
Hari ini Andini melakukan cek-up rutin di setiap bukannya. Usia kandungan nya sudah memasuki di Minggu tiga puluh satu. Di perkirakan dalam Minggu ini sikembar akan lahir.
Kali ini Andini di temani oleh Steven dan Mela. Kedua sahabatnya itu sangat antusias menunggu kelahiran si kembar.
"Sayang coba lihat deh sikembar lucu banget..." seru Steven pada Mela. Karena terlalu gemas memandang foto hasil USG 4 dimensi sikembar. Repleks Steven menarik tangan Mela dan menggenggam nya erat.
Mela memandang ekspresi wajah tampan Steven. Sesaat ia berkhayal jika foto itu adalah foto bayi nya dengan Steven. Ia tersenyum lembut,meresapi dunia halunya.
"Makanya cepet dong halalin Mela,biar cepat punya baby seperti sikembar" celetuk Andini.
Mela pun langsung terbangun dari mimpinya, Hatinya mendadak terasa sesak saat menyadari bahwa hubungan mereka hanya pura-pura.
"Ya kamu tunggu aja kabar baiknya. Iyakan sayang?" ucap Steven dengan penuh keyakinan. Tangannya merengkuh wanita itu dengan hangat. Seolah ini bukan sekedar harapan semu belaka.
Sementara Mela?
Wanita itu hanya bisa meringis,menahan sakitnya kepalsuan yang di berikan Steven. Ia tersenyum getir, menutupi kegelisahan yang menyelimuti hatinya.
"Oke,aku do'akan semoga di segerakan" Andini dengan tulus mendo' akan sambil tersenyum kecil.
"Aminnn" Steven mengangkat kedua tangan dan mengusap ke bagia wajahnya. Ada gelenyar aneh di dalam hatinya. Sejak di rumah sakit waktu itu. Steven selalu merasa bahagia setiap kali ia mendapat do'a seperti ini. Tidak ada sedikitpun penolakan dari dalam hatinya.
"Jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati" bisik Mela ketelinga Steven.
Steven hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Mela yang sudah memerah. Sungguh itu terlihat menggemaskan baginya.
Steven menangkupkan kedua tangan nya ke wajah Mela. Sesaat pandangan mereka saling bertemu, jantung keduanya berdegup dengan kencang.
"Bersabar lah semua akan indah pada waktunya"
Steven memperdalam tatapan matanya,hingga ia dapat melihat wajahnya di bola mata
Mela.Begitupun sebaliknya,tubuh Mela tidak bisa menolak setiap sentuhan Steven. Ia selalu saja terlena setiap kali menatap mata itu.
"ehem ehem.....ehem..."
Andini berdehem,sambil terkekeh. Mereka berdua seperti sedang di mabuk cinta. Sehingga melupakan ada Andini di antaranya.
Mendengar suara itu, membuyarkan pandangan keduanya.
Mela kembali teringat oleh pacar pura-pura. Ia menghela napas berat. Kini ia benar-benar terbawa perasaan.
Sementara Steven?
Lelaki itu mulai menyadari,akan perasaan nya kali ini.
Benarkah aku sudah jatuh hati pada Mela?
Steven kembali menatap wajah Mela yang masih menunduk lesu.
Lalu pandangan nya ia alihkan pada Andini. Wanita yang selama ini membuat hati nya bergetar.
Namun entah mengapa kali ini,ia tidak bisa menemukan rasa itu lagi setiap kali memandang wanita itu.
Hanya ada sebatas rasa kemanusiaan. Tangannya tidak lagi ingin tergerak menyentuh nya.
__ADS_1
Steven memandang keduanya yang sedang asyik bercengkrama. Tidak perduli topik pembicaraan apa yang mereka bahas. Steven hanya ingin memastikan perasaan nya.
Keduanya tersenyum indah. Tapi bola mata Steven lebih memilih fokus pada wanita berambut ikal itu.
Fix....
Aku sudah jatuh cinta padamu Mela.
Hari ini Steven mengindahkan keinginan keduanya. Dari mulai berbelanja perlengkapan bayi,makan eskrim. Memasuki kelas mengurus baby sampai berbelanja perlengkapan wanita.
Steven bertahan dengan sabar,menjadi pak supir dan tukang angkat barang.
Tak jarang ia menggoda mela,sampai wajahnya berubah menjadi pink.
Dan tak jarang juga ia membuat bumil tertawa lepas saat melihat jiwa es batunya keluar, ketika bertemu dengan orang baru.
Namun langkah mereka tertahan,saat melihat sesosok pria bertubuh ideal sedang berdiri tegap tepat di hadapan nya.
"Andini ...aku ingin bicara" ucap Danu lirih.
Wajah Andini berubah sendu,ia menata kedua sahabatnya.
"Apa belum cukup luka yang kau berikan pada Andini ?" tuding Mela.
Namun Steven menarik tangan mela bergeser sedikit menjauh dari Andini dan Danu.
"Lepaskan...gw mau damprat itu si bajingan tengik. Gak nyadar apa perut istrinya Segede itu. Dia malah bikin ulah." Teriak Mela geram.
"Kamu tenang dulu Mel...." bujuk Steven..
"Sini duduk dulu.... jangan teriak begitu malu dilihat orang" Steven memegang pundak Mela dan memapahnya di Subah kursi panjang yang ada di pusat perbelanjaan itu.
Mela menoleh kanan kiri, ternyata memang banyak mata yang sedang memperhatikan mereka. Ia mengikuti arahan Steven. Duduk dengan tenang.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan tenang. Kita tidak perlu ikut campur dan mendikte siapa yang salah diantaranya" Steven menjedda...
"Setiap hubungan akan memiliki problem nya masing-masing. Setiap manusia bisa melakukan kesalahan,tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini"
"Gw dan lu hanya dapat melihat bagian luar dari hubungan mereka. Mereka yang merasakan, mereka yang menjalani. Kita sebagai teman hanya bisa mendukung setiap keputusan yang mereka pilih" jelas Steven lembut.
Akhirnya wanita itupun luluh,ia menghela napas panjang.Mencoba menahan segala kesal pada orang yang sudah melukai Sahabatnya.
Di tempat yang berbeda, Andini masih terdiam mematung. Bayangan tentang foto-foto itu masih tergambar jelas di benaknya.
"Maaf... Andini"
Ucap Danu lirih penuh penyesalan.
Tidak sedikit mata yang melihat,Danu memohon dengan memegang tangan Andini.
Andini menarik tangannya acuh. Lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Danu mengikuti langkah Andini " Din....kumohon dengarkan dulu penjelasan ku"
" Mari kita bicarakan ini di tempat lain. Aku tidak ingin masalah pribadi ku jadi konsumsi publik" ujar Andini pelan.
__ADS_1
Danu melihat di sekitarnya,ia baru menyadari bahwa ia sedang di perhatikan oleh banyak orang,namun Danu tetep tidak perduli dengan semua itu.
"Cari tempat yang cocok untuk kita bicara !"
seru Andini sambil sambil menutup pintu mobil.
Danu mengangguk dan mengikuti instruksi Andini.
Sepanjang perjalanan Andini hanya diam, sesekali Danu bertanya berusaha memecah keheningan. Namun Andini hanya mengangguk dan menggeleng.
"Mau kemana kita?"
"Terserah !" Jawab Andini dingin.
Danu memutar balik mobilnya,dan berbelok memasuki sebuah gedung yang sangat besar.
"Kenapa ke hotel?" tanya Andini
"Bukan kah tadi kamu bilang terserah" jawab Danu sambil membuka pintu mobil. Dengan segera membantu Andini yang sedang terlihat kesulitan untuk beranjak dari jog mobil. Andini meringis seperti biasa pinggang nya sering terasa begitu nyeri.
Danu mengulurkan tangannya "Ayo..."
"Aku bisa sendiri" dengus Andini.
Setelah mereka berjalan menyusuri sebuah lorong yang sepi,mencari kamar yang sudah di pesan. Tiba-tiba Danu menarik tangan Andini ke arah tembok sambil mendekap mulutnya.
Andini mencoba berontak namun sia-sia.
Danu menempel kan telunjuk ke bibirnya, sebagai kode untuk tetap tenang.
Setelah Andini mengerti Danu langsung meraih ponsel dari saku celananya. Diam-diam ia merekam sepasang kekasih yang sedang bercumbu di depan kamarnya.
Mata Andini terbelalak kaget,dan menutup mulut dengan tangan nya sendiri.
Bagaimana tidak, sepasang kekasih itu adalah Airin dengan seorang lelaki yang tidak di kenal.
Dengan tersenyum puas Danu terus merekam aksi mereka hingga mereka memasuki kamar dengan begitu bernafsu.
Danu dan Andini mendekati pintu itu, dengan pelan ia menarik handle. Lagi-lagi Danu tersenyum saat mendapati pintu yang terbuka dengan mudah. Perlahan Danu melanjutkan aksinya.
"Di ujung ada orang"
Bisik Andini pelan saat melihat seorang menuju kearah mereka.
Lalu dengan sigap Danu mengeluarkan kunci dari saku bajunya,berlaga seolah sedang mengunci pintu dan segera pergi menuju kamar mereka.
Di kamar hotel,Andini duduk di sebuah sofa sambil memijit kakinya yang terasa pegal karena terlalu banyak berdiri.
Telapak kaki Andini membengkak,dan terasa sangat berat.
"Apakah sakit?" Tanya Danu lembut.
Andini mengangguk kesakitan. Lalu ia mengeluarkan sebotol minyak gosok dari tasnya. Ia menekuk kakinya dan mengoleskan minyak ke bagian kakinya yang membengkak.
"Luruskan saja,biar aku olesi" Danu menarik kaki Andini dan meluruskan tepat dipangkuan nya.
__ADS_1
Ia mengoleskan minyak lalu memijitnya dengan lembut.