
Di meja makan...
Andini kembali menutup mulutnya dengan wajah merah padam. Baru saja ia ingin menyuap satu potongan steak itu,namun perutnya sudah terasa seperti di aduk-aduk kembali.
Andini langsung beranjak dari duduknya,berlari menuju wastafel. Oek....oek......Andini kembali memuntahkan semua isi perutnya.
Oh tuhan...jangan menyiksanya seperti ini....
Sakit rasanya hanya bisa menatap sang istri dari balik tembok. Andini masih tidak mau bertemu bertemu dengan lelaki itu.
Andini merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu,tubuhnya terasa lemas. Tulang kakinya seakan tidak sanggup lagi menopang berat badan. Bahkan untuk memilih tempat berbaring yang nyaman pun ia tak sanggup.
Wanita itu memiringkan tubuhnya,menyatukan kedua telapak tangan sebagai bantal kepalanya.
Selang beberapa menit.......
Andini terlelap dengan wajah pucat,rambut berantakan.
Di masa sulit ini....Andini seperti harus menanggungnya sendiri. Apa boleh buat?......
Ia benar-benar tidak bisa melihat wajah suaminya....walau ada percikan rindu di sudut hatinya. Tapi ia tetap tidak sanggup melawan rasa mual yang hebat saat melihat ataupun mendengar suara laki-laki itu.
Lalu bagaimana dengan Danu?
Laki-laki itu hanya bisa memandang istrinya saat tertidur. Jika tidak,ia harus mengendap-endap seperti maling saat di rumahnya. Entahlah.......
Danu menitihkan setetes buliran bening di sudut matanya. Untuk pertama kali laki-laki itu merasakan denyut ngilu yang begitu hebat di sudut hatinya. Kini istrinya bagaikan bayang-bayang yang sulit untuk di sentuh.
Mungkin benar apa kata orang,,sekuat apapun seorang lelaki jika hatinya yang di serang maka ia akan menangis juga.....
Ya itulah yang kini Danu rasakan. Terbayang bagaimana saat ia pernah marah pada wanita itu. Bagaimana saat ia selalu berteriak menuntut untuk di ambil kan sesuatu. Rumah yang biasanya terasa hangat dan ramai walau masih berdua,kini mendadak menjadi dingin dan sepi. Tidak ada komunikasi,tidak ada canda,tidak ada tawa,bahkan senyuman itu pun seakan menghilang dari wajah keduanya.
Mungkin bagi Andini. sesulit apa pun proses ini ia akan tetap menjalani dengan ikhlas,dan selalu mencoba menikmati rasa yang tidak bisa di rasakan oleh semua wanita. Andini sadar betul, Banyak wanita yang sangat menginginkan proses ini. Seperti hal nya dia dulu,,,bahkan baginya...saat berkali-kali kecewa itu lebih sakit daripada saat ini.
Hadirnya benih di rahim Andini,memang harapan semua orang yang ada di sekeliling mereka. Tapi .......siapa sangka justru karena hal itu,malah membuat ia harus menjauh dari suaminya.
Danu menghapus bendungan yang hampir tumpah di sudut matanya. Ia menghela napas berat.
Sayang.....kamu yang kuat ya.....
Perlahan Danu mengusap pipi Andini dengan lembut,dan mendarat kan sebuah kecupan di kening wanita itu.
Danu merengkuh tubuh ramping Andini. Dan memindahkan nya ke ranjang mereka. Dengan penuh kasih,ia mengusap puncak kepala wanita yang kini tengah terlelap di alam bawah sadarnya. Perlahan ia menarik selimut sampai ke dada .
Lalu tiba-tiba kruuuuuukkkk..........
Sepertinya cacing di perut Danu sudah mulai berdemo.
__ADS_1
"Bik....." seru Danu saat ia tiba ruang makan.
"Iya tuan...." jawab bik Iyem sambil menghampiri Danu di yang tengah duduk di meja makan.
"Ada apa tuan?" tanya bik Iyem sopan.
"Beli buah banyak banget bik?" tanya Danu sambil meraih buang mangga yang sudah di potong-potong oleh Andini.
"Gak beli tuan,ini tadi non Andini sama bibik yang petik di kebun belakang,di bantu sama mang Udin" jelas bik Iyem.
"Loh di belakang ada kebun juga?" tanya Danu heran. Sungguh ia juga tidak tau betul tentang seluk beluk rumahnya. Selama ini semua selalu di urus oleh Beri,termasuk soal rumah ini.
"Ada tuan di belakang,tidak terlalu luas tapi lumayan lah kalau untuk sendiri" jelas bik Iyem lagi. Walau terasa aneh,tapi bik Iyem paham betul bahwa tuannya memang tidak pernah berkeliling pekarangan rumah besar itu.
"Enak ya bik,buahnya terasa masih segar. Perpaduan manis sama asem nya pas " ujar Danu sambil terus menyuap potongan mangga.
"Wah kata-katanya sama ya,non Andini tadi juga ngomong gitu. Dan tau gak den,tadi non Andini makan buah mangga itu habis banyak banget. Sampai gak makan nasi" jelas bik Iyem " Heran bibik mah sampai heran den,gak biasanya non Andini makan buah sampai segitu doyan nya" imbuh bik Iyem lagi.
"Bukanya orang hamil makan buah itu biasa" ujar Danu santai.
"Loh jadi non Andini hamil toh,pantesan aneh banget perasaan bibik. Non Andini tiba-tiba pengen ke kebun belakang" ujar bik Iyem lagi.
"Oh ya bik,bibik pernah hamil GK?" tanya Danu penasaran.
"Ya pernah lah tuan,bibik kan punya dua anak. Dari mana datangnya tuh bocah kalo bibik gak pernah hamil"
"Bik duduk sini " Danu menepuk kursi yang ada di sebelah nya.
Dengan ragu-ragu bik Iyem menuruti pinta tuannya itu.
"Gak usah tegang gitu bik,kali ini....... hmmmmm gimana kalau kita ngobrol sebagai CS " ujar Danu sambil meraih tangan bik Iyem.
"Apa itu CS tuan?" tanya bik Iyem tidak paham.
"Mmmm apa ya?.....CS itu artinya...temen ya temen. Kita bicara seperti temen" jelas Danu.
"Emang mau ngobrol apaan si den?" tanya bik Iyem lembut.
"Ceritain dong momen yang gak bisa bibik lupain sewaktu lagi hamil dulu" tanya Danu penuh antusias.
"Oh dulu sewaktu hamil anak peetama,bibik suka banget cium ketek suami. Perasaan bibik harumnya seger banget,sampai kalau belum cium ketek bibik belum bisa tidur tuan" ujar bik Iyem sambil tertawa geli saat membayangkan betapa anehnya ia saat itu.
Kenapa Andini hamilnya tidak seperti bik Iyem aja?.....
"Tapi kalau hamil anak kedua mah beda lagi tuan....." sambung bik Iyem lagi.
"Terus yang ke dua gimana bik?" tanya Danu penasaran.
__ADS_1
"Kalau yang ke dua suka ngidam yang aneh-aneh" ucap bik Iyem dengan raut wajah yang berubah sedih.
"Aneh gimanabik?"
"Ya aneh la tuan.....masak kepengen martabak Mesir tapi harus beli nya di Mesir,pengen nasi Padang juga harus beli di Padang" bik Iyem menghela napas berat. " Anehkan tuan?....."
Kalau di suruh milih mah mending ngidam begituan bik,daripada harus di jauhi sama istri sendiri. Rasanya nyesek banget....
"Tuan.....?" bik Iyem melambai-lambaikan tangannya di depan mata Danu.
"Eh iya bik...." Danu terjaga dari lamunannya.
"Itu mah gampang bik,tinggal terbang aja ke Mesir atau ke Padang kalau memang demi ibu hamil mah aku rela" ucap Danu enteng.
"Kalau untuk orang kaya mah itu gampang den,tapi kalau untuk orang seperti kami itu hanya akan menyakiti diri sendiri. Sampai-sampai bibik suka nangis setiap malam karena keinginannya gak kesampaian. Di satu sisi bibik sadar akan kemampuan suami bibik,tapi di satu sisi rasa pengen itu sangat kuat dan sangat menyakiti hati bibik. Kalau inget itu mah bibik jadi suka sedih" ucap bik Iyem smbil mengusap kedua pipinya yang sudah berurai air mata.
"Maaf bik...maaf.....aku gak bermaksud buat bibik jadi sedih gini" ucap Danu penuh rasa bersalah.
Memang ya wanita itu pada dasarnya sama,gampang banget nangis jika sudah tersentuh sudut hatinya.
"Tuan,setiap manusia itu pasti akan di uji oleh gusti Allah dengan jenis ujian yang berbeda-beda,sesuai dengan kemampuan kita. Bibi harap tuan Danu bisa bersabar ya dalam menghadapi non Andini . Ibu hamil memang suka sensitif,tiba-tiba marah,tiba-tiba sedih itu biasa. Mungkin itu bawaan si jabang bayi." ujar bik Iyem. Wanita yang sudah tergolong tua itu,paham betul apa yang terjadi di rumah itu. Akhir-akhir ini ia sering menyaksikan ada jarak di antara majikannya.
"Yang penting..... ibu dan si jabang bayi nya sehat selalu sampai lahiran nanti..." sambung bik Iyem lagi..
"Amin " ucap Danu sambil menyapu wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Selamat ya tuan,sebentar lagi akan jadi seorang ayah. Kalo jabang bayinya perempuan pasti cantik seperti non Andini dan kalau laki-laki pasti juga tampan seperti tuan Danu" ujar bik Iyem dengan seulas senyuman bahagia.
Bagaimana tidak,wanita yang sudah tergolong tua itu. Selalu saja menuai sikap lembut dan penuh kasih dari majikannya. Bahkan ia juga sudah menganggap Andini seperti putrinya sendiri.
Tidak di sangka Kebaikan hati Andini membuat kedua tangan bik Iyem dan mang Udin selalu terangkat untuk mendo'akan agar Allah memenuhi hidup wanita itu dengan limpahan kebahagiaan.
Kruuuuuuk......
Gemuruh suara cacing di perut Danu tiba-tiba muncul di tengah-tengah obrolan mereka.
"Terimakasih bik,tapi.....aku laper...bisa tolong buatkan makanan ?" ucap Danu sambil tersenyum nyengir dengan tangan yang mengusap-usap perutnya. Seolah ingin menenangkan cacing-cacing yang sedang berdemo di dalam sana.
"Baik tuan.....tuan mau makan apa?" tanya bik Iyem sambil tersenyum geli melihat tingkah Danu saat kelaparan.
"Mmmm nasi goreng sosis aja bik kayak nya enak,telur nya di ceplok ya trus minum nya jus mangga ini,kelihatannya segerr" ujar Danu sambil menunjuk mangga yang baru baru saja di petik oleh Andini tadi.
"Baik tuan....." ucap bik Iyem sambil terus beranjak dari duduknya,melangkahkan kaki menuju dapur untuk segera mengindahkan permintaan Danu.
******
Mohon maaf atas segala kekurangan author,,🙏🙏🙏🙏 semoga suka ya....jangan lupa bagi like, poin dan vote nya ya....sertakan juga komen nya ya.....☺️☺️☺️☺️
__ADS_1