Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Menghindar


__ADS_3

"Arfin mana?" Wisnu menghampiri seorang laki-laki dengan almamater kuning yang berarti Wisnu sedang berada di wilayah Fakultas Sastra Indonesia.


Lelaki yang merasa bahwa Wisnu bertanya padanya, berbalik badan. "Arfin?"


Wisnu mengangguk mantap. "Iya. Lo lihat dia nggak?"


Lelaki itu mengedarkan pandangannya sejenak, lalu dia juga bertanya pada mahasiswa lain yang juga sama-sama anak Sastra Indonesia seperti dia. Jawaban mereka berdua sama, kedua mahasiswa itu tidak mengetahui di mana Arfin berada.


"Cari aja di kelasnya," kata lelaki itu, lalu pergi bersama mahasiswa lainnya.


"Kalau dia di kelasnya, gue nggak perlu ke sini, bego!" umpat Wisnu pelan, yang tertuju pada dua mahasiswa beralmameter kuning itu.


Sudah hampir satu minggu Wisnu tidak melihat Arfin di area Universitas Binawa. Kalaupun dia melihat lelaki itu, Arfin selalu menghindar darinya. Setiap Wisnu memanggil atau mendekati, Arfin akan langsung pergi dari tempat. Bahkan belakangan ini, Arfin juga selalu pulang lebih cepat.


Bukan hanya susah untuk ditemui, Arfin juga susah untuk dihubungi. Selama satu minggu ini, Wisnu mencoba menelepon lelaki itu, memberinya pesan tapi alih-alih menjawab telepon Wisnu, Arfin bahkan tidak membaca pesan dari Wisnu.


"Dah ketemu, Arfin?" Gilang datang dari belakang, menghampiri Wisnu. Dua laki-laki dengan almamater hijau berada di tengah-tengah lobi area almamater kuning.


Wisnu menatap Gilang sejenak, lalu menggeleng. "Gue dah nanya sama orang lain, tapi mereka nggak ada yang tahu Arfin di mana," balas Wisnu.


"Kita ke kelasnya lagi," ajak Gilang.


"Percuma, Lang. Gue udah ke kelasnya tadi, tapi anaknya nggak ada. Atau dia yang nggak mau ketemu gue."


"Gue kalau jadi Arfin juga nggak mau ketemu sama lo, tolol!" Gilang mendengus kesal. Hal yang selama ini lelaki itu pikirkan benar-benar terjadi. Sebenarnya ini bukan pertama kali Arfin menghilang dari mereka, tapi untuk kali ini kecemasan dari dua laki-laki ini begitu besar. Apalagi kejadian beberapa minggu lalu Arfin sempat demam tinggi dan berakhir pingsan di rumah Baim. Mereka hanya takut, kalau Arfin menghindar dan hilang dari pengawasan mereka, ada sesuatu yang terjadi pada lelaki itu.


"Gue takutnya, dia sakit lagi," ucap Wisnu.


"Mungkin lo salah, karena itu dia." Pandangan Wisnu yang semula tertunduk, kini mulai terangkat. Lelaki itu menatap Gilang sampai akhirnya dia mengikuti arah pandang Gilang.


Dan dia menemukan Arfin. Laki-laki bercelana hitam, dengan almamater kuning terpakai sempurna di tubuhnya, berjalan ke arah mereka. Laki-laki dengan dahi terpampang nyata berbeda dengan Wisnu yang dahinya tertutupi oleh rambut.


Wisnu dan Gilang tak beranjak sedikitpun dari tempat mereka. Dua orang itu membiarkan Arfin sendiri yang datang menghampiri mereka. Laki-laki yang sibuk berkutat dengan ponselnya, dan tak menyadari bahwa Putra Aksanta bersama Gilang berdiri di depannya.


Meskipun pandangan Arfin tertunduk ke bawah, dia masih bisa melihat bahwa ada empat pasang sepatu berada di depannya. Arfin mengangkat pandangannya, tanpa bisa mengelak Arfin menemukan Wisnu bersama Gilang berdiri tepat di hadapannya.


Arfin tak bereaksi apa-apa, lelaki itu hanya membuang arah pandang. Lalu dia beranjak pergi dari tempat itu.


"Arfin!" panggil Wisnu. Namun Arfin tidak menghiraukan, dia terus berjalan meninggalkan dua laki-laki itu.

__ADS_1


Wisnu berlari kecil mendekati Arfin. Memanggil temannya itu berkali-kali tapi tetap tidak ada balasan. Arfin bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya, dia hanya menatap ponselnya dan sibuk mengetikkan kata-kata di benda kesayangan anak zaman sekarang ini.


"Arfin lo bisa nggak sih dengerin gue bentar!" Wisnu menarik almamater Arfin kasar, menarik paksa agar lelaki itu mau menatapnya. Bahkan saking kasarnya Wisnu, ponsel yang semula di tangan Arfin terjatuh ke lantai.


Ponsel dengan layar yang masih menyala dan menampilkan roomchat di sana.


"Santai, Wis," kata Gilang melihat betapa emosi sudah nyaris menguasai Wisnu.


Suara notifikasi terdengar dari ponsel Arfin yang berada di lantai. Suara itu mengalihkan atensi Wisnu, dan dengan kesigapannya tangan Wisnu dengan cepat meraih ponsel Arfin sebelum pemiliknya sempat mengambilnya.


Wisnu sempat membaca sejenak siapa pengirimnya dan apa yang dibahas mereka. Namun sepersekian detik berikutnya, ponsel itu dirampas paksa Arfin. Arfin tak membiarkan Wisnu membaca lebih jauh apa yang sedang dia bahas bersama orang itu.


"Dokter? Dokter siapa?" Wisnu mulai bertanya, dan Arfin hanya memutar bola mata malas.


"Siapa yang sakit? Siapa yang harus kemoterapi?" tanya Wisnu bertubi-tubi.


"Bukan urusan lo!" Arfin membalas seperti itu, dengan nada ketus dan tatapan tajam. Tak ingin berlama-lama di sana, Arfin buru-buru pergi dari lobi itu. Menjauh dari Wisnu dan Gilang.


"Gue udah bilang ada yang disembunyikan Arfin dari kita, Lang."


...***...


Namun dengan waktu cepat, langkah Arfin harus terhenti karena seorang perempuan berdiri di depannya, menghalangi Arfin untuk melangkah maju ke depan. Gadis itu menampilkan senyum licik, dengan tatapan meremehkan, dia menyapa Arfin.


"Ngapain lo?" Arfin membuang pandangannya, tak mau berbasa-basi dengan gadis itu.


"Kayaknya buru-buru banget. Mau ke mana?" tanya Melinda.


"Kalau cuma mau ganggu gue, gue permisi."


"Eh." Melinda merentangkan tangannya, mencegah Arfin untuk beranjak dari posisinya sekarang.


"Kita belum selesai. Harus ada yang dibicarakan," kata Melinda.


"Ngomongin apa? Ancaman lo?"


"Gue kasih lo satu kesempatan lagi, Arfin. Jadi pacar gue, atau nasib keluarga lo hancur," ujar Melinda, mendekatkan dirinya pada Arfin, namun Arfin berjalan mundur agar merek tetap berjarak.


"Gue nggak pernah peduli ya, mau apa yang lo lakuin sama keluarga gue. Karena itu nggak ngaruh, kalau lo bangga sama power keluarga lo yang besar. Keluarga Aksanta juga punya power yang besar, bahkan lebih besar dari keluarga yang lo banggakan itu. Kalau lo hancurin keluarga gue, itu sama aja lo bawa bom atom untuk keluarga lo sendiri."

__ADS_1


"Lo tau kan, keluarga Aksanta, benci keluarga lo sampai ke tulang-tulangnya. Jadi, jangan harap lo bisa bertindak," sambung Arfin.


"Do you like someone?" Melinda bertanya, berusaha mencegah Arfin pergi darinya.


"Iya."


"Siapa?"


"Sepupu lo. Eleena Safira Dirgantara."


Arfin mendorong tubuh Melinda pelan, agar gadis itu menyingkir dari hadapannya. Tanpa menoleh sedikitpun ke Melinda, Arfin pergi meninggalkan gadis itu begitu saja. Meninggalkan Melinda dengan perasaan hancur dan penuh amarah.


Arfin keluar dari area fakultasnya. Dia tidak memiliki destinasi ke fakultas lain. Tujuan Arfin sekarang, menghampiri mobilnya dan pulang.


"Arfin." Suara lembut dari seorang perempuan menembus pendengaran Arfin. Langkahnya terhenti, tapi Arfin tak berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Fin, lo kenapa?" Eleena mendekati Arfin, berdiri di depannya. Arfin tak menatap mata gadis itu, namun pergerakan Eleena mengelus tangannya, membuat Arfin luluh dan menatap mata gadis itu.


"Sakit, El." Arfin masuk ke pelukan Eleena, mengeluarkan air mata tanpa suara di dalam dekapan Eleena.


Eleena tak berkata apa-apa. Dia membawa tangannya bergerak naik-turun untuk mengelus punggung Arfin. Eleena membiarkan Arfin menumpahkan seluruh air matanya dan membuat bajunya basah.


"Kenapa harus gue yang dimarah, El?"


Eleena melirik tangan Arfin, ada sebuah lebam di pergelangan lelaki itu. Lukanya masih sangat baru, Eleena bisa merasakan betapa sakitnya itu.


"It's okay, Fin. Everything will be okay."


"Don't leave me," lirih Arfin, masih berada di dekapan Eleena.


"Pasti."


Eleena merasakan betapa rapuhnya Arfin saat ini. Lelaki itu bukan hanya menghindar dari Wisnu, tapi Arfin juga menghindar dari Eleena selama hampir seminggu ini. Arfin hanya membalas sapaan sekadar saja, dan tidak memberi pesan pada Eleena kalau Eleena tidak memberinya pesan lebih dulu.


Gadis itu mengepalkan tangan. Dia yang berdiri lumayan jauh dari Eleena dan Arfin, menyumpah serapahi mereka berdua. Eleena selalu bersikap seolah-olah dia adalah penguasa, dan merebut hak yang seharusnya didapatkan Melinda.


"Eleena Safira Dirgantara. Lo lagi," gumam Melinda.


Bukan hanya Melinda, tapi Wisnu juga. Lelaki itu berdiri juga lumayan jauh dari dua manusia itu. Dia tidak marah, melainkan sebuah senyuman kecil ia munculkan. Wisnu tetap berdiri di tempatnya, tak ada sedikitpun niat untuk menghampiri Eleena atau Arfin. Wisnu ingin, Arfin mengeluarkan seluruh emosinya lewat pelukan Eleena.

__ADS_1


Wisnu sudah bilang, persahabatan di atas segalanya. Dia rela kehilangan apapun asal jangan sahabat, apalagi Arfin—adik kecilnya.


__ADS_2