Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Hanya Menunggu waktu


__ADS_3

Seperti biasanya, setiap pagi Riyan selalu menyempatkan untuk berolahraga.


Masih berjalan di tempat menunggu sosok wanita berambut pendek itu muncul. Namun kali ini sepertinya harap nya sia-sia. Karena Bulan tidak mungkin hadir seperti biasa. Jika tidak ikut lari wanita itu biasanya turun untuk mencari sarapan.


Sudah hampir satu jam, Riyan melirik kanan dan kiri. Jangankan bulan, bahkan Bintang pun tak terlihat batang hidungnya sejak tadi.


Apa dia sudah pulang?


Tanya Riyan dalam hati, belum satu minggu dia tidak mungkin pulang. Tapi... kenapa kamarnya tadi begitu sepi?


apakah dia sakit?


Iya mungkin dia sakit karena terlalu lelah, semalam wanita itu terlalu banyak main air. Mungkin kah dia Demam?


Kali ini Riyan hanya menggerakkan tubuhnya sambil berjalan di tempat. Tanpa sosok Bulan, lelaKi itu jadi tidak bersemangat. Terlebih saat memikirkan keadaan Bulan.


Tak lama kemudian.....


Tanpak Oma berjalan tergopoh-gopoh, seperti sedang terburu-buru. Berbeda dengan Bintang, saudara kembar Bulan itu lebih terlihat santai.


Riyan menatap keduanya intens, entahlah pirasat Riyan semakin yakin bahwa Bulan sedang dalam keadaan tidak baik.


Riyan memutar otak,mencari-cari cara untuk mengetahui kepastian nya. Tidak mungkin rasanya ia tiba-tiba bertanya langsung pada keluarga Bulan.


Riyan membenahi topi hitamnya, Pura-pura berlari kecil mendekati Bintang


"Iya gw sama Oma udah berangkat nih, Oma juga sudah bawain semua perlengkapan baju lu. Sebentar lagi gw sampai"


"Iya"


"Iya"


"Bastian udah kasih lu sarapan kan?"


"Iya, sepuluh menit lagi gw sama Oma sampai"


Itulah yang terdengar dari mulut Bintang saat bicara lewat telfon dengan Bulan.


Riyan semakin yakin, Bulan sedang tidak dalam keadaan baik.


Dan dia sedang bersama teman laki-laki nya, mereka memang terlihat sangat akrab. Tapi mereka tidak pacaran kan?, pikir Riyan.


Riyan tersenyum kecut, menertawakan dirinya sendiri. Sejak kapan ia menjadi manusia sekepo ini dengan urusan orang lain.


Tapi rasa memang tidak pernah bohong, Riyan sungguh khawatir.


Riyan terus menatap mobil Putih yang di naiki Bintang dan Oma Margaret hingga menghilang.


Jika kalau bukan Karena tugas kantor yang sangat menuntut kehadiran nya, kali ini mungkin Riyan sudah berperan sebagai penguntit untuk yang kesekian kalinya.


Beda halnya dengan seorang pengusaha yang bisa masuk kantor sesuka hati. Kalau Riyan mah harus mengurus tugas negara, dan selalu menomor duakan urusan Hati.


Sabar ya babang Riyan...rileks aja jangan panik gitu. Bulan nya gak kenapa-napa kok. Cuma lagi kurang imun aja... canda author sambil tersenyum tipis.


Kali ini si abang polisi pun kurang pokus dalam menjalankan tugasnya. Rasa cemas dan khawatir masih menyelimuti hati kecil Riyan.


"Riyan..... Yan... Hoi.....!!! " suara gebrakan meja membuyarkan lamunan Riyan.


"Iya Bul---" jawab Riyan dengan sikap sigap.

__ADS_1


"Bul????" tanya Satya teman seangkatan Riyan. menuntut penjelasan.


"Bul-bul---bul luciani, istri nya jendral Sutoyo melahirkan di jogja" jawab Riyan asal.


"Alah,, ngeles aja lu kayak bajai"


Riyan tersenyum kecut, sejak kapan istri jendral Sutoyo hamil? tiba-tiba udah melahirkan aja. Pikir Riyan. Geli sendiri.


"Napa lu? ngelamun terus" tanya satya sambil duduk di samping Riyan.


"Hmmm Entahlah" jawab Riyan dengan nada berat.


"Kenapa? lagi berantem lu sama pricil?"


"Hah pricil??? "


Riyan bahkan sampai lupa dengan tunangan nya itu.


"Kenapa lu kaget gitu denger nama Pricil? " tanya satya penasaran. "Lu baik-baik aja kan sama dia?"


" Ya baik lah,malahan kami sangat baik. Gak pernah bertengkar sama sekali "


"Hah? gila lu Yan,beneran lu gak pernah berantem gitu sama pricil?" tanya satya lagi.


"Iya, bener. Suwer deh" jawab Riyan penuh keyakinan.


Sudah lima bulan lebih bertunangan dengan wanita cantik itu, namun tidak sedikitpun ada permasalahan di antara mereka.


"Yakin lu?"


"Yakinlah.... "


"Kenapa gitu? lu kali yang gak sehat" balas Riyan acuh.


"Di dalam suatu hubungan itu harus ada masalah, yang menimbulkan Pertengkaran- pertengkaran kecil. Karena melalui pertengkaran itulah kita dapat memahami karakter pasangan. " jelas Satya sok bijak sambil menyeruput kopinya.


"Oooooo...... "


"Kok cuma ooo? eh lu sebenarnya cinta gak si sama pricil?"


"Cinta" jawab Riyan singkat.


"Cinta" Satya memperagakan ekspresi Riyan. " Ucapannu tak seirama dengan ekspresi mu kawan"


"Terus gw harus gimana?" tanya Riyan mulai kesal karena satya terus mengintrograsinya.


Dan tiba-tiba drrrt drrrt... "Syuutt Pricil telfon" ucap Riyan lirih.


"Halo... "


"Halo sayang lagi apa?" tanya pricil dengan nada manja.


"Kerja"


"Sibuk ya?"


"Iya"


"Yaudah deh nanti kalau dah kelar kerjaan nya telpon ya, ada yang ingin icil omongin"

__ADS_1


"Hmm"


" Ya udah, selamat bekerja sayang"


"Hhmmm"


Riyan memutuskan hubungan telepon mereka, dan kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


"Tuh kan lu bohong" sambung Satya lagi, rupanya lelaki satu itu masih saja ingin mengulik masalah pribadi temanya.


"Bohong apanya? gw memang lagi kerja" ujar Satya sambil pura-pura membuka laptopnya.


"Yan,saran gw sih mending kalau untuk di jenjang pernikahan lu mikir lagi deh"


"Alasannya?"


"Kita ini seorang polisi yang berdedikasi untuk negara, jangan mempermainkan pernikahan yang sifatnya sakral. Jika lu menjalani rumah tangga tanpa cinta, nantinya juga lu akan lelah. Dan lu tau sendiri kawan, polisi itu di larang bercerai. Dan kalau pun itu harus terjadi, lu bakal kena sanksi." jelas Satya.


"Iya juga gw tau" jawab Riyan enteng.


"Oh ya lu gak liat berita terbaru tentang tunangan lu"


"Berita apaan?"


"Kabarnya Pricilia Agata seorang model terkenal itu, terjerat cinlok dengan lawan main nya di sebuah sinetron yang sedang di bintanginya" ucap Satya dengan membaca berita yang muncul di layar ponselnya.


"Jangan di dengarkan itu cuma gosip" jawab Riyan acuh.


Sebenarnya Riyan juga sudah membaca berita itu tadi pagi, tapi Riyan tidak terlalu memusing dengan berita seperti itu.


"Kalau saran gw sih lu mesti selidiki, karena menurut penerawangan gw berita itu bukan sekedar gosip" ujar Satya.


"Lu pernah liat mereka jalan berdua? " tanya Riyan langsung


"Hmmm------"


"Udah ngomong aja, gw gak papa" desak Riyan. Dari ekspresi Satya menggambarkan ia tau sesuatu.


"Sebenarnya waktu gw tugas di bandung, gw sempat liat mereka berciuman di hotel" ungkap Satya ragu-ragu.


"Kenapa lu gk ngabarin gw waktu itu? " tanya Riyan santai.


"Ka-ka-karena gw gak punya bukti"


"Itulah masalah nya, kita polisi tidak bisa menuduh orang dengan sebuah firasat seperti dukun" jawab Riyan enteng.


"Makanya gw suruh lu selidiki, gw gak mau lu di permainkan"


"Hahahaha... biarkan saja dia puas bermain. Toh cepat atau lambat dia juga pasti akan terperangkap oleh permainan nya sendiri"


"Heran gw, tunangan lu selingkuh tapi lu bisa tertawa lepas begitu"


"Udah gak perlu lu pusingin masalah pribadi gw. Ini hanya masalah waktu. " ujar Riyan sambil menepuk pundak Satya yang masih menatap nya heran.


Begitu lah Riyan, lelaki itu tidak mau membuka dirinya pada siapapun. Termasuk Satya, teman dekatnya sejak kuliah.


Walau sebenarnya ia sangat tau tipe wanita seperti apa Pricilla itu. Riyan bukan pria yang buta akan permainan pricil.Semua ia lakukan hanya demi keluarga Sultan. Hanya menunggu waktu, untuk membongkar kedok wanita itu, tanpa harus mengorbankan keluarga Sultan.


Karena Riyan tau jika ia membongkar skandal pricil, maka kerja sama antara keluarga Sultan dan Agata akan hancur, dan mengakibatkan kerugian besar bagi keluarga Sultan.

__ADS_1


__ADS_2