Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Kencan tanpa disengaja part 2


__ADS_3

"Yuk jalan, mereka udah jalan." Wisnu memegang tangan Eleena mengajak perempuan itu untuk mengikuti langkahnya. Eleena tidak mengatakan apa-apa dia masih tenggelam dalam pikiran tentang buket yang ada di tangannya dan ingatan Wisnu tentang bunga yang dia suka. Baru kali ini Eleena bilang, ada hal baik dari Wisnu yang dia suka.


Mereka semua di bawa ke tempat yang penuh dengan berbagai pintu-pintu beraneka warna.


"Di tempat ini, kalian bisa bebas memasuki pintu mana saja. Minimal satu pintu dan maksimalnya tiga pintu. Di dalam pintu ini, ada beberapa tantangan yang berbeda dan tantangan itu akan kalian hadapi bersama pasangan kalian. Good luck semuanya."


Wisnu dan Eleena saling melempar pandang. Disaat yang lain sudah masuk ke berbagai pintu, mereka masih sibuk memberi isyarat ingin masuk ke pintu yang mana.


"Satu aja ya," ucap Eleena seperti berbisik. Wisnu mengangguk, "Gue juga malas banyak-banyak, capek," keluhnya.


Eleena tersenyum kecil. "Oh ya, mau masuk mana?" Wisnu memulai pertanyaan yang sebenarnya sudah terputar di kepala mereka berdua sejak tadi.


"Bebas." Wisnu menghela napas. Salah satu hal dari perempuan yang dia tidak suka. Perempuan tidak pernah memberi jawaban atas pertanyaan tetapi kalau kita melakukan hal yang tidak mereka suka para perempuan ini akan marah, padahal mereka saja tidak ada memberi pilihan. Wisnu berharap Eleena tidak seperti itu, tapi sepertinya harapan Wisnu berkurang sedikit karena tadi dia juga sudah mendapat kata 'terserah'.


"Lo suka warna apa?" tanya Wisnu.


"Warna hijau," jawab Eleena cepat. "Selain itu ada nggak?" Wisnu malas kalau dia harus memilih warna hijau karena menurutnya warna hijau itu jelek.


"Warna putih," jawab Eleena. "Gue suka warna hitam," balas Wisnu.


"Nggak nanya!" ketus Eleena.


"Gue cuma ngasih tau doang kali." Ada perasaan jengkel pada Eleena tapi bukan kali ini saja melainkan sudah berkali-kali. Namun yang menjadi aneh Wisnu seakan tertarik untuk terus berkomunikasi dengan Eleena.


"Jadi, kita bakal masuk ke pintu putih?" Eleena sedikit bersemangat sembari sesekali melirik ke arah pintu putih itu.


Wisnu menggeleng pelan, "Daripada kita masuk ke pintu putih dan yang seneng cuma kamu mending kita padukan aja keduanya."


"Maksud?"


"Gini." Wisnu mengeratkan genggaman tangannya pada Eleena. "Aku suka warna hitam dan kamu suka warna putih. Kalau kedua warna itu dicampur akan menghasilkan warna abu-abu. Gimana kalau kita masuk ke pintu abu-abu aja?" Wisnu memberi Eleena pilihan dengan cara yang paling Eleena suka. Menjelaskan lalu memberi pilihan, Eleena menyukai ini.


Wisnu melirik ke arah penjaga wanita yang memperhatikan mereka sejak tadi dikarenakan mereka belum kunjung masuk ke dalam. Wisnu rasa mereka sudah menaruh curiga maka dari itu Wisnu mengubah tata kalimatnya.


Gadis itu memunculkan senyum, dia mengangguk. Seperti kesepakatan mereka berdua, Wisnu dan Eleena masuk ke pintu berwarna abu-abu. Di dalam ruangan bernuansa abu-abu itu tidak banyak orang di dalamnya. Wisnu bahkan bisa menghitung berapa jumlah manusia yang berada di ruangan itu.


"Di tempat ini setiap perempuan akan memasak suatu makanan dan pihak laki-laki akan mencicipi lalu menentukan mana masakan dari pasangannya." Eleena membacakan tantangan dari ruangan ini. Gadis itu menatap Wisnu, seakan dia meminta pendapat Wisnu untuk kali ini.


"Lakuin lah," suruh Wisnu.


Wisnu mengajak Eleena masuk lebih dalam ke sana. Dan kedatangan Eleena disambut hangat oleh orang-orang di sana. Mereka mengarahkan Wisnu untuk duduk ikut bergabung bersama para laki-laki yang menunggu masakan para gadis mereka. Dan Eleena mereka ajak untuk masuk ke dapur untuk mulai memasak.


Bukannya ikut bergabung bersama yang lain, Wisnu malah menekan beberapa digit nomor dan menghubungi salah satu temannya.


"Halo Tuan Muda." Wisnu menelepon Gilang.


"Gue pusing banget sumpah." Wisnu melaporkan itu dengan nada pelan agar tidak terdengar yang lain.


"Pusing napa?"


"Bokap gue nyuruh gue datang ke event valentine, kan? Dan ternyata di tempat ini gue disuruh ngelakuin yang aneh-aneh ege. Kayak gue disuruh beli bunga lah, coklat lah, dansa lah, buat inilah buat itulah. Gue bahkan disuruh ngenalin masakan Eleena padahal gue nggak pernah tahu dia bisa masak apa nggak."


"Bagus dong, kalau gitu lo bakal makin suka sama dia nanti," balas Gilang santai.


Wisnu berdecak mendengar balasan dari Gilang itu. Bukannya membantu Wisnu menemukan jalan keluar lelaki itu malah mendukung kesulitan yang dialami Wisnu.


"Bukan makin suka yang ada gue makin gedeg sama dia."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Gilang.


"Tu cewek baik sih tapi masih tetap nyebelin," jawab Wisnu.


"Tuh kan lo udah bilang dia baik, kalau gitu lo perlahan-lahan bakal suka sama dia," celoteh Gilang di seberang sana.


"Nggak bakal lah, gila kali lo ya, dia punya Arfin." Wisnu seakan berbisik ketika mengucapkan tiga kata terakhirnya. Matanya juga melirik ke sana ke sini untuk memastikan bahwa tidak ada penjaga yang mendengar obrolannya dengan Gilang.


"Lo bener, kasian Arfin." Nada bicara Gilang mulai terdengar iba. Selain Wisnu, dia juga menjadi saksi Arfin merelakan Eleena demi membantu Wisnu. Gilang juga menjadi saksi bagaimana Arfin yang selalu mengutamakan teman-temannya dibanding kesenangannya sendiri.


"Sumpah gue bisa gila di sini," keluh Wisnu.


"Sabar Tuan Muda, lo jalanin aja semuanya sesuai dengan rules yang ada. Untuk sehari ini aja, kalau lo nggak bisa ngelakuin ini demi tu cewek lakuin demi Arfin. Dia udah relain Eleena buat pacaran sama lo jangan sampai hubungan lo sama Eleena berantakan cuma karena lo muak sama peraturan Valentine Day di sana."


Wisnu terdiam mendengar ucapan Gilang. Pembicaraan dia dengan Gilang berlangsung cukup lama, dan semakin lama obrolan mereka berubah-ubah tidak lagi membicarakan bagaimana pusingnya Wisnu di tempat ini ataupun tentang Eleena.


"Sudah selesai." Suara itu menginterupsi Wisnu.


"Udah dulu ya." Wisnu mematikan panggilannya. Dia berdiri mengikuti para laki-laki lain berjalan menuju ke sebuah meja. Meja yang diatasnya terdapat berbagai makanan.


Makanan yang tersaji di piring dengan berbagai tampilan. Ada yang tampilannya menggugah selera ada juga yang membuat mual, Wisnu menebaknya bahwa perempuan itu tidak bisa memasak.


Para perempuan yang ada di sana melepas celemek mereka. Instruktur mengarahkan mereka untuk berdiri di sebelah kiri ruangan. Mereka tidak boleh mendekati pasangan mereka agar tidak terjadi kecurangan yaitu pemberitahuan mana masakan yang telah mereka buat.


"Mampus, bakal ketahuan banget gue sama Wisnu bohongan," batin Eleena ketika melihat wajah bingung Wisnu akan banyaknya makanan yang tersaji di depannya.


"Pasangan Anda membuat masakan terbaik untuk bisa dinikmati berdua. Kalian bisa baca bahan-bahan apa saja yang tersaji di dapur agar kalian lebih mudah untuk menemukan makanan pasangan kalian."


Wisnu dan yang lainnya diberikan selembar kertas. Kertas itu tertulis bahan-bahan apa saja yang disediakan oleh mereka untuk menjadi bahan makanan.


"Semua makanan yang tersaji di sini semuanya wajib memakai bahan-bahan itu. Jadi, silahkan tebak mana hasil makanan dengan bahan tambahan cinta yang dibuat oleh pasangan kalian," jelas sang instruktur yang memakai pakaian bak koki.


Wisnu mendekati berbagai makanan itu. Mencicipi satu demi satu hidangan yang tersaji bersama laki-laki lainnya. Wisnu tidak bisa menutupi ekspresinya, jika makanan itu enak dia akan menunjukkan reaksi biasa saja tapi jika makanan itu tidak enak Wisnu tidak segan-segan untuk memuntahkan makanan yang sudah dicicipi oleh lidahnya itu.


"Waktu habis. Sekarang silahkan ambil mana makanan yang menurut kalian adalah hasil masakan dari pasangan kalian tercinta."


Wisnu sedikit berlari untuk mengambil satu hidangan yang berada di sudut paling kiri. Tangan Wisnu sudah mengambil piring itu lebih dulu sebelum tangan lain hendak menyentuhnya.


"Ini punya cewek gue," ketus Wisnu menatap sinis laki-laki yang hendak merebut piring itu dari tangannya.


Wisnu berdiri di depan Eleena. Dengan sangat percaya diri dan senyum sumringah dia sangat meyakini kalau yang dipilihnya itu benar. Karena dia punya alasan besar kenapa dia memilih hidangan ini. Namun, sepertinya reaksi Eleena sedikit tidak meyakinkan.


"Ini bukan masakan aku Ayang!" jerit perempuan di ujung kanan. Wisnu dan yang lainnya menengok ke sumber suara.


"Maaf, aku nggak tau kan kamu nggak pernah masak," jawab jujur kekasihnya.


"Ihh kamu nyebelin banget sih." Laki-laki itu terkena masalah. Mereka menertawakan kejadian itu sedangkan laki-laki itu sibuk membujuk kekasihnya agar tidak marah padanya.


Melihat kejadian itu Wisnu sedikit terhibur, tapi ada rasa gugup dan takut yang hinggap di hatinya. Seketika rasa percaya diri Wisnu terhadap makanan yang dia ambil mulai memudar. Apa Wisnu harus seperti laki-laki itu juga kalau dia salah menebak? Wisnu tidak bisa membayangkannya.


"Apakah ini masakanmu, Nona?" tanya sang instruktur pada Eleena.


Eleena tidak langsung menjawab, dia menatap Wisnu terlebih dahulu. "Coba tanya sama dia, kenapa dia milih makanan ini?"


Wisnu panik. Dari tatapan Eleena Wisnu benar-benar yakin kalau di salah mengambil hidangan tapi tidak mungkin Wisnu menukarnya dengan yang lain lagi.


"Baik Nona. Oke Tuan, kenapa dari sekian banyak hidangan yang tersedia kamu memilih hidangan ini? Apa kamu memiliki alasan tertentu?" tanya sang instruktur.

__ADS_1


Meskipun ragu, Wisnu tetap mengangguk. Dengan rasa gugup yang menguasai Wisnu menjawab pertanyaan itu.


"Saya memilih hidangan ini karena saya tahu bahwa Eleena lah yang bisa melanggar aturan." Eleena mengerutkan kening. "Tadi Anda memberikan saya dan yang lainnya sebuah kertas berisi bahan apa saja yang wajib ada di setiap hidangan. Dan di dalam hidangan ini, saya tidak menemukan adanya kacang di dalamnya. Dan itu yang menjadi alasan saya. Eleena memiliki alergi terhadap kacang, dan tadi Anda juga bilang bahwa hidangan ini akan dinikmati bersama-sama. Yang saya tahu, gadis saya ini tidak akan mau memasak sesuatu jika dia sendiri tidak bisa memakannya, jadi Eleena tidak menambahkan kacang ke dalam makanan ini. Dia ingin, saya dan dirinya menikmati hidangan ini bersama-sama dengan rasa bahagia tanpa khawatir akan ada efek samping setelahnya."


"Itu masakan saya," ucap Eleena pada akhirnya.


Ruangan itu dipenuhi oleh tepuk tangan. Tepuk tangan untuk mengapresiasi Wisnu yang berhasil mengenali masakan pasangannya dan juga alasan mengapa dia memilih hidangan itu.


"Wah wah, cinta kalian sangat kuat ya, saya salut," kata instruktur.


Eleena tidak bisa menyembunyikan tatapan kagum pada lelaki yang tersenyum bangga melihat banyak orang yang menyanjungnya.


"Selamat, kamu berhasil menebak makanannya. Tetapi karena kalian tidak mengikuti aturan yang ada, yaitu tidak memasukkan satu bahan ke dalam makanan kalian akan mendapatkan hukuman."


Wisnu dan Eleena menatap wajah instruktur itu bersamaan. "Hukumannya adalah, kalian akan berfoto dengan atribut lucu di studio foto di sini."


Ada rasa lega ketika mereka tahu bahwa hukuman yang diberikan bukanlah hukuman yang berat untuk dijalani.


"Karena kalian sudah bisa menebak, silahkan duduk untuk menikmati hidangannya berdua," suruh instruktur.


Wisnu dan Eleena mengangguk. Wisnu menarik tangan Eleena untuk mengikuti arah dia berjalan. Eleena masih diam, untuk kesekian kali dia tidak bisa mengontrol detak jantungnya atas perlakuan Wisnu padanya. Wisnu mengajak Eleena untuk duduk di meja paling sudut agar mereka lebih leluasa untuk mengobrol.


"Duduk," suruh Wisnu menaruh piring berisi makanan Eleena ke atas meja berbalut kain merah muda dan putih.


"Kok kamu bisa tahu aku alergi kacang?" tanya Eleena saat Wisnu sudah duduk di kursinya.


"Bunda kamu yang ngasih tau," jawab Wisnu, mengambil dua sendok. Dia menyodorkan satu sendok kepada Eleena dan gadis itu mengambilnya.


"Bunda?" Seakan belum puas dengan jawaban Wisnu, Eleena meminta lelaki itu untuk menjelaskan lebih rinci atas apa yang dia maksud.


Wisnu mengangguk, "Waktu kamu bawa aku ke rumah kamu karena aku dipukuli sama anak buah Papa, disitu Tante Sinta ngasih tau aku kalau kamu alergi kacang. Karena kamu nggak makan kue kacang yang udah Tante buat."


Jantung Eleena berdetak lebih kencang dari biasanya untuk hari ini. Setelah kejadian buket bunga dan coklat, Wisnu membuat Eleena menggila karena lelaki itu tahu alergi yang dimilikinya. Eleena tidak berbohong, rasanya sekarang dia seakan diselamatkan oleh seorang pangeran setelah dia tersesat di hutan.


Untuk hari ini, Eleena benar-benar tidak bisa melepas tatap dari Wisnu. Lelaki yang memakan dengan damai masakan yang telah ia buat.


"Enak, kamu pinter masak juga," pujinya.


Pujian itu seakan membawa Eleena terbang. Gadis yang terdiam seperti orang gila yang tak bisa mengalihkan pandangan dari Wisnu itu sedang dilanda rasa panas di wajah. Rona merah yang entah sejak kapan menguasai wajahnya. Dan penyebab lagi-lagi karena Wisnu.


"Mau?" tawar Wisnu. Tapi Eleena diam saja, gadis itu seakan lupa bagaimana caranya untuk berbicara setelah Wisnu membuat dia terpana hanya karena beberapa perlakuan dan ingatannya.


Wisnu menyendok makanan itu, dia mengarahkan sendok itu ke Eleena.


"Buka mulutnya aaaa...." Wisnu membuka mulutnya sendiri untuk menyuruh Eleena membuka mulut. Eleena membuka mulut dan Wisnu memasukkan sendok berisi makanan itu ke dalam mulut gadis itu.


"Pintar banget sih pacar aku." Wisnu mencubit hidung Eleena gemas sembari tertawa kecil.


Suara berat dan sedikit serak dari tawa Wisnu menggema di telinga Eleena. Gadis itu bahkan harus meremas ujung dressnya agar tawa itu tidak terngiang-ngiang di kepala.


"Dia indah banget ya," batin Wisnu membalas tatapan Eleena yang sedari tadi tenggelam padanya. Wisnu menaruh sendok itu di sebelah piring, dia menumpu kedua tangannya di atas meja. Dengan senyuman lelaki itu menatap Eleena dalam. Kedua manusia itu sekarang tenggelam akan tatapan satu sama lain, untuk kesekian kali.


...***...


Haloha semuanya, kayaknya untuk bagian ini akan ada part 3 deh. Aku kira akan selesai dalam dua part aja tapi nyatanya enggak 🥲, ini aja udah panjang banget, jadi tunggu besok ya untuk baca kelanjutan, "Kencan tanpa disengaja"


See you 👋💜

__ADS_1


__ADS_2