
Eleena menatap lurus area parkiran tempat berkumpul banyak kendaraan. Gadis itu duduk di bangku yang telah disediakan di sana, sedikit termenung sambil menunggu kedatangan sesuatu.
Ingatan tentang kejadian dua hari lalu masih terus berputar di kepala Eleena. Masa Arjuna marah hanya karena dia pulang diantar oleh Wisnu. Pertengkaran yang awalnya hanya terjadi antara Eleena dan Arjuna berubah menjadi pertengkaran Arjuna dan Sinta.
Eleena masih tidak mengerti, kenapa Arjuna sebegitu tidak menyukai Wisnu. Alasan Wisnu adalah anak dari Rama dan Putra Aksanta itu sedikit tidak masuk akal bagi Eleena. Memang ada apa dengan Putra Aksanta itu sampai-sampai Arjuna tidak nyaman setiap kali mendengar namanya.
"Wisnu Putra Aksanta, aku tahu soal dia. Jangan pernah berpikir aku nggak tahu apa-apa, Jun."
Karena kalimat Sinta yang itu, Arjuna terdiam cukup lama. Bahkan mereka tidak berkomunikasi selama dua hari lamanya. Bukan Eleena yang tidak berkomunikasi pada Arjuna, melainkan ayahnya itu lah yang tidak berkomunikasi dengan ibunya. Selama Eleena hidup, baru kali ini dia melihat orang tuanya saling mendiamkan satu sama lain.
Tidak ada pembicaraan hangat, tidak ada perlakuan romantis, yang ada hanya hawa dingin yang menerpa. Eleena tidak pernah menyangka bahwa hal sesepele Sinta mengetahui nama lengkap Wisnu bisa menjadi seburuk ini.
"Udah nunggu lama?" Suara itu memecah lamunan Eleena. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan hidung mancung, kulit putih, bibir kemerahan dan rambut yang menutupi dahinya.
"Kenapa?" Tingginya dan Eleena yang jomplang karena Eleena sedang duduk mengharuskan Wisnu untuk berjongkok agar bisa menyamakan tingginya dan tinggi Eleena.
"Masalah waktu itu ya?" tanya Wisnu lembut. Eleena mengangguk lemas.
"Tante Sinta tadi nelepon gue, dia nyuruh gue ngajak lo jalan. Nanti lo pulangnya diantar sama sopir," jelas Wisnu.
"Serius Bunda bilang itu ke lo?"
Wisnu mengangguk, "Iya, barusan aja Tante telepon tadi," balas Wisnu.
"Pulang yuk." Wisnu berdiri, mengulurkan tangannya di depan Eleena. Namun Eleena tidak membalas uluran tangan itu, gadis itu langsung berdiri dan berjalan mendahului Wisnu tanpa berbicara sepatah kata pun lagi.
Wisnu menatap punggung gadis itu yang sudah mulai menjauh. Wisnu paham betul apa yang dirasakan oleh Eleena sekarang. Karena sama seperti Eleena hubungan Rama dan Meethila juga tidak pernah baik. Wisnu tidak tahu kapan kedua orang itu bisa berkomunikasi dengan baik, bisa berperilaku romantis satu sama lain. Rama terlalu sibuk bekerja dan Meethila terlalu sibuk melayani rumah.
Sebenarnya bisa saja Rama dan Meethila menghabiskan waktu bersama, tetapi Rama yang tak pernah mau. Sampai sekarang Wisnu masih bertanya-tanya apa alasan Rama mau menikahi ibunya jika hanya ingin membuat Meethila merasa sakit hati.
"Woi!" jerit Eleena yang sudah berbalik badan menatap Wisnu dari jarak yang cukup jauh. "Buru!" lanjutnya.
Wisnu segera menyusul gadis itu. Eleena kembali berbalik badan dan melanjutkan perjalanannya menuju mobil Wisnu yang terparkir di depan sana.
"Eh tunggu." Eleena berhenti tiba-tiba, nyaris membuat Wisnu menabrak punggung gadis yang lebih pendek darinya itu.
"Ngapain gue ngikutin omongan lo." Eleena berbalik badan dan karena jarak tubuh antara dia dan Wisnu sangat tipis, begitu gadis itu berbalik badan dia menabrak dada bidang Wisnu.
"Gila lo." Eleena memukul dada Wisnu lalu mengelus dahinya yang sakit. Wisnu mengelus dadanya yang sakit.
"Kok jadi gue yang gila, kan lo yang nabrak gue," balas Wisnu tak terima masih mengelus dadanya. Wisnu tidak menyangka bahwa perempuan mungil ini memiliki tenaga yang besar juga sampai-sampai dada Wisnu bisa sakit seperti ini karena pukulannya.
"Memang kuat sih," batin Wisnu tiba-tiba. Dia teringat bagaimana Eleena memukuli para anak buah Rama demi menyelamatkannya dan jangan lupa Eleena juga pernah membantu Rama mengambil kembali ponselnya yang dicuri. Wisnu lupa Eleena pernah sekuat itu.
"Tapi lo yang salah ngapain lo di sini!" Eleena masih tidak mau kalah untuk beradu argumen dengan lelaki di depannya ini.
"Lo yang berhenti tiba-tiba juga." Wisnu dan Eleena jadi beradu argumen sekarang. Hanya karena masalah sepele saja dua insan ini tidak bisa menyelesaikannya baik-baik.
"Gue nggak mau pulang sama lo!" ucap Eleena pada akhirnya setelah sekian lama dia berdebat dengan Wisnu menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar perihal kejadian tadi.
"Kenapa?"
"Gue malas aja. Kenapa gue harus sama lo, emang gue siapa lo?—"
"Pacar gue," potong Wisnu, Eleena bungkam.
Perasaan aneh ini muncul lagi. Eleena bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Rasanya lidahnya seketika kelu, kakinya kaku hanya karena kata 'pacar' yang diucapkan Wisnu.
"Ta-tapi gue bawa mobil sendiri," jawab Eleena gelagapan.
"Mana mobilnya?" Wisnu bertanya dengan nada sepele dan itu kembali membangkitkan emosi Eleena. Baru saja tadi gadis itu merasa sedikit terbawa perasaan karena lelaki itu mengatakan Eleena pacarnya, tapi sekarang Wisnu kembali menjadi makhluk yang menyebalkan.
"Itu!" Eleena menunjuk ke bagian kosong yang tak ada apa-apa di sana. Gadis itu tak menolehkan pandangan dan asal tunjuk sehingga dia mendapat tawa besar dari Wisnu.
"Di sana nggak ada apa-apa, tolol." Wisnu tertawa puas, sesekali memegangi perutnya karena rasa sakit akibat tertawa terbahak-bahak karena gadis itu menunjuk area kosong bukannya mobilnya.
Eleena menatap Wisnu bingung, dengan kesadaran yang masih berusaha dikumpulkan Eleena menoleh ke arah tempat ia menunjuk tadi.
Mata gadis itu membulat sempurna, itu lahan kosong. Tidak ada kendaraan beroda empat dan berwarna merah—mobil kesayangan Eleena di sana.
"Kacamata lo harus ditambah biar jadi mata enam sekalian," ledek Wisnu masih mentertawakan gadis itu tanpa henti.
"Kok bisa nggak ada tadi kan ada," gumam Eleena masih tidak menyangka mobil kesayangannya menghilang dari tempat.
"Ya nggak ada lah, mobil lo itu dibawa sopir." Wisnu berusaha menghentikan tawanya agar bisa menyampaikan informasi itu pada Eleena tanpa terpotong-potong karena tawanya. "Makanya Tante Sinta minta gue ngajak lo jalan-jalan biar lo nggak sumpek jadi mobil lo diambil tadi. Nanti pas lo udah mau pulang baru deh dikasih mobilnya ke lo," jelas Wisnu.
Eleena menoleh ke lelaki itu, menautkan alisnya mencari kebenaran dari setiap kata-katanya. "Gue nggak bohong, beneran." Wisnu mengangkat dua jarinya membentuk huruf V meyakinkan Eleena bahwa untuk kali ini dia tidak memberi kebohongan pada gadis itu.
"Gimana caranya supaya gue percaya sama lo?" Eleena memberi tatapan mengintimidasi, dia masih tidak percaya begitu saja pada Wisnu. Karena setahu Eleena, Wisnu itu adalah laki-laki yang mudah berbohong. Jika Rama saja bisa dibohongi olehnya bagaimana dengan Eleena.
Suara petir terdengar dari langit. Awan putih berganti dengan awan hitam gelap. Petir menyambar saling bersahutan. Dan tak butuh waktu lama hujan membasahi bumi dan seisinya.
Wisnu menarik tangan Eleena segera membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya begitu air hujan mengenai kulit mereka.
"Pakai sabuk pengamannya," suruh Wisnu. Eleena menurut saja karena dia juga masih dalam kondisi terkejut akibat hujan datang terlalu tiba-tiba.
Wisnu menghidupkan mobilnya, membawa kendaraan beroda empat itu pergi dari sana. Hujan begitu deras dan sesekali ada suara petir menyambar dari luar.
"Jangan ngebut lah!" sentak Eleena.
"Siapa yang ngebut? Mau mati kali gue kalau ngebut," balas Wisnu.
Eleena mendengus mendengar jawaban dari lelaki ini. Walaupun bagi Wisnu kecepatan ini terbilang lambat tapi bagi Eleena ini sudah terlampau mengebut di kala hujan.
Wisnu membawa mobilnya entah ke mana. Lelaki itu hanya mengikuti arah jalan, membiarkan waktu terbuang begitu lama bersama Eleena ditemani oleh hujan di luar sana.
"Sampai kapan pacaran sama gue?" Eleena membuka topik pembicaraan kali ini. Gadis yang semulanya melipat kedua tangannya di dada sembari mendengarkan lagu dari earphone yang terpasang di telinga, kini dia menolehkan kepalanya agar bisa menatap Wisnu jelas.
__ADS_1
"Lo maunya sampai kapan? Gue tergantung lo sih." Jawaban Wisnu selalu bukan jawaban yang diinginkan Eleena.
"Gue serius Wis," balas Eleena. "Gue juga."
Eleena menghela napas, menghadapi laki-laki seperti Wisnu ini harus banyak bersabar. Eleena jadi heran dari sisi mana Sinta menyebut anak ini adalah anak baik-baik.
"Besok kita putus, bisa?"
"Ya nggak lah!" Wisnu menolak mentah-mentah ide gila dari Eleena ini.
"Gila aja besok putus, bisa mati gue lusanya."
"Jadi mau kapan?"
"Tunggu sebulan lagi, mau?" Wisnu memberi penawaran.
"Lama amat, nggak mau."
"Ya elah, kalau pacaran nggak sampai sebulan bokap gue mana percaya gue pacaran sama lo," balasnya.
"Tapi jangan sebulan juga kali," titah Eleena.
Eleena kembali pada posisinya semula. Dia sudah kehilangan nafsu untuk membahas hal itu lagi. Bahkan Wisnu yang mencoba meyakinkannya saja tidak ia gubris. Keadaan hati Eleena sedang tidak baik dua hari ini, dan ini dipengaruhi oleh keadaan orang tuanya yang saling mendiami satu sama lain hanya karena Putra Aksanta di sebelahnya ini.
Wisnu kembali merasa tak enak pada gadis itu. Padahal Sinta menyuruh dia untuk menyenangkan anaknya tapi Wisnu malah membuat gadis itu merasa kesal karena sikap yang ia tunjukkan.
Wisnu bingung dia harus bersikap seperti apa pada gadis ini. Wisnu bukanlah ahli wanita yang bisa tahu apa saja yang mereka mau. Wisnu itu bukan Arfin yang sudah mengenal berbagai macam sikap gadis. Ini pengalaman pertama Wisnu menjalin hubungan asmara dan itupun langsung bersama gadis menyebalkan seperti Eleena.
Mereka kembali diam. Membiarkan deru mesin mobil dan suara hujan di luar menjadi suara komunikasi mereka. Wisnu menyetir perlahan, sembari memutar otak agar bisa menyenangkan Eleena. Setidaknya ketika gadis itu pulang dia sudah merasa sedikit bahagia karena itu amanah dari Sinta untuknya. Sinta sudah mempercayai Wisnu untuk membuat anaknya bahagia tidak mungkin Wisnu mengecewakan wanita itu.
"Tapi kalau kata Eleena, ketika hujan dan lo lagi bareng sama dia, mending belikan dia bakso."
Ah itu dia. Ucapan Arfin memberi Wisnu ide. Karena sekarang suasananya juga sedang hujan deras, kenapa Wisnu tidak mencoba untuk melakukan hal itu saja. Siapa tahu itu bisa membuat gadis yang sekarang menjadi pacarnya itu sedikit bahagia dan bisa melupakan masalahnya.
"Mau makan bakso nggak?" tawar Wisnu tiba-tiba. Perhatian Eleena sedikit teralih, mendengar tawaran Wisnu ini sedikit menarik untuknya.
Eleena menatap ke jendela sebelah kursi tempat ia duduk. Masih hujan, jalanan juga masih basah, dingin juga menerpa makan sesuatu yang hangat seperti bakso itu tidak terlalu buruk juga.
Eleena ingin menjawab tapi dia masih marah pada Wisnu. Jadi dia tidak menjawab meskipun dia ingin. Eleena tidak boleh terlihat bahwa dia tertarik pada ajakan Wisnu kali ini. Eleena harus jadi perempuan yang susah ditebak dan membuat pasangannya memikirkan sendiri dia itu seperti apa.
Wisnu menghela napas, bukannya memberi jawaban gadis di sebelahnya malah melihat hujan dari jendela. Wisnu kadang pusing dengan sikap para wanita ini, sebenarnya mereka maunya apa, terlalu menyusahkan para pria.
Mobil Wisnu masih melaju, dan matanya mencari ke sana ke mari untuk menemukan kedai bakso di tengah hujan. Mata Wisnu tidak salah, lelaki itu menghentikan mobil di dekat gerobak bakso.
"Turun," suruh Wisnu. Eleena mengikuti.
"Kita makan di sini?" Itu pertanyaan Eleena begitu dia melihat bahwa mereka akan makan bakso di pinggir jalan dan penjualnya juga menggunakan gerobak.
"Yang penting kan bakso," balas Wisnu ketus.
"Kenapa nggak di restoran aja sih?" Eleena mengeluh tapi memelankan suaranya agar tidak terdengar ke telinga penjual yang sedang memasak pesanan mereka.
"Kalau nggak enak gimana?"
"Lo belom nyoba, nggak usah komplein deh. Masih mending gue ajak lo makan di sini, daripada gue ajak lo muter-muter aja," ujar Wisnu.
Eleena kembali memunculkan raut kesalnya. Memang sih ini tempat jualan bakso tapi kan ini dari pedagang kaki lima, sedangkan Eleena sangat jarang atau hampir tidak pernah membeli makanan dari pedagang kaki lima seperti ini. Eleena terbiasa makan di kafe atau di restoran sejak kecil.
"Ini baksonya." Bapak Penjual itu menaruh dua buah mangkuk berisi banyak bakso dan mie di dalamnya. Mangkok putih tapi bergambar ayam di tengahnya, lucu.
"Ihhh kok lucu sih mangkoknya." Eleena menjadi terfokus pada gambar ayam di tengah-tengah mangkuk mereka. Ayam jantan itu baru pertama kali Eleena lihat sejak dia hidup di dunia.
"Kok bisa ada gambar ayamnya, Pak?" Eleena bertanya pada Penjual.
Penjual itu tertawa kecil, "Itu memang udah dari sononya, Neng."
"Pak mangkoknya lucu, saya beli boleh ya?" tanya Eleena lagi.
"Udah deh, jangan gila lo." Wisnu menepis ucapan Eleena segera. "Perkara mangkok aja, heboh," lanjutnya.
Wisnu menuangkan beberapa bumbu dan saus yang sudah tersaji di atas meja. Wisnu dan Eleena duduk berhadapan, dan dengan usilnya Wisnu menuangkan saus ke dalam mangkuk Eleena.
Eleena mengambil paksa botol saus dari tangan Wisnu begitu saus itu sudah hampir menyebar di banyak bagian baksonya.
"Makan aja makanya," geram Wisnu.
"Ya udah sih." Eleena mencampurkan berbagai bumbu dan saus yang sudah tertuang di atas baksonya menjadi satu. Rasanya jauh lebih enak jika semua bumbu tercampur merata.
Eleena sedikit tidak yakin untuk memakan ini tapi melihat Wisnu makan dengan begitu lahap bahkan bakso di mangkuk milik lelaki itu tinggal setengah membuat Eleena merasa penasaran akan rasanya.
"Makan elah," suruh Wisnu dalam kondisi mulut masih mengunyah mie yang baru dia masukkan.
Eleena menyendok bakso itu pertama kali. Menggigit potongan kecil dari makanan berbentuk bulat itu ke dalam mulutnya.
"Enak, kan?" tanya Wisnu.
Eleena mengangguk. Dia memasukkan potongan berikutnya dan rasanya masih enak. Bersama dengan Wisnu, Eleena juga menikmati hidangan ini.
Wisnu selesai terlebih dahulu. Dia mengelap area mulut dan tangannya menggunakan tisu yang tersedia di tempat itu.
"Pelan-pelan aja makannya," peringat Wisnu melihat gadis itu makan dengan lahap tapi sedikit terburu-buru.
Eleena mengunyah makanannya lebih dulu lalu menelannya sebelum dia berucap, "Lo udah siap sedangkan gue belum," balas gadis itu.
"Santai aja, gue tunggu kok." Wisnu kembali memunculkan senyum manis miliknya, dia juga menyempatkan tangannya untuk mengelus surai Eleena.
Eleena merasa rona merah itu kembali hinggap di wajahnya, sehingga dia harus menunduk agar Wisnu tidak melihat itu. Eleena makan dengan perlahan sambil berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.
__ADS_1
"Lo lucu ya kalau makan gini," kekeh Wisnu. Tanpa sadar, kegiatan Wisnu sejak tadi hanya memandangi gadis itu menunggu kekasihnya hingga selesai menyantap hidangannya.
"Lucu darimananya?" Eleena mengangkat pandangannya.
"Lucu aja." Wisnu tidak memberi penjelasan tapi dia mencubit pipi Eleena gemas sebagai pembuktian bahwa yang dia katakan itu benar.
Eleena kembali menunduk. Untuk kesekian kali, hanya karena sikap Wisnu seperti ini jantung Eleena tidak bisa dikondisikan. Detak itu semakin cepat padahal Eleena hanya duduk sambil memakan bakso di atas meja.
"Masih dipakai gelangnya?" Tatapan Wisnu teralihkan ke gelang mutiara yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri Eleena. Itu gelang buatannya pada saat mereka menghadiri event Valentine beberapa hari lalu.
"Masih lah," jawab Eleena. "Belom lo buang kan lukisan gue?"
Wisnu menggeleng kecil, "Belom kok. Gue pajang di kamar gue, cantik tau," puji Wisnu.
Eleena kembali tersipu dan disaat bersamaan bakso yang berada di mangkuk gadis itu habis juga.
"Enak yah, lain kali kita ke sini aja," kata Eleena sedikit bersemangat memunculkan senyum di wajah Penjual yang sedang mengambil mangkuk dari meja mereka.
"Tadi nggak mau," balas Wisnu.
"Kan tadi nggak tahu rasanya."
"Makanya kalau apa-apa itu dicoba dulu baru komen," balas Wisnu memberi pukulan super pelan di kepala Eleena bahkan gadis itu tidak merasakan apa-apa. Melihat Wisnu yang memukul dirinya seperti ini, membuat Eleena jadi teringat pada Arjuna. Arjuna juga seperti ini jika pria itu geram pada Eleena. Kalau Eleena bilang, ini pukulan kasih sayang karena tidak menyakiti sama sekali.
"Udah mau pulang?" tanya Wisnu.
"Masih hujan." Wisnu mengangguk menyetujui. Hujan masih turun dengan deras seakan tidak memberi sela agar mereka bisa pergi dari tempat ini.
"Tunggu hujan reda ya," pinta Eleena. Wisnu berdehem singkat sebagai jawaban.
"Kayaknya seru ya kalau kita couple gelang," kata Wisnu. "Boleh juga. Pakai gelang yang ini aja, soalnya lucu."
"Nggak lah, itu gelang mutiara terlalu cewek, gue kan cowok. Cari yang model gelang cowok." Wisnu membantah usulan Eleena tadi.
"Ya udah buat aja sendiri."
"Oke nanti gue buat, tapi gue nggak kasih itu ke lo."
"Ih apaan sih nyebelin banget." Eleena memukul lengan Wisnu lagi dan sang empu memekik kesakitan kesekian kali.
"Lo kasar banget sih jadi cewek."
"Biarin. Biar nggak ada cowok yang semena-mena sama gue," balas gadis itu.
"Nggak ada yang berani semena-mena sama lo El, yang ada mereka jatuh hati sama lo," batin Wisnu menatap gadis itu.
Wisnu bangkit, dia berpindah tempat. Wisnu yang awalnya duduk di hadapan Eleena kini dia duduk di sebelah Eleena. Tangan Wisnu bergerak menggenggam tangan Eleena yang berada di atas meja.
"El, lo pernah nggak sih suka sama cowok gitu?" tanya Wisnu ketika tangannya berhasil menggenggam tangan Eleena dan membuat Eleena kembali tersipu lagi.
Eleena sebisa mungkin untuk menutupi perasaan yang serasa membuatnya terbang ke langit ketujuh itu dari Wisnu.
Eleena berdehem singkat, "Gue nggak pernah suka sama cowok, tapi kayaknya sekarang lagi suka," balasnya.
"Siapa?"
"Kepo."
Wisnu tersenyum sambil berdecak. Padahal dia berharap ada jawaban lain tapi nyatanya jawaban Eleena malah seperti itu.
"El bentar deh." Wisnu mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Sebuah amplop berwarna sedikit kekuningan dan di tengahnya seperti ada cap ala-ala kerajaan di masa lalu.
"Ini puisi, buat lo." Wisnu menaruh puisi itu di telapak tangan Eleena yang sudah terbuka.
"Pasti isinya bagus banget. Makasih ya buat puisinya. Puisi lo indah banget, gue jatuh hati sama ini," puji Eleena menatap penuh kagum amplop di tangannya.
"Selama lo senang, gue juga senang." Wisnu dan Eleena sama-sama tersenyum pada satu sama lain.
Eleena perlahan mendekatkan dirinya ke Wisnu. Dengan mata yang masih memandangi amplop itu, Eleena menyenderkan kepalanya di pundak Wisnu.
"Dari dulu gue selalu berharap ketemu sama pasangan yang anak seni dan sekarang gue dapetin itu," ucap Eleena.
Entahlah, perasaan itu datang lagi. Perasaan itu membuat Wisnu semakin mengeratkan genggamannya pada Eleena. Seakan dari genggaman itu, Wisnu mencoba menyampaikan apa yang dia rasakan pada gadis itu.
Kedua sejoli yang sedang terlena akan satu sama lain itu tidak menyadari ada seseorang di seberang sana, memegangi payung berlindung dari derasnya hujan.
Sakit. Rasanya seakan Arfin ditusuk oleh pisau tajam. Dia tidak bisa menghitung berapa kali pemandangan seperti ini ia lihat. Dia juga tidak bisa mengingat berapa banyak ia merasakan sesak karena melihat kedekatan Eleena dan Wisnu yang semakin lama semakin tidak ada batasan lagi. Arfin tahu sekarang itu Eleena adalah kekasih temannya tapi Arfin yang lebih dulu mendekati gadis itu, Arfin yang lebih dulu membuat gadis itu nyaman, Arfin juga yang lebih dulu membuat gadis itu tertawa tapi sekarang posisinya sudah tergantikan begitu mudah hanya dengan beberapa sikap romantis Wisnu pada Eleena.
Arfin tidak pernah menyangka dia akan sampai di tahap ini. Menyaksikan perempuan yang ia sayangi menjalin hubungan asmara dengan sahabat yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri. Permainan ini belum selesai, tapi Arfin sudah kalah.
Andai saja Eleena tahu, bahwa sebelum Wisnu ada Arfin yang lebih dulu menyukainya. Andai saja Eleena tahu apa saja yang telah dikorbankan Arfin untuk sampai di sini. Andai saja Eleena tahu, bahwa gelang dan setiap puisi yang diberikan oleh Wisnu berasal darinya. Andai saja Eleena tahu bahwa kata-kata indah berupa puisi yang menenangkan hatinya itu berasal dari ketulusan Arfin. Arfin sudah berjuang tapi tidak ada yang menyadarinya.
"Kalau gue tau bakal kayak gini, gue nggak akan sayang sama lo, El," batin Arfin, mengepalkan tangannya menyalurkan semua rasa sakit dan sesak di sana.
Ting
Wisnu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dengan pundaknya yang masih disinggahi oleh Eleena dan tangan kanannya menggenggam tangan kiri Eleena, Wisnu membuka pesan apa yang ia terima saat ini.
Arfin:
Gue pulang ya, gue nggak tahan
Lo bawa El pulang, hati-hati di jalan
Wisnu sedikit tersentak. Matanya mencari keberadaan Arfin. Dia lupa kalau Arfin datang ke sini untuk menjemput Eleena. Karena Arjuna tidak ingin Eleena diantar oleh Wisnu lagi jadi Sinta meminta Arfin untuk mengantar Eleena pulang.
Arfin tadi sempat bertanya pada Wisnu di mana keberadaan dia dan Eleena. Wisnu mengirimkan lokasi mereka pada Arfin tapi Wisnu lupa kalau Arfin akan datang ke sini.
__ADS_1
Wisnu memandangi Eleena yang sedang membaca puisi buatan Arfin. Rasa bersalah Wisnu kembali lagi. Wisnu yakin Arfin sudah sampai di tempat ini. Dan mungkin saja lelaki itu melihat Eleena menyenderkan kepalanya di pundak Wisnu sehingga lelaki itu memilih pergi karena sudah mengalami sakit hati.
Wisnu menekan beberapa digit nomor, dia mencoba menghubungi Arfin. Namun, tidak ada satupun panggilan dari Wisnu yang dijawab oleh Arfin.