
"Saya hanya ingin sekedar memberi tahu Abang,agar tidak terlalu khawatir. Andini sekarang lagi bersama saya,saya tadi tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Untuk menghindari kesalahpahaman saya juga baru saja menghubungi Mela. Katanya dia akan segera datang.
Rencananya saya akan mengantarkan Andini kerumah lama mereka. Di temani oleh Mela juga."
Akhirnya Danu bisa bernafas sedikit lega,setelah membaca pesan WhatsApp dari Steven.
Entahlah,lelaki itu...selalu saja hadir di saat Andini sedang membutuhkan. Allah selalu mengirimkan Steven sebagai malaikatnya penolong nya.
"Terimakasih,saya akan segera kesana"
Danu membalas nya dengan cepat.
"Seperti nya mungkin lebih baik Abang tidak usah kesini dulu, karena Andini bilang dia akan pergi jauh jika saya memberi tahukan keberadaan nya kepada Abang"
Danu mengerutkan Dahinya,kembali menarik napas dalam.
Mungkin Andini perlu waktu untuk menenangkan pikiran nya. Pikir Danu.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Alhamdulillah Andini dalam keadaan baik,hanya saja ia tidak ingin bicara apapun"
Ternyata dia tidak menceritakan nya...
"Ya sudah bang,Mela sudah datang. Saya tidak ingin Andini curiga. Dan saya harap Abang tidak salah paham lagi"
Steven mengirim kan foto Mela dan Andini,ia berusaha menjelaskan bahwa ia hanya ingin membantu Andini .Tidak lebih.
Dengan karakter Danu yang kaku, sebisa mungkin Steven tidak ingin menumbuhkan kesalahpahaman diantara mereka.
"Iya,sekali lagi terimakasih. Dan tolong kabari saya terus"
Danu menyimpan ponselnya kembali di dalam saku celananya.
Kali ini bukan cemburu,tapi ia merasa malu pada lelaki itu. Ternyata orang yang pernah ia benci, berkali-kali sudah membantu nya.
Danu mendengus kesal pada diri nya sendiri.
Ia merasa bersalah dan terlalu kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah.
"Ayo pulang"
ujarnya pada Beri.
Lelaki berbadan besar itu melirik sahabat nya yang sedang merebahkan kepalanya ke jog mobil sambil terpejam.
"Andini sedang menuju rumah lamanya,di antar oleh Steven" sambung Danu dengan nada berat.
"Walau usianya lebih muda dari Lu, tapi Steven memang lebih tau bagaimana caranya menangani Andini daripada lu"
Ucap Beri sambil memutar balik mobilnya. Akhirnya, adegan berkeliling sudah selasai.Pikirnya.
Sementara Danu hanya bisa melirik Beri tajam,karena tidak terima ia di banding-bandingkan dengan Steven.
"Tidak perlu marah, terkadang kenyataan itu memang menyakitkan"
Sambung Beri lagi...dengan pandangan yang masih terpokus pada jalanan.Namun ia juga bisa merasakan ada aura negatif yang berasal dari sebelah nya.
Danu mengerutkan alisnya,kedua bola matanya masih melirik Beri yang sengaja menyindir.
"Huh kasian sekali anak itu,dia begitu baik dan tulus. Walau cintanya tak berbalas. Padahal wajahnya lumayan tampan"
Lagi-lagi Beri sengaja memuji-muji Steven di hadapan singa.
__ADS_1
Untung saja kali ini si singa sedang kehilangan taringnya.
Danu kembali menutup matanya,melipat tangan di atas dada dan mencoba memejamkan mata. Ia sangat tau Beri sengaja memancingnya Tapi ia juga sadar bahwa semua yang dikatakan Beri adalah fakta.
Sesampainya di rumah,papi Yoga sudah duduk di ruang tamu mereka.
Bugkh...
Sebuah pukulan keras langsung mendarat ke pipi Danu.
Danu tidak berani memandang wajah papinya. Ia hanya menunduk dan mengusap-usap pipinya yang terasa sakit.
"Aku tidak pernah mendidik mu untuk jadi seperti ini"
Papi Yoga melempar foto Danu dan Airin yang sedang berciuman di hadapan Danu.
Mata Danu langsung terbelalak, mungkin kah karena foto-foto ini Andini pergi. Pikir Danu.
"Aku tidak ada hubungan dengannya Pi" seru Danu.
"Lalu apa artinya ini?" tanya papi Yoga penuh emosi.
"Ini tidak seperti yang papi pikirkan" Seru Danu sambil memandangi foto yang terkesan mesra itu.
Walau sedang mabuk,pada saat itu Danu masih bisa mengingat nya.
Tiba-tiba Airin muncul di depan kamar hotelnya saat di Jepang. Dan wanita itu langsung mencium bibir Danu dengan begitu penuh gairah. Sesaat karena pengaruh alkohol Danu juga menikmati ciuman itu. Tapi.... setelah beberapa menit Danu menyadari nya. Dan mendorong Airin sekuatnya,lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa kau bisa pergi bersama nya, bukankah sudah papi katakan harus menjaga jarak padanya. Kamu ini sudah menikah,dan sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah. Apa pantas melakukan hal seperti ini?" teriak papi Yoga sangat marah.
"Aku tidak pergi bersama Airin. Aku juga tidak tau kenapa wanita itu tiba-tiba ada di depan kamarku. Pada saat itu aku aku terlalu banyak minum" jelas Danu jujur.
"Lalu apa yang kalian lakukan?" tanya papi Yoga dengan nada berat.
"Bukankah kau juga sudah tau apa motif nya berada di kantor kita? lalu kenapa kau bisa terjebak?" teriak papi Yoga lagi.
"Maaf Pi" Danu hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya,menahan emosi dengan wanita itu.
"Papi tidak mau tau, cepat kau bereskan masalah ini!"
Seru papi Yoga lalu pergi.
"Aaaaaaaaaa......"
Teriak Danu sambil menendang sofa melampiaskan emosi nya.
Tidak di sangka ia benar-benar jatuh dalam perangkap Airin.
Dengan napas memburu Danu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia meraih kembali ponselnya.
Ternyata benar, wanita itu sudah menyebar luaskan foto mereka ke internet.
Bukan masalah tentang komentar orang lain,tapi bagaimana dengan Andini? Mungkinkah Andini sudah melihatnya.
Danu merasa kalut,ia tidak tau harus bagaimana.
Bagaimana cara menjelaskan pada istrinya itu. Mungkin ini benar-benar keterlaluan.
Dan Andra? ....
Lelaki itu tidak akan tinggal diam melihat kondisi Andini seperti ini.
Mungkin sekarang ia belum tau,tapi cepat atau lambat pasti akan tau juga.
__ADS_1
Belum lagi mami Margaret?...
Tentu saja,papi tidak akan mengadu pada mami. Tapi mami sangat update di medsos,hanya tinggal menunggu waktu saja.
Bagaimana bisa dia menyakiti orang-orang yang ia sayangi. Terutama istrinya,Andini....
Danu membuang napasnya kasar....
Tidak tau harus berbuat apa. Rasa bersalah menyelimuti hati nya.
Bagaimana bisa dia membuat luka sedalam ini, terlebih saat istrinya sedang hamil.
Danu membanting tubuhnya di atas ranjang. Mencoba kembali memejamkan mata nya. Mengatur deru napas yang memburu.
Masih berusaha menenangkan diri sendiri dulu,agar bisa berpikir jernih. Namun bayangan wajah sedih Andini terus menari-nari di benaknya. Membuat nya mengerang frustasi.
Sempat terbesit di benak nya, bagaimana keadaan perusahaan setelah ini. Foto itu pasti akan jadi sekandal yang memalukan bagi perusahaan seligus keluarga besar Atmaja.
Danu kenapa lu bisa jadi sebodoh ini...
Danu beranjak dari ranjangnya,dan bejalan mondar-mandir merutuki kebodohan nya.
Menyelesaikan masalah tentu tidak akan semudah saat membuatnya.
"Nu...Nu..."
Tiba-tiba suara Beri terdengar sangat nyaring di teringa.
Ada apalagi sih sigendut itu,kenapa dia belum pulang?
Danu membuka pintu,lalu mendekati sumber suara itu.
Eh ternyata yang di cari sedang duduk santai sambil menikmati seporsi sate yang ada di hadapannya.
"Sialan lu ,dalam keadaan begini masih bisa makan . Otak gw udah mau meledak rasanya,lu malah makan..!" seru Danu sambil menghampiri Beri yang sedang asik menyantap makanan nya.
"Stres juga butuh tenaga kali,nih gw juga beli'in buat lu. Gw tau lu belum makan,nih sate enak banget....sumpah" jawab Beri dengan mulut terisi penuh.
"Gak berselera gw..." ucap Danu dengan nada berat.
"Udah sikat aja dulu, bagaimana bisa berpikir jernih kalau perut lu kosong. Bukan nya menyelesaikan masalah yang ada lu nya jatuh sakit..." ujar Beri sambil membuka bungkusan sate lalu menyodorkan nya pada Danu.
Bener juga kata Beri,pikir Danu. Danu memegang perutnya yang baru terasa lapar saat menghirup aroma sate khas Padang yang begitu menusuk di Indra penciuman Danu.
Ia baru ingat,sejak tadi siang belum sempat makan. Pantas saja perutnya terasa perih.
"Kenapa lu gak pulang?" tanya Danu sambil menyuap sate kemulutnya.
"Gw udah ijin sama ica,malam ini gw harus nemenin orang yang lagi dalam dilema. Karena kalau gak di temenin takutnya orang itu bisa kemasukan roh halus. Bisa habis nih perabotan rumah ia Telen satu persatu,kalau sudah masuk endangnya" canda Beri ,mencoba mencairkan suasana.
"Hahaha anjir lu,emang lu pikir gw kuda kepang!"
Danu tersenyum kecut, mendengar celoteh Beri. Disaat begini,si gendut itu malah ngebacot. Pikir Danu.
Tapi tidak ia pungkiri juga,bahwa bacotan Beri mampu sedikit memperbaiki hatinya yang tengah gusar.
"Makasih Ber,,,,"
Ucap Danu tulus,
"Jangan Baper dulu,bulan depan naik Kon gajih gw " canda Beri lagi. "Jangan lupa sertakan bonus juga, anggap aja malam ini gw lembur"
Danu tersenyum meringis,Beri memang paling tau bagaimana cara memperbaiki suasana hatinya.
__ADS_1
M