
Seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda, mengenakan kaos putih dengan gambar boneka beruang di tengahnya dan dilapisi oleh kemeja berwarna merah muda di luarnya. Gadis dengan flatshoes berwarna kecoklatan berpadu menarik dengan celananya yang juga berwarna kecoklatan menyatukan warna dengan gambar boneka beruang di tengah kaosnya.
Gadis itu berdiri di tengah kerumunan mahasiswa berlalu lalang keluar dari kelas mereka. Gadis yang berdiri di depan fakultas Sastra menanti kedatangan seseorang.
Seorang laki-laki. Laki-laki yang sekarang tertangkap di iris kecokelatan miliknya sedang merangkul dua orang gadis sekaligus. Satu gadis itu mengenakan dress dan rambutnya di kepang, satunya lagi mengenakan pakaian casual dengan rambut di gerai dan lelaki yang mengenakan kaos hitam dengan kemeja biru di luarnya dan celana pendek hitam berdiri di tengah. Dia bersikap layaknya penguasa kedua gadis itu.
Eleena hanya bisa menggelengkan kepala melihat bagaimana Arfin bisa sedekat dan seakrab itu dengan kedua gadis itu. Dan yang lebih mengejutkannya kedua gadis itu tidak marah Arfin memperlakukan mereka seperti itu, Arfin memang berbeda. Bisa Eleena tebak dari salah satu gadis yang sedang ia rangkul itu ada salah satu mantan kekasihnya.
Eleena menyilangkan kedua tangannya di dada ketika Arfin mendekat ke arahnya. Laki-laki yang satu minggu lalu ia bawa ke Unit Kesehatan karena pingsan sewaktu di koridor, sekarang lelaki sudah kembali seperti biasa. Kembali menjadi Arfin si pencinta gadis.
"Eh, El." Arfin cengengesan, melepas rangkulannya dari kedua gadis itu.
Eleena berdecak sembari menggelengkan kepala, luar biasa lelaki satu ini.
"Cewek baru lo, Fin?" tanya gadis berpakaian casual itu.
"Outfitnya couple nih ye," sambung gadis berambut kepang itu bermaksud menggoda Arfin.
"Gue temen Arfin." Eleena langsung membalas perkataan kedua gadis itu tak memberikan Arfin kesempatan karena Eleena tahu, jika Arfin yang menjawab akan terjadi rumor besar di kampus. Arfin kan hobi bercanda, bisa saja lelaki itu menyeletuk kalau Eleena benar-benar pacarnya.
"Masa cuma teman, orang outfitnya couple begitu," imbuh gadis berkepang itu.
Arfin dan Eleena saling melempar pandang. Menatap penampilan satu sama lain dengan intens. Memang, penampilan mereka hari ini senada, walau berbeda warna tapi seakan searah.
"Gue beneran teman Arfin." Eleena menekankan kalimatnya tapi malah disambut dengan tawaan dari kedua gadis di depannya ini.
"Temen apa demen, Fin." Gadis berpakaian casual itu menyenggol Arfin, menggoda Arfin sampai rona merah muncul di wajahnya.
"Temen gue." Arfin akhirnya membuka suara, menghentikan godaan mereka walau karena godaan kedua gadis yang ia rangkul tadi tercipta rona merah di pipinya.
"Serius?" Kedua gadis itu bertanya bersamaan, tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. Kejadian langka sekali Arfin memperkenalkan seorang gadis dengan kata 'teman'.
Biasanya Arfin akan memperkenalkan seorang gadis sebagai 'calon pacarnya', 'kesayangan' 'cantiknya gue' dan lain-lainnya.
"Iya, El ini temen gue." Arfin memegang lengan Eleena. "Cantik kan dia? Jangan bilang dia pacar gue loh ya, mentang-mentang kita outfitnya couple hari ini, tapi gue nggak ada janjian kok. Beneran deh, ini murni ketidaksengajaan."
Kedua gadis itu semakin terkejut mendengar penuturan panjang Arfin, memperkenalkan Eleena sehormat itu. Dari setiap kata yang dipilih oleh Arfin mereka saja bisa menyimpulkan bahwa ada yang berbeda dari diri Eleena sampai-sampai Arfin berusaha melindungi gadis itu dari rumor yang tidak-tidak.
"Okay, kita duluan." Gadis dengan rambut kepang itu menarik tangan gadis berpakaian casual untuk pergi dari hadapan Arfin dan Eleena. Mereka sudah cukup mengetahui bagaimana hubungan Arfin dan Eleena dari jawaban Arfin tadi. Mereka sudah tahu Eleena itu berbeda dan punya tempat istimewa di hati Arfin, terlihat dari sikap lelaki itu yang langsung menurunkan rangkulannya dari mereka begitu melihat ada Eleena.
Mereka berdua adalah mantannya Arfin. Mereka sama-sama anak sastra. Gadis berkepang itu anak Sastra Inggris terlihat dari almamater berwarna biru yang ia taruh di lengan sebelah kirinya. Dan gadis berpakaian casual itu berasal dari Sastra Korea terlihat dari almamater putih yang ia pakai sekarang.
__ADS_1
"Tu anak Sasing sama Saskor, mantan lo atau calon mantan lo?" Eleena menembak Arfin dengan pertanyaan menohok begitu kedua gadis itu sudah hilang dari pandangan dan tersisa mereka berdiri di sisi kiri lobi.
"Dua-duanya mantan." Arfin menjawab cengengesan.
"Kok bisa lo akrab sama mantan lo sih?" tanya Eleena, mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana dan disusul oleh Arfin.
"Bisalah, kan mereka teman gue," balas Arfin.
"Semua temen lo."
"Semua cewek memang temen gue, El." Arfin merangkul pundak Eleena. Menampilkan senyum manisnya pada gadis itu. Eleena tak merasa terusik sama sekali.
"Lucu lo. Gue suka lo yang ceria gini, makanya jangan sakit." Eleena mengacak rambut Arfin gemas melihat senyum lelaki itu. Hanya gerakan kecil berupa elusan di rambut tapi jantung Arfin sudah menunjukkan tanda-tanda bahaya. Jantung Arfin terasa seperti diajak mengililingi lapangan sebanyak sepuluh kali, detak ini terlalu kencang untuk Arfin.
"Antar gue ke kelas Wisnu yuk," ajak Eleena di tengah perjalanan mereka memasuki fakultas Ekonomi dan Bisnis.
"Mau ngapain? Nge-date lagi?" tanya Arfin sedikit menggoda gadis itu.
"Kagak. Gue mau ngasih pemberian Bunda. Sekalian undangan buat dia, buat lo juga sama dua teman lo itu."
"Undangan apa nih?"
Eleena memukul lengan Arfin menghentikan godaan dari lelaki itu. Bukannya kesakitan mendapatkan pukulan dari Eleena, Arfin justru tertawa karenanya.
"Ini kelas Wisnu." Arfin melepaskan pegangannya, dia beralih mengangkat tangan kanannya di depan pintu kelas tempat bersemayam Wisnu, Gilang dan Baim.
"Tuan Muda!" jerit Arfin, melambaikan tangannya agar bisa terlihat oleh mata Wisnu.
Wisnu bersama yang lainnya menoleh ke arah sumber suara.
"Keluar!" jerit Arfin lagi. Wisnu mengambil tasnya, menaruh ransel di pundak sebelah kiri. Wisnu bangkit dari duduknya bersamaan dengan Baim dan Gilang. Mereka bertiga berjalan keluar dari kelas menghampiri Arfin yang berdiri di ambang pintu.
Wisnu keluar kelas, matanya melihat Arfin tapi sepersekian detik berikutnya iris hazel milik Wisnu menemukan keberadaan Eleena yang berdiri di sebelah Arfin. Gadis mungil yang terlihat pendek ketika berada di sebelah Arfin, bukan hanya di sebelah Arfin, Eleena terlihat mungil di sebelah siapa saja apalagi dirinya. Wisnu kadang geli jika berjalan bersama gadis itu, mereka lebih cocok sebagai kakak-adik daripada sepasang kekasih.
Wisnu dan Eleena menyempatkan waktu untuk menatap iris satu sama lain. Mereka kembali tenggelam pada tatapan dalam yang diperlihatkan ketika kedua iris mereka saling menatap. Atmosfer membingungkan kembali singgah ke dua lubuk hati yang mereka punya. Rasa aneh yang tak akan pernah bisa dipahami. Rasa ingin memiliki tapi menghindarkan diri.
"Mau ngapain lo?" Suara Gilang memecah atmosfer aneh antara Wisnu dan Eleena.
"Iya, ngapain bareng sama Arfin juga?" Baim sambung bertanya.
"Dia tadi nyamperin gue elah. Nanya kelas lo pada. Tadi El lucu banget, kayak Minion berdiri di depan fakultas Sastra." Arfin terkekeh mengingat bagaimana kecilnya tubuh Eleena yang sedang menunggu kedatangannya di tengah banyaknya orang berlalu-lalang.
__ADS_1
"El emang tempatnya ucul," lanjut Arfin, mencubit pipi Eleena.
"Sakit tahu," ringis Eleena, menunjukkan wajah galaknya tapi Arfin malah semakin gemas dan berakhir mengacak rambut kuncir kuda gadis di sebelahnya itu.
"Nyebelin banget sih lo, Fin," kesal Eleena, merapikan rambutnya yang berantakan karena Arfin.
"Gantian lah, tadi lo gituin gue juga." Arfin menunjuk rambutnya yang tak serapih tadi karena acakan dari Eleena sewaktu mereka berjalan ke tempat ini.
Wisnu diam menyaksikan bagaimana interaksi antara Arfin dan kekasihnya. Seharusnya Wisnu biasa saja, seharusnya Wisnu tidak merasakan apa-apa, seharusnya Wisnu tidak marah hanya karena hal itu. Namun nyatanya, Wisnu ingin marah, Wisnu ingin menegur Arfin karena sedekat itu dengan Eleena. Nyatanya Wisnu ingin membuat keributan sekarang karena Arfin berani bersikap seperti itu pada Eleena tepat di hadapan Wisnu yang notabenenya adalah pacar dari Eleena.
Gilang merasakan hawa panas dari diri Wisnu. Gilang sudah mengenal Wisnu sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, Gilang mengenal sikap baik-buruk Wisnu, apa yang disukai dan tidak disukai lelaki itu, termasuk perubahan suasana hati Wisnu. Dan untuk hal seperti ini, sangat mudah untuk Gilang mengetahui. Gilang tidak pernah salah ketika dia mengatakan bahwa Wisnu bisa menyukai Eleena kapan saja, terbukti dari sekarang, Wisnu cemburu karena interaksi Eleena kepada Arfin.
"Mau ngapain?" Gilang kembali memecah keadaan. Gilang berusaha mengalihkan keadaan Wisnu serta Eleena dan Arfin agar tidak berlama-lama di dalam atmosfer tidak menyenangkan ini.
"Hadiah lo, El." Arfin menyenggol Eleena. Gadis bertubuh kecil itu buru-buru membuka ransel hitam kecilnya. Mengeluarkan beberapa undangan dan juga kotak kecil berwarna putih dengan pita emas di atasnya.
Eleena mengancingkan ranselnya, dibantu oleh Arfin karena gadis itu terlihat kepayahan karena banyak benda yang dipegang kedua tangannya.
"Nih." Eleena menyodorkan satu undangan dan satu buah kotak itu kepada Wisnu. Wisnu tidak bertanya, langsung saja mengambil hal itu dari Eleena.
"Bilang makasih sama nyokap lo," kata Wisnu.
Eleena tidak heran kalau Wisnu memang mengetahui itu pemberian dari Sinta. Lagipun Wisnu juga lebih paham, mana mungkin Eleena memberinya hadiah.
"Ini buat lo, lo dan lo." Eleena memberikan satu persatu undangan itu pada Baim, Gilang dan juga Arfin. Mata keempat lelaki itu membaca tulisan yang ada di undangan berwarna keemasan itu.
Sebuah tulisan yang bertuliskan undangan makan malam di kediaman Dirgantara. Arfin menatap Eleena, "Dinner? For what?" tanya Arfin.
Eleena mengedikkan bahunya, "Nggak tahu. Tapi kata Bunda lo semua harus datang besok. Gue nggak tahu kenapa, tapi yang pasti Bunda bilang sama gue kemarin kalau dia mau Wisnu datang ke acara dinner yang dibuat sama Bunda di rumah, sekalian ajak teman-temannya. Karena yang gue tahu teman ni orang." Eleena menunjuk Wisnu. "Cuma Arfin sama lo berdua, jadi gue undang aja." Eleena jujur, dia tidak tahu siapa nama dua orang lelaki di sebelah Wisnu ini.
"Gue Gilang btw," ucap Gilang. "Gue Baim," sambung Baim, memperkenalkan diri mereka.
"Oh oke, salam kenal, gue Eleena," ujar Eleena.
"Dah tau." Baim membalas ketus, dan langsung mendapat lirikan tajam dari Wisnu.
"Jangan lupa datang besok ya, itu udah ada alamatnya. Kalau kalian nggak datang, kasian Bunda," tutur Eleena.
"Kita bakal datang bareng," jawab Wisnu, memberikan lengkungan di bibirnya. Senyuman kecil, tapi itu indah dan Eleena menyukainya.
Eleena kembali terjebak di atmosfer membingungkan itu. Senyuman kecil Wisnu, membawa detak Eleena berlarian kesana-kemari. Tak bisa dibendung, Eleena sampai harus menggigit bagian bawah bibirnya agar tidak teriak sekarang juga. Eleena selalu mencari cara agar tidak merasakan atmosfer ini setiap kali bertemu dengan Wisnu, tapi dia tidak bisa. Semua tips yang gadis itu lihat di internet tidak berefek apa-apa.
__ADS_1
Eleena ingin lepas dari perasaan aneh ini, tapi dia tidak bisa. Seakan semesta punya kejutan untuk dirinya sehingga dia harus merasakan hal seperti ini. Kalau memang semesta punya kejutan, Eleena harap kejutan itu adalah kejutan yang menyenangkan.