
Sinta mengajak keempat lelaki yang baru saja hadir di rumahnya itu menuju ke meja makan yang sudah ia persiapkan sejak dua hari lalu. Kedua bola mata milik Baim dan Gilang membulat. Tampilan dari meja makan itu sungguh luar biasa. Tampilannya begitu mewah, elegan, tapi tidak menyilaukan mata. Tampilan itu tampak sederhana tapi mampu memanjakan mata.
Wisnu memberi pukulan kecil di lengan kiri Gilang, memberi isyarat pada lelaki itu untuk duduk di sana. Gilang menarik tangan Baim untuk mengikuti Wisnu dan segera duduk di kursi yang tersedia.
Eleena duduk di sebelah Sinta. Dan Wisnu duduk berhadapan dengan Eleena sedangkan Arfin duduk berhadapan dengan Sinta. Dan di sebelah kiri Wisnu ada Gilang dan Baim yang duduk bersebelahan sambil terus mengitari pandangan menikmati kemewahan tepat di depan mata.
"Cantik banget." Arfin membuka suara menjadi orang pertama yang memuji meja makan itu.
"Bunda yang rancang," balas Eleena.
"Tante keren ya," sambung Arfin, menatap Sinta.
"Makasih, Nak." Sinta melebarkan senyum pada Arfin. Ini kunjungan Arfin yang kesekian. Lelaki itu sering datang ke rumah mereka, mengantar Eleena pulang sesekali tapi Sinta sama sekali tidak tahu siapa nama lengkapnya. Sinta pikir Arfin adalah orang dari kalangan biasa, rupanya tidak.
Dari tampilan Arfin yang sering berkunjung ke rumahnya, Arfin bergaya sederhana tidak terlihat seperti anak orang kaya pada umumnya. Namun Sinta mengakui bahwa ketampanan Arfin itu sebuah kesempurnaan. Pada saat pertama kali Arfin datang ke rumahnya menjemput Eleena untuk pergi ke kampus bersama, Sinta sudah menaruh kepercayaan pada lelaki itu. Dari cara Arfin memperlakukan Eleena saja, Sinta sudah bisa menebak kalau Arfin itu lelaki baik-baik.
Sinta melirik Eleena lalu berganti melirik Arfin. Tatapan Arfin terlihat dalam, tapi Sinta tidak mengerti apa maksudnya. Lelaki itu seakan ingin menyampaikan sesuatu dari sana, tapi dia tidak bisa. Yang ada, Arfin berakhir menundukkan pandangan saat matanya tertangkap basah sedang melihat Eleena.
"Lo cantik, El." Suara Baim di ujung sana mulai membuka suasana.
"Bener. Elegan, kayak putri raja," kata Gilang.
"Emang putri raja. Dia kan Putri Tunggal keluarga Dirgantara." Arfin menyambung. Lelaki yang semulanya menatap kedua lelaki di sebelah Wisnu kini beralih menatap Wisnu. "Sama kayak Wisnu." Arfin memberikan senyuman di akhir kalimatnya. Senyuman kecil tapi menyimpan sejuta rasa sakit di sana. Entahlah, Arfin merasa sedikit sakit sekarang apalagi tatapan Eleena sejak tadi tak bisa lepas dari Wisnu.
Arfin mulai kembali fokus pada makanannya. Wisnu merasakan ada yang aneh dari lelaki di sebelahnya ini. Namun, ketika matanya tak sengaja bertemu tatap dengan iris cokelat Eleena, Wisnu seakan lupa apa yang seharusnya dia lakukan. Namun dengan cepat Wisnu menutup mata, membuang arah pandang dari gadis itu agar tidak menatap iris cokelat itu lebih lama.
Wisnu tidak ingin terlihat bahwa dia memiliki perasaan lebih pada Eleena apalagi di depan Arfin. Wisnu dan Eleena hanyalah pacar pura-pura, garis bawahi hal itu 'pacar pura-pura'. Wisnu tak punya hak untuk menatap gadis itu lama, karena Eleena milik Arfin.
"Tante, Tuan Arjuna ke mana?" Wisnu lebih memilih untuk membuka obrolan dengan Sinta agar dia tidak terfokus pada Eleena dan tatapan gadis itu.
"Lagi ada kerjaan di luar kota. Katanya sih mau ngurusin masalah cabang perusahaan di sana. Udah pergi dari tiga hari lalu, makanya Tante ngadain dinner," jawab Sinta.
"Makasih loh ya Nyonya Dirgantara, kita diundang," imbuh Baim di tengah dia menyantap hidangan. "Suatu kehormatan buat saya dan Gilang bisa berada di sini," lanjutnya.
"Nggak papa kok anak-anak. Kalian kan teman Wisnu. Awalnya Tante mau dinner bareng Wisnu aja, tapi setelah saya pikir-pikir lebih baik kita makan ramai-ramai biar nggak terlalu sunyi dan canggung. Saya nggak tahu siapa orang yang Wisnu suka, jadinya saya undang saja teman-temannya."
"Wisnu suka sama El." Gilang menyeletuk dengan santai seakan tidak sadar akan apa yang dia ucapkan.
Wisnu dan Eleena sama-sama menampilkan wajah terkejutnya. Pernyataan santai Gilang seakan menodong mereka berdua.
"Apaan sih, enggak kok!" Eleena membantah mentah-mentah pernyataan Gilang itu, dia tidak ingin Sinta berpikir yang tidak-tidak.
"Lo mana tahu isi hatinya Tuan Muda, kalau lo buka baru tahu lo!" Wisnu menatap Gilang tajam. Lelaki itu masih menyambung pernyataan salah.
"Kalau lo masuk ke dalam hati Wisnu lebih dalam, lo bakal nemuin ada nama lo di salah satu ruang di hatinya. Atau jangan-jangan nama lo punya ruang khusus di sana." Gilang masih melanjutkan. Bahkan Lelaki itu berani menatap Wisnu yang memberinya tatapan tajam. Gilang memberikan tatapan menantang dan tak gentar.
"Gue ngomongin fakta, kan?"
Telak. Pertanyaan Gilang ini menembak Wisnu tepat sasaran. Wisnu terdiam tak berani melawan. Wisnu tak pernah tahu Gilang akan menembaknya seperti ini. Siapa sangka Gilang akan berbicara seperti ini dan di tempat seperti ini pula.
"Kamu suka sama El, Wis?" Sinta juga ikut menyambung topik pembicaraan ini dengan memberikan pertanyaan menohok pada Wisnu.
Wisnu tidak langsung menjawab, malahan lelaki itu sedikit sulit merangkai kata. Dia tampak kebingungan hanya untuk menjawab pertanyaan sederhana dari Sinta. Padahal kalau dicerna pertanyaan Sinta hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak. Tapi Wisnu seakan ditanya tentang permasalahan dan teori konspirasi dunia dan menjawabnya harus super waspada dan menyertai alasan masuk akal.
__ADS_1
"Gilang cuma bercanda kok, Tan." Arfin membuka suara mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Sinta. "Maksud Gilang tadi, Wisnu sama El belakangan ini deket banget jadi dia sedikit goda Wisnu. El sama Wisnu jadi teman dekat banget belakangan ini. Mereka sering jalan bareng, ngobrol bareng juga, hubungan mereka jadi asik Tan. Mungkin karena keseringan ngeliat El sama Wisnu bareng, Gilang pikir Wisnu suka sama El. Tapi Wisnu nggak suka sama El kok Tan. Cuma saya rasa dia udah nyaman sama El, mungkin bentar lagi bakal suka."
"Ih, Arfin apaan," balas Eleena.
Arfin memberikan kekehannya seperti biasa, menggerakkan tangannya untuk mengelus punggung tangan Eleena. "Nggak usah anggap serius banget," ucap lelaki itu.
"Elu memperkeruh suasana Lang, nggak asik lo!" Baim yang sedari tadi diam ikut mengomentari. Baim bahkan memberikan toyoran di kepala Gilang.
"Sakit ege." Gilang mengelus kepalanya yang baru saja ditoyor oleh Baim.
"Gitu juga rasanya waktu lo noyor gue, Njir," balas Baim ketus.
Sinta menertawakan kejadian itu. Interaksi antara Baim dan Gilang begitu asik, Sinta menyukainya. Akhirnya topik mengenai hubungan antara Eleena dan Wisnu perlahan lenyap. Mereka menggantinya dengan topik lain, menemani mereka menghabiskan hidangan makan malam yang tersaji di atas meja.
Melihat senyuman dan keramahan Sinta pada semua teman-temannya serta dirinya tanpa sadar membuat hati Wisnu terenyuh. Suasana makan malam di tempat ini berbanding terbalik dengan suasana di rumahnya. Wisnu tak pernah tahu bagaimana suasana yang benar ketika makan malam, tapi saat dia makan malam di rumah ini Wisnu tahu kalau makan malam itu adalah di mana semua keluarga berkumpul, menceritakan pengalaman seharian dan berbagi canda tawa bukan saling mendiami dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Wisnu iri. Lelaki itu kembali iri dengan suasana rumah yang dimiliki Eleena. Suasana rumah gadis itu begitu hangat, sangat indah untuk dinikmati.
Sama dengan Wisnu, Arfin juga merasakan hal yang sama. Melihat bagaimana dekatnya Eleena dengan ibunya Arfin jadi teringat hubungannya dengan sang ibu yang merenggang karena ayahnya. Ibu Arfin terlalu penurut, ibu Arfin juga tidak pernah membantu Arfin jika dia sedang bertengkar dengan ayahnya. Ibu Arfin nyatanya juga lebih sibuk mengurus kedua kakak Arfin yang sibuk dengan pekerjaan mereka ketimbang Arfin.
"Seandainya gue punya mama kayak Tante Sinta," batin Arfin dengan matanya yang mulai memanas.
...***...
Makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang tamu. Sinta mengajak para pemuda untuk bermain kartu domino bersama dirinya. Mereka berempat tidak menyangka kalau Sinta seasik ini, wanita itu bisa mengimbangi zaman mereka dengan zamannya. Sinta tak segan-segan ikut bermain dengan permainan elit anak muda zaman sekarang.
"Gilang kalah!" teriak Sinta diiringi dengan tepuk tangan. Mereka semua tertawa. Sesuai dengan peraturan yang ada, Wisnu dengan jahilnya menaruh banyak tepung di wajah Gilang.
"Wisnu curang. Nggak boleh gitu ya, Nak. Jangan usil sama temannya," peringat Sinta.
"Maaf Tante." Wisnu cengengesan mencubit kedua telinganya sendiri. Terlihat sangat lucu, seperti anak kecil yang meminta maaf pada ibunya agar tidak dihukum.
"Kita mulai lagi ya," seru Sinta.
"Wisnu izin ke toilet ya, Tan." Wisnu berdiri dari duduknya, melangkah pergi dari sana.
"Tanya sama pelayan nanti di mana toiletnya, Wis!" seru Sinta dengan suara yang sedikit besar agar Wisnu bisa mendengar.
"Iya Tan!"
Wisnu berjalan mengelilingi rumah ini. Toilet hanya alasan, Wisnu bosan bermain itu. Sejak awal permainan di mulai, dia selalu menang, makanya Wisnu menjadi satu-satunya orang yang wajahnya tak tersentuh oleh tepung sedikitpun. Wisnu ingin mencari hal baru, dan berkeliling mengamati satu persatu yang ada di dalam rumah besar milik keluarga Dirgantara ini tak begitu buruk.
"Mbak, nanti ke kamar saya ya." Eleena berjalan dengan cepat tanpa memperhatikan apa yang ada di depan. Saat gadis itu menatap ke depan bertepatan dengan Wisnu berbalik badan. Mereka berdua tidak bisa menahan pergerakan masing-masing dan berakhir saling menabrak tubuh satu sama lain.
Eleena tertabrak Wisnu cukup keras mengakibatkan gadis itu nyaris terjatuh. Namun dengan sigap seperti biasa, tangan Wisnu menopang tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Ada jarak di antara mereka, tapi wajah kedua insan ini begitu dekat. Saking dekatnya, deru napas Wisnu sampai terasa di kulit Eleena.
Kedua iris itu kembali bertatapan. Eleena menelan salivanya payah, dari jarak seperti ini Eleena bahkan bisa melihat setiap inci dari wajah Wisnu. Detak jantung kedua orang ini berdetak bersamaan. Ruangan besar itu sepi, hanya terisi dua orang ini. Detak jantung mereka berdetak kencang secara bersamaan bahkan dengan keadaan sadar dan telinga yang masih berfungsi dengan baik, Wisnu dan Eleena bisa mendengar detak jantung satu sama lain.
Selain suara jarum jam, Eleena juga bisa mendengar suara detak jantungnya dan Wisnu menggebu di dalam sana. Wisnu memalingkan wajahnya, melepaskan tangannya dari punggung Eleena perlahan, dia juga memastikan bahwa gadis itu tidak akan jatuh.
"Wis—"
"El—"
__ADS_1
Canggung. Suasana ini sangat tidak menyenangkan. Mereka saling memanggil nama satu sama lain tapi berakhir mendiami diri sendiri. Detak jantung dua orang ini kembali menggebu, suaranya terdengar ke telinga. Wisnu tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, tapi yang pasti Eleena begitu cantik hari ini. Seberapa keras pun usaha Wisnu untuk tak menatap gadis itu dia selalu berakhir menatap Eleena.
Begitupun Eleena. Sikap Wisnu malam ini, mengalihkan seluruh perhatian Eleena. Gadis itu menghabiskan malam ini hanya untuk memperhatikan gerak-gerik Wisnu. Sedikit aneh, tapi Eleena menyukainya. Eleena seakan melihat sisi lain Wisnu hari ini, apalagi dengan jelas Eleena melihat wajah Wisnu memerah—lebih tepatnya telinga lelaki itu memerah.
"Wisnu kalau malu atau salting, telinganya selalu merah."
Ucapan Arfin terputar di ingatan Eleena. Apa mungkin saat ini Wisnu merasa salah tingkah karena kejadian tak disengaja tadi. Mereka saling menabrak untuk kesekian kali. Eleena tak tahu kenapa dari sekian banyak hal yang bisa terjadi, mereka menjadi dekat karena tabrakan. Itu adegan klise ayolah tapi semesta seakan tidak mendengarkan. Eleena bosan jika harus bertabrakan dengan Wisnu saja.
"So-sorry, El."
"Maaf? Buat apa?"
"Gue nggak lihat lo jalan tadi, jadi sorry."
Eleena tersenyum, "Nggak papa kok. Makasih ya udah nolongin gue."
Tunggu, kenapa mereka jadi berbicara seperti itu sekarang. Biasanya pembicaraan Wisnu dan Eleena harus dibarengi dengan urat-urat muncul tapi sekarang malah seakan seperti manusia normal. Saling meminta maaf dan memaafkan, padahal waktu sebelumnya mereka menghabiskan tenaga dan membuang-buang waktu hanya untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Toilet."
"Hah?"
"Gu-gue, mau ke toilet, El." Oh ayolah, Wisnu sudah tak tahan. Atmosfer ini bisa membunuh lelaki itu kapan saja.
Tangan Eleena terulur menunjuk ke arah kiri tubuhnya. Tanpa mengucapkan kata lagi, Wisnu segera melarikan diri dari Eleena. Wisnu masuk ke dalam toilet, menutup pintu itu rapat dan bersender di sana.
"Bisa gila gue gini terus sama, El," gumam Wisnu, berusaha menormalkan napasnya dan menormalkan detak jantungnya.
"Mungkin Wisnu belum suka sama gue, tapi gue nyaman sama dia," batin Eleena.
Kembali ke ruang tamu. Sinta masih bermain bersama Arfin, Baim dan Gilang. Berbeda dengan permainan yang tadi, sekarang mereka bermain ludo. Ruang itu dipenuhi dengan canda tawa dan sedikit teriakan heboh karena kemenangan atau kesenangan melihat salah satu di antara mereka kalah. Itu seru. Sampai akhirnya, dering ponsel Wisnu menggema.
Sinta menoleh ke ponsel yang tergeletak di atas meja begitu saja.
"Wis, hp kamu, Nak!" jerit Sinta. Tapi Wisnu tak menunjukkan tanda-tanda akan datang ataupun mendengar teriakan Sinta.
Sinta menghiraukan itu, tapi ponsel itu berdering tiada henti. Sinta berdecak, berdiri dari duduk. Dia memutuskan untuk mengangkat panggilan orang itu. Panggilan yang ternyata adalah panggilan video.
Sinta menjawabnya dan begitu panggilan video itu tersambung, Sinta langsung bisa menemukan wajah Rama di sana. Rama terkejut sama terkejutnya dengan Sinta. Setelah mereka bertemu tidak sengaja di jalanan mereka bertemu tidak sengaja di panggilan video juga.
"Sin—"
Sinta tidak mendengar, wanita itu buru-buru mematikan panggilannya. Dengan tangan gemetar, Sinta menaruh kembali ponsel Wisnu ke meja.
"Dia benar-benar anak Rama," gumam Sinta, berkeringat dingin hanya karena melihat Rama.
"Tan." Suara Wisnu mengalihkan atensi Sinta. Lelaki itu tersenyum, berjalan ke arahnya.
"Dia, anak Rama bersama Meethila ya?" Pertanyaan di batin Sinta itu sedikit menyesakkan untuknya.
Bagaimanapun, Sinta harus menerima kenyataan bahwa dia dan Rama memang sudah berakhir. Hubungan mereka tidak bisa berjalan seperti dulu. Tidak ada sisa dari hubungan mereka, tidak ada kenangan yang bisa menjadi jembatan untuk hubungan Rama dan Sinta. Alasan hubungan Rama dan Sinta bisa membaik sudah menghilang.
Bukti cinta Rama dan Sinta sudah lenyap. Tidak bersisa sedikitpun. Semuanya hilang. Apalagi bayi mereka. Bayi Rama dan Sinta sudah menghilang sebelum bisa menyatukan orang tuanya. Dia, hilang, alasan itu pergi.
__ADS_1