
Iris cokelat yang sedari tadi melihat Arfin dari jarak jauh, kini ia melangkahkan kaki mendekati Arfin. Gadis dengan rambut hitam panjang yang tergerai berdiri di sebelah Arfin.
Arfin yang masih tergeletak di tanah belum mampu untuk berdiri, melihat flatshoes berwarna hitam di dekat wajahnya. Pandangan Arfin dinaikkan. Dia melihat wajah cantik Eleena tanpa senyuman dan wajah datar.
"El." Lelaki itu mencoba berdiri. Eleena tahu lelaki itu kesusahan untuk berdiri maka dari itu Eleena berinisiatif membantu Arfin.
"Thanks El," ucapnya begitu dia bisa berdiri dengan bopongan dari Eleena.
Gadis itu tidak menjawab, dia membawa Arfin pergi dari sana. Arfin berada dalam bopongan Eleena, tanpa membuka bibir lagi, Arfin melirik Eleena yang masih diam. Rasa bersalah terus menyelimuti Arfin, apalagi Eleena masih berbuat baik padanya. Arfin tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Eleena setelah dia tahu kalau Arfin membohongi dia.
Wisnu Putra Aksanta, lelaki itu belum sepenuhnya pergi dari sana. Dia kembali untuk mengambil jam tangannya yang terlepas karena memukuli Arfin. Dengan perasaan penuh amarah dia melihat Arfin kembali bersama Eleena.
Wisnu meremas kuat jam tangan yang berada di genggaman. Belum ada 5 menit Wisnu memukuli Arfin, lelaki itu kembali berulah. Dia tidak ada kapoknya mendekati Eleena. Entah sejauh mana hubungan Arfin dan Eleena. Mungkin saja mereka sudah berpacaran di belakang Wisnu. Kalau benar mereka berdua berpacaran, Wisnu berjanji tidak akan memaafkan Arfin. Bukan hanya pukulan, Wisnu akan menghabisi Arfin dengan tangannya sendiri.
Arfin berani bermain-main dengan Wisnu Putra Aksanta. Apa yang bisa dilakukan keluarga Alyas jika Keluarga Aksanta sudah turun tangan.
Wisnu melangkah, mengikuti ke mana Eleena membawa Arfin. Untuk saat ini dia ingin tahu sejauh apa hubungan Arfin dan Eleena.
"Lo udah buat gue benci banget sama lo, Arfin," gumam Wisnu. Membuang kasar jam tangan mahal itu.
Uang sudah tidak ada harganya bagi Wisnu. Jam bernilai jutaan itu bisa dibelinya kapan saja. Jadi Wisnu tidak terlalu peduli dengan kerusakan pada jam tersebut.
...***...
Eleena mendudukkan Arfin pelan. Gadis itu membawa Arfin cukup jauh, taman depan kampus. Gadis itu masih diam, dia membuka kotak P3K yang tadi sempat dia ambil dari mobil.
Melihat amarah Wisnu pada Arfin tadi, membuat Eleena berinisiatif untuk segera membawa kotak P3K, karena dia yakin Wisnu pasti akan menggunakan kekerasan. Putra Aksanta itu tidak pernah jauh dari kekerasan. Jiwa kasar keluarga Aksanta menurun pada Wisnu, wajar saja keluarga Bundanya—Agustama sangat membenci keluarga Aksanta. Karena memang mereka sangat kasar.
Namun, saat sampai di sana, dia melihat pukulan Wisnu dan juga mendengar pengakuan Arfin. Gadis yang tengah mengobati luka Arfin ini tidak pernah membayangkan Arfin pernah berniat begitu jahat dengan memanfaatkan kepolosan Eleena.
Eleena sudah menganggap Arfin sebagai teman. Teman terbaik yang Eleena punya, tapi benar kata orang-orang, "Jangan pernah percaya pada manusia, jika tidak ingin kecewa."
__ADS_1
Sikap Arfin yang begitu manis, baik dan sangat menghargai Eleena, ternyata sebuah kebohongan. Apa yang Arfin pikirkan tentang Eleena, apa dia pikir Eleena adalah perempuan buruk yang mau menyerahkan tubuhnya walaupun sudah jatuh cinta. Eleena bahkan tidak pernah berpikir akan hal itu.
"Auu." Ringisan Arfin membuat pergerakan Eleena yang mengoleskan salep di luka Arfin sedikit memelan. Eleena memang kecewa atas sikap Arfin, tapi dia tidak akan melupakan sifat kemanusiaan. Arfin terluka dan sebagai manusia yang baik, Eleena yang membantunya. Karena hanya Eleena yang tahu bagaimana keadaan Arfin, juga Gilang dan Baim. Tapi kedua lelaki itu tidak membantu Arfin sama sekali, teman yang tidak bisa disebut sebagai teman.
"Masih ada yang sakit?" tanya Eleena. Arfin menggeleng. "Thanks El."
Eleena merapikan kotak P3K yang ia punya masih dengan wajah datar tanpa senyuman. Eleena tidak bisa tersenyum dengan manusia seperti Arfin.
Eleena berdiri, dia melangkah ingin pergi meninggalkan Arfin setelah mengobati luka lelaki itu.
"El, mau ke mana?" Eleena tidak menjawab, dia melirik Arfin sebentar lalu kembali melangkah pergi.
"El mau ke mana?" Arfin berusaha berdiri, namun karena keadaan Arfin masih lemah dia jatuh akibat kehilangan keseimbangan. Dan lagi-lagi Eleena dengan kesigapan menangkap Arfin yang nyaris saja jatuh.
Iris cokelat Eleena bertemu dengan iris cokelat Arfin. Eleena tidak bisa berbohong, iris Arfin itu indah, sama seperti iris hazel milik Wisnu. Eleena tanpa mengatakan apapun, mendudukkan Arfin kembali.
Arfin memegang pergelangan tangan Eleena, agar gadis itu tidak pergi lagi darinya. "Lo, marah sama gue, El?"
"I hate you." Arfin bungkam begitu perkataan Eleena mencapai pendengarannya. Arfin melepaskan lengan Eleena.
"You're so stupid. Stupid, Arfin," lanjut Eleena.
"Gue nggak nyangka lo bisa ngelakuin hal kayak gitu. Lo pikir gue cewek apaan?" Arfin masih terdiam karena kata-kata Eleena.
"Crazy. Gue nggak pernah berpikir lo bisa bohongi gue," kata Eleena yang bisa terdengar nada kecewa dari sana.
Arfin tahu ke mana arah pembicaraan ini. Arfin tahu apa maksud Eleena kali ini. Arfin tahu kenapa Eleena mengatakan ini. Arfin bahkan terkejut kala ia mengetahui bahwa Eleena sudah lebih dulu tahu hal ini. Sebelum Arfin memberitahukan pada gadis itu lebih dulu.
"Sejak kapan?" tanya Arfin. Eleena tidak menjawab, malahan gadis itu membuang arah pandangnya dari Arfin.
"Kapan lo tahu, El?"
__ADS_1
"Dari elo! Gue tahu langsung dari mulut lo, Arfin!" bentak Eleena. "Lo gila? Hah?!"
Kedua iris mata Eleena mulai memanas.
"Gue pikir lo teman gue yang paling baik, teman yang nggak manfaatin gue dan teman yang paling tulus sama gue. Gue udah nganggep lo teman Arfin, tapi ternyata lo bahkan lebih buruk dari teman gue yang selalu malakin duit gue. Lo, lebih buruk dari mereka, Arfin." Suara Eleena terdengar lirih.
"Gue minta maaf, El. I'm regret El. Gue nggak tahu apa yang gue pikirin saat itu, gue tau gue brengsek, so I'm sorry, really."
Air mata Eleena terjatuh. Siapa sangka dia akan mendengar ucapan penyesalan dari bibir Arfin. Kalau begitu memang sudah terbukti Arfin pernah berniat buruk padanya. Padahal Eleena berharap Arfin akan membantah hal itu dan mengatakan kalau Wisnu yang memaksanya, tapi nyatanya itu benar. Dan Arfin mengakui kesalahan yang belum dia perbuat.
Senyum kecil muncul dari wajah tampan Wisnu. Tidak sia-sia dia mengikuti dan memata-matai Arfin. Dia bisa melihat drama yang begitu indah. Pertengkaran Eleena dan Arfin membuat Wisnu senang. Ini yang Wisnu harapkan. Arfin membuatnya kesal dan Eleena juga kesal pada Arfin. Wisnu puas.
"El, gue tau gimana perasaan lo sekarang. Gue tau banget, El. Gue nyesel El. Kalau lo nggak mau temenan sama gue lagi, gue terima El. Tapi maafin gue El, please."
Eleena belum menjawab, kekecewaan sudah terlanjur menguasai, sampai-sampai perkataan Arfin tidak lagi ia hiraukan.
Arfin lagi-lagi mencoba berdiri, tapi kali ini dia sudah bisa untuk menjaga keseimbangan diri. Arfin meraih tangan Eleena.
"El, maafin gue, gue janji nggak akan lakuin hal ini lagi. Gue, khilaf El. Gue pikir lo sama kayak cewek lain yang bakal tergila-gila sama gue, tapi gue salah. Gue salah besar nganggep lo sama dengan cewek nakal di luar sana." Arfin menghela napas sejenak.
"Lo itu beda, El. Beda dari yang lain. Lo perempuan pertama yang bikin gue nyaman dan memperlakukan gue layaknya manusia. Lo cewek pertama yang menerima gue apa adanya bukan karena nama belakang gue. Lo istimewa El, lo cewek paling istimewa yang pernah gue temui."
Eleena bisa merasakan ketulusan dari ucapan Arfin. Tapi Eleena sudah terlanjur kecewa. Pusing itu kembali menyerang, Arfin kehilangan keseimbangan. Lelaki itu jatuh ke pelukan Eleena. Mereka berdua berpelukan karena ketidaksengajaan.
Senyuman di wajah Wisnu musnah begitu dia melihat Eleena dan Arfin berpelukan. Arfin benar-benar sudah hilang akal, setelah bertengkar dia memeluk Eleena. Sangat di luar nalar.
Iris hazel Wisnu melihat bagaimana Eleena membawa Arfin pergi dari tempat mereka berdebat. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih. Secara tidak langsung Arfin menghina Wisnu.
Namun, bukan hanya kemesraan antara Eleena dan Arfin saja yang membuat Wisnu kesal. Ada hal lain yang agak mengganjal di hatinya. Wisnu, rindu. Dia rindu dengan Eleena, dan ada api amarah ketika melihat gadis yang sering bertengkar dengan dirinya bermesraan dengan temannya sendiri.
Wisnu juga ikut pergi dari sana. Berlama-lama di tempat ini bisa membuat lelaki itu gila. Lebih baik dia kembali ke hotel dan beristirahat. Istirahat dari dunia yang jahat.
__ADS_1