
Andini POV
Awalnya hatiku sangat bahagia,karena Danu menuruti permintaanku untuk membantu Bagas.Aku sangat bersyukur karena mas Danu suamiku bisa berbesar hati untuk hal ini.Aku sadar jika aku dalam posisinya,belum tentu aku bisa berlapang dada sepertinya.
Saat sampai di Club malam itu.Terlihat mas Bagas benar-benar sudah tak sadarkan diri.KepLanya tergeletak di atas meja yang di penuhi oleh beberapa gelas kotor dan dua botol minuman beralkohol.
Melihatnya sungguh membuatku iba.Semenjak mengenalnya baru kali ini aku melihat mas Bagas dalam kondisi seperti ini.Karena setahuku,mas Bagas bukan tipe lelaki pemabuk seperti yang di ungkap Bily padaku.Kata Bily mas Bagas meracau dan menyebut-nyebut namaku.Apa yang terjadi padanya?apa dia sedang bertengkar dengan kiara?.Apa sebegitu cintanya kamu mas pada Kiara hingga kau se frustasi ini saat bertengkar padanya.Padahal dulu saat bersamaku,kau tidak pernah seperti ini mas.
Entah kenapa saat ini aku tidak merasakan sakit seperti dulu ketika bertemu dengan mas Bagas.Hanya ada rasa kasihan,tidak lebih dar itu.
Setelah melewati beberapa pertanyaan dari Bily,akhirnya Bily memapah tubuh mas Bagas menuju mobil.Saat mas Danu melarangku menyentuh mas bagas,hatiku masih merasa bahagia.
Namun saat wanita jelmaan itu tiba-tiba tiba datang dan bergelayut di pundak suamiku.Hatiku bagaikan tersambar okeh petir.Apa lagi saat melihat wanita itu mencium bibirnya.Darahku langsung mendidih penuh amarah.Sepertinya hubungan mereka sangat dekat.Yah tentu saja,kenapa aku bisa melupakan bahwa suamiku adalah si kadal buntung yang sangat mahir dalam merayu wanita.Dan sakitnya,kini akupun sudah terjebak dalam cinta palsu nya.
Aku mengusap kasar air mata di pipiku.Hatiku benar-benar terasa sakit.
Mas Danu berusaha menjelaskannya padaku.Namun aku tidak peduli.
Setelah mengantar mas Bagas pulang kerumah ibunya.Kami langsung pulang menuju rumah baru yang tercantum sebagai mahar pernikahan ku tadi.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan melemparkan pandangan keluar jendela.Aku tau mas Danu terus melirikku dan mencoba untuk membujukku.Namun bayangan wanita tadi masih menari-nari di benakku.Hatiku masih terlalu sakit.
Saat tiba di rumah itu.Rumah ku maksudnya,karena kan sudah sah di berikan atas namaku.
Aku sempat terperangah melihat rumah mewah yang ada di depan mataku.Tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya bahwa aku akan memiliki rumah semegah ini.Sejenak aku merasa bersyukur karena Allah menghadiahkan mas Danu untukku.
Namun mengingat kejadian di Club' tadi.Rasa syukur itu sirna begitu saja.Wanita mana yang rela melihat suaminya berciuman dengan wanita lain di depan matanya sendiri.Jangan aku,malaikat pun mungkin marah jika suaminya seperti itu.
Saat memasuki rumah,ternyata sudah ada dua orang pembantu yang yang sudah menyambut kami.Satu seorang wanita paruh baya dan satu lagi seorang laki-laki paru baya juga.
"Selamat malam tuan,selamat malam nyonya" mereka menyapa kami dengan sangat ramah dan sopan.
"Malam bik,malam mang" balas mas Danu dengan tersenyum.Sementara aku hanya diam tanpa kata,walau sebenarnya aku sangat ingin menyapa mereka juga.Tapi hal itu terpaksa aku urungkan karena masih dalam keadaan marah mode on.
"Sayang perkenalkan ini bik iyem dan ini mang Udin"
__ADS_1
Mas Danu mencoba memperkenalkan mereka dengan sangat ramah.
"Mana kamarku" tanyaku angkuh.Maaf ya bik Iyem dan mang Udin.Bukan maksud saya untuk sombong,tapi cuma lagi e "negh" aja sama paksu yang ada di depan ini.
"Mari non saya antar" bik iyem mempersilahkan aku dengan lebut dan sopan.
Bik Iyem berjalan pelan di depanku.Aku dan mas Bagas mengikuti di belakang seperti anak ayam yang mengekori induknya.
"Ini non kamar utamanya" ucap bik Iyem sambil membuka pintu.
Ya allah,kamar ini bagus banget.Di atas ranjang terpampang foto preewed kami dengan ukuran yang sangat besar.Di dalam foto itu aku dan mas Bagas terlihat begitu larut dalam kebahagiaan.
Dan di atas ranjang sudah terhias bunga-bunga berbentuk love menunjukkan suasana romantisme pengantin baru.Kamar ini sangat luas,sudah mirip kamar hotel yang ada di Korea waktu itu.Di sudut kiri kamar itu ada ruang yang berisikan lemari-lemari pakaianku dan mas Danu.Sepatu,tas,topi,jam tangan dan beberapa aksesoris lainnya.Semuanya sudah tersusun dengan sangat rapi.Di samping ruangan itu ada ruang kamar mandi yang berisikan lengkap dengan semua kebutuhan dan peralatan mandi.
"Mau apa?" tanyaku waspada saat mas Danu mulai membuka kancing bajunya.
"Ya mau mandilah" jawab mas Danu cepat dan langsung menuju kamar mandi.
Aku memandang punggungnya hingga menghilang.
Dada bidang dan perut sispack nya membuatku menelan Saliva dengan sangat susah.Ia mengusap-usap kasar rambutnya yang basah.Aroma maskulin menyeruak panca indra.
Melihat pemandangan itu,sejenak membuat ku langsung terhipnotis.Untung aku segera sadar sebelum suamiku si kadal buntung itu menyadari bahwa aku sedang terpesona oleh ke "manly-an" nya.
Dengan cepat aku menundukkan pandanganku dan langsung menuju kamar mandi dengan sebuah gaun malam yang sudah ada di tanganku.
Setelah selesai membersihkan diri.Dengan ragu-ragu aku memakai gaun malam yang baru saja aku ambil tadi dari lemariku.
Aku menatap tubuhku di pantulan cermin.Gaun ini sedikit transfaran.Namun inilah gaun yang paling sopan yang ada di lemari itu.
Walau merasa sedikit aneh.Aku memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi dan duduk di depan kaca hias yang sudah tersedia semua peralatan make-up yang aku butuhkan.
Dengan perlahan aku menyisir rambutku yang basah.Karena tadi rambuku habis di Sasak membuat rambutku sedikit sulit untuk di sisir.
Tiba-tiba sepasang tangan mas Danu menyentuh kepalaku.Ia meraih sisir di tanganku dan membantuku menyisir rambut panjangku dengan perlahan.
__ADS_1
Setelah rambut kusutku sudah terurai dengan benar.Mas Danu membantu mengeringkan rambutku dengan menggunakan hair dryer.
Sambil menunggu rambutku di keringkan oleh mas Danu.Aku memakai riasan tipis di wajahku.Berdandan adalah salah satu ritual sebelum tidur.Agar tetap terlihat cantik.
Usai acara ritual itu,aku beranjak dari dudukku dan langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang tanpa memperdulikan mas Danu yang masih menatapku dengan sebuah hair dryer masih berada di tangan nya.
Mendengar langkah mas Danu mendekati ku,aku langsung menarik selimut sampai di atas dada.
"Sayang maafkan aku" ucap mas Danu sambil mengusap kepalaku lembut.Entah kenapa setiap mas Danu melakukan hal ini,membuatku langsung luluh.Namun aku masih tak bergeming,bayangan wanita itu masih terlihat jelas dalam ingatan.
"Sayang maaf" suara memelas nya sungguh membuatku tidak tega.Namun aku masih berusaha menunjukkan kemarahanku.
"Iya aku akui,aku memang mengenalnya dan pernah bercinta dengannya" Duarrrr pengakuan itu bagaikan bom atom yang di ledakkan di hatiku.Hati ini rasanya hancur berkeping-keping.
"Tapi itu hanya sebuah masa lalu sebelum aku mengenalmu,setelah mengenalmu sungguh aku benar-benar sudah meninggalkan semua kenangan itu" Mendengar penjelasan mas danu bahwa itu hanya masa lalu,aku sedikit bernafas lega.Karena setiap manusia pasti memiliki masa lalu begitupula dengan aku.
Aku berbalik dan menatap wajahnya sendu.
"Sudah berapa kali kau bercinta dengannya mas?" tanyaku dengan penasaran.
"Emmmm" dia tampak berpikir keras. "Dua eh satu eh iya satu,satu kali" sungguh jawaban yang tidak meyakinkan.
"Satu,dua atau banyak" seru ku kuat.
"Banyak" jawabnya cepat lalu segera menutup mulutnya dengan tangan. Walau sudah ku duga,tapi tetep saja aku merasa sakit yang begitu dalam.
"Ya aku lupa,satu atau dua atau mungkin banyak.Tapi itukan dulu sayang,aku bener-beber minta maaf jika masa lalu ku menyakitimu.Ku akui aku memang lelaki jahat.Aku suka mempermainkan wanita,tapi itu dulu sayang.Sekarang tidak lagi.Sekarang aku hanya mencintaimu Andini.Cuma kamu yang ada di hatiku" aku harap apa yang di ucapkan mas Danu itu adalah sebuah kejujuran.Jika itu hanya masa lalu,aku harus berusaha menerimanya.Karena mas Danu juga menerima masa laluku.
"Jika itu hanya masa lalu,kanapa tadi kau menikmati ciumannya" membayangkan ciuman itu membuat bendungan air mataku pecah.
"Aku tadi hanya kaget,sayang.Pliss percaya lah padaku.Aku tidak bohong" ucapanya dengan gerakan ingin memelukku. "Maaf mas aku perlu waktu untuk bisa menerima semua ini,karena adegan mu tadi benar-benar menggores luka lama di hatiku" ucapku jujur.Dan menolak pelukan darinya.
Aku merebahkan tubuh dengan arah berlawanan dari mas Danu .Sementara mas Danu hanya bisa menatap istrinya,rasa sakit yang Andini rasakan.
Malam pertama yang seharuse indah kini justru malah berubah menjadi duka .
__ADS_1