
Sesampai di kamar,Danu melempar tubuh Andini hingga tersungkur di lantai. "Apa kau menyukainya?" tuduh Danu masih dengan emosi yang membara.
Andini tidak bergeming,ia menundukkan pandangannya.Kemarahan Danu malam ini membuatnya takut,bahkan hanya sekedar menatap wajah Danu ia tak berani.
Sejak kecil Andini tidak pernah di perlakukan dengan kasar.Bahkan saat bersama bagas,Andini juga tidak pernah di perlakukan seperti ini.Sikap baik Bagas membuatnya tidak pernah mencurigai penghianatan nya.
Tapi kali ini,Andini baru mengerti betapa mengerikan nya amarah Danu.Lelaki yang belum lama ini sah menjadi suaminya,memperlihatkan sisi buruk yang tak pernah Andini pikirkan sebelumnya.
Sementara Danu.....
Ia terbiasa hidup sesuai dengan kemauannya.Selalu mendapatkan apa yang dia inginkan,mengatur orang dengan satu telunjuk.Bahkan menaklukan wanita dengan begitu mudah.
Kebiasaan hidup yang sudah seperti seorang raja.Membuatnya tidak bisa menerima apa yang sudah menjadi miliknya di sentuh orang lain.Apalagi sesuatu yang sangat ia sayangi.
"Apa kau menyukai si brengsek itu? Danu melempar botol minuman ke arah cermin yang ada di sudut ruangan itu.Amarah Danu kembali tersulut mengingat tawa Andini yang begitu lepas saat bersama Steven.Andini meringkuk di hadapan Danu.Tangannya gemetar,menutupi wajahnya.
Sementara Beri mondar-mandir di depan pintu kamar Danu, penuh kecemasan.Sesekali ia menempelkan telinganya ke pintu.Namun tetap tidak bisa mendengar apapun karena ruangan itu kedap suara.
Karena sangat bersemangat menguping,membuat Beri tanpa sengaja membuka pintu itu dengan dorongan kepala Beri.Mata Beri langsung terbelalak saat melihat kondisi kamar yang sudah porak-poranda.Lebih kacau dari dari sebelumnya.
Beri ingin menenangkan Andini yang tengah menangis ketakutan.Tapi mengingat Danu kini menjadi pencemburu akut membuat Beri mengurungkan niatnya.Apa lagi saat ini sahabatnya itu sedang penuh emosi.
"Nu mari kita bicara di luar sebentar" Beri menarik tangan Danu.Beruntungnya kali ini Danu menurut pada Beri.
Beri membawa Danu kekamarnya.Mungkin lebih baik mereka di pisahkan dulu sampai emosi Danu reda.Pikir Beri.
"Kenapa harus ke kamar lu? mau ngomong apa?" Dengus Danu ketus.
Ya Allah lindungi lah aku,anak ini ternyata benar-benar seperti papi nya.Kalau sudah marah..membuat jantung serasa mau copot....sungguh memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.....
Beri menghela nafas dalam,mencoba menyusun kata yang tepat untuk membuat Danu mengerti.Kini ia sudah seperti orang tua yang sedang membujuk anaknya.
"Mau ngomong apa?ayo cepat katakan !" seru Danu kuat.
Karena suara Danu yang meninggi,membuat semua kata yang tengah di susun Beri buyar begitu saja. "Ke kenapa lu jadi tempramen seperti ini?" walau sedikit terbata-bata tapi Beri mengucapkannya dengan nada yang tidak kalah tingginya dengan suara Danu.
Tapi beruntungnya lagi Danu hanya diam dan tidak membalas dengan emosi.
"Apa ini tujuan lu datang kesini?....lu bahkan sudah berubah,tidak seperti Danu yang gw kenal.Hanya karena masalah sepele." ungkap beri lagi.
"Sepele lu bilang?" tanya Danu geram.
"Yah sepele! kau bahkan seperti anak-anak usia 3 tahun yang tidak ingin ibunya di sentuh oleh orang lain" dengus beri dengan wajah sinis.
"Andini itu juga manusia sepertimu,memiliki teman,keluarga,suka hidup bersosial,dan memiliki impian.Coba pikirkan baik-baik,apa pantas kau cemburu pada kakaknya hingga membuatnya pergi?lalu memukuli temannya sampai seperti itu.Apa itu tindakan orang dewasa?hanya karena lu melihat Andini berjalan berdua dengannya.Lalu bagaimana perasaan Andini saat melihat lu berciuman dengan wanita lain waktu itu?" Beri memberanikan diri untuk mengungkap semua isi di hatinya.
Sementara Danu langsung melirik Beri tajam,saat mendengar Beri menyinggung kesalahannya..
"Aku tidak suka melihatnya tertawa begitu lepas dengan orang lain" ucap Danu jujur.
"Lalu kau lebih suka melihatnya menangis sampai ketakutan seperti itu?" tanya beri lemah.
__ADS_1
Danu hanya terdiam,menyadari perbuatannya.
Akhirnya Beri bisa bernafas sedikit lega.Karena emosi Danu sudah mulai reda.
"Nu... bukan maksud gw untuk mencampuri urusan pribadi lu.Dan gw juga tau lu seperti ini karena lu sangat mencintai istri lu.Tapi istri lu juga butuh ruang untuk bergerak.Jangan terlalu mengekangnya." Beri menghela nafas dalam.
"Kata orang,cinta itu ibarat pasir jika lu menggenggamnya begitu erat,maka ia akan lepas dari sela-sela jarimu.Dan jika lu membuka genggaman tanganmu maka ia akan berhamburan tertiup angin.Maka genggamlah pasir itu dengan lembut.Lu seharusnya memberikan kepercayaan pada Andini.Percaya bahwa dia tidak akan mengecewakanmu...Jika lu mengatakan cinta,maka lu harus menggenggamnya dengan cinta.Bukan dengan ambisi besar untuk menguasainya.Bagaimanapun,Andini bukan robot yang sistemnya bisa lu sesuaikan sesuai dengan keinginan lu. " Beri menyentuh pundak Danu,mencoba menenangkan hati Danu yang sedang kacau.
"Pernikahan yang baik tidak karena salah satu pihak berhasil mengendalikan,tapi karena kedua pihak memiliki pengertian.Marah itu wajar,tapi tidak MARAH-MARAH!ungkapkan ketidak nyamanan kita dengan bahasa yang baik" ucap beri yang tiba-tiba menjadi bijak.
Danu mengusap wajah dengan kedua tangannya.Di dalam hatinya bertanya-tanya kenapa aku bisa seperti ini? Andini aku tidak ingin kehilanganmu,maafkan aku.
"Tunggu sebentar di sini" seru Beri sambil mendudukkan Danu di tepi ranjang nya.
"Lu mau kemana?" tanya Danu ketus.
"Mau liat istri lu siapa tau dia kabur lagi" ucap Beri sambil melangkahkan kakinya keluar.
Mendengar ucapan Beri membuat Danu langsung beranjak dari duduknya dan melangkah cepat mendahului Beri.
Saat ia membuka pintu,terlihat Andini sudah tergerak di lantai dengan wajah pucat.
"Andini" seru Danu sambil menyentuh tubuh istrinya yang terasa sangat panas.Lalu ia langsung membopong tubuh Andini.
"Ber ayo ke rumah sakit Andini pingsan" seru Danu panik.
Mendengar instruksi Danu,Beri langsung segera berlari menyiapkan mobil.
Karena terlalu terburu-buru,saat di parkiran Beri menabrak seseorang "Maaf maaf saya tidak sengaja" ucap Beri panik. "Loh kamu?" sambung beri lagi saat menyadari bahwa orang itu adalah Steven.Namun Steven hanya tersenyum samar melihat Beri. "Kenapa kamu ada di sini?.....ah tapi ya sudahlah,gw buru-buru" Beri mengenyahkan rasa penasarannya karena terlalu khawatir pada Andini.
"Andini pingsan,kami akan membawanya kerumah sakit" jelas Beri jujur.
"Pak tunggu!" seru Steven sambil menarik lengan Beri.Lalu menghela nafas dalam."Pak tolong berikan ini pada pak Danu.Balur kan ini ke tubuh Andini,mungkin dia demam karena kedinginan.Dan setelah dia sadar tolong berikan obat ini padanya,setelah satu jam beri dia makan.Oh ya untuk sementara tolong jangan berikan Andini makanan pedas karena ia memiliki penyakit lambung " ucap Steven sambil mengulurkan minyak kayu putih yang ada di tangannya.
Dengan cepat Beri meraih minyak kayu putih itu "Terimakasih" ucap beri sambil menstater mobilnya lalu meninggalkan Steven.
Di dalam mobil....
Danu tampak begitu cemas menatap wajah istrinya.Ia benar menyesali perbuatannya tadi.
Andini.....maafkan aku....ku mohon maaf kan aku...bangunlah jangan seperti ini....aku tidak mau kehilanganmu....aku akan menuruti semua maumu,asal kau tetap berada di sisiku...jangan menyiksaku seperti ini....
Beri menatap wajah sendu Danu lewat spion.Lalu ia teringat akan sesuatu yang di berikan Steven saat di parkiran.
"Nih,baluri tubuh dan telapak tangan serta kakinya pakai ini" Beri menyodorkan minyak itu ke hadapan Danu.
Dengan cepat Danu melakukan sesuai instruksi Beri.Dan menempelkan minyak itu mendekati hidung Andini.
Setelah beberapa menit Andini akhirnya tersadar. "Loh mas kita mau kemana?" Andini langsung melontarkan pertanyaan saat mendapati dirinya berada di mobil.
"Syukurlah kamu sudah siuman,tadi kamu pingsan.Ini kita menuju rumah sakit" jelas Danu lembut.
__ADS_1
"Coba minum obat ini" Beri mengulurkan obat yang di berikan oleh Steven tadi.
"Obat apa ini?lu gila ya?sembarangan memberikan istriku obat.Bagaimana kalau obat itu tidak cocok dengannya?" seru Danu sambil memandangi obat di tangan nya.
Namun obat itu langsung di raih oleh Andini.Dan Andini langsung meminumnya.
"Tidak perlu ke rumah sakit,sebentar lagi aku juga akan baikan" ucap Andini memalingkan wajahnya dari Danu.
"Tapi....."
Danu langsung mengunci mulutnya setelah menadapat lirikan tajam dari Andini.
"Mas beri kita balik aja ke hotel,aku ingin istirahat" seru Andini.
Melihat Andini sudah bertenaga kembali,Beri pun langsung memutar arah mengindahkan permintaan Andini
"Awas aja kalau sampai Andini kenapa-kenapa,lu harus tanggung jawab Ber" ancam Danu penuh kekesalan,namun mengingat kejadian tadi membuat Danu harus berusaha menahan perasaannya.Karena tidak ingin membuat sang istri lebih marah lagi.
"Kenapa berhenti?" tanya Danu heran,karena Beri tiba-tiba menepikan mobil di depan mini market.
"Mau beli makanan,laper gw....." ucap Beri,temberang.Walau memang ia sedikit lapar,tapi niat sebenarnya ke mini market adalah mencari makanan untuk Andini sesuai pesan Steven tadi.
"Dasar otak makan" gerutu Danu.
Namun Beri tidak memperdulikan ucapan Danu.Baginya,mendengar cercaan Danu sudah seperti lalapan.Jika sehari saja,makan tanpa lalapan maka justru terasa aneh baginya.
Di mini market....
Beri memilih-milih jenis roti yang menurutnya cocok untuk Andini.Ingatannya masih tertuju pada Steven saat di parkiran.
Hahaha keren juga tuh bocah,semua sarannya manjur....sepertinya dia memang lebih memahami Andini daripada si Danu suami pencemburu akut itu....
Beri meletakkan keranjang roti dalam keranjang belanja sambil senyum-senyum sendiri.Beri tidak bisa membayangkan jika Danu tau Beri menggunakan saran Steven untuk menyadarkan istrinya yang tengah pingsan.Mungkin Danu bisa uring-uringan lagi,karena sejatinya Danu memang orang yang tidak mau kalah.Mungkin karena terlahir tanpa saudara,jadi membuat Danu selalu ingin menang sendiri.Begitulah pikir beri.
Tak lama kemudian,akhirnya Beri masuk kedalam mobil dengan membawa banyak makanan.
Beri melirik kedua insan yang masih saling mengunci mulutnya karena.
"Apa kalian tidak lapar?" tanya beri santai sambil membuka bungkusan roti kesukaannya.
Mata beri masih tertuju pada spion. "Marah juga butuh tenaga loh,makan roti bisa menambah energi...." sindir Beri sambil mengunyah roti dengan teratur... "Hmmm rasanya enak juga gurih dan ada manis-manisnya seperti cintaku pada ica" celoteh Beri dengan mulut terisi penuh.
"Bisa diam tidak!" seru Danu dan Andini bersamaan.
"Wah kalian kompak sekali,benar-benar pasangan serasi" Goda Beri mencoba mencairkan suasana.
Namun yang di goda masih enggan untuk bicara.
Dengan santai Beri melajukan mobil.walau jalanan terlihat sepi namun Beri masih begitu santai melajukan mobil dengan kecepatan rendah.
"Ini mobil atau siput" protes Danu dan Andini bersamaan lagi.
__ADS_1
"Sudah dua kali loh kompaknya,kalau sampai tiga kali berarti......jodoh" goda beri lagi, "DIAM...." seru Danu dan Andini secara bersamaan lagi.
"Wah kalian benar-benar jodoh yang ideal" goda beri sambil menancap gas mobilnya.Jangan sampai ia terkena imbas dari pertengkaran mereka.