Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Cinta


__ADS_3

"Fin, gue mau cerita!"


Panggilan itu langsung diputus oleh Eleena begitu gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Eleena buru-buru keluar dari kelas, tak menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Gadis itu fokus melangkah sampai ia tiba di tujuan. Taman kampus. Eleena memasuki tempat itu lebih dalam sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan orang yang baru saja berkomunikasi dengannya lewat panggilan telepon.


Iris Eleena menemukan Arfin. Laki-laki dengan Hoodie berwarna biru dan memberikan perhatian penuh pada benda yang sekarang menjadi kebutuhan setiap anak muda.


"Arfin!"


Arfin mengangkat pandangannya begitu panggilan Eleena terdengar sampai ke telinga. Lelaki itu merekahkan senyum, melambaikan tangan pada Eleena yang berjalan mendekat. Eleena duduk di sebelah Arfin, menghela napas sembari menormalkan napas karena perjalanan yang cukup jauh dari fakultasnya ke taman.


Taman memang tempat kesukaan Eleena, tapi gadis itu tidak bisa berbohong kalau pergi ke tempat ini membuatnya lelah dan menghabiskan waktu di perjalanan. Secara jarak dari kelas Eleena ke tempat ini bisa memakan waktu hampir 10 menit jika berjalan kaki. Universitas Binawa itu besar, butuh waktu satu hari penuh jika ingin mengelilingi seluruh tempat di kampus ini.


"Nih." Arfin memberikan sebotol air mineral pada Eleena. Eleena tidak langsung menerimanya, dia lebih memilih menatap Arfin. "Tadi gue beli di kantin, gue juga udah beli minuman kok," lanjut Arfin, menunjukkan botol minum berupa teh dingin di sebelahnya.


Mendengar itu Eleena mengambil botol berisi air mineral itu dengan senang hati. Eleena awalnya takut untuk menerima karena dia takut bahwa minuman itu milik Arfin dan lelaki baik hati itu memberikannya kepada Eleena karena melihatnya ngos-ngosan sampai di sini. Eleena tidak ingin Arfin sebegitu memperhatikan Eleena sampai-sampai melupakan dirinya sendiri.


Eleena menggerakkan tangan membuka tutup botol tapi ternyata tutup botol minum itu sudah dibuka lebih dulu. Eleena menoleh ke Arfin.


"Gue buka tadi, bantuin lo ceritanya." Arfin memberikan kekehan di ujung kalimatnya.


Eleena geleng-geleng kepala melihat kekehan Arfin. Gadis itu meneguk botol minuman itu. Eleena sesekali melirik Arfin, lelaki tampan di sebelahnya ini terlihat luar biasa. Arfin itu lelaki baik, dia juga perhatian pada Eleena padahal Eleena hanyalah temannya.


Awalnya Eleena berpikir bahwa dia itu spesial tapi setelah mengetahui kalau Arfin adalah playboy kelas atas, Eleena merasa biasa saja dengan setiap perhatian Arfin. Perhatian Arfin ini bukan hanya pada Eleena saja, Arfin pasti melakukannya pada semua gadis. Itu menjadi salah satu alasan Eleena tidak pernah memiliki perasaan lebih atau hendak menganggap Arfin lebih dari teman.


"Ngapain ngajak gue ke sini?" tanya Arfin mulai membuka obrolan setelah mereka saling berdiam diri selama Eleena meneguk airnya.


"Ada something penting banget yang harus gue omongin sama lo."


"Apaan?" Arfin membetulkan posisi duduknya, mencari tempat ternyaman untuk mendengarkan cerita Eleena.


"Fin, lo pernah nggak sih ngerasa suka sama orang?" Eleena membuka topik mereka dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang tiba-tiba saja membuat perasaan Arfin merasa tak enak. Pertanyaan yang Arfin sangat takut jika itu sesuai dengan apa yang selama ini lelaki itu pikirkan.


Arfin mengangguk pelan. "Menurut lo, kalau orang udah jatuh cinta dia bakal kayak mana? Perasaan yang dia rasakan dan apa yang dia lakukan kalau udah jatuh cinta? Lo kan pakar cinta, pengalaman cinta lo kan dah banyak, bisalah jawab pertanyaan sederhana ini," jelas Eleena.

__ADS_1


Arfin tidak langsung menjawab, lelaki itu membuang napas pelan. Tatapan kagum yang semula Arfin perlihatkan kini ia ganti dengan tatapan sendu menatap Eleena dalam.


"Seseorang bisa dikatakan sudah jatuh cinta apabila saat bertemu dengan orang yang dicintainya dia merasa bahagia sekaligus takut. Bahagia karena telah bertemu dan takut jika mereka bertemu hanya sebentar. Seseorang jatuh cinta itu ketika dia dapat merasakan kehadiran orang yang dicintainya walau belum ada di pandangan, seseorang bisa dikatakan sudah jatuh cinta apabila dia merasakan ada getaran dan detakan hebat di dada hanya karena mereka bertatap mata sebentar."


"Kalau cinta itu apa? Dan perlakuan orang yang cinta terhadap pasangannya itu bagaimana?"


"Cinta kalau dijabarkan bakal panjang banget El, dan pendapat orang-orang terhadap cinta juga beda-beda. Jadi, gue bakal jawab perlakuan aja ya?" Arfin meminta izin, Eleena mengangguk.


"Orang yang cinta sama lo, dia bakal melindungi lo dari apapun, dia akan ngebahagiain lo lewat caranya sendiri. Sebenarnya cara orang menyalurkan cintanya beda-beda, tapi menurut gue kalau orang yang emang bener-bener udah sayang sama lo itu, dia nangis ketika lo nangis dan bahagia ketika lo bahagia. Orang yang cinta sama lo nggak akan nyakitin lo El. Melainkan dia akan selalu mencari cara agar lo nggak pernah ngerasain sakit sewaktu bareng sama dia," jelas Arfin.


Eleena terdiam mendengar semuanya. Gadis itu mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Arfin. Semua kalimat itu begitu nyata, setiap kata yang dikeluarkan Arfin selalu membawa pikiran Eleena untuk memasukkan Wisnu di sana.


Arfin tersenyum kecil, dia menyentuh pergelangan tangan Eleena. "Ini ada kaitannya sama Wisnu, kan?"


Entahlah, pertanyaan Arfin kali ini seperti sebuah boomerang bagi Eleena. Gadis itu seperti ditindih dengan sebuah batu dan harus membuka mulut untuk mengatakan kebenaran. Namun, Arfin tidak salah, pertanyaan Eleena ini memang ada kaitannya dengan Wisnu. Maka dari itu jawaban Arfin juga berusaha Eleena kaitkan dengan Wisnu.


"Do you like him?" tanya Arfin. Eleena diam. "Do you like him?" ulang Arfin.


"I don't know, Fin. Gue bingung," balas Eleena.


"Tapi, Fin—" Arfin segera menoleh ke Eleena, menatap Eleena penuh harap dan tanda tanya.


"Gue nggak tahu kenapa belakangan ini gue ngerasa nyaman sama Wisnu. Padahal dia tu cowok rese, kasar, sombong dan nyebelin. Belum lagi dia kurang ajar sama gue, tapi kenapa gue bisa nyaman ya?"


"Cinta itu kan buta, El." Arfin menjawab seperti itu, tidak memberikan penjelasan lebih terkait ucapannya.


"Manusia nggak akan tahu kepada siapa hatinya akan dijatuhkan. Jadi, ketika lo mulai ngerasa jatuh cinta pada seseorang terima aja. Siapa tau dia memang cinta sejati lo," sambung Arfin.


"Bingung ya?" tanya Arfin. Eleena mengangguk.


Arfin tertawa gemas, mengacak-acak rambut Eleena dan syukur saja di pemilik rambut ini tidak marah.


"Sekarang kita tutup mata bareng, dan pikirin tentang cinta." Arfin mulai menutup matanya sembari menghirup udaranya panjang lalu mengembuskannya perlahan-lahan.


Eleena mengikut. Gadis itu menutup matanya perlahan, membawa pikirannya untuk memikirkan hal lain selain Wisnu. Sudah berapa hari Eleena habiskan untuk memikirkan Wisnu saja. Eleena saja bosan, masa pikirannya tidak bosan memikirkan Wisnu.

__ADS_1


Eleena gagal. Pikirannya selalu berakhir menembus Wisnu meskipun dia selalu mengelakkan hal itu. Dia membawa pikirannya untuk memikirkan penjual eskrim di taman ini, tapi dia malah berakhir melihat wajah Wisnu di sana.


Eleena berdecak, cara ini tidak berhasil. Dia tetap tidak bisa membuat pikirannya tenang. Eleena membuka matanya. Begitu kedua kelopak mata dengan balutan kaca mata di luarnya terbuka, iris cokelat Eleena langsung bisa menemukan keberadaan Wisnu.


Laki-laki dengan kaos hitam dan celana panjang hitam serta sepatu yang juga berwarna hitam. Rambut hitam yang menutupi dahi, dan jam tangan hitam mahal melingkar di tangan. Lelaki itu serba hitam hari ini, hanya saja kemeja yang terbuka berwarna biru muda menjadi pelapis kaos hitamnya.


Wisnu berjalan mendekati Eleena dan Arfin. Selain menemukan lelaki itu sedang berjalan, bola mata Eleena juga menemukan Wisnu memunculkan senyum di wajah tampannya. Lelaki itu melangkah semakin cepat dan jarak mereka sudah sangat dekat.


Detak jantung Eleena kembali bereaksi lagi. Gadis itu kembali dapat mendengar detak jantungnya sendiri, apalagi saat Wisnu sudah tiba di tempat mereka dan berdiri di depan mereka berdua. Arfin berdiri menyambut Wisnu dan mereka berbincang-bincang seperti biasa. Sedangkan Eleena duduk di tempatnya dengan mendongakkan kepala untuk melihat wajah Wisnu. Dengan detak jantung yang tak bisa dikondisikan, Eleena juga tidak bisa mengkondisikan tatapannya. Tatapan Eleena terkunci pada lelaki jangkung di depannya. Lelaki itu tak menatap Eleena tapi Eleena terus menatapnya.


"Apa kabar El?" Itu kalimat pertama yang Eleena dengar dari mulut Wisnu hari ini. Dengan tatapan yang tak bisa lepas dari Wisnu, Eleena berdiri.


Gadis mungil itu masih mendongakkan kepalanya untuk menatap Wisnu. Bukan hanya Wisnu dia juga begitu kalau menatap Arfin. Apalagi tinggi Arfin bahkan mengalahkan tinggi Wisnu. Eleena terkadang kewalahan hanya untuk menatap kedua lelaki itu saja.


Wisnu menjetikkan jarinya di depan Eleena, membawa gadis itu pergi dari dunia lamunan yang ia ciptakan sejak iris cokelatnya menemukan keberadaan Wisnu.


"Lo kenapa?" tanya Wisnu. Eleena menggeleng kaku.


"Dia nanyain lo tadi," cetus Arfin, langsung mendapat tatapan Eleena.


"Lo suka sama gue sampai nanya-nanya soal gue?" Kini Lele berganti menatap Wisnu dan memberikan lelaki itu gelengan kuat.


"Kayaknya lo kepo banget sama gue sampai-sampai nanyain gue terus sama Arfin," ujar Wisnu.


"Nanya bukan berarti suka ya!" Eleena membantah ucapan Wisnu.


"Terus, kalau nggak suka namanya apa?"


Eleena mematung. Pertanyaan Wisnu dan tatapan dari lelaki itu membekukan Eleena. Eleena bahkan sampai lupa bagaimana caranya menjawab tidak dan memberikan bantahan seperti biasa yang sering dia lakukan.


"Jangan terlalu kepo sama gue, El. Nanti lo kaget," ucap Wisnu mulai membuang arah pandangnya dari Eleena.


"Kenapa?" Eleena bertanya.


"Ada beberapa hal yang seharusnya lo nggak usah tahu tentang seseorang. Karena, kalau lo tahu soal hal itu, lo akan masuk terlalu dalam ke hidupnya. Dan masalah yang seharusnya nggak ada buat lo jadi menimpa lo juga," jelas Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2