Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Airin vs ibu Marina


__ADS_3

"Siapa dia ?" tanya ibu Marina pada seorang anak laki-laki nya itu.


Bagaimana tidak,wanita tua itu sangat terkejut ketika sang putra membawa seorang wanita dalam keadaan tak sadarkan diri. Entah itu tidur ataupun pingsan wanita tua itu tidak tau.


Bagas menarik lengan sang ibu yang sudah menatap nya dengan tajam.


Bagas mendorong lembut tubuh renta itu ke sebuah kamar miliknya.


"Ibu tenang dulu...." ujar Bagas sambil mencoba menenangkan sang ibu.


"Gimana ibu bisa tenang, sudah satu bulan ini kamu itu menjadi aneh. Dan sekarang tiba-tiba kamu pulang dengan membopong seorang wanita seperti ini?" omel ibu Marina.


"Jangan keras-keras Bu ngomong nya ,ntar dia denger" bisik Bagas dengan suara tertahan.


"Ya kamu cerita dong,apa yang sudah terjadi Bagas?" desak ibu Marina.


"Oke..." Bagas menarik napas panjang " Dia sedang hamil anak Bagas bu"


Sungguh satu kalimat yang itu hampir membuat ibu Marina mati karena jantungan.


"Gila kamu gas, Keyza bahkan masih terlalu kecil. Tapi kamu sudah menghamili wanita lain? kamu ingin membuat ibumu mati?" seru ibu Marina.


"Bu....ini tidak seperti yang ibu pikirkan. Please Bu jangan marah dulu ,ibu dengerin penjelasan Bagas" bujuk Bagas lemah.


Dengan susah paya akhirnya lelaki itu menjelaskan peristiwa ini pada ibu marina. Kejujuran pada wanita tua itu sangat penting bagi nya. Karena hanya pada wanita itu lah ia dapat berbagi masalah ini.


"Tapi dia tidak ingin menikah dengan ku,ia berniat untuk mengugurkan bayi kami"


Mendengar penjelasan itu,membuat ibu Marina mengelus dadanya lembut. Hatinya terasa sesak,kenapa masalah yang pelik ini selalu saja datang silih berganti,pikirnya.


"Bu....ibu....ibu minum dulu"


Seru Bagas penuh khawatir saat melihat reaksi ibu Marina yang begitu shock.Bagas mendekap tubuh renta ibunya dan memberikan segelas air putih ke mulut ibu Marina.


Ibu Marina meneguk segelas air putih itu hingga habis tak tersisa. Entah karena begitu haus atau mungkin karena ia butuh begitu banyak energi untuk menghadapi masalah baru yang di timbulkan oleh putranya.


"Lalu apa kau menyetujui keinginan wanita itu untuk aborsi?"


"Tentu saja tidak Bu,aku masih berusaha untuk membujuknya dan membuat nya mengerti. Tapi sepertinya itu sulit,anak itu begitu bersikukuh untuk membunuh darah dagingku" jawab Bagas dengan nada berat.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan keluarganya?"


"Bagas tidak tau bu,katanya dia juga baru saja kabur dari rumah nya"


"Apa?"....


Ibu Marina kembali menuang segelas air putih dan meneguk nya hingga tak tersisa.


"Bu.... maaf aku,tapi ini benar-benar terjadi di luar kendali ku. Aku juga terpaksa melakukan nya,dan aku juga tidak menyangka akan jadi seperti ini. Bu... please...tolong aku. Bantu aku membujuknya...ku mohon Bu...aku tidak ingin menambah dosa lagi dengan membiarkan dia membunuh anak kami. "


Mendengar suara berat Bagas, membuat hati ibu Marina luruh. Walau bagaimanapun Bagas adalah anaknya,dan masalah ini adalah masalah juga.


"Baiklah,nanti akan ibu coba untuk bicara dengannya"


"Terimakasih Bu,Bagas sayang ibu" seru Bagas sambil memeluk erat tubuh ibu Marina.


Ternyata pilihan nya untuk membawa Airin pulang adalah keputusan yang tepat. Tanpa bantuan ibu Marina ia tidak tau harus berbuat apa.


Uweeek uweeek uweeek...


Airin terbangun karena rasa mual yang sudah mengaduk-aduk perutnya.


Mendengar suara itu , sontak membuat Bagas dan ibu Marina bergegas mendekati wanita itu.


Tanya Airin pada dirinya sendiri. Wanita itu benar-benar tidak tahu efek samping semester pertama sebuah kehamilan.


"Itu biasa terjadi pada semua ibu hamil" jelas ibu Marina lembut.


"Loh kamu siap?aku dimana?" tanya Airin kaget saat mendapati tangan ibu Marina menyentuh bahunya lembut.


"Ini ibu saya,dan ini rumah saya" jelas Bagas sambil menyentuh kedua bahu ibunya.


"Kenapa kamu bawa aku kemari, seharusnya kamu bawa saja aku ke dukun beranak,atau ke spesialis aborsi. Belum apa-apa anak ini sudah menyiksaku,perutku terasa begitu mual" keluh Airin kesal.


Ibu Marina menatap tajam Bagas,dan Bagas memejamkan matanya, sebagai kode untuk ibu marina agar bersikap sabar. Karena Bagas faham betul,walau umur Airin sudah dewasa tapi sikap Airin seperti anak-anak. Entah karena sedang hamil atau memang seperti itu. Bagas juga tidak tahu.


"Melakukan aborsi itu adalah perbuatan yang sangat di benci Allah. Selain kamu akan berdosa besar,itu juga sangat menyakitkan" jelas ibu Marina lembut.


"Apa lebih sakit dari rasa mual ini?" tanya Airin antusias.

__ADS_1


"Tentu saja seribu kali lipat lebih sakit dari ini" jelas ibu Marina.


"Kenapa ibu tau rasanya,apa ibu pernah melakukan aborsi juga?"


"Gila lu...ya... nggak lah,mana mungkin ibu saya sejahat itu" seru Bagas tidak terima dengan pertanyaan Airin. Bisa-bisanya wanita itu berpikir ibu Bagas pernah melakukan aborsi. Sungguh mengesalkan. Pikir Bagas.


"Ya gw kan cuma nanya,kamu kok jadi sewot gitu. Emang salah kalau gw tanya?" protes Airin. iya juga tidak bisa menerima suara bernada tinggi yang di keluarkan oleh lelaki itu.


"Ya salah lah, lu gak seharusnya nanyak seperti itu sama ibu gw" seru Bagas lagi.


Entahlah....lelaki itupun tiba-tiba mudah tersulut emosi. Seperti yang ibu Marina ucapkan tadi, akhir-akhir ini lelaki itu menjadi aneh,dan semakin sensitif. Mudah uring-uringan sering gak nafsu makan bahkan suka mencari-cari makanan yang berbeda dengan selera nya sebelumnya.


"Sudah-sudah,kok jadi malah berantem. Bagas..mending kamu ke kamar ibu. Kamu lihat Keyza" seru ibu Marina menengahi.


Dengan berat hati akhirnya Bagas pun menuruti apa kata ibunya.


"Siapa Keyza?" tanya Airin penasaran.


"Keyza adalah anak Bagas" jawab ibu Marina jujur.


"Oh namanya Bagas..." Airin mengangguk pelan "lalu dimana istrinya?" tanya Airin lagi.


"Mereka sudah berpisah" jawab ibu Marina.


"Kenapa bisa berpisah?"


Ibu Marina menarik napas dalam,dengan penuh hati-hati ia menceritakan sekilas tentang masa lalu putranya itu. Karena walau bagaimanapun wanita yang ada di hadapannya ini harus tau,siapa Bagas sebenarnya.


Airin mengangguk-angguk kan kepalanya,mungkin karena terlalu larut pada cerita ibu Marina.


Entah kenapa,ada rasa kenyamanan di hati Airin saat di sisi wanita tua penuh kasih itu. Dengan lembut dan sabar wanita tua itu menjawab pertanyaan-pertanyaan Airin yang begitu kritis.


Semakin lama mereka berbincang,rasanya semakin nyaman. Wanita tua itu juga seperti menemukan seorang putrinya yang manja dan memiliki banyak keinginan Tahuan.


Sikap Airin yang kritis dan bawel membuat ibu Marina terkadang malah tersenyum sendiri. Anak itu pintar tapi begitu polos.


Begitu banyak nasehat,pituah yang ibu Marina sampaikan. Hingga entah kenapa semua itu membuat Airin mengubah pemikiran nya.


Walau ia belum mengatakan untuk siap menikah,tapi wanita itu sudah mulai menyayangi benih yang ada di dalam perutnya. Terlebih saat melihat betapa lucu dan menggemaskan nya baby key .

__ADS_1


Ibu Marina juga memijit tengkuk Airin yang sejak tadi terasa pegal. Membuat minuman hangat untuk mengurangi rasa mual di perut Airin. Dan tak lupa ibu Marina juga bercerita bagaimana tersiksa nya ia sewaktu hamil Bagas dulu.


Airin sebenarnya anak yang baik,hanya saja karena terbiasa hidup mewah dan di manja. Membuat nya selalu ingin di utamakan,di perhatikan dan di sayang tentunya.


__ADS_2