Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Perbedaan Single dan Sudah Menikah


__ADS_3

Apakah ini nyata? atau hanya mimpi?


Mereka saling melempar pertanyaan dalam hati.


"Pak...Bu..." panggil dokter itu heran,baru kali ini ia melihat pasutri yang hanya terbengong saat mendengar kabar yang biasanya selalu membuat orang lain langsung loncat kegirangan.


"Pak....Bu..." panggil Dokter cantik itu lagi...namun mereka masih tak bergeming.


"Pak Bu.." kali ini dokter itu sedikit mengeraskan suaranya. Membuat Andini dan Danu terperanjat dan dari lamunan mereka.


"Ehem,ehem" Danu berdehem sambil membenarkan posisi duduknya.


"Maaf dok,dokter tadi bilang apa?saya kurang dengar . Apa bisa di ulang sekali lagi? " pinta Danu lirih. Dan langsung di angguki oleh Andini.


"Iya menurut hasil tes urine dan jawaban dari ibu Andini. Ibu Andini positif hamil,,," jelas dokter cantik itu lagi. " Untuk lebih akurat nya lagi kita bisa lakukan USG" saran dokter cantik itu kembali dengan senyuman.


"Aku mau di USG dok" Jawab Andini cepat.


"Iya USG" timpal Danu.


"Baik,tunggu sebentar ya pak Bu biar suster kami mempersiapkan alatnya dahulu" ujar dokter itu sambil beranjak menuju ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Setelah beberapa menit.....


"Mari pak Bu .... silakan ..." seorang suster mempersilahkan.


Jantung Danu dan Andini semakin berdetak dengan sangat cepat. Seumur hidup mereka belum pernah merasakan setegang ini.... bahkan saat mereka menikah.


Tubuh Andini di baringkan di atas ranjang kecil yang hanya muat di tiduri untuk satu orang. Seorang suster menyibak atasan Andini hingga memperlihatkan perutnya.


Andini merasakan ada sesuatu yang dingin di oleskan ke permukaan perutnya. Sebuah alat berwarna putih kecil yang ada di tangan doker cantik itu di gerak-gerakkan di atas perut Andini.


"Wah selamat.... ya Bu...pak... ibu Andini benar-benar pisitif hamil. Usianya sudah 4 Minggu ya...." Ucap dokter itu dengan pandangan masih tertuju pada layar monitor yang ada di depannya.


"Alhamdulillah ya Allah...Terimaksih" Ucap Andini penuh syukur..Dengan kedua tangan langsung membekap mulutnya. Buliran putih bening itu langsung keluar begitu saja,seakan mengusir segala jeritan yang tertahan di hati nya.


Bagaimana dengan Danu?


Lelaki itu langsung mengatakan "YES" dengan gerakan kemenangan. "Aaaaaaaa Yes sebentar lagi aku akan jadi ayah...."


Akhirnya.....


Danu melompat kegirangan... Dan teriak "Aaaaa...." menyeru kan suara yang ia tahan sejak tadi.


Lalu tak lupa,Danu mengecup kening Andini dengan penuh kasih sambil berbisik "TERIMAKASIH SAYANG" dan menghapus air mata yang membanjiri pipi Andini dengan lembut.


Dokter itu menatap keduanya penuh haru....


Lalu dokter itu menunjukkan gambar gumpalan sel yang masih berbentuk embrio di layar kaca. Andini dan Danu menatap lekat calon anak mereka.


Anakku....


Hati Andini dan Danu meneriaki satu kata yang sama saat melihat gambar di layar kaca itu.... Anakku......


Yah, itulah anak yang sudah mereka nantikan selama 6 bulan pernikahan.


Walau masih terlalu kecil....tapi mereka sudah dapat melihatnya secara nyata. Nyata...dalam artian bukan hanya ada dalam impian mereka belaka.


Melihat anugerah terindah dari Allah itu membuat keduanya tak bisa untuk menahan senyum....


Tiada lagi kata yang mampu mereka ucapkan.....Hanya berjuta-juta rasa syukur yang bisa mereka panjatkan....


Robbi hablii Minash Sholihin...


(Ya Allah berikanlah kepadaku anak yang Sholeh)


****


Di koridor rumah sakit,Andini berjalan dengan langkah gontai sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata. "Benar kata kamu mas,semua akan indah pada waktunya"


"Tapi kamu harus denger apa kata dokter tadi. Kamu harus banyak istirahat,harus banyak makan makanan bergizi biar baby nya sehat" Danu merangkul tubuh Andini dan mengecup puncak kepala andini lembut.


"Iya....iya.... Ayah " Andini mendongakkan kepalanya dengan seulas senyum yang melebar dari bibirnya.


Mendengar kata Ayah membuat Danu juga langsung menarik kedua sudut bibirnya.


"Danu......!"


Tiba-tiba seorang wanita berseru di hadapan mereka.

__ADS_1


Danu menarik tangannya dari pinggang andini,menatap wanita cantik berkulit putih dan bermata biru itu intens. Pikirannya berusaha mengingat-ingat siapa wanita cantik ini.


"Lu Danu kan? Danu Brahmana Atmaja?"


"Iya,kok lu tau"


"Lu gak inget gw....? gw Airin anak fakultas ekonomi. "


"Oh Airin Feronika?"


"Yup lu bener banget"


"Wah apa kabar lu,makin cantik aja lu? "


Danu mengulurkan tangannya dan langsung cepika-cepiki pada Airin .


"Gw baik,Alhamdulillah.Ah lu bisa aja,lu kali yang tambah cakep......dan terlihat lebih matang" balas wanita itu sambil tersenyum sumringah.


"Hahaha matang? udah seperti buah mangga aja gw pake di bilang matang" Danu tertawa begitu lepas saat bertemu Airin yang notabennya adalah sahabat yang pernah ia suka semasa kuliah dulu.


"Hahaha..Kalau ibarat mangga .....lu itu mangga Agrimania ....mangga yang banyak peminat nya"


"Asem lu hahaha"


Tawa mereka pun pecah,sampai tidak menyadari sepasang mata yang sudah menatap dengan sorotan tajam.


Karena merasa terabaikan akhirnya Andini pergi meninggalkan dua insan yang tengah asik dengan dunianya sendiri.


"Eh ngomong-ngomong lu ngapain kesini?"


Kalimat pertanyaan itu langsung menyadarkan Danu akan keberadaan istrinya.


"Oh ya,kenalin nih ist----" Danu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.Bola matanya bergerak kesana-kemari menyapu setiap sudut lorong itu. Namun sudah tidak ia temukan di mana istrinya berada. "Haduh mampus gw" Danu menepuk jidatnya,tersadar bahwa ia sudah mengabaikan istrinya karena Airin.


"Loh kenapa lu?,kok tiba-tiba panik gitu? tanya Airin bingung,melihat perubahan raut wajah Danu.


"Lu liat wanita yang di samping gw tadi gak?" tanya Danu cemas.


"Gak tuh" Airin mengangkat bahunya. " Emang wanita siapa sih?kok bisa bikin lu sepanik ini? siapa? mami lu? " tanya Airin penasaran.


"Bukan mami,tapi istri gw. Gw tadi kesini Sam istri gw" jelas Danu sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.


"Lu udah nikah?kenapa gak ngasih kabar?....wah parah lu....."


Danu langsung pergi meninggalkan Airin begitu saja.


"Danu tunggu dulu gw ikut ....." seru Airin sambil mengangkat satu tangannya dan melangkahkan kaki mengejar Danu.


Danu berlari kesana-kemari mencari-cari sosok wanitanya.Namun tak dapat ia temukan.


"Sial....."


Berkali-kali ia mengumpat karena tidak menemukan Andini.Dan sial nya lagi,nomor ponsel Andini juga tidak dapat di hubungi.


"Danu...Tunggu...." Airin melambaikan tangannya dan mendekati Danu lagi.


"Napa lu ngikutin gw?" tanya Danu kepada Airin yang masih mengatur napasnya. Wanita itu masih terengah-engah karena harus ikut berlari-lari mengejar langkah Danu.


"G g gw masih ngobrol sama lu lah,secara Kitakan udah lama gak ketemu" ucap Airin sambil menyandarkan tubuhnya di mobil Danu.


"Maaf gw gak bisa,gw mesti cari istri gw...." tolak Danu sambil membuka pintu mobilnya.


"Ya udah gw ikut" ujar Airin langsung masuk ke mobil Danu dan duduk di sebelah Danu.


"Gak usah,,,,mau ngapain lu ikut?"


"Ya gw juga mau kenal lah sama istri lu.Siapa tau kita bis berteman baik " ujar Airin sambil memasang seatbelt.


"Jangan sekarang lah,waktunya gak tepat"


"Idih kenapa? gw cuma pengen kenal doang,apa salahnya? "


"Ya gak ada salahnya.Tapi......"


"Tapi apa?....udah ah ayo buruan jalan keburu istri lu tambah jauh"


Danu menghela napas kasar,masih saja seperti dulu.Wanita ini,selalu saja memaksakan kehendaknya.


Setelah beberapa menit.....

__ADS_1


Danu melihat sosok wanita yang sedang di halte bis dengan wajah sendu.


Danu langsung meminggirkan mobilnya,dan keluar lalu mendekati Andini.


"Sayang maaf... aku tadi keasik kan ngobrol sama temen aku sampe lupa sama kamu" Danu duduk di samping Andini dan merengkuh pundak wanita itu.


Andini masih tak bergeming,pandangannya tertuju pada siluet wajah cantik yang ada di dalam mobil Danu.


"Sayang maaf...." ujar Danu lagi.


Marah? .....


Tidak pantas rasanya jika marah di tempat umum seperti ini.Terlebih ada wanita itu.Aku tidak ingin di tertawa kan olehnya....


Andini menghirup napas dalam,meraup begitu banyak oksigen lalu menghembuskan nya perlahan. Mencoba melepas sesak yang sedari tadi menyiksanya.


Tanpa menjawab apapun.Andini beranjak dari duduknya dan mendekati mobil Danu.


"Mbak maaf bisa keluar,ini tempat saya " seru Andini menatap wajah Airin yang sedari tadi menunjukkan keangkuhan.


"Di belakang kan masih kosong "


Duarrr....Jawaban itu..... seperti sengaja Airin ucapkan untuk membuat hati Andini meledak.


Andini memejamkan matanya dan menarik napas dalam. Tangannya mengepal,menahan emosi yang sudah terkumpul.


"Rin,mending lu duduk di belakang deh.Istri gw mau masuk" seru Danu sambil membuka pintu untuk Airin agar segera keluar .


" Istri lu aja yang duduk di belakang,gw udah PW nih,males gerak" jawab Airin acuh.


"Mbak mau duduk di belakang,atau keluar dari mobil suami saya dan cari taksi" seru Andini dengan nada penuh penekanan.


Namun Airin masih bersikap acuh seolah tak mendengar.


"Airin...lu dengar tidak?" Bentak Danu dengan kuat. Danu mulai kesal,melihat Airin yang sengaja bertingkah di depan Andini.


"Iya...iya ....gak sabaran banget sih jadi orang"


Ini pertama kalinya Danu berbicara sekeras itu pada Airin.


Airin menghentakkan kakinya kesal,karena kini Danu membentaknya demi wanita lain. Yang notabene nya adalah istri Danu.


"Kenapa kau berubah...." gerutu Airin pelan sambil membuka pintu mobil lalu duduk di belakang Andini.


"Jangan lupa mbak,mas Danu sekarang sudah punya ISTRI. Jadi jelas saja dia berubah..." seru Andini dengan penuh penekanan saat mengucapkan kata "ISTRI" dan tersenyum miring,penuh dengan kemenangan.


Hah sombong banget lu jadi istri Danu. Lihat aja,gw bakal pastiin sebentar lagi lu akan menyesal karena berani bersikap sesombong itu sama gw. Danu itu hanya milik gw...dan gw yakin Danu masih mencintai gw...lu itu cuma sampah di antara kami. Jangan panggil gw Airin kalau tidak bisa tunjukkin posisi lu yang sebenarnya...


Airin meremas sisi gaunnya. Menatap Andini penuh kebencian.


"Lu mau turun dimana Rin?" tanya Danu dengan pandangan yang masih terpokus pada jalanan.


"Hmmmm g gu gw... mau main kerumah lu lah. Gw kangen sama om Yoga dan Tante Margaret" jawab Airin sambil melirik wajah Andini dari kaca spion.


Apa? kerumah mami papi? apa hubungan mereka pernah sedekat itu,sampai wanita itu sepertinya sudah sangat mengenal kedua orang tua mas Danu.


"Gw gak pulang kerumah mami,gw udah punya rumah sendiri.Kalau lu mau kerumah mami,mending lu naik taksi aja"


Mendengar penolakan Danu membuat Airin semakin kesal.


"Lu kok tega banget si Danu. Nyuruh gw naik taksi sendirian,udah malam gini...apa lu gak khawatir sama gw.Kalau gw kenapa-kenapa gimana? " ujar Airin melipat kedua tangannya di atas perut,mencebik kesal.


"Hahaha sejak kapan lu punya rasa rakut?" ejek Danu.


"Danu....gw serius" rengek Airin dengan suara manja.


" Ya udah kalau ku takut naik taksi,biar ntar lu di antar sama sopir gw"


"Danu...gw kan gak nyaman kalau di antar sama supir lu. Dulu biasanya elu yang suka ngantar gw kemana-mana" Suara manja Airin ,memang sengaja ia gunakan untuk memancing emosi Andini . Apa lagi saat mengungkap kata dulu di antara mereka,sungguh tembakan jitu yang berhasil mengenai jantung Andini.


"Ya bedalah dulu sama sekarang. Dulu gw single sekarang gw udah punya istri. Masa iya masih nganterin lu kemana-mana.Kurang kerjaan banget gw..." Dengus Danu yang juga mulai merasa risih akan sikap manja Airin. Jika saja tidak mengingat bahwa Airin adalah anak dari sahabat papi Yoga,mungkin sudah ia turunkan di tengah jalan sedari tadi.


"Makanya mbak nikah...punya suami jadi biar mbaknya itu tau gimana rasanya single dan sudah berkeluarga,iya kan mas?" Andini mendongakkan wajahnya ke arah Danu dan bergelayut manja di bahu suaminya.


Seperti biasa,jika sudah seperti ini.....


Cup ...Danu langsung mengecup bibir Andini singkat,dan mengusap puncak kepala wanitanya itu. Andini tersenyum puas penuh kemenangan,lalu membalas ciuman itu dengan mengecup pipi Danu.


Melihat kemesraan itu membuat dada Airin semakin bergemuruh.

__ADS_1


Hatinya berteriak kencang,saat merasa posisinya di hati Danu sudah tergeser oleh Andini.


Tidak....! aku tidak boleh kalah dari perempuan kampung ini.....


__ADS_2