
Di pantai....
Bulan tak lagi bisa jaim, melihat air dan ombak wanita itu langsung melompat kegirangan. Tak menyadari Vano sedang menatap nya kesal.
Bulan mencoba semua permainan,hingga Vano kewalahan menuruti maunya wanita itu.
Dari mulai banana boat, parasailing, jet ski, seawalker, Rolling donut dan yang terakhir flyboard.
"Ayo Van kita main flyboard,pasti seru banget deh. Terbang di atas air... " seru Bulan dengan bayangan yang menyenangkan.
"Gak deh Bulan, gw gak mau. Ngeri... gimana kalau jatuh" tolak Vano. Bermain air di tengah terik matahari bukan gaya Vano. Kalau saja bukan karena masa pendekatan dengan bulan Vano juga udah pasti menolak sedari tadi.
"Coba dulu, seru tau. Ntar kalau udah nyobain pasti lu ketagihan" bujuk Bulan.
"Please deh, untuk yang ini gw angkat tangan. Gw gak bisa, maaf ya?" Vano benar-benar menolak.
"Ya udah deh gw sendiri aja, tapi sendiri kurang seru.. " keluh Bulan sedih.
"Mending lu ajak Bintang aja gih" saran Vano.
Bola mata Bulan langsung mengarah ke Bintang.
"Gw gak mau! Gw mau kumpulin tenaga buat diving aja ntar " jawab Bintang.
"Lu kan belum temeni gw main, sedari tadi cuma duduk aja. Tenaga lu masih banyak Bintang" Bujuk Bulan sambil menarik tangan Bintang.
"Tuh kapal gw udah datang, selamat tinggal Kakak ku Bulan. Gw mau menyelam, melihat terumbu karang. "
"Ih kenapa lu gak bilang, gw juga mau... temenin gw dulu ntar kita lihat trumbu karang bareng" Bujuk Bulan lagi.
"Bulan, lu udah sedari tadi maen. Emang lu gak capek apa?" tanya Vano heran.
"Hahaha Bulan mana bisa lelah kalau soal air. Gw kasih tau lu ya Vano, lain kali jangan mau di ajak bulan ke air. Ntar lu di paksa jadi ikan,di ajak berenang bareng menyusuri lautan." ledek Bintang.
"Bintang.... awas lu ya... " seru bulan pada saudara kembarnya yang sudah berada Menjauhinya.
"Lan, gw tunggu di sana" ucap Vano sambil mengangkat ponselnya.
Belum juga Bulan mengangguk atau berkata iya. Vano sudah langsung kabur bersama sambungan telepon nya.
Siapa sih yang nelpon? seperti nya penting banget
Tanya Bulan dalam hati,kekesalan nya semakin bertambah melihat Vano menjauhinya ketika menerima telpon.
Dan bukan Bulan namanya kalau mudah menyerah, tanpa Vano dan Bintang Bulan tetap ingin bermain flyboard.
"Pak tiket flyboard satu ya"
"Maaf non,pemandunya lagi pergi. Kalau memang nona mau.Nona bisa naik bareng lelaki itu" pemandu wisata itu menunjuk lelaki berkaus putih yang sedang bersiap memakai alat di kakinya.
Bulan menatap intens lelaki itu, seperti nya Bulan kenal.
Lelaki itu membuka kacamata hitam yang menutupi bagian matanya.
Wah itu kan si abang polisi?
"Baaangggpooooll gw ikut.... " teriak Bulan sambil berlari mendekati Riyan. Bulan tak ingin kehilangan momen indah bermain flyboard
"Ayo pak cepat pasangin" seru Bulan.
Entahlah hatinya tiba-tiba menjadi riang, ia merasa telah mengenal si bangpol. Tanpa meminta persetujuan lelaki itu,bulan sudah berdiri sejajar di depan Riyan.
Tidak berkomentar, Riyan hanya memperhatikan Bulan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wanita itu terlihat seksi dengan pakaian renangnya. Walau tidak fulgar, tapi cukup menunjukkan liukan tubuh Bulan.
__ADS_1
"Maaf mas bisa peluk mbaknya,biar gampang menjaga keseimbangan" tutur sang pemandu.
Dengan sedikit ragu-ragu, Riyan menyentuh pinggang Bulan.
"Maaf mas tolong lebih dekat lagi" tutur pemandu itu sambil memperagakan.
Riyan mengeratkan kedua tangannya menyatu di perut Bulan. Tubuh mereka benar-benar tak lagi berjarak.
Seperti nya Dewi fortuna sedang memihak pada polisi tampan itu.
Ini sih cerita nya kamu menang banyak Riyan...
Riyan tersenyum lebar, ujung bibirnya tertarik begitu saja.
"Kamu siap? " bisik Riyan
"Siiiiiyaaaaap" seru bulan penuh semangat.
"Tidak takut? " bisik Riyan lagi
"Tidak dung, Rembulan tidak pernah takut! " Jawa bulan lagi.
Bulan begitu terbakar semangat, hingga ia tidak menyadari bahwa ia sedang berada di dalam pelukan lelaki yang masih tergolong asing baginya.
Tapi rasa nyaman, Bulan merasa begitu nyaman.
Perasaan nyaman itu menghapus jarak di antara keduanya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... "
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Bulan teriak sekencang-kencangnya... saat tekanan air yang begitu kuat itu mulai mengangkat tubuh Bulan dan Riyan melayang ke udara.
Tak bisa di jelas kan dengan kata-kata betapa bahagianya bulan pada saat itu. Apalagi saat Riyan membuatnya seperti menari-nari di atas air.
wanita itu merasakan sensasi yang luar biasa, gerakan lincah Riyan benar-benar membuat bulan melayang-layang di udara.
Aaaaaaaaaaa
AAAAAAAAA
aaaaaaaaaaa
Dua puluh menit, tak terasa...
Waktu seakan mengalir begitu cepat. Dengan berat hati Riyan terpaksa melepaskan dekapan nya.
"Gimana? kamu suka? " tanya Riyan
"Iya gw suka, malahan kalau boleh nambah satu kali lagi" tantang Bulan.
"Boleh asal kamunya masih kuat"
"Kuat lah, Rembulan selalu kuat jasmani dan Rohani"
"Udah la, seperti nya saya yang gak kuat"
"Kenapa? " tanya Bulan penasaran, wanita itu mana mungkin faham bahwa Riyan adalah lawan jenis yang normal.
"Nih pakai ini... " Riyan menyodorkan kemeja panjangnya.
__ADS_1
"untuk apa?"
"Pakai itu, biar kulit lu gk terbakar matahari"
"Gak perlu, gw udah pakai sunblock"
"Udah pakai aja, sunblock tidak bisa melindungi kulitmu dari pandangan laki-laki"
Bulan melihat dirinya sendiri, "perasaan gak ada yang aneh" gumamnya lirih.
Dengan kesal Riyan meraih kemeja itu dari tangan Bulan,lalu segera memakai kan nya pada Bulan.
Bulan hanya menurut, dalam beberapa detik. Mereka begitu dekat,Bulan melihat wajah Riyan dengan jarak hanya beberapa centi meter.
" Terik matahari tidak berbahaya, yang berhaya itu pandangan mata orang lain! " seru Riyan. Lalu pergi meninggalkan wanita itu.
Bulan terkesima, tanpa kata. Bulan hanya menatap sosok lelaki itu hingga menghilang.
"Aduh kenapa gw gak tanya namanya?" Bulan menepuk jidat, setelah sadar atas kebodohannya.
"Seharusnya gw minta nomor kontaknya, biar besok bisa gw ajak main lagi" ucapnya lirih.
Yang bulan pikir kan hanyalah asiknya bermain flyboard. Bukan arti orang yang sudah berhasil membuat nya merasa asik.
"Oh iya Vano kemana ya?"
Bulan mengedarkan pandangan nya, namun sosok yang ia cari tidak ia temukan.
Bulan mengangkat bahunya acuh,ia meraih tasnya dan kembali bergabung di sebuah pondok kecil tempat oma duduk menunggu nya.
Brukkk...
Bulan membanting tubuhnya di sebelah oma Margaret.
Bulan Senyum- senyum sendiri, membayangkan dua puluh menit tadi. Waktu singkat itu kini cukup menyita perhatian nya.
"Kenapa princes Oma,sebegitu seneng nya sampai senyum- senyum sendiri" goda Oma.
"Is Oma apa'an sih?" sungut Bulan tersipu malu.
Oma paham betul, bagaimana perasaan anak muda yang sedang berbunga-bunga.
"Vano mana?" tanya Oma
Bulan mengedikkan bahunya acuh " Mana Bulan tau"
"Bukan nya sedari tadi sama Bulan terus?"
"Dia pergi katanya terima telfon bentar, eh tapi nyatanya lama banget dan ngilang aja gak tau kemana"
"Jadi sedari tadi Bulan main sendiri?"
"Ya gak lah Oma,di temenin sama Vano. Cuman waktu bulan ke flyboard Vano nya ngilang"
"ngilang kemana?" tanya Oma lagi.
"Ya mana bulan tau Oma,udah ah Bulan laper. Makan yuk Oma" rengek Bulan.
"Tunggu Bintang dong"
"Bintang udah gedek Oma,entar dia juga cari makan sendiri kalo laper. Kalau kita nungguin Bintang keburu Bulan mati kelaparan" protes Bulan.
"Iya deh iya... princess Oma" jawab Oma sambil menjembil pipi Bulan gemas.
__ADS_1
"Oma Bulan udah gedek juga, jangan cubit-cubit pipi dikira Bulan anak Tk" protes Bulan lagi.
"Seberapapun besar dan tinggi nya badan Bulan sekarang.Tapi bagi Oma Bulan itu tetap princess kecilnya Oma" ungkap Oma Margaret sambil mengulangi gerakan menjembil pipi Bulan.