
"Hai El." Suara Arfin terdengar di pendengaran Eleena begitu kaki gadis itu memijakkan lantai yang menjadi pemisah antara kelas dan lobi kampus.
Arfin melambaikan tangan, menampilkan senyum hangat, dan lihat hari ini dia memakai kacamata. Eleena sedikit mengerutkan kening melihat penampilan Arfin dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Lo pakai kacamata?" Eleena menyentuh kecamatan Arfin. Merekahkan senyum melihat penampilan laki-laki itu yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Gue mau buat penampilan baru," ucap Arfin membusungkan dada, membetulkan letak kacamatanya.
Hari ini gaya Arfin memang sangat berbeda dari biasanya. Arfin yang biasanya menampilkan dahinya, menyisir rapi rambutnya tapi sekarang dia menutupi dahi dengan rambut hitam legam. Arfin yang biasanya terlihat seperti laki-laki gagah dan penggoda wanita kini berubah menjadi laki-laki penyayang dan baik hati karena ada kacamata bertengger di hidung. Kemeja berwarna cream lengan pendek dan celana panjang hitam. Arfin terlihat lebih rapi hari ini berbeda dengan penampilan dia yang biasanya terkesan maskulin dengan ala-ala badboy tapi masih berpakaian sopan dengan sesekali menggunakan kemeja kotak-kotak.
"Gue ganteng, nggak?" tanya Arfin di sela-sela perjalanan mereka. Arfin mengajak Eleena untuk pergi bersamanya sebentar. Pergi ke taman depan kampus seperti biasa, menghabiskan waktu bersama karena belakangan ini mereka lebih banyak menghabiskan waktu lewat via chat.
"Lo keren sih, tapi kayak ada yang aneh aja," jawab Eleena. "Ini memang gaya asli lo, atau lo mau buat orang lain terkesan aja?" Eleena duduk di bangku taman saat mereka sudah tiba di sana. Bangku taman bercat coklat dan ada motif bunga-bunga di sana. Arfin ikut duduk bersama Eleena.
"Gue, nggak keren ya berarti?" Arfin sedikit merasa sedih karena pertanyaan Eleena tadi. Arfin berpenampilan seperti ini, agar Eleena bisa terkesan padanya. Yang Arfin tahu Eleena suka penampilan laki-laki yang rapi dan sopan, laki-laki yang menutupi dahi dengan rambut dan laki-laki yang baik dan penyayang. Atau bahasa anak zaman sekarang menyebutnya dengan sebutan 'soft boy' dan cowok 'greenflag'.
"Bukan gitu, lo keren, keren banget. Sesuai sama tipe cowok yang gue suka." Senyum Arfin terbit begitu Eleena mengatakan kalau penampilan ia sekarang sesuai dengan tipenya. Dengan begitu secara tidak langsung Eleena sudah memberi Arfin lampu hijau untuk menarik hati gadis itu.
"Tapi, Fin. Kalau ini bukan penampilan yang lo suka, bukan penampilan lo yang biasanya, mending jangan, apalagi kalau sampai penampilan lo sekarang buat lo risih. Jadi diri sendiri aja, Fin. Kalau lo lagi berusaha untuk deketin cewek, pakai penampilan lo yang biasanya, gue yakin kok kalau dia cewek baik-baik pasti dia akan nerima lo apa adanya bukan karena ada apanya. Lo itu lebih ganteng sama penampilan lo yang biasa, Fin, gue juga lebih suka gaya lo yang biasanya, kalau gini kesannya gue kayak ngeliat orang baru, bukan Arfin teman gue," jelas Eleena.
Arfin sedikit menundukkan pandangan mendengar penjelasan Eleena. Yang diucapkan gadis di depannya ini benar, Arfin harus menjadi diri sendiri meskipun dia sedang berusaha untuk mendapatkan hati Eleena. Arfin pikir dengan dirinya merubah penampilan menjadi tipe Eleena, gadis itu akan memuji-mujinya dan semakin kagum dengan Arfin, tapi yang ada malah Eleena kecewa karena Arfin melupakan jati dirinya.
"Membuat seseorang jatuh cinta nggak harus dengan menghilangkan jati diri, Fin. Justru karena jati diri kita yang unik yang akan membuat orang jatuh cinta, jangan pernah merubah diri demi seseorang, Fin." Eleena mengelus telapak tangan Arfin. "Lo keren, kayak biasanya. Laki-laki jadi soft boy nggak harus dengan penampilan dia yang sopan dan terkesan culun, tapi laki-laki jadi cowok soft boy ketika dia berhasil buat orang lain nyaman berada di dekatnya karena sikap dia yang apa adanya. Dan lo udah jadi cowok soft boy versi gue, Fin. Lo buat gue nyaman ada di dekat lo, lo buat gue percaya kalau teman yang benar-benar teman itu ada. Gue nggak akan pernah bosen buat bilang lo itu teman terbaik gue."
Hati Arfin luluh mendengar kata-kata itu. Eleena selalu indah begitupun dengan kata-kata yang diucapkannya. Arfin tidak salah kalau dia menaruh perasaan pada gadis di depannya ini. Arfin tidak salah kalau dia harus kagum dengan Eleena, Arfin tidak salah kalau dia mendeskripsikan Eleena di dalam puisi buatannya.
Arfin melepas kacamatanya, dan menyisir rambutnya menggunakan jari mengataskan rambut itu dan membiarkan dahi Arfin terpampang jelas.
"Gini?" Arfin melepas satu kancing kemejanya. Eleena bertepuk tangan melihat penampilan Arfin ini. "Ini baru Arfin teman gue," ujarnya gembira. "Gue bangga punya teman kayak lo, Fin." Eleena spontan memeluk Arfin karena kegirangan padahal dia hanya melihat Arfin kembali pada penampilan yang biasa.
"Jangan pernah berubah lagi, Fin. Lo keren kalau kayak gini, yang tadi malah kesannya kayak anak culun." Eleena melepaskan pelukannya.
"Thanks El, udah nyadari gue apa arti dari mengejar seseorang. Lo emang selalu jadi motivator buat gue." Arfin mengucapkan kata-kata itu dengan santai, meskipun detak jantungnya tidak bisa santai karena pelukan Eleena tadi. Wangi parfum mawar Eleena menempel di kemeja Arfin, seakan memabukkan lelaki itu karena keharuman dan keindahan gadis yang duduk di sebelahnya ini.
"Gue traktir ice cream mau?" Eleena mengangguk semangat. Gadis itu ikut berdiri setelah Arfin bangkit dari duduk. Mereka berjalan bersama menuju tempat penjual ice cream yang selalu ramai di taman ini.
__ADS_1
"Pak, ice cream coklatnya dua," ucap Arfin pada penjual yang baru saja selesai melayani pelanggan. Penjual itu mengangguk, segera membuat pesanan dari Arfin.
Eleena mengambil satu ice cream dari penjual itu dan satunya lagi diambil oleh Arfin. Arfin memberi uang dengan nilai yang cukup besar pada penjual yang tentu saja itu melebihi harga aslinya.
"Kembaliannya buat Bapak aja, ucapan terimakasih saya karena udah jualan ice cream di tengah terik gini," ucap Arfin.
Penjual itu berterimakasih banyak pada Arfin. Pada akhirnya kedua manusia itu pergi meninggalkan tempat penjual ice cream tadi. Berjalan sambil memakan ice cream layaknya sepasang kekasih tapi kenyataannya mereka hanya teman biasa saja.
...***...
Di sini sekarang, seorang perempuan dengan wajah cemberut duduk di sebelah bangku kemudi. Mobil putih yang dikemudikan oleh Wisnu dan Eleena duduk di sebelahnya. Gadis itu melipat kedua tangan di dada, tak ingin menatap Wisnu sedikitpun. Berada bersama Wisnu sekarang adalah hal paling menyebalkan buatnya, meskipun dia sudah melihat sisi lain Wisnu tapi tetap saja Eleena tidak bisa melupakan sisi buruk dan menyebalkan dari lelaki di sebelahnya ini. Apalagi kejadian saat di bar waktu itu, Eleena benar-benar muak terhadap Wisnu.
"Jangan marah lah sama gue," ucap Wisnu memecah keheningan yang tercipta antara dia dan Eleena sejak pertama kali dia membawa gadis itu pergi dari pekarangan kampus.
"Gue nggak bisa nggak marah sama lo," ketus Eleena. "Kalau seandainya Arfin nggak maksa gue buat pulang bareng sama lo, gue nggak akan mau sama lo!" sambung Eleena menatap tajam Wisnu yang sedang fokus menatap jalanan.
Eleena kembali memalingkan wajah, menatap jalanan yang mereka lalui dari jendela mobil di sebelahnya. Eleena bersumpah dia tidak akan mau berada di sini, bersama Wisnu kalau saja Arfin tidak memaksa.
Kedua manusia itu berjalan menyusuri taman dengan ice cream cokelat berada di tangan. Sambil sesekali bercengkrama agar tidak menimbulkan kecanggungan. Tanpa sadar, mereka sudah kembali lagi ke kampus. Dan kedua manusia ini sekarang sama-sama berada di area parkir Universitas Binawa.
Arfin menghela napas sejenak, dia membiarkan Eleena untuk menghabiskan ice cream di tangannya sebelum Arfin mulai bicara dan memberitahu keinginannya pada Eleena.
"Lo cepat banget ya, habis ice creamnya," ucap Eleena, masih menjilat ice cream di tangan.
"Hehe, laki-laki mah makan selalu cepat kali, El." Arfin menarik tangan Eleena untuk membawa gadis itu pergi ke kursi yang berada di seberang sana. Arfin mengajak Eleena duduk di kursi seberang tempat parkir kendaraan, kursi panjang dengan atap di atasnya, menghindarkan orang yang duduk di sana dari panas terik matahari.
"El, I wanna talk you a urgent information," ujar Arfin begitu Eleena selesai memakan ice cream di tangannya dan mengelap area mulutnya menggunakan tisu.
"Ngomongin apaan?"
Arfin menghela napas panjang sekali lagi. Kata-kata yang akan dia ucapkan kepada Eleena sudah dia pikirkan matang-matang, sejak dia menginjakkan kaki di rumahnya dan merebahkan diri di kasur, Arfin sudah merangkai kata-kata agar tidak melukai perasaan Eleena. Arfin sudah mempersiapkan semuanya, termasuk jawaban untuk pertanyaan yang mungkin akan Eleena tanyakan padanya, Arfin sudah siap dan dia harus mengatakannya sekarang juga.
"El, ini soal Wisnu." Eleena baru saja membuka mulut untuk menyela tapi Arfin sudah menghentikannya dengan lanjutan dari perkataannya. "Gue mau lo jadi pacar Wisnu."
Eleena bungkam detik itu juga. Yang ia dengar seakan mimpi yang seharusnya tidak terjadi. Dia tidak pernah membayangkan kalau, Arfin—satu-satunya teman yang ia percaya, namun lelaki itu memintanya untuk menjalin hubungan asmara bersama laki-laki yang sudah hampir akan melecehkannya di sebuah bar.
__ADS_1
"El, jangan salah paham dulu sama gue, oke. Gue bisa jelasin semuanya," sambung Arfin, mencoba untuk memberi keyakinan pada Eleena bahwa dia ada maksud dari ucapannya barusan.
"El, gue nggak minta lo untuk benar-benar jadi pacarnya Wisnu, gue cuma pengin lo jadi pacar pura-puranya aja, jadi pacar cukup di hadapan bokap Wisnu doang. Lo nggak harus bersikap layaknya seorang pacar beneran sama dia, lo bahkan bisa bebas untuk benci dan nggak suka sama dia, tapi gue mohon banget sama lo, kalau seandainya bokap Wisnu lihat lo lagi bareng sama anaknya, please pura-pura jadi pacar dia di depan bokapnya."
"Buat apa? Kenapa gue harus ngelakuin kayak gitu?"
Arfin menghela napas untuk kesekian lagi, dia sudah punya jawaban untuk ini dan Arfin yakin dia pasti bisa menjawab dengan santai tanpa gugup.
"El, Wisnu mau dijodohin sama bokapnya—"
"Terus apa hubungannya sama gue?" potong Eleena yang sudah terlihat malas untuk mendengar topik pembicaraan ini.
"El, perjodohan yang mau dilakukan sama om Rama itu untuk kepentingan bisnis. Wisnu pernah cerita sama gue kalau lo yang nolongin dia waktu Wisnu dipukuli sama suruhan bokapnya sendiri. Lo tau sendiri, kan bokapnya Wisnu itu gila, kalau dia bisa mukuli anaknya habis-habisan lewat nyuruh anak buahnya cuma karena Wisnu kabur dari rumah, pasti dia bisa ngelakuin hal yang lebih lagi kalau Wisnu nolak perjodohan yang ditawarin sama dia," jelas Arfin.
Eleena masih diam, belum mengatakan apapun. "El, kalau bokapnya Wisnu tau dia punya pacar, tu anak nggak akan dijodohin lagi. Gue berani jamin sama lo, dia nggak akan kasar lagi, nggak akan nyebelin lagi, dan nggak akan ngelakuin hal yang buat lo marah atau sakit hati. Gue berani jamin itu. Gue butuh banget bantuan lo untuk jadi pacar pura-puranya Wisnu, El. Gue nggak mau temen gue disakiti apalagi sama bokapnya sendiri, cuma lo yang bisa bantu, El."
Arfin menggenggam tangan Eleena. "Kalau lo nggak bisa percaya sama Wisnu, lo bisa percaya sama gue, El. Ini nggak akan lama, kok. Cuma selama tiga bulan aja biar om Rama percaya kalau tu anak punya pacar. Setelah itu lo bebas untuk ngejauh bahkan maki-maki Wisnu. Gue jamin, El." Ada sirat permohonan yang sangat dalam dari tatapan Arfin ke Eleena.
"Kok bisa sih lo kayak gini? Lo ngebujuk gue buat jadi pacar teman lo, segitu sayangnya lo sama si Wisnu?" tanya Eleena.
"Pertemanan itu di atas segalanya El, gue rela kehilangan segalanya demi mempertahankan pertemanan gue, karena dari pertemanan gue, gue dapetin segalanya. Termasuk apa itu arti keluarga. Wisnu bukan cuma sekedar teman buat gue, tapi lebih dari itu. Wisnu, Baim, Gilang, mereka bertiga keluarga gue, El. Kita harus saling membantu sesama anggota keluarga, kan?"
Eleena menghela napas pasrah. Dia kalah kalau terus melihat sorot mata Arfin yang begitu luluh. Gadis itu bisa menemukan ketulusan di sana, setiap dari kata-kata Arfin bahkan tentang apa yang dia rasakan pada Wisnu, itu nyata. Arfin terlalu baik untuk menjadi teman Wisnu, si brengsek.
"Oke, gue mau jadi pacar pura-pura Wisnu," ucap Eleena pada akhirnya. Senyum Arfin merekah, lelaki itu mengepalkan tangan di udara sebagai tanda kebahagiaan dengan sedikit teriakan kegirangan.
"Tapi." Pergerakan Arfin seketika terhenti, layaknya patung. "Gue mau jadi pacar dia, kalau dia bisa yakini gue, dia benar-benar cowok baik dan nggak akan kasar lagi sama gue," lanjutnya.
"Katanya lo jamin, kan dia bisa jagain gue, kala gitu gue mau lihat langsung gimana dia jagain gue sebelum gue jadi pacarnya."
"Tenang, El. Kalau itu gue udah siapin hal yang buat lo bisa langsung percaya sama Wisnu."
Eleena di sini karena Arfin percaya pada temannya ini. Kalau tidak, Eleena tidak akan sudi diantar pulang oleh anak laki-laki ini. Eleena ingin tahu bagaimana dia berbuat baik padanya. Namun, baru percobaan pertama saja lelaki itu sudah menyebalkan, dia tidak bicara hanya fokus menatap jalanan, seakan-akan Eleena tidak ada. Bahkan dikesempatan pertama pun, Wisnu sudah membuat Eleena menaruh persepsi buruk padanya.
Memang ya, Wisnu Putra Aksanta, itu akan selalu menjadi lelaki yang menyebalkan.
__ADS_1