Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Mengenal lebih dekat


__ADS_3

Sepatu sneaker miliknya berjalan di atas lantai berbalut wallpaper berwarna coklat kayu. Dia beserta ketiga temannya berjalan menyusuri lobi kampus melewati banyak orang dengan menenteng ransel di sebelah kiri bahu.


Laki-laki yang ketika berjalan saja bisa membuat banyak gadis mabuk kepayang dalam sekejap, laki-laki dengan rambut menutupi dahi, jam mahal yang melingkar di tangan, serta kacamata hitam bertengger di atas hidung.


Laki-laki berkemeja hitam lengan pendek, dengan harum layaknya minyak telon bayi namun tercampur dengan bau maskulin laki-laki tercium sampai di lubang hidung para gadis yang sengaja berdiri untuk menunggunya melewati mereka.


Dia, Wisnu Putra Aksanta—Laki-laki tampan nan kaya incaran banyak wanita tapi nyatanya yang bisa memacarinya hanyalah Eleena Safira Dirgantara. Gadis yang berjalan di depan dengan rambut tergerai dan jepitan biru di atasnya—gadis itu berjalan bersama teman, Wisnu. Ya, Eleena berjalan menuju kelas bersama dengan Arfin. Karena fakultas mereka searah, Arfin memang sering pergi bersama Eleena dan itu menimbulkan rasa yang sedikit tak enak di hati Wisnu, tapi dia bisa apa. Eleena akan tetap jadi milik Arfin meskipun sekarang status gadis itu adalah pacarnya.


Melihat Arfin pagi ini membawa Wisnu mengingat apa yang dilakukannya kemarin. Sehabis pulang dari kampus, kedua laki-laki itu pergi ke bar tapi tidak membawa Gilang dan juga Baim entah apa alasannya.


"Gue mau ngomongin hal ini cuma berdua sama lo." Itu kata Wisnu saat dia mengajak Arfin pergi ke bar bersama menaiki mobilnya.


Seperti biasa, aktivitas kedua laki-laki itu hanya minum sampai kehilangan kesadaran. Namun Arfin selalu menyempatkan diri untuk menggoda dan berbincang dengan gadis cantik yang ada di bar. Tanpa sadar, aktivitas Arfin itu membuat Wisnu memunculkan senyum.


"Arfin," panggil Wisnu sedikit berteriak agar orang yang dipanggil mendengar karena jarak mereka cukup jauh juga.


Arfin bangkit dari duduk, pamit sebentar kepada para gadisnya lalu menghampiri Wisnu segera. Laki-laki itu duduk di sebelah Wisnu dengan keadaan yang mungkin sudah hilang kesadaran sepenuhnya.


"Lo pasti mau nanya, kan?" tebak Arfin dengan sedikit cengiran karena alkohol sudah menguasai.


Wisnu mengangguk. "Soal El?" lanjut Arfin. Wajah Arfin yang semulanya tampak seperti laki-laki nakal dan konyol tapi kini berubah menjadi serius apalagi saat nama Eleena ia ucapkan.

__ADS_1


Wisnu tidak menjawab, lelaki itu hanya diam. Bahkan Wisnu juga tidak bergerak. "Gimana kencan lo sama El kemarin?" tanya Arfin, menyenderkan tubuh ke kursi.


"Baik," jawab Wisnu singkat. "El suka nggak sama hadiahnya?" tanya Arfin lagi, kali ini dia tampak sangat bersemangat. Segala hal tentang Eleena membuat Arfin begitu bersemangat.


"Thanks banget ya lo udah mau ngajarin gue, El suka banget sama hadiahnya. Dia paling suka sama puisinya, dia bilang 'Puisinya bagus, kata-katanya terlalu indah untuk bisa dibaca tapi terlalu rumit untuk diabaikan, kata-katanya begitu dalam dan mampu buat gue tenggelam'." Wisnu mengatakan itu sambil membayangkan bagaimana suara lembut Eleena di panggilan suara yang mereka lakukan saat Wisnu sedang diperjalanan menuju kampus.


"Lo emang anak Sastra sejati. Kata-kata lo indah banget beneran," puji Wisnu.


"Berarti El suka sama puisi buatan gue ya? Kalau gitu gue bakal buat lebih banyak puisi lagi," batin Arfin masih mempertahankan senyumannya tapi pandangannya lurus menatap ke depan.


"Fin, udah sejauh mana lo kenal sama Eleena?" Pertanyaan Wisnu ini sedikit menginterupsi Arfin. Laki-laki membetulkan duduknya, dia yang semula menyandarkan punggung ke kursi kini dia duduk di depan Wisnu agar bisa menatap lawan bicaranya lebih jelas.


"Nggak jauh-jauh banget sih, tapi lumayan lah," balas Arfin.


"Kenapa?"


"Ya, nggak papa. Buat jaga-jaga aja siapa tahu bokap gue kesambet anehnya tiba-tiba nanyain soal El ke gue," alasan Wisnu.


Arfin tidak langsung menjawab, dia diam sebentar. Seakan menimbang akankah dia harus memberitahu hal ini kepada Wisnu atau tidak. Ada banyak rasa takut yang hinggap di hati dan pikiran Arfin. Mengingat ketika dia tahu bahwa Eleena dan Wisnu menghabiskan waktu bersama selama satu hari penuh pada saat Valentine saja membuat Arfin merasakan sakit yang dia tidak tahu kenapa.


Asal kalian tahu, Arfin juga ada di tempat itu. Dia pergi bersama teman perempuannya yang lain, tapi tidak lama. Ketika dia melihat Eleena tersenyum dan menatap Wisnu dalam sama seperti dia menatap Eleena biasanya hanya karena Wisnu mengetahui bunga kesukaannya, Arfin langsung pergi dari sana. Tanpa izin dari gadis yang ia bawa, Arfin melajukan mobilnya menjauhi tempat itu. Bukan apa, tapi tatapan Eleena pada Wisnu seakan memberitahu lelaki itu bahwa hubungan Eleena dan Wisnu bukan hanya sekedar pura-pura tapi lebih dari itu. Namun satu hal yang terus Arfin pegang adalah janji Wisnu. Laki-laki itu berjanji untuk tidak jatuh cinta pada Eleena. Jadi, meskipun Eleena menyukai Wisnu, lelaki itu tidak akan menyukainya dan Eleena dia tetap milik Arfin.

__ADS_1


"Eleena suka jalan-jalan apalagi ke taman. Dia anak senja, galeri handphonenya sampai punya album khusus buat senja. El juga penyayang keluarga, karena dia anak tunggal dia selalu dimanja. Ayah sama Bundanya terlalu sayang sama El, maka dari itu El jarang banget nangis karena orang tuanya nggak pernah buat dia sedih, kalaupun dia sedih atau lagi kalut, El bakal ngelampiasin hal itu ke melukis. Lukisan El cantik banget dia—"


"Gue tau, dia ngasih gue lukisan kemarin," sela Wisnu.


Arfin menghela napas sejenak, sudah Arfin bilang rasa tidak enak itu selalu datang tiap kali Wisnu membawa hal mengenai Eleena dari mulutnya.


"El juga suka banget baca buku, terlebih novel. El juga suka nonton film atau series gitu. Setiap mau tidur, El selalu ganti baju jadi piyama. Di kamar El ada balkon cantik, khusus buat dia baca buku atau ngelukis atau bersantai sambil maskeran dan dengerin lagu," lanjut Arfin.


Wisnu sedikit menunduk tanpa sadar. Arfin sudah mengetahui begitu banyak sampai-sampai apa yang ada di dalam kamar Eleena saja dia tahu. Wisnu kalah jauh kalau ingin mengejar.


"El juga orangnya rapih. Dia lembut banget, senyumnya itu manis. Dan orangnya fashionable banget, semua outfitnya itu harus senada. Lo tau nggak alasan kenapa El suka pakai jepitan rambut?"


Wisnu menggeleng, "Jadi dulu, waktu El kecil dia dikasih hadiah sama Ayahnya berupa jepitan rambut. Dan Ayahnya bilang dia harus pakai jepitan rambut biar Ayahnya bisa kenal sama El kalau mereka lagi di keramaian. Jadi sampai sekarang makai jepitan itu jadi kebiasaan buat El, mungkin dia takut nggak dikenali." Arfin terkekeh kecil di akhir kalimatnya.


"Lo mau tau sikapnya El?" Wisnu mengangguk. "El itu, orangnya baik, baik banget. Dia bisa jadi pendengar yang baik bisa kasih solusi juga, kalau dia nggak bisa kasih solusi dia bakal kasih semangat. El nggak akan nge-judge orang yang cerita sesuatu sama dia, makanya gue sering curhat sama El. El punya empati yang tinggi, dia bukan orang yang kepo terhadap privasi orang lain jadi El itu bisa jaga rahasia sebaik mungkin. El juga orang yang sekali dia bilang dia nggak suka, dia nggak bakal suka tapi kalau dia bilang dia suka dia bakal suka hal itu sampai gila tapi gue nggak tau hal itu berlaku buat lo atau nggak." Wisnu merasa akhir kalimat Arfin seperti menyindir dia. Karena Eleena sering mengatakan bahwa dia tidak menyukai Wisnu jadi kemungkinan untuk gadis itu menyukai Wisnu sangat kecil.


"Kalau lo mau tau makanan sama minuman favorit El, dia suka banyak hal sih. Tapi yang pasti dia alergi kacang sama nanas. Jadi, lo bisa beliin apa aja selain dua hal itu. Tapi kalau kata Eleena, ketika hujan dan lo lagi bareng sama dia, mending belikan dia bakso. Dia bakal seneng banget, gue pengin ngelakuin itu kemarin tapi setiap bareng gue nggak pernah hujan," sambung Arfin ada nada kecewa diakhir kalimatnya.


Bayang-bayang Eleena memenuhi pikiran Wisnu sekarang. Informasi mengenai Eleena yang dia dapat dari Arfin membuat Wisnu seakan mengenal perempuan itu lebih dekat. Dan, yang seperti Wisnu bilang, Eleena itu istimewa. Mungkin Eleena akan jadi salah satu makhluk istimewa di hati dan hidupnya nanti.


Di tengah Wisnu mengingat kembali percakapan antara dia dan Arfin kemarin, Wisnu tak sengaja melihat Arfin berjalan bersama perempuan lain. Lelaki itu tampak tersenyum lebar sambil merangkul pundak sang gadis. Mereka berdua berjalan ke sini sambil bercanda dan sangat terlihat Arfin banyak menggoda perempuan itu. Namun gadis itu tidak marah, melainkan dia senang. Bisa sedekat ini dengan seorang Arfin Fano Alyas adalah hal berharga yang harus diabadikan.

__ADS_1


Seperti yang dia lakukan sekarang, dia berfoto bersama Arfin dengan berbagai macam gaya. Arfin biasa melakukan hal seperti ini pada setiap gadis yang ia kenali dan menjadi temannya maka dari itu, julukan playboy kampus sangat melekat di diri Arfin.


"Kalau Arfin udah balik jadi playboy lagi, dia gak akan sesakit itu kan kalau gue suka sama El?" batin Wisnu menatap Arfin yang masih sibuk bersua foto bersama salah satu gadisnya.


__ADS_2