Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Eskrim dan Arfin


__ADS_3

Gadis berbalut almamater merah keluar dari kelas. Kacamata yang bertengger di hidung dan mata yang fokus menatap kata demi kata yang tertulis di sebuah buku yang terbuka. Gadis itu tak memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Sampai sebuah tubuh tinggi berdiri di depannya.


Gadis itu melihat kedua kaki berbalut sepatu sneakers, lalu perlahan dia menaikkan pandangannya. Melihat siapa orang yang saat ini berdiri di depannya dan menghalangi jalannya.


"Hai." Lelaki itu melambaikan tangan, melebarkan senyum, memberikan sapaan terbaik pada perempuan yang sudah satu minggu tidak ia temui.


"Arfin?" Eleena memeluk Arfin spontan. Arfin tidak pernah memikirkan respon seperti ini dari Eleena saat perempuan itu melihatnya.


"Lo ke mana aja? Gue kangen," ucap Eleena, melepaskan pelukannya.


"Sorry ya, gue ngilang," balas Arfin, mengelus rambut Eleena. "I'm sick."


"Sakit apa?" tanya Eleena.


"Kepala gue sakit, El," balas Arfin, mengajak Eleena untuk berjalan pergi dari sana.


"Lo nggak ada ngabarin gue, gue kira lo marah sama gue," adu Eleena, mengikuti langkah besar Arfin.


Arfin terkekeh saat Eleena sedikit berlari karena mengejar langkah kecilnya tertinggal jauh oleh langkah besar Arfin. Bagi Arfin, tubuh Eleena yang tak terlalu tinggi ketika berada di sebelahnya itu kelewat imut. Bagaimana gadis yang memakai kacamata dan rambut dikuncir setengah sekarang harus mendongak untuk bisa melihat wajahnya. Eleena itu lucu.


"Gue nggak akan pernah bisa marah sama lo, El," balas Arfin, mencubit pipi Eleena gemas.


"Sakit!" Eleena memukul tangan Arfin agar tangan besar itu berhenti mencubit pipinya. Namun, alih-alih meminta maaf, Arfin malah terkekeh dan mengacak rambut Eleena gemas. Oh ayolah dia tidak bisa menyembunyikan kegemasannya sekarang. Kenapa gadis di sebelahnya ini sangat imut, Arfin seakan ingin memeluknya, memiliki gadis itu seutuhnya.


"Lo datang-datang langsung nyebelin," ucap Eleena, mengelus pipinya yang sakit.


"Sorry." Arfin menyatukan kedua tangannya di depan Eleena. "Gue ajak makan eskrim, mau?" tanya Arfin menurunkan kedua tangannya.


Eleena mengangguk dan mereka berakhir pergi dari lobi kampus dengan saling bergandeng tangan dan bertukar cerita tentang aktivitas selama satu minggu terakhir.


Eleena dan Arfin sampai di taman seberang kampus. Arfin menyuruh Eleena untuk duduk di kursi panjang bercat putih, dan Arfin pergi untuk membeli eskrim. Eleena menunggu Arfin dengan membaca lanjutan buku yang sempat terhenti karena kehadiran lelaki itu. Tapi nyatanya, saat Eleena baru saja hendak membalik halaman berikutnya Arfin sudah datang.

__ADS_1


Lelaki itu menyodorkan eskrim cokelat pada Eleena lalu duduk di sebelah gadis itu.


"Lo nggak beli juga?" tanya Eleena saat ia menyadari bahwa hanya ada satu eskrim di sini.


Arfin menggeleng dengan senyuman, "Lo aja. Gue masih sakit," balasnya.


Eskrim yang masih belum terbuka dari bungkusnya itu, Eleena taruh di sebelahnya. Gadis itu beralih menatap Arfin, memberi elusan pelan di surai rambut lelaki di sampingnya.


"Cepat sembuh ya kepalanya Arfin. Biar teman gue nggak sakit-sakit lagi," ucap Eleena, membawa tangannya untuk bergerak naik turun di kepala Arfin.


Eleena memindahkan tangannya ke dahi Arfin. Meletakkan punggung tangannya untuk mengecek suhu badan Arfin, lalu dia berucap, "Cepat hilang ya panasnya Arfin, biar Arfin bisa makan eskrim bareng sama gue lagi."


Mata Arfin memanas, menciptakan genangan air di pelupuk matanya. Eleena mengatakan hal indah seperti biasa, kata-kata yang bahkan tidak pernah Arfin dapatkan dari keluarganya.


Eleena itu orang asing, tapi dia begitu baik hati memberikan perhatian pada Arfin. Berbanding terbalik dengan keluarganya sendiri. Selama Arfin sakit, tidak ada satupun dari mereka yang peduli, mereka memberikan Arfin obat dan menyuruh pelayan untuk mengantar makanan untuknya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan tak menganggap Arfin ada di rumah. Maka dari itu, meskipun sekarang ini Arfin belum pulih sepenuhnya dia memaksakan untuk masuk kuliah. Ia rasa lebih baik dia lelah di kampus daripada lelah di rumah karena diacuhkan semua orang.


"Arfin jangan nangis." Eleena mengusap pipi Arfin yang dijatuhi air mata.


"El...." Arfin masuk ke dalam pelukannya, dan seperti biasa menangis di sana. Arfin itu cengeng, dia tidak bisa mendapatkan kata-kata indah seperti itu.


"It's okay, Fin. Everything will be okay. Your strong, I trust you," bisik Eleena mengelus punggung Arfin.


Setiap kebahagiaan atau kesedihan manusia, akan selalu ada manusia lain yang tak menyukainya. Tak peduli orang itu pernah berbuat baik atau tidak pada dirinya. Nyatanya sifat iri dan dengki manusia tidak bisa dihilangkan. Dan sebagai manusia, Melinda juga memiliki rasa iri pada Eleena yang saat ini tengah memeluk Arfin.


Gadis itu mengepalkan tangan, niatnya mengikuti Arfin dan Eleena untuk masuk di antara mereka malah membawanya melihat pemandangan seperti ini lagi. Ini bukan pertama kali Melinda melihat Arfin dan Eleena berpelukan. Sangat mustahil jika mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Gue benci sama lo," gumam Melinda, menatap Eleena tajam.


Gadis itu berbalik badan, dengan perasaan kesal dan penuh amarah, Melinda pergi dari sana. Melinda mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dia menempelkan ponsel itu ke telinga setelah menekan beberapa digit nomor sebelumnya.


"Kalian bersiap-siap saja dulu, nanti kalau udah aba-aba dari saya, baru kalian menjalankan tugas kalian. Yang pasti, bukan sekarang waktunya." Melinda menutup panggilannya setelah yakin bahwa orang yang dihubunginya mengerti apa yang telah dia ucapkan.

__ADS_1


Melinda tersenyum miring, membayangkan betapa indahnya rencana yang sudah ia susun di kepala.


"Lo udah putus sama Wisnu?" tanya Arfin.


Setelah hampir lima menit menangis di pelukan Eleena, akhirnya Arfin bisa merasa sedikit lega. Pipi lelaki itu sudah tak ada lagi air mata yang berjatuhan, dan dia juga sudah membicarakan banyak hal bersama Eleena selama lima belas menit, menemani gadis itu yang sibuk menghabiskan eskrim di tangannya.


Eleena menggeleng, "Belum. Tapi Fin, bokapnya Wisnu tau nama lengkap gue," ujar Eleena.


"Apa?"


"Beberapa hari lalu, waktu gue ke kantornya Ayah, gue pikir nggak ada orang di ruangannya tapi ternyata ada bokapnya Wisnu dong. Gue syok banget tapi ternyata bokapnya Wisnu lebih syok daripada gue, sampai-sampai dia langsung keluar dari ruangan Ayah tanpa ba bi bu. Sumpah, gue setakut itu," jelas Eleena.


Arfin terdiam, mendengar penjelasan Eleena, pikiran Arfin hanya tertuju pada Wisnu saja. Dia teman Wisnu, dan apa yang sedang dijalankan atau direncanakan oleh lelaki itu, Arfin tahu semuanya. Termasuk tentang Wisnu yang merahasiakan identitas Eleena demi keberlangsungan hubungannya.


"Nasib Wisnu gimana?" batin Arfin.


...***...


"Masih sakit, Nak?" tanya Meethila. Wisnu mengangguk kecil.


Meethila mengganti perban di kepala Wisnu. Luka di kepala anaknya itu masih belum sembuh sepenuhnya, dan Meethila menghabiskan hari-harinya dengan rasa cemas dan rasa bersalah pada Wisnu.


"Kamu mau Mama panggil dokter lagi?"


Wisnu menggeleng, "Nggak usah, Ma. Wisnu nggak butuh dokter, butuhnya Mama aja," balas lelaki itu, memberikan senyum manisnya pada ibunya.


Pintu kamar Wisnu terbuka secara tiba-tiba, mengagetkan dia dan Meethila yang berada di dalam. Meethila menyuruh Wisnu untuk bersembunyi di belakang tubuhnya saat dia tahu bahwa Rama lah orang yang mendobrak pintu secara tiba-tiba.


"Ka-kamu mau ngapain?" tanya Meethila terbata-bata. Tatapan tajam Rama langsung menusuknya. Meethila sangat takut Rama akan melakukan hal seperti waktu itu.


"Saya nggak mau tau. Bagaimanapun cara kamu, akhiri hubungan kamu dengan gadis itu. Saya membencinya."

__ADS_1


Rama hanya berucap seperti itu lalu pergi dengan membanting pintu dan menimbulkan suara nyaring yang cukup keras.


Wisnu sudah menduga hal seperti ini pasti akan terjadi. Tidak mungkin Rama membiarkan Wisnu untuk tetap menjalin hubungan dengan Eleena setelah mengetahui semuanya.


__ADS_2