saja turun. Kebiasaan susah bangun pagi masih terbawa kemana pun ia pergi.
Terlihat seorang lelaki berkacamata hitam dan berpakaian casual sedang menunggu nya di lobby.
Bulan mendekati sosok lelaki itu, seperti yang ia tulis dalam chat. Vano mengambil penerbangan pagi.
"Lu beneran datang Van?" tanya Bulan dengan pandangan sulit untuk di percaya.
Iya dia beneran Vano....
"Kan udah gw bilang, kalau gw bakal datang untuk lu" ucap Vano santai. Mudah sekali Vano mengucap itu. "Apa rencana Lu hari ini?"
"Em am am -----" Bulan sampai tidak bisa mengucap dengan benar. Siapa sangka hari ini ia bisa bertemu dengan pangeran idolanya.
"Apa?"
"Pantai.... Hari ini Gw Bintang dan Oma akan ke pantai."
"oke gw ikut. Lu Siap-siap gih, gw tarok koper dulu. Ntar kita sarapan bareng ya, gw yakin lu juga belum sarapan" ucap Vano sambil berlalu mengacak rambut Bulan.
Hati Bulan berdebar tak menentu, ia tidak pernah membayangkan Vano akan bersikap semanis itu padanya.
Bulan berlari menuju kamarnya, mengacak lemari dan koper miliknya. Mencari-cari baju yang cocok.
Tapi Hari ini anehnya, semua baju yang ia bawa tiba-tiba tidak ada yang sesuai dengan selera Bulan.
Isi lemari dan koper Bulan hanya ada kaos oblong kemeja dan jens.
"Masak iya kepantai sama Vano pakai pakaian seperti ini?" tanya Bulan pada bayangan dirinya yang terpantul di kaca.
Setelah beberapa menit di buat pusing oleh pemilihan baju. Rembulan pu memutuskan untuk mengenakan kemeja berwarna putih di padukan dengan kulot jelas biru. Sepatu putih dan tas kecil yang tersangkut di pundak nya. Bulan membiarkan rambut pendek nya tergerai. Sedikit memakai bedak dan memoles bibirnya dengan lipgloss warna bibir natural miliknya.
Penampilan nya kali ini memang sedikit lebih girly.
"Cuit... cuitt...." Bastian bersiul sambil menatap heran pada Bulan "Cie cie lu dandan Bul?"
"Cantik gak?" tanya Bulan sambil bergerak menutar badan nya.
"Hmmm lumayan sih... sejatinya lu itu emang udah cantik. Jadi mau gimana aja tetap cantik" puji Bastian jujur.
__ADS_1
Bulan terus tersenyum, kali ini ia benar-benar tak bisa menahan ujung bibirnya untuk tidak tertarik.
"Kenapa lu Bul?Keliatan nya lagi bahagia?"
"Eh lu tau gak Bas?"
"Ya gaklah, orang lu belum cerita"
"Vano Bastian, Vano... dia datang nyusulin gw kesini" seru Bulan sambil meloncat kegirangan.
Sebegitu sukanya lu Bul sama Vano?
Sendi-sendi Bastian tiba-tiba terasa lemas, saat nama Vano di sebut oleh Bulan.
"Bukan nya dia pacar Ivana?"
"Mereka udah putus?"
"Putus, gampang amat putusnya"
"Mungkin Vano sadar seberapa menyebalkannya Ivana"
"Jangan terlalu GR lu kak, bisa aja Vano cuma mau modus sin lu" sambung Bintang.
"Lu itu ya, emang gak bisa liat gw seneng dikit. Bukan nya mendukung malah nyumpahin" cetus Bulan kesal.
"Bukan nyumpahin, lu kan tau Vano itu paling jago modusin wanita. Paling lu juga bakal di modusin"
"Sialan lu" Bulan menoyor kepala Bintang.
"Ya sebagai saudara gw cuma ngingetin... kalau buaya itu paling suka sama mangsa yang polos-polos blo'on seperti lu "
"Apa lu bilang? beraninya lu ya ngatain gw blo'on.. " seru Bulan sambil memukuli Bintang.
"Yeee emang lu blo'on, Blo'on" Teriak Bintang lalu pergi menghilang.
"Awas lu ya, adik durhaka. Gw kutuk lu jadi kodok" seru Bulan kesal.
"Udah jangan teriak-teriak. Tuh pangeran Kodok lu datang" Bisik bastian.
Bulan langsung merapikan baju dan rambut nya. Dan tersenyum manis pada Vano.
"Loh mana Oma dan Bintang? mereka gak jadi ikut?" tanya Vano.
"Mereka udah berangkat duluan " jawab Bulan.
"oh iya gw cabut duluan ya Bul. Gw ada urusan sama dedy gw"
" Lu gak ikut ke pantai?" tanya Vano basa basi.
"Udah kalian aja, gw masih ada pekerjaan yang harus di selesai kan" ucap Bastian lalu pergi.
Bulan pun pergi bersama Vano, menyusul Bintang dan Oma.
Awalnya Vano mengajak Bulan ikut mobilnya, tapi Bulan menolak karena masih terlalu canggung. Dan bulan tidak terbiasa satu mobil berdua an dengan Laki-laki lain. Selain Bintang, Bastian dan ayah Danu. Ini masih terlalu cepat untuk Bulan.
Daripada naik mobil sendiri Vano pun memutuskan untuk ikut bersama mereka.
Di dalam perjalanan, Bulan tampak jaim. Tidak banyak bicara seperti biasanya. Begitupun dengan Bintang,selain Bintang kurang suka dengan karakter Vano. Bintang juga bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain.
Lain halnya dengan Vano, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras untuk mencuri hati. Bukan hanya pada Bulan, tetapi pada Oma Margaret juga.
Tapi sayang nya Oma Margaret sedikit mengacuhkan nya. Tentu saja tidak mudah untuk menyentuh hati nenek tua itu. Oma Margaret hanya menjawab apa yang di tanyakan oleh Vano.
Hingga Vano kehabisan kosakata untuk di pertanyakan.
Dan bukan Vano namanya kalau menyerah begitu saja. Vano punya banyak trik khusus untuk meluluhkan hati nenek tua itu.
Sabar Vano ...ini baru di mulai... jangan terlalu terburu-buru...
__ADS_1
Ucap Vano dalam hati sambil tersenyum miring penuh arti....