Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Titik Terapuh


__ADS_3

Berada di titik rapuh ......


Yah mungkin itulah yang di rasakan Andini saat ini. Mudah marah dan tersinggung setiap kali Danu salah mengucapkan kata-kata.


Empat Minggu sudah berlalu. Andini masih saja enggan berdekatan dengan sang suami.


Malam ini.....


Andini mondar-mandir di ruang tamu....hatinya terasa cemas. Tidak biasanya Danu pulang terlambat. Walaupun mereka jarang sekali bicara,tapi Andini masih mengawasi gerak-gerik lelaki itu.


Andini sadar betul,hubungan mereka yang terasa renggang. Tentunya sebagai seorang istri,Andini juga memiliki ke khawatiran yang sama pada umumnya.


Bagaimana jika suaminya akan mencari pelayanan di tempat lain????


Andini meremas-remas jarinya....memasang telinga untuk mendengar suara deru mesin yang tak kunjung tiba. Bahkan tidak jarang ia menyibak tirai jendela untuk sekedar memastikan bahwa sosok suaminya benar-benar belum tiba.


Sudah berulang kali Andini menghubungi Danu. Namun tidak di angkat.


Kamu lagi ngapain sih mas ?


Umpat Andini dalam hati sambil melempar ponselnya ke sofa.


Sudah hampir jam satu malam. Namun tanda-tanda kehadiran Danu belum juga ada. Padahal kata orang kantor Danu sudah meninggalkan kantor sejak pukul lima sore.


Tidak seperti biasanya.....


Biasanya lelaki itu selalu saja mengirim berbagai pertanyaan lewat chat. Sudah makan atau belum,lagi ngapain,apa masih mual,pengen di beliin apa. Semua itu selalu Danu lakukan di sela bekerja. Tapi.... hari ini ia benar-benar menghilang tanpa kabar.


Brengsek.....


Lagi-lagi Andini mengumpat dalam hati. Pikiran dan hati nya kini di penuhi oleh kekesalan. Waktu menunjukkan semakin larut,membuat Andini semakin di hujam oleh berbagai rasa curiga dan pikiran negatif.


Setelah menunggu sampai jam dua malam. Akhirnya...suara mesin mobil Danu terdengar memasuki pekarangan rumah mereka. Dengan sigap Andini segera menyibak tirai jendela,untuk memastikan akan kebenaran indra pendengaran nya.


Yah kali ini itu benar-benar Danu. Sosok lelaki tampan yang masih memakai setelan jas hitam yang ia kenakan tadi pagi itu keluar dari mobilnya. Lelaki itu tampak sedikit berantakan . Rasa lelah tercetak dengan jelas di wajahnya.


Perlahan Danu menarik handle pintu rumah mewah itu.


Mata Danu langsung terbelalak saat mendapati sosok istri yang sudah bersidekap di depannya.


Danu langsung mengusap-usap kedua matanya,memastikan bahwa pemandangan nya tidak salah. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan nya.


Gila sudah pukul 02.15 ,kenapa dia belum tidur?


Bukanya biasanya pukul 21.00 saja dia sudah seperti tidak bernyawa


Gumam Danu dalam hati. Menerima sorotan tajam dari sang istri membuat ia salah tingkah.


"Sayang....kenapa belum tidur?"

__ADS_1


"Kenapa jam segini baru pulang ? mas dari mana,dengan siapa dan ngapain aja?"


Rentetan pertanyaan itu sungguh membuat Danu meneguk Saliva nya dengan sangat susah. Danu masih terdiam,mencoba menyusun kata yang tepat untuk membuat istrinya tidak marah.


"Mas....Kamu denger aku gak sih?"


Seru Andini kesal,karena yang di tanya bukanya menjawab tapi justru malah bengong.


"Iya...iya.. aku denger " ujar Danu sambil menyentuh telinganya yang terasa sakit saat mendengar pekikan suara Andini.


"Aku ada urusan pekerjaan tadi sama si Beri" jawab Danu sambil meraih pinggang ramping Andini dan sebelah tangannya melepas dasi yang seakan mencekik lehernya.


"Pekerjaan apa yang mas kerjakan,sampai selarut ini?" tanya Andini penuh curiga.


"Ya biasalah urusan kantor..." ujar Danu sambil mengecup sisi kepala Andini.


"Mas,aku bukan anak kecil,yang bisa percaya dengan alasan itu" ucap Andini menuntut penjelasan lebih.


Danu menghela napas berat,ia benar-benar lelah karena seharian ini terasa begitu berat baginya . Angannya untuk segera tidur saat tiba dirumah sepertinya harus ia enyahkan karena tatapan sang istri sudah seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.


Di tambah lagi, ia tidak sempat mempersiapkan jawaban sebelumnya,karena biasanya sang istri sudah terlelap setiap kali ia pulang.


"Sayang....aku lelah,bisakah kita bicarakan ini besok saja" bujuk Danu lembut.


"Aku cuma pengen tau kamu dari mana,sama siapa dan ngapain?


cuma jawab itu aja kok susah sih?


Bukan jawabnya yang susah,tapi bikin kamu percayanya itu yang susah


"Astaghfirullah hallazim ....ya gak lah sayang. Aku berani sumpah deh,aku tuh bener-bener kerja. Memang aku tadi berada di luar kantor,tapi itu tetep dengan urusan kantor. Tidak lebih" ujar Danu jujur.


"Aku tadi itu sama Beri, Di hotel xx sedang mengurus pekerjaan " ujar Danu.


"Hotel?" tanya Andini menuntut penjelasan lebih.


"Ia hotel. Tapi bukan booking kamar seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Beri berada di ruangan VVIP untuk mengurus pekerjaan dengan investor luar negri. Ini semua real hanya karena urusan pekerjaan tidak lebih" jelas Danu lagi.


"Lalu kenapa sampai selarut ini?" tanya Andini penuh selidik.


"Ya.... biasalah. Mereka minta di temani untuk sekedar minum-minum. Tapi aku gak ikut minum kok ,cuma menemani mereka sambil ngobrol-ngobrol santai aja" jelas Danu sambil mendekatkan mulutnya ke hidung Andini.


Kini giliran Andini yang menghela napas berat. Ia membuang udara kasar,seakan ingin melepas kekesalan bersama udara yang ia buang.


Walau masih belum sepenuhnya percaya Andini mencoba untuk membuang semua pemikiran buruk yang sempat merayapi pikiran dan hatinya.


"Selamat malam sayang" Danu menyapu kepala Andini dan mengecup keningnya. Lalu melangkah menuju kamar tamu yang sudah hampir satu bulan ini ia tempati.


"Mau kemana?" tanya Andini ketus.

__ADS_1


"Ya ke kamar lah"


"Kamar kita kan di sebelah sana" ucap Andini sambil menunjuk pintu kamar mereka.


"Kamu benar-benar berubah mas,bahkan sampai kamar sendiri aja kamu lupa" ujar Andini sedih dan pergi berlalu menuju kamar mereka.


Hah....kenapa aku yang di bilang berubah....dan lupa?


Bukanya dia yang mengusirku dari kamar itu?


Danu berdiri mematung menatap punggung wanita yang berubah-ubah mood nya itu.


Andini menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang.


"Apa karena aku sudah tidak cantik lagi?perutku yang sudah mulai membuncit,jadi kamu sudah tidak lagi menyayangiku. oleh karena itu menerima telponku pun kamu sudah gak Sudi mas..kini yang lebih menyakitkannya lagi, Kau bahkan lebih memilih untuk tidur terpisah denganku. Padahal kan ini anak kamu juga mas ,kamu yang membuat aku jadi seperti ini.Tapi kenapa kamu jadi tidak bertanggung jawab begini?" ucap Andini dengan buliran air mata yang sudah tertumpah.


Hmmm Entahlah,lagi-lagi Danu menghela napas berat. Sudah hampir satu bulan ia tersiksa karena Andini tidak ingin di dekati. Tapi kini justru ia malah di tuduh sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab.


Sungguh ini sangat tidak adil baginya. Tapi mau apa lagi?


Lelaki tampan itu hanya bisa mendesah,dan menerima semua itu. Tak ingin membuat masalah menjadi semakin runyam,ia segera mengikuti langkah sang istri .


"Maafkan aku,aku salah" ucap Danu sambil meraih tangan Andini.


Itu lah kata yang bisa ia ucapkan di saat seperti ini. Mungkin meminta maaf pada ibu hamil yang labil itu lebih baik ,daripada harus memperpanjang perdebatan yang tentunya akan berpengaruh pada perkembangan bayi nya. Danu meraup udara banyak-banyak,seolah menimbun stok kesabaran yang lebih banyak lagi.


Benarkah dulu aku begitu menyusahkan papi?


sehingga ankku membalas nya seperti ini?


Tanya Danu dalam hati. Sungguh,sejak hamil Andini benar-benar berubah karakternya. Andini yang biasanya selalu jadi istri yang tanpa cela. Kini berubah-ubah menjadi karakter yang berbeda. Sulit di tebak,kadang tiba-tiba marah,tiba-tiba nangis dan bahkan juga tiba-tiba manja.


"Tadi ponsel aku ke silent jadi gak tau kamu nelpon" jelas Danu lagi sambil merengkuh wajah mungil Andini dengan kedua tangannya.


Terlihat dengan jelas,wajah yang begitu pucat dan semakin tirus.


Ya Allah lindungilah hati wanita ini,wanita yang sedang berjuang untuk calon baby kami......


Apapun yang aku lakukan di luar sana,itu hanya untuk urusan pekerjaan semata. Jagakan wanita ini untukku ya Allah ,buatlah ia selalu bahagia....


Ada rasa nyeri di sudut hati Danu. Melihat tubuh istrinya yang semakin ramping dan tak lagi terawat membuatnya merasa sedih. Beginilah pengorbanan seorang ibu pikirnya.


Hatinya selalu saja berdenyut ngilu,saat bik Iyem melaporkan semua kegiatan Andini yang hampir satu bulan ini hanya berbaring dirumah. Hanya kamar mereka tempat ternyaman bagi Andini.


Dan sudah hampir satu bulan juga istrinya itu tidak pernah makan nasi. Perutnya hanya bisa di isi oleh buah-buahan dan makanan yang tiba-tiba ia inginkan. Oleh sebab itu Danu sering menanyakan "ingin makan apa?",pertanyaan itu selalu ia ulang setiap harinya. Berharap bisa membuat istrinya lebih baik lagi.


Untung saja ada mami Margaret,yang setiap hari selalu datang menemani Andini.


Walau tidak berpengalaman soal kehamilan,tapi mami Margaret cukup telaten dalam menghadapi Andini.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu,benar-benar bahagia menantikan calon cucu nya lahir ke dunia.


__ADS_2