Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Maafkan Aku


__ADS_3

Di hotel....


Steven berjalan mondar-mandir di area lobby hotel.


Mendengar Andini sakit tentu membuatnya penuh kecemasan.


Aku memang benar-benar gila.Walau sudah babak belur di buat suaminya,tapi masih saja memikirkannya seperti ini....


Tiba-tiba langkahnya terhenti,setelah beberapa jam akhirnya Steven melihat Danu dan Andini berjalan memasuki hotel.Begitu juga Beri yang masih setia berada di belakang mereka.


Steven langsung berdiri di balik tembok,karena tidak ingin keberadaannya di ketahui oleh mereka,terutama Danu.Bukan karena takut,hanya saja ia tidak ingin membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi.Apalagi kalau sampai melukai wanita yang sangat ia cintai.


Syukurlah dia baik-baik saja....


Steven merasa lega,setelah melihat Andini bisa berjalan dengan begitu cepat.


Steven terus menatap punggung Andini hingga menghilang dari pandangannya.


Tapi.....kelihatannya suasana hati nya masih buruk.Seandainya kau tidak menikahi lelaki yang cemburunya overdosis itu.Pasti aku sudah berada di sampingmu saat ini....


Huh.....kau benar Andini hidup kadang tidak sesuai seperti yang kita ingin kan....karena aku masih saja menginginkanmu.....walau ku tau itu sangat mustahil bagiku....


Steven duduk di sofa sambil memijit-mijit kakinya yang baru terasa pegal karena hampir satu jam ia mondar-mandir di area itu.Badannya terasa sakit semua,karena pukulan Danu.


Hahaha lucu sekali,,,walau sudah babak belur begini aku masih saja belum jera.Andini masih memenuhi seluruh pikiranku...


Steven tersenyum kecut, di dalam hatinya ia menertawakan dirinya sendiri.Saat mengingat,dengan bodohnya ia membeli obat untuk Andini,yang belum tentu bisa ia berikan pada Andini.Jangan memberikan obat,jika Danu tau Steven masih memandangi istrinya dari kejauhan seperti tadi mungkin Danu sudah memukulinya lagi.


Namun di dalam hatinya masih bersyukur karena sepertinya Beri berhasil memberikan obat itu pada Andini.Pikir Steven.


Karena sudah terlalu lelah akhirnya,Steven memutuskan untuk kembali ke kamarnya.Kebrtulan tanpa di sengaja ia juga menginap di hotel itu.Hanya saja Steven memesan kamar yang paling murah,karena tidak ingin membuang-buang uang.


Di depan pintu kamar Danu menghentikan langkahnya.Pandangannya terpokus pada kantong plastik yang di tangan Beri.


"Idih kenapa lagi lu,? Beri menatap Danu intens.

__ADS_1


"Coba liat itu?" seru Danu menunjuk kantong plastik yang ada di tangan Beri.


"Apa'an sih?" tanya Beri tak mengerti.


Karena tidak sabar,Danu langsung meraih dengan kasar kantong plastik itu dari tangan Beri.


"Oh itu...ngomong dong yang jelas gak usah sewot" cerca Beri dengan gerakan seakan ingin memukul kepala Danu yang sudah membelakanginya.Namun tiba-tiba Danu menoleh dan meliriknya tajam.Membuat Beri langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kecut.


Di dalam kamar...


Danu melirik Andini keluar dari kamar mandi,ia sudah mengenakan pakaian tidur berwarna kuning.


Andini menyanggul rambut panjangnya hingga memperlihatkan leher putih jenjangnya.


Sial kenapa dia terlihat begitu cantik,walau sedang marah


Mata Danu melirik Andini sambil mengumpat dalam hati.Emosi yang menguasai kepalanya tadi,membuat jarak di antara mereka.


Andini menatap dirinya dari pantulan cermin,lalu memoles wajahnya dengan make up tipis.Walau marah tapi tidak melupakan ritual wajibnya sebelum tidur.


Setelah merasa segar,cantik dan wangi.Andini mulai merasakan perutnya yang semakin perih.


Andini meraih kantong plastik berwarna putih yang teronggok manis di atas meja.


Roti tawar dan selai? kenapa.......malam ini aku merasa mas Beri seperti Steven ?


Obat tadi.....selain kak Andra hanya Steven yang tau.Dan roti ini....roti yang selalu di berikan Steven saat aku tidak berselera makan.


Andini menyuap setangkup roti yang sudah ia olesi selai kemulutnya.Melihat roti itu pikirannya langsung teringat pada sosok Steven.Orang dulu sangat perhatian dengannya saat ia bekerja di hotel.


Bagaimana kabar anak itu?,pasti rasanya sangat sakit karena pukulan mas Danu tadi.....


Apa dia baik-baik saja?....


Andini menghela nafas berat,perasaan bersalah pada Steven seakan mencekiknya.

__ADS_1


Setelah menghabiskan dua tangkup roti membuat perutnya terasa nyaman.Tidak lagi perih seperti tadi.


Andini merebahkan tubuhnya di atas ranjang,dengan posisi membelakangi Danu yang masih pura-pura sibuk menatap layar ponselnya.


"Aku gak suka melihatmu dekat dengan laki-laki lain" seru Danu tegas,memecah keheningan di antara mereka.


Namun Andini tidak bergeming,bukan tidak mendengar.Hanya saja ia masih malas menanggapi kalimat yang tidak masuk akal itu,menurut Andini.Jika Danu hanya melarang untuk dekat pada Steven atau laki-laki lain,mungkin Andini masih bisa menerima.Tapi bagaimana ia bisa menjauhi kakaknya yang juga tergolong seorang laki-laki?


"Kau dengar tidak?" seru Danu keras.Ternyata permintaan maaf dan janji untuk menuruti semua permintaan Andini yang terbesit di hatinya sewaktu Andini pingsan,hanya kamuflase belaka.


Mendengar suara keras Danu, membuat Andini langsung terduduk menatap tajam laki-laki yang sudah membentak dirinya untuk kesekian kali.


"Yah aku dengar! aku tidak tuli" seru andini,membalas dengan teriakan juga.Hal itu langsung membuat Danu melotot karena baru kali ini ada orang yang meneriakinya selain papi Yoga dan mami Margaret.


"Aku akan menjauhi semua laki-laki.Asal kau juga bisa menjauhi mami Margaret dan menghapus semua kenangan saat bersamanya" kini Andini tidak lagi mau diam dan mengalah.Karena sikap Danu yang sudah semakin keterlaluan.


"Apa kau gila?bagaimana bisa aku menjauhi mamiku" ucap Danu sambil tersenyum sinis.


"Kau benar mas,aku memang sudah gila karena permintaan mu yang tidak masuk akal itu" mata Andini mulai berkaca-kaca. "Jika kau tidak bisa menjauhi mamimu,maka aku juga tidak bisa menjauhi kak Andra...hiks hiks hiks" akhirnya tangis Andini kembali pecah.


Danu meraih puncak kepala Andini dan membenamkan nya ke dalam dada bidangnya. "Jangan menangis,maafkan aku.Aku salah....tidak sepantasnya aku sampai membanting ponselmu hanya karena melihat fotomu dengan Andra.Aku minta maaf ....sudah jangan menangis lagi" ucap Danu lembut sambil menciumi puncak kepala Andini.Melihat Andini kembali bersedih seketika membunuh amarahnya dan membuatnya kembali menyadari kesalahannya.


"Jangan lupa,kau juga memukuli Steven.Padahal dia tidak salah,dia sudah menyuruhku menelpon mu untuk menjemput ku di tempat itu.Tapi aku menolaknya karena masih kesal" jelas Andini jujur.


"Iya iya tidak seharusnya aku memukuli si bulepotan itu" ucap Danu setengah hati.


Cih salah siapa mendekati istri orang di dalam hati Danu masih belum bisa menerima sikap Steven.Ia hanya mengiyakan ucapan Andini agar Andini berhenti menangis.Walau tausiah Beri tadi sudah membuka pikiran sempit Danu.Tapi jika soal Steven,Danu masih belum bisa menerimanya.Entah kenapa melihat Steven selalu bisa membuat Andini tersenyum membuat Danu begitu kesal.


"Maafkan aku...karena aku tidak bisa melihatmu terlalu nyaman pada laki-laki lain.Aku takut kehilanganmu,hingga membuatku menjadi egois.Aku mencintaimu....maafkan aku...maaf" Danu merengkuh wajah Andini dengan kedua tangan nya.Hingga membuat Andini mendongak kearah wajahnya.Pandangan mereka saling bertemu.Ada rasa sakit yang tumbuh di relung hatinya,saat melihat wajah sang istri tampak sembab karena terlalu banyak menangis.


Kenapa dia mudah sekali menangis ....


Danu mengusap air mata Andini dengan kedua tangannya.


"Ternyata benar ya kata orang,jangan membuat wanita menangis.Karena air mata wanita itu mahal harganya.Bisa menghapus bedak,maskara dan eysedow" goda Danu sambil terus mengusap pipi Andini.

__ADS_1


"Gak lucu" ucap Andini sambil tersenyum malu dan kembali membenamkan wajahnya ke dalam dada Danu.


"Ya kalau lucu mungkin aku udah jadi pelawak,bukan pengusaha" Danu merengkuh tubuh Andini sambil mengecup ujung kepalanya.


__ADS_2