Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Menyesal


__ADS_3

Sinta tiba di kediaman Dirgantara. Tanpa menunggu Eleena keluar dari mobil, Sinta lebih dulu memasuki rumah itu. Masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya kuat.


Sinta menatap sekeliling kamarnya, ada warna merah menyala di mata Sinta. Amarah masih sangat dapat dirasakan di dalam diri wanita itu.


"Arrrgggghhhh!" Sinta berteriak. Dia memukul kuat meja rias. Membanting barang-barang yang ada di atasnya, bahkan wanita itu juga memberantakan selimut, bantal dan juga sprei kasur.


Wanita itu berteriak, menghancurkan barang di sekitar kamarnya. Bertemu dengan Rama dan bertengkar kembali dengan pria itu mengguncang Sinta. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan kembali bertengkar hebat dengan Rama seperti ini.


Seingat Sinta, dia semarah ini dengan Rama saat pria itu menikah dengan wanita lain padahal saat itu posisi Sinta masih menjadi istri sah Rama. Mereka belum resmi bercerai tapi Rama sudah mengkhianatinya. Menipu, mengkhianati, membohongi, menyakiti, sudah banyak hal yang dilakukan Rama pada Sinta.


"Aku benci sama Rama...." Sinta menangis, menyenderkan tubuhnya di dinding kamar. Wanita itu menangis sejadinya.


Pertengkaran dengan Rama di kampus Eleena, sangat melukai Sinta. Dia tidak pernah semarah ini pada orang lain selain Rama. Baik dulu ataupun sekarang. Rama sudah sangat mengecewakan Sinta dan Sinta pikir pria itu sudah berubah. Hal yang pria itu katakan sewaktu di halte pasal dia pernah memperjuangkan Sinta, Sinta itu rasa bohong.


Penilaian Rama terhadap Eleena dan keluarganya tidak pernah berubah. Bahkan Sinta terkejut Rama sampai membenci anaknya juga hanya karena kebenciannya pada Arjuna. Padahal itu sama sekali tidak ada kaitannya.


Kata-kata Rama untuk Eleena tidak pernah dibayangkan oleh Sinta. Dia tidak pernah menyangka bahwa akan ada yang mengatakan kalimat sejahat itu kepada anak satu-satunya.


"Aku benci..." lirih Sinta, masih menangis di kamarnya.


Wanita itu benci. Benci dengan fakta bahwa dulunya dia pernah begitu mencintai sosok Alrama Aksanta. Dia membenci kebenaran bahwa dia siap untuk melepaskan segalanya demi bersama Rama. Benci dengan fakta bahwa setelah semua hal yang sudah dia korbankan, Rama ternyata malah memilih meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Wanita yang tidak Sinta tahu bagaimana Rama bisa mengenalnya dan dari mana asal usulnya.


Sinta berdiri, dengan wajah yang masih basah dan mata yang masih memerah karena menangis, wanita itu berjalan mendekati lemari besar di rumahnya. Perempuan itu membuka lemari itu, mengacak-acak tumpukan bajunya untuk menemukan sesuatu.


Sampai akhirnya tangan Sinta mendapati sesuatu. Sinta dengan kasar menarik benda itu dari sela-sela tumpukan pakaiannya. Dengan mata yang masih meneteskan air mata, Sinta membasahi kertas foto lusuh itu.


Badan Sinta melemas, dia terduduk di lantai. Hanya itu satu-satunya kenangan dari Rama yang ia punya. Foto pernikahan mereka. Sederhana, tapi begitu indah. Saat dia dan Rama melarikan diri dari rumah masing-masing demi bisa saling memiliki. Pernikahan mereka hanya berlangsung di pengadilan agama saja, tanpa perayaan tapi hari itu menjadi hari yang tak pernah Sinta sangka dia bisa sebahagia itu dalam hidupnya.


Foto itu menjadi bukti, bahwa dulunya Sinta pernah menjadi orang yang sangat penting di dalam hidup Rama sebelum akhirnya dia dicampakkan begitu saja karena kesalahan yang tak pernah ia perbuat.


Sinta meremas kertas foto itu kuat, memukuli dadanya yang sesak karena menanggung rasa sakit yang begitu dalam.

__ADS_1


Jika ada ada pertanyaan tentang apa yang paling disesali Sinta, dia akan dengan lantang mengatakan hal yang paling ia sesali adalah bertemu dengan Rama. Mengenal keluarga Aksanta, berhubungan dengan mereka dan jatuh cinta dengan laki-laki seburuk Rama. Semua hal itu sangat disesali Sinta.


Andai saja dulu, dia tidak pernah bertemu dengan Rama, mungkin masalah di hidup Sinta tidak akan sebanyak ini sekarang. Sinta, menyesal pernah mencintai Rama. Dia menyesal, pernah menikah dengan sosok Alrama Aksanta.


...***...


Rama menghempaskan tangan Wisnu kasar nyaris saja membuat anak itu terjatuh ke lantai jika dia tidak menyeimbangkan badan. Tatapan tajam dan dingin dari Rama langsung menusuk Wisnu saat lelaki itu menengok ke arah iris hazel Rama.


Rahang Rama bergetar, wajahnya begitu tegas dan menyeramkan. Rama memang menyeramkan untuk Wisnu, tapi Rama beberapa hari belakangan ini bagaikan sosok hantu bagi Wisnu. Dia bahkan tidak sanggup hanya untuk sekedar bertatap mata lama-lama dengan Rama. Tatapan Rama seakan ingin membunuh Wisnu sekarang juga.


"Saya nggak peduli, mau bagaimana cara kamu untuk mengakhiri hubungan dengan gadis itu. Yang saya mau, saya dapat kabar besok bahwa kamu putus sama dia. Secepatnya, jangan ada hubungan dengan anak Dirgantara itu. Dia hina, seperti ayahnya!"


Setelah melontarkan kalimat itu, Rama pergi dari sana tanpa rasa bersalah. Dia meninggalkan Wisnu yang masih menundukkan kepala karena takut padanya. Rama masuk ke kamarnya, membanting kuat pintu kamar sampai suaranya menggema di seluruh rumah.


Rama memukul pintu kamarnya, mengepakkan tangannya kuat menyalurkan segala emosi di sana. Lelaki itu menutup mata berusaha untuk menenangkan diri, tapi nyatanya dia malah teringat dengan apa yang terjadi di kampus anaknya itu.


Pertengkaran hebat dengan Sinta setelah sekian lama dan itu karena Eleena Safira Dirgantara dan juga anaknya—Wisnu Putra Aksanta.


"Aaarggghhh!" Rama memukul tembok kamar berulang kali, hingga buku-buku tangannya memerah dan mengeluarkan darah. Dia melakukan itu sampai dia merasa bahwa tangannya itu sudah kehilangan rasa.


Rama terduduk di lantai dengan napas memburu. Dia menutup mata sejenak, menormalkan napas dan juga emosi yang sudah memuncak sejak tadi. Pria itu menarik napas perlahan lalu membuangnya.


Rama membuka mata perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah bingkai foto berisi gambar Sinta mengenakan pakaian pengantin berwarna putih tengah tersenyum lebar dan menampakkan deretan gigi putihnya. Foto itu menjadi foto favorit Rama, baik dulu ataupun sekarang. Meskipun itu foto Rama dan tidak terlalu berwarna karena diambil 20 tahun lalu, tapi tak apa, Rama senang memandanginya.


Tapi, kali ini Rama tidak memandang senang foto itu, malahan sorot kemarahan kembali lagi di matanya saat dia melihat foto Sinta dengan senyum lebar itu.


"Andai Sinta yang dulu aku kenal masih sama, mungkin nggak akan kayak gini jadinya," ucap Rama pelan.


Nyatanya, ada sedikit rasa penyesalan di hati Rama melihat foto itu. Saat Sinta mengatakan bahwa dia akan selalu mencintai dan menjadi milik Rama, tapi nyatanya wanita itu menikah dengan Arjuna. Orang yang sangat dibenci oleh Rama. Bukan tanpa alasan Rama membencinya tapi alasan itu selalu membuat Rama merasa sakit hati setiap kali mengingatnya.


Rama tidak pernah menyesal pernah bertemu dengan Sinta dan sempat jatuh cinta pada wanita itu meskipun berakhir dibohongi. Tapi, Rama menyesal kenapa dia harus sampai ditahap pernikahan bersama Sinta. Pernikahan mereka yang hanya bertahan tiga bulan tanpa ada kelanjutan dan itupun berakhir karena kesalahpahaman.

__ADS_1


...***...


Wisnu menjawab panggilan masuk dari teleponnya. Malam hari seperti ini Eleena menelepon lelaki itu. Wisnu menempelkan ponselnya di telinga, menyapa Eleena di seberang sana.


"Ternyata hubungan Bunda sama bokap lo lebih gila dari yang gue duga." Bukannya membalas sapaan Wisnu, Eleena justru langsung membuka topik pembicaraannya.


"Seumur-umur gue nggak pernah ngeliat Bunda semarah itu sama orang, tapi ketika Bunda ketemu sama bokap lo, Bunda benar-benar berubah banget. Gue nggak pernah duga kalau Bunda gue bisa marah juga, apalagi sama bokap lo yang notabenenya nggak terlalu dekat sama Bunda."


"Hubungan mereka di masa lalu pasti dalam, El."


"Iya. Konfliknya dalam juga, sampai-sampai baru ketemu aja udah bisa kayak gini."


"Nyokap lo sama bokap gue, punya hubungan spesial kayak gimana ya di masa lalu." Wisnu berucap sambil memikirkan semua yang terjadi di kampus selepas dia keluar dari kelas dan bertemu Sinta. Niat ingin bertukar kabar dengan Sinta malah menyaksikan drama gratis yang dibuat oleh ayahnya dan ibu kekasihnya.


"Wis, ada yang mau gue tunjukin. Bentar gue kirim dulu." Eleena mengirim sesuatu ke roomchat-nya bersama Wisnu. "Udah. Periksa."


Wisnu buru-buru mengecek pesan masuk dari Eleena. Dengan panggilan yang masih menyala, Wisnu membuka pesan itu. Wisnu melebarkan matanya saat dia melihat apa yang dikirim Eleena. Sebuah foto lusuh dengan Sinta dan Rama muda di dalamnya. Itu Rama, sangat jelas Rama. Wisnu sangat sering melihat ayahnya dan juga foto masa mudanya jadi tidak mungkin Wisnu salah melihat. Lelaki di foto lusuh ini benar-benar Rama dan perempuan di sebelahnya pasti Sinta. Tidak mungkin Meethila, karena pernikahan Meethila dan Rama terbilang mewah tidak sesederhana seperti latar belakang foto itu.


"Itu gue dapat di lemari Bunda. Gue nggak nyangka kalau ada hal mengejutkan di kamar Bunda gue. Gue rasa, foto itu nggak bisa jadi jawaban untuk semua ini. Karena jujur, gue masih bingung dan takut untuk nge-klaim kalau itu Bunda sama Tuan Rama. Secara itu foto lama, dan bisa aja itu bukan mereka karena fotonya udah rada buram," lanjut Eleena.


"Kalau saran gue sih Wis, cari sesuatu di kamar bokap lo. Mungkin lo bakal ketemu sama titik terang ini semua," tambah Eleena.


"Itu nanti aja. Yang pasti sekarang kita harus nyiapin buat besok," balas Wisnu.


"Siap buat apa?"


"Gue bakal putusin lo besok. Papa udah ngedesak banget, dia—"


Panggilan terputus tanpa sebab. Dan Eleena di kamarnya penuh kebingungan menatap layar ponselnya yang tidak lagi tersambung obrolan dengan Wisnu. Di satu sisi Eleena sedang sangat bingung dengan semua kejanggalan di keluarganya yang masih berkaitan dengan keluarga Aksanta. Tapi di sisi lain ada rasa sedih terselip di ujung sana karena harus menerima fakta kalau hubungannya dengan Wisnu akan tinggal kenangan sebentar lagi.


Ini adalah hal yang ditunggu Eleena tak seharusnya di meneteskan air mata sekarang.

__ADS_1


__ADS_2